Kamis, 01 September 2016

Jas Merah (Jangan Sekali-Sekali Melupakan Sejarah)

Jas Merah (Jangan Sekali-Sekali Melupakan Sejarah)
Joyojuwoto*

Setiap manusia pasti memiliki sejarahnya sendiri, begitu pula dengan rangkaian dari kehidupan manusia yang membentuk struktur masyarakat, organisasi, ormas, partai politik, yayasan, bahkan negara sekalipun. Sejarah memang berbicara tentang masa lampau, namun tidak berarti masa lampau itu tidak memiliki makna dan arti untuk masa kita yang sekarang maupun untuk kelangsungan masa depan. Karena keberlangsungan dan keberlanjutan waktu adalah hal yang terpenting dari sebuah sejarah. Kita hari ini tentu bukanlah apa-apa tanpa jasa masa lalu, jadi bagaimanapun juga kita berhutang pada sejarah masa lalu. Karena adanya hari ini adalah hasil dari runtutan serta keberlangsungan proses dengan segala dinamikanya dari masa yang kita sebut sebagai masa lalu tadi.
Karena melihat begitu pentingnya sejarah hingga banyak para bijak yang menyusun quote untuk membela entitas sebuah sejarah. Bung Karno mengatakan sebagaimana yang sering dikutip oleh Mbah Yai bahwa “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan jasa-jasa para pahlawannya”. Cicero seorang failusuf dari Romawi Kuno mengatakan “Barang siapa yang tidak mengenal sejarahnya dia akan tetap menjadi anak kecil”, sedang Sartono Kartodirdjo dengan sangat keras menyatakan ““Barang siapa yang lupa sama sekali akan masa lampaunya dapat diibaratkan seperti mereka yang sakit jiwa”. Sakit jiwa di sini disebabkan seseorang itu melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan tata aturan di mana ia berada.

Jika kata-kata Bung Karno itu diucapkan sebagai manifestasi penghormatan terhadap jasa para pahlawan kusuma bangsa yang telah berjuang mengorbankan jiwa dan raga untuk bangsa dan negara Indonesia, maka Mbah Yai menggembleng santri-santrinya dalam rangka untuk tidak lupa kepada para hawari-hawari ASSALAM yang membela dan memperjuangkan pondok dengan semboyan “Bondo bahu pikir lek perlu saknyawane sisan”  (harta, tenaga, pikiran, kalau perlu nyawa pun diserahkan).

Pondok pesantren ASSALAM dibela dan diperjuangkan mati-matian oleh santri-santri kurun awal, Mbah Yai sering memberikan contoh, ada Bu Zair, Bu Sunayah, Pak Imam Akhyar, Kang Jawahir, Kang Syukron, Kang Muhlisin, Mbah Juwadi, Kang Daerobi, Pak Marwan, Pak Tarsikin, Mas Ali Imron, Pak Syafi’i, ada Kang Ucuk Suparman (alm), ada Mbak Cik, mbak Santi,  dan masih banyak lagi para hawari yang tidak dapat saya sebutkan di sini. Mereka-mereka itulah yang jika meminjam istilah sejarah awal perjuangan Nabi dikenal dengan sebutan Assabiqunal Awwalun.

Kita tentu masih ingat gemblengan Mbah Yai yang berbunyi “AL Fadhlu lil mubtadi’” (keutamaan itu untuk para kurun awal), oleh karena itu di dalam tulisan ini saya ingin memberikan apresiasi dan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada para hawari-hawari ASSALAM periode awal. Mereka adalah pahlawan-pahlawan ASSALAM yang tak kenal pamrih, mereka ikhlas lahir batin menjadi pembela ASSALAM saat pondok kita tercinta dibenci, dimusuhi, dan dijauhi oleh masyarakat.

Bisa kita bayangkan bagaimana militannya Mbah Yai sehingga berhasil menggembleng para santri untuk menjadi mujahid-mujahid yang siap berjuang membela ASSALAM tanpa reserve. Hal ini tentu tidak terlepas dari sifat dan perilaku Mbah Yai yang memang murni berjuang untuk Islam melalui balai pendidikan ASSALAM.  Menurut beliau pada saat menggembleng santri dengan kitab Idhatun Nasyi’in di bab Al Ikhlas,  biasanya beliau mengatakan “Ketaatan santri-santri ASSALAM merupakan pancaran dari jiwa keikhlasan Mbah Yai dalam berjuang membela pondok”. Dawuh Mbah Yai Moehaimin Tamam tentang keikhlasan tentu sebanding dengan apa yang beliau lakukan, atau dalam istilah jawanya sumbut karo unine (sesuai dengan apa yang dikatakan). Inilah rahasia mengapa Mbah Yai ditaati oleh santri-santrinya, karena secara langsung santri bisa melihat dan merasakan aura keikhlasan dari beliau.

Mbah Yai berhasil menanamkan ideologi ASSALAM atau kata beliau sibghotu ASSALAM, sehingga ada istilah santri harus berjiwa ASSALAM. Branding berjiwa ASSALAM ini menurut saya sangat penting sekali dan jiddan, karena pada dasarnya ikatan hubungan manusia yang fitrah dan kuat serta langgeng adalah ideologi itu sendiri. Ikatan yang kuat bukan karena ikatan darah keturunan, bukan karena harta benda, bukan karena persamaan tanah kelahiran, ataupun karena berbangsa yang sama. Hal ini persis dengan apa yang disabdakan Nabi “Innamal Mu’minuuna ikhwah” “Sesungguhnya umat mu’min adalah bersaudara”.

Secara hukum para santri memang bukanlah darah keturunan dari Mbah Yai, namun kita punya tanggung jawab dan kewajiban sejarah untuk membela ASSALAM, karena kita adalah anak-anak ideologis Mbah Yai, para santri kurun awal maupun yang sekarang akan merasa sedih jika ASSALAM mengalami kemunduran atau belok dari cita-cita awal sang pendirinya. Oleh karena itu kita sebagai santrinya Mbah Yai kita wajib ma’muuman dengan ide-ide beliau.


Dari rangkaian paragraf-paragraf di atas saya ingin memberikan benang merah bahwa kebesaran suatu bangsa, atau organisasi, ataupun apalah namanya tentu tidak terlepas dari benang sejarah yang menghubungkan masa lalu dengan masa sekarang, bahkan juga digunakan sebagai pandangan untuk masa depan. Oleh karena itu sebagaimana yang sering digemblengkan oleh Mbah Yai yang beliau kutip dari Bung Karno “Jas Merah” (Jangan sekali-sekali melupakan sejarah) bahwa jangan sampai kita ini melupakan sejarah kita sendiri. Sekecil apapun sejarah tentu memiliki andil dan kontribusi terhadap kebesaran masa kini. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar