Tampilkan postingan dengan label Wisataku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisataku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Mei 2018

Asyiknya Berwisata di Sendang Kalangan Montong Tuban


Sendang Kalangan
Asyiknya Berwisata di Sendang Kalangan Montong Tuban
Oleh : Joyo Juwoto

Berwisata bersama keluarga di akhir pekan sekarang ini semakin mudah, murah, dan jaraknya dekat. Jika dulu untuk menikmati wisata panorama alam masyarakat harus jauh-jauh pergi ke luar kota untuk mencari tempat yang nyaman, sekarang tidak lagi. Di sekitar kita masyarakat semakin sadar akan kebutuhan tempat untuk melepas lelah di akhir pekan dengan cara membuat tempat wisata lokal yang tidak kalah bagusnya dengan tempat wisata yang sudah mapan.

Kec. Montong Kab. Tuban termasuk wilayah kecamatan yang memiliki basis potensi wisata lokal yang cukup banyak. Jika dulu masyarakat hanya mengenal pemandian Krawak, kini wilayah yang banyak memiliki gua ini memiliki destinasi wisata baru, seperti river tubing di Guwoterus, goa putri Asih yang dulu sempat ditutup, dan yang terbaru adalah tempat wisata Sendang Kalangan yang berada di desa Montong Sekar.

Bersama Ketua Blogger Tuban

Untuk mencapai Sendang Kalangan Cukup mudah, baik dari arah Tuban kota ataupun dari arah Tuban bagian barat, silakan mencari pertigaan pasar Montong, dari pertigaan pasar ini lokasi sendang kalangan ke arah selatan di belakang polsek Montong. Agar tidak bingung saya sarankan agar bertanya kepada masyarakat sekitar saja, tentu dengan senang hati mereka akan menunjukkan ke lokasi sendang.

Mendengar nama sendang Kalangan ini saya teringat legenda tentang wong Kalang. Tapi setelah saya tanya salah seorang teman di sana ternyata tidaka da hubungan antara sendang kalangan dengan wong Kalang. Hanya mungkin ada kemiripan nama saja, namun sejara historis tidak ada sangkut pautnya sama sekali.

Menurut Kang Rey, teman blogger Tuban, dinamakan sendang kalangan karena setiap tahun di sendang tersebut diadakan kegiatan berkumpul warga masyarakat, atau membuat kalangan dalam rangka sedekah bumi. Oleh karena itu sendang itu disebut sebagai sendang Kalangan, atau sendang tempat berkumpul.

Hal ini dibenarkan oleh Camat Montong pada saat acara pembukaan tempat wisata bahwa Sendang Kalangan dulunya dipakai warga untuk mandi, mencuci, dan tempat berkumpulnya warga, jadi ternyata tidak ada hubungannya dengan wong Kalang yang saya pikirkan tersebut di atas.

Di sekitar sendang banyak pepohonan tumbuh rindang, suasananya sejuk dan menyegarkan. Cocok untuk refresing, apalagi sekarang lokasi sendang kalangan sudah disulap menjadi salah satu destinasi yang ada di kabupaten Tuban. Selain menikmaati kesejukan alam sendang kalangan, pengunjung juga bisa berswa ria foto di spot-spot yang telah dibuat oleh pengelola setempat. Wah pokoknya asyik berwisata di Sendang kalangan Montong Sekar Tuban. Silakan dicoba untuk dikunjungi. Semoga bahagia.

Sabtu, 10 Februari 2018

ISBAT Touring Bersama Pak Camat Di Dusun Tuwiwiyan

Pic. Team Isbat
ISBAT Touring Bersama Pak Camat Di Dusun Tuwiwiyan
Oleh : Joyo Juwoto

Dusun Tuwiwiyan desa Kumpulrejo Kec. Bangilan termasuk desa yang memiliki beberapa tempat destinasi wisata tersembunyi. Diantaranya adalah sebuah kedung yang oleh masyarakat dikenal sebagai Pohpandak. Selain itu juga terdapat air terjun yang apabila dikelola dengan baik tidak menutup kemungkinan menjadi salah satu tujuan wisata alam yang cukup menantang dan menawan.

Team jelajah kampung ISBAT, Jumat siang (9/02/2018) bersama Pak Camat Bangilan, Bapak Midun Riza Moh. Maftuchin mengunjungi air terjun yang ada di dusun yang berada di pinggiran hutan. Untuk menuju lokasi memang medannya agak susah, selain jalan licin karena hujan juga dikarenakan belum ada akses yang langsung bisa ke lokasi, kecuali memakai kendaraan roda dua atau mobil offroad tentunya.

Jika melihat dari medan yang harus naik turun, jalan setapak yang matoh (lemah utoh) dan melewati area persawahan penduduk, lokasi air terjun yang berada di aliran sungai Joloro, dan juga kedung Poh Pandak yang masih asri dan alami tentu model wisata jelajah alam sangat cocok untuk lokasi ini. Apalagi jika ada tempat untuk kemah wisata tentu tempat seperti ini sangat tepat.

Pic. Team Isbat
Keindahan alam khas desa pedalaman, aliran sungai, batu-batu kali, lumpur dan kedung untuk mandi terasa indah menjadi tempat bermain anak-anak jaman now. Apalagi jika dikombinasikan dengan panorama alam yang cukup sejuk, dengan pohon-pohon yang masih rimbun, bentangan sawah ladang penduduk yang cukup asri menambah daya tarik wisata alam yang ada di duwun Tuwiwiyan ini.


Belum lagi jika pagi tiba, atau menjelang petang pemandangan para penggembala yang pulang dari menggembala sapi dan kerbaunya, oh, sungguh pemandangan yang cukup menawan. Jika kita punya keberanian, kita bisa meminta ijin untuk ikut naik di  atas punggung kerbau yang sedang njerum di kedung.

Pic. by Muin Bekam

Saya selalu membayangkan saat senja mulai turun,  dan burung-burung pulang ke sarangnya, saat udara sore bertiup sepoi-sepoi, daun-daun bergoyang menikmati harmoni semesta raya, dan para gembala pulang ke kandang menaiki legamnya punggung kerbau yang berbaur lumpur sambil meniup seruling bambu yang mendayu. Oh, duhai alangkah indahnya alamku, alangkah permainya bumiku, anugerah dari Tuhan Yang Maha Indah.

Mari kita syukuri anugerah Tuhan ini dengan ikut serta menjaga lingkungan kita agar tetap indah, bersih dan asri. Kelak anak cucu kita akan mewarisi apa yang kita tinggalkan hari ini.




Kamis, 12 Oktober 2017

Pesona Sendang Asmoro di Desa Ngino Semanding

Pesona Sendang Asmoro di Desa Ngino Semanding
Oleh : Joyo Juwoto

Banyak sekali destinasi wisata di Kota Tuban yang bisa kita kunjungi, mulai dari yang sudah banyak dikenal masyarakat hingga tempat-tempat yang baru tereksplore. Tuban sebagai kota yang berada di jajaran pegunungan Kendeng Utara memiliki beberapa tempat wisata yang cukup menarik seperti goa, air terjun, dan juga sendang.

Hari ini tempat wisata di Tuban yang lagi ngehits di media sosial adalah Sendang Asmoro yang berada di desa Ngino Kec. Semanding. Untuk mencapai lokasi sendang cukup mudah. Dari Kota Tuban jaraknya sekitar 13 KM dengan jalan yang sudah halus teraspal semuanya.

Rute yang dapat diambil oleh pengunjung dari kota Tuban ke arah selatan melalui desa Bejagung, desanya para Wali. Sebelum sampai di pemandian Bekti Harjo ada gapura masuk desa Penambangan. Dari Gapura ini terus lurus ke selatan hingga sampai di desa Ngino. Dari Ngino bisa bertanya kepada masyarakat setempat di mana letak Sendang Ngino.

Jika dari Bojonegoro bisa mengambil rute dari Jembatan Glendeng terus k e utara arah kota Tuban hingga sampai di Sendang Jaka Tarub. Dari situ carilah pertigaan menuju arah Semanding. Jalannya cukup rindang dengan hutan-hutan Jati yang masih cukup lebat di kiri kanan jalan.

Masyarakat sekitar sangat welcome dengan para pengunjung, dan ini yang perlu diteladani oleh masyarakat lain, bahwa penduduk Ngino mendukung aktif adanya tempat wisata ini. Terlebih Bapak Kades Desa Ngino, sangat memperhatikan keberadaan dan kebersihan sendang Ngino.

Menurut informasi yang saya terima dari teman blogger Tuban, Mas Wid, Kades Ngino baru saja mendapatkan penghargaan sebagai Pembina Anugerah Pangan Nusantara terbaik nomer 3 se Jawa Timur. Selamat ya bapak Kades semoga prestasi bapak menginspirasi kades-kades lainnya dan bermanfaat untuk masyarakat Tuban pada khususnya dan Indonesia tentunya.

Sendang Asmoro yang baru saja diresmikan oleh Bapak Bupati Tuban, Bapak Fathul Huda ini terus berbenah. Ke depan akan disiapkan arena bermain untuk anak dan juga tempat pemancingan. Wow keren banget.


Semoga Pak Kades beserta warga Ngino terus bisa berperan aktif dalam mengelola dan memajukan potensi wisata desa. Selain itu semoga masyarakat menyadari dan ikut serta menjaga kelestarian mata air dari Sendang Asmoro sebagai sumber mata air dan kehidupan bagi warga sekitar.

Kamis, 23 Februari 2017

Menikmati Hangatnya Wedang Ronde dan Sate Kelinci di Sarangan

Tidak lengkap rasanya ke Magetan kalau tidak mampir di Telaga Sarangan, sebuah tempat rekreasi alam yang menawarkan panorama waduk dan jenjang-jenjang perbukitan yang menghijau. Sepanjang memandang mata kita akan dimanjakan dengan hamparan sawah dan kebun-kebun sayuran petani di lereng gunung Lawu yang indah mempesona.

Baru pertama kalinya sore itu saya berkunjung ke Sarangan, Setelah perjalanan Ziarah dari Madiun, bersama satu rombongan Elf, kami mampir ke Sarangan untuk menikmati kesejukan udara telaga Sarangan.

Tuhan Maha Indah, menyukai hal-hal yang indah, dan menciptakan alam dengan penuh keindahan. Telaga Sarangan dalam balutan senja yang mempesona adalah karunia Tuhan yang perlu disyukuri dan dinikmati.

Senja yang menawarkan kedamaian dengan segala dinamika orang-orangnya di pinggiran telaga, penjaja jajanan khas seperti keripik singkong, keripik ubi manis, keripik bayam, brem dan aneka jajanan lainnya. Pedagang kaki lima dengan sate kelincinya, jagung bakar, pisang keju, dan tak kalah manisnya wedang ronde yang menghangatkan suasana dinginnya telaga di lereng gunung Lawu.

Menikmati sate kelinci dan mereguk semangkuk wedang ronde di tepi telaga sarangan adalah pilihan yang tepat, apalagi udara yang sore yang mulai dingin. Selain itu kita juga bisa menikmati hangatnya jagung bakar yang banyak dijual oleh para pedagang. Senjamu akan sangat indah dengan itu semua, kawan.


Selain beraneka macam kuliner yang dapat dinikmati oleh pengunjung,  di telaga Sarangan ini juga ada wisata naik kuda yang mengelilingi telaga, atau pengunjung juga bisa naik speedboad yang bisa menaikkan frekuensi degup jantung dengan manuver-manuvernya.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan kamu dustakan ? begitu dalam kitab suci Tuhan mengingatkan, akan segala nikmat yang telah dianugerahkan kepada manusia, sayang ,manusia kadang kurang memperhatikan dan kurang dalam mensyukurinya.

Berwisata alam berarti membaca alam, sedang membaca alam adalah cara lain kita dalam berguru kepada-Nya, karena alam adalah bagian dari lembaran ayat-ayat suci Tuhan  dari firman-Nya yang tidak tertulis di bentangan alam semesta. Sudahkan Anda berwisata hari ini ? salam.


Selasa, 31 Januari 2017

Menikmati Keindahan Wisata Alam dan Sejarah di Sambonglombok

Menikmati  Keindahan Wisata Alam dan Sejarah di Sambonglombok
Oleh : Joyojuwoto

Sambonglombok adalah sebuah bendungan yang dibangun pada masa kolonial Belanda, yang berada di perbatasan antara dusun Mundri desa Sidodadi dengan dusun Sambonglombok desa Bangilan. Bendungan ini memiliki satu sudetan pintu air ke selatan yang mengalir membelah kota Kecamatan Bangilan hingga sampai di Kec. Senori. Bendungan Sambonglombok ini dipakai untuk membendung aliran sungai Kali Kening, agar air sungai bisa dimanfaatkan sebagai sarana irigrasi untuk pertanian. 

Bendungan yang memiliki luas sekitar dua hektar ini dibangun sejak pemerintah kolonial Belanda mencanangkan program politik etisnya, yang salah satu programnya adalah membangun sarana dan jaringan irigrasi untuk kepentingan pertanian. Tapi jangan salah, Belanda menerapkan program politik etis atau politik balas budi bukan sebab Belanda benar-benar ingin membalas budi kepada rakyat Indonesia, melainkan juga demi kepentingan kaum penjajah itu sendiri.

Politik etis yang digagas oleh Van De Venter ini kemudian direspon oleh Ratu Belanda, Ratu Wihelmina.  Dalam pidato kenegaraannya tahun 1901, Ratu Belanda ini mengatakan :

“Negeri Belanda mempunyai kewajiban untuk mengusahakan kemakmuran  dari penduduk Hindia Belanda.”

Pidato inilah yang akhirnya berimbas pada pembangunan sarana dan jaringan irigrasi, termasuk salah satunya adalah Bendungan Sambonglombok yang ada di Kec. Bangilan.

Selain disebut sebagai sambonglombok, orang-orang juga menyebutnya sebagai sambong Mundri, karena sebagian dari bangunan bendungan ini berada di wilayah Mundri. Namun saya lebih suka menyebutnya sebagai sambonglombok. Menurut cerita dari masyarakat setempat, bendungan ini dinamakan bendungan Sambonglombok  karena wilayah ini dulunya sering dilanda kebanjiran.  Dibendung bagaimanapun banjir tetap melanda pemukiman warga. Akhirnya setelah memalui tirakat dan petunjuk dari sesepuh dusun, warga disarankan untuk menanam lombok di sepanjang bantaran sungai .  Setelah warga menanam lombok inilah banjir tidak lagi menghantui rumah warga.

Mungkin kita bertanya apa hubungan tanaman lombok dengan banjir, tentu tidak ada hubungannya sama sekali. Tanaman lombok setinggi dan sebanyak apapun tidak akan mampu menahan arus banjir sungai Kali Kening, namun begitulah cerita yang ada di masyarakat setempat.  Bagaimanapun juga foklore memang tidak perlu diuji dan ditanyakan kebenarannya secara ilmiah.

Selain difungsikan sebagai sarana irigrasi bendungan Sambonglombok juga bisa dijadikan destinasi wisata bagi masyarakat. Hanya saja masalah yang selalu muncul selalu sama, yaitu kurangnya perhatian dari yang berwenang. Walau demikian, bendungan Sambonglombok dengan kondisi yang apa adanya tetap menawarkan panorama keindahan alam yang mempesona.

Selain panoramanya yang indah, bendungan Sambonglombok juga bisa dijadikan sebagai tempat pemancingan. Banyak ikan yang hidup di bendungan ini, seperti ikan Mujair, ikan wader bader, keting, dendeng, dan berbagai jenis ikan lainnya. Selain itu pengunjung juga bisa menjadikan tempat ini sebagai spot untuk selfi.

“Pemandangan di sini memang indah sekali, apalagi diramu dengan secawan romantisme dan kenangan yang manis” Kata Ical, salah seorang pemuda dari desa Sidodadi menuturkan kenangannya tentang sambonglombok.

“Kita bisa menangkap senja dan kemudian membawanya pulang sebagai kenangan di tempat ini” Kata Adib Riyanto, salah seorang penikmat senja sekaligus cerpenis ternama dari Kota Bangilan. Salah satu cerpennya yang berjudul “Senja Tenggelam di Kali Kening” yang diterbitkan oleh salah satu koran ternama adalah hasil inspirasi dari bendungan Sambonglombok.


Tidak berlebihan memang, jika bendungan Sambonglombok menyimpan keindahan dan bahkan juga kenangan yang manis. Khususnya bagi yang masa kecilnya banyak dihabiskan dengan bluron (mandi di kali) dan mencari ikan di bendungan ini. 

Minggu, 29 Januari 2017

Waduk Punggur, Potensi Wisata Di Bangilan Tuban

Waduk Punggur, Potensi Wisata Di Bangilan Tuban 
Oleh : Joyojuwoto

Waduk Punggur mungkin nama yang masih  sangat asing dan jarang didengar di telinga masyarakat di wilayah kabupaten Tuban. Waduk ini memang tidak masuk di dalam agenda wisata Kabupaten, jadi wajar jika waduk ini tidak begitu dikenal oleh masyarakat. Tidak seperti tempat wisata lain seperti : Pemandian Bektiharjo,  Goa Ngerong, Goa Akbar, Goa Putri Asih, Pantai pasir Putih, Air terjun Nglirip, dan sederet nama tempat untuk berwisata yang sudah dikenal oleh masyarakat di kabupaten Tuban dan sekitarnya.

Waduk Punggur berada di desa Banjarworo Kec. Bangilan Kab. Tuban, tepatnya di tepi jalan raya Bojonegoro-Jatirogo, di dusun Punggur sebelah barat masjid Punggur ada jalan setapak masuk sekitar 500 meter ke arah utara. Waduk ini tidak terlalu luas dan biasa dipakai oleh petani setempat untuk pengairan sawah dan ladang. Selain itu waduk ini juga dipakai untuk wisata memancing bagi para warga di sekitar Kec. Bangilan. 

Sebenarnya waduk Punggur punya potensi besar untuk dikembangkan menjadi tempat wisata. Kita bisa mencontoh konsep waduk Tempuran di Kab. Blora yang juga sangat diminati oleh wisatawan karena ikan bakarnya. Waduk tempuran Blora memadukan wisata air dan kuliner. Kesamaan konsep ini perlu dicontoh, setidaknya dalam hal kulinernya, sehingga masyarakat Bangilan tidak perlu jauh-jauh ke Blora jika ingin menikmati sensasi ikan bakar segar. Tentunya perlu dukungan berbagai pihak untuk mengelola potensi waduk Punggur yang belum tergarap.  

Apalagi di era sosial media (Socmed) sangat mudah untuk mempromosikan dan memviralkan potensi yang dimiliki oleh suatu daerah. Pihak pengelola bisa memanfaatkan facebook, twitter, instagram, dan berbagai fasilitas sosial media lainnya untuk berpromosi. Dengan kemudahan informasi dan komunikasi ini, saya kira konsep untuk menjadikan waduk Punggur sebagai wahana bersantai dan liburan sangat terbuka lebar.

Waduk Punggur yang letaknya langsung berbatasan dengan hutan-hutan memiliki view yang indah, dengan bukit-bukit kecil disekelilingnya menampak keeksotisan waduk ini. Sebenarnya Waduk Punggur dulu sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat baik dari Tuban maupun luar kabupaten. Tidak aneh jika waduk Punggur pernah dijadikan sebagai tempat rekreasi dan bumi perkemahan. Bahkan waduk Punggur dulu diresmikan oleh gubernur Jawa Timur yang ke sembilan bapak Wahono.

Selain memiliki potensi untuk pertanian, waduk Punggur juga bisa dikembangkan potensinya dalam bidang perikanan. Banyak jenis ikan yang hidup di waduk Punggur, seperi mujaer, tombro, dendeng, keting, udang dan lain sebagainya. Di pinggiran waduk juga bisa ditanami pohon yang menghasilkan buah-buahan, seperi rambutan, klengkeng, jambu, mangga, dan berbagai pohon penghasil buah lainnya. Selain sebagai tanaman penghijauan pohon-pohon ini juga akan menambah pesona dari waduk Punggur.

Masyarakat bisa menanam dan mengambil hasil buah-buhan dan ikan dari waduk ini. Selain itu masyarakat juga bisa memanfaatkan waduk Punggur sebagai wisata kuliner. Di tepian waduk bisa dibangun gazebo-gazebo yang berfungsi sebagai warung ikan bakar. Pengunjung bisa langsung membeli ikan bakar segar dari memancing atau langsung beli di pemilik warung. Hal ini tentu akan menarik pengunjung dari luar maupun dari dalam wilayah Kab. Tuban, mengingat letak waduk berada di jalan poros kabupaten.

Tinggal bagaimana pihak desa dan warga sekitar mengelola waduk ini sehingga menarik para wisatawan untuk mengunjungi waduk Punggur. Jika dikelola dengan baik dan benar, Insyallah waduk punggur bisa menjadi primadona bagi wisatawana baik dari dalam maupun luar daerah, dan ini tentu membawa keuntungan bagi desa maupun masyarakat di sekitar waduk.

Kamis, 29 Desember 2016

Ziarah Ke Maqam Raden Sahid Moro Teko di Soko Medalem Senori

Sunan Kalijaga atau juga dikenal dengan nama Raden Sahid adalah putra dari Adipati Tuban Wilatikta. Setelah mengalami suluk mulai dari seorang berandal Lokajaya hingga akhirnya ia mendapatkan cahaya hikmah melalui perantara Kanjeng Sunan Bonang. 

Mantan berandal ini kemudian melakukan perjalanan njajah desa milang kori dari satu tempat ke tempat yang lain dalam rangka berdakwah mengislamkan masyarakat Jawa.

Dalam berdakwah Sunan Kalijaga tidak pernah menetap secara permanen dalam waktu yang sangat lama. Beliau banyak melakukan safari dakwah dari wilayah ke wilayah yang lain, sehingga tidak mengherankan jika di berbagai tempat terdapat petilasan atau bahkan maqam yang diklaim sebagai tempat peristirahatan terakhir dari sang Guru Sejati Tanah Jawa ini.

Masyarakat umum mengenal bahwa maqam Sunan Kalijaga berada di Kadilangu Demak, namun sejak kunjungan mantan presiden RI, KH. Abdurrahman Wakhid sekitar tahun 1999 ke sebuah maqam yang ada di wilayah Kab. Tuban, yaitu di Dusun Soko, Desa Medalem Senori dinyatakan di situ terdapat sebuah maqam yang juga diklaim sebagai maqamnya Kanjeng Sunan Kalijaga. Maqam itu oleh warga masyarakat dikenal dengan nama Maqam Raden Sahid Moro Teko, atau juga disebut sebagai Maqam Ploso Songo, karena terdapat sebanyak sembilan pohon Ploso. Namun sekarang pohonnya tinggal tujuh batang saja.

Kemarin  bersama keponakan saya, Rafiqul Islam (Afiq) dan juga Naila anak pertama saya, kami bertiga berziarah ke Maqam Sunan Kalijaga di Medalem. Di sana kami bertemu mbah Mariadi warga sekitar, beliau bercerita bahwa "Di Kadilangu itu Kantornya Sunan Kalijaga, sedang maqamnya ya di sini ini", kata mbah Mariadi.


Selain maqamnya Sunan Kalijaga, di sebelah baratnya terdapat maqam yang konon isteri beliau, yaitu Dewi Amirah. Dalam beberapa literatur saya sendiri belum menemukan nama istri Sunan Kalijaga yang bernama Dewi Amirah, sementara yang saya ketahui istri Sunan Kalijaga ada dua, pertama Dewi Sarokah binti Syarif Hidayatullah, dan Dewi Sarah binti Maulana Ishaq.

Sedang satu kilo meter dari maqam Ploso Songo di dusun Soko Medalem juga terdapat maqam adiknya Sunan Kalijaga yang bernama Dewi Rasa Wulan. Maqam itu berada di tengah hutan. Sayang saya belum berziarah ke sana.


Rabu, 28 Desember 2016

Tempat Bluron Asyik di Kedung Krapak Senori

Foto : Rofiqul Islam (Afiq)
Tempat Bluron Asyik di Kedung Krapak Senori
Oleh : Joyojuwoto

Anak desa selalu punya cara untuk bahagia, mereka punya alam yang menjadi sahabat sekaligus tempat bermain bersama yang mengasyikkan dan menyenangkan. Ada hamparan lapangan rumput tempat anak-anak bermaian bola, ada sawah dan ladang di mana anak-anak desa mencari belut dan belalang, hutan dan gunung-gunung tempat mereka menggembalakan ternak-ternak, dan sungai-sungai yang mengalir jernih tempat mereka mandi dan bermain.

Di desa Kaligede Senori terdapat sebuah ceruk sungai yang di kenal dengan nama Kedung Krapak yang biasa dipakai mandi atau bluron anak-anak dan warga sekitar. Kedung Krapak tempatnya sejuk, di sekelilingnya di sepanjang sungai tumbuh pohon-pohon indang dan hijau yang membuat suasana semakin asri saja.

Kedung Krapak Kaligede Senori

Kedung Krapak lokasinya tidak begitu luas namun cukup dalam, kedung ini tersusun dari batu Krapak putih yang dialiri air sungai, karena sifat batu krapak yang agak lunak maka sungai di sepanjang kali krapak ini tampak bersusun-susun indah. Guratan-guratan alami yang dibentuk oleh aliran sungai membentuk batu-batu yang berjenjang. Suara gremicik airnya di sela-sela bebatuan terdengar seperti melodi alam yang indah dan menenangkan jiwa. Tempat ini cocok untuk merefres diri dan melepas lelah dan penat dari kesibukan kita sehari-hari. Saya sudah sering kali datang dan mandi di kedung ini bersama Rofiqul Islam (Afiq), keponakan saya. Suasananya sangat sejuk dan menyenangkan sekali.

Untuk mencapai lokasi kedung krapak, dari Senori menuju arah Banyuurip, sesampai di pertigaan ambil ke arah desa Kaligede. Kedung ini berada di pinggiran di sebelah barat desa Kaligede tempatnya dekat persawahan warga. Masyarakat  sudah sangat akrab dan tahu tempat ini jika kita ingin kesana, langsung saja bertanya kepada warga. Dengan senang hati para warga akan menunjukkan tempat ini.

Tiap pagi hari atau sore hari kedung ini selalu ramai oleh anak-anak yang bermaian dan mandi, air kedung krapak jernih dan sejuk. Biasanya anak-anak akan berenang, menyelam, melompat, bersalto, bermain musik dengan air kedung dengan kombinasi-kombinaasi tertentu, dan juga bermain kejar-kejaran bersama teman-temannya di dalam air. Keceriaan anak-anak desa ini mungkin saja tidak dimiliki oleh mereka-mereka yang berada di kota-kota besar.

Begitulah cara anak-anak desa bermain dan mengisi waktu senggangnya dengan bermain bersama. Baik itu di sungai, di lapangan, di sawah dan tempat-tempat lain yang menjadi tempat berkumpulnya anak-anak. Hal ini sangat penting bagi tumbuh dan berkembangnya jiwa bersosialisasi anak. Karena sebagai makhluk sosial anak-anak perlu mendapatkan perhatian dan dibiasakan menjalin hubungan sosial dengan teman-teman sebayanya agar kelak mereka mampu hidup bersama di tengah-tengah masyarakat yang komplek dan majemuk.

Berbahagialah jika kita dilahirkan di alam dan lingkungan pedesaan, karena alam akan mengajari berbagai kearifan dan menjadi guru terbaik. Sebagaimana pepatah yang mengatakan “Alam terkembang menjadi guru”.  Mari bersama menjaga kelestarian alam di sekitar kita agar kelak anak cucu kita bisa menikmati kasih sayang dan sentuhan cinta dari alam yang kita tinggali ini. Lestari alamku lestari desaku.

Selasa, 27 Desember 2016

Misteri Gunung Butak Sale Rembang

Misteri Gunung Butak Sale Rembang
Oleh : Joyojuwoto

Warga masyarakat di Indonesia selalu mempunyai mitos dan misteri tentang suatu tempat, baik itu mitos yang berkaitan dengan cerita terjadinya suatu tempat, tempat-tempat yang angker, tempat untuk mencari kesaktian dan kedigdayaan, untuk penyembuhan, hingga tempat untuk mencari pesugihan atau kekayaan. Seperti tempat-tempat yang lainnya Gunung Butak yang berada di Bitingan Sale Rembang juga menyimpan misteri dan mitos yang sampai sekarang masih dipercayai dan dilestarikan oleh masyarakat sekitar.

Gunung Butak memiliki dua puncak gunung, di sisi barat disebut sebagai puncak Gunung Jati, karena konon di puncak itu terdapat maqamnya seorang tokoh sakti yang bernama yag Jati Kusumo. Sedang puncak satunya berada di sisi sebelah timur dari puncak Gunung Jati yang terdapat batu pertapaan Eyang Jatikusumo. Selain pertapaan di puncak yang sebelah timur ada suatu lokasi tanahnya tidak ditumbuhi rumput atau dalam istilahnya disebut Butak/botak. Sebab inilah gunung yang tingginya sekitar 679 MDPL disebut sebagai Gunung Botak.



Konon tempat atau tanah yang tidak ditumbuhi rumput itu bekas ditancapi keris pusakanya Eyang Jatikusumo. Keris itu bernama Kyai Ampal Bumi. Menurut penuturan Mbah Ngadiyo, salah satu sesepuh di Maqam Jatikusumo, dahulu di wilayah sekitar Gunung Butak terdapat seekor ular besar yang mengganggu ketentraman warga, karena ular itu sangat besar dan sakti maka tidak ada satupun warga yang berani mengusik keberadaan siluman ular itu. Kemudian ular itu di taklukkan oleh Eyang Jatikusuma, dan menjadi penjaga di sekitar maqam.

Selain ular, di sekitar wilayah Gunung Butak juga terdapat makhluk siluman Putri Celeng dan siluman Rambut Geni. Putri Celeng ini biasanya ditemui dalam wujud badan seorang putri cantik namun kepalanya berwujud celeng, kadang juga badannya celeng kepalanya seorang putri. Sedang Siluman Rambut Geni ini badannya hanya separo, dari perut ke atas saja, rambutnya menyala seperti api. Mirip seperti tokoh Grenda Seba dalam film legenda  Angkling Darmo. Kedua Siluman itu biasanya berada di area telaga Jambangan, dan menjaga wilayah tersebut. Oleh karena itu berhati-hatilah jika kita berkunjung kesana, jangan sampai membuat kerusakan alam dan berbuat yang tidak-tidak.

Peziarah yang datang ke maqam Jatikusumo tidak hanya penduduk sekitar, banyak juga yang datang dari luar wilayah Sale, seperti dari wilayah Tuban, Bojonegoro, Rembang, Blora dan lain sebagainya. Para peziarah datang dengan niat dan tujuan yang macam-macam, ada yang sekedar jalan-jalan, berwasilah mencari kesembuhan, mencari pesugihan, naik pangkat dan lain sebagainya. Namun yang perlu diingat bahwa manusia hanya sekedar berdo’a dan meminta, dan hanya kepada Tuhan saja kita percaya yang mengijabahi permohonan kita. Selain itu sebenarnya tujuan dari berziarah sendiri adalah dalam rangka mendo’akan orang yang telah meninggal dunia dan dalam rangka mengingat akan kematian.



Menurut Mbah Ngadiyo, ritual yang perlu dijalankan oleh para peziarah sebelem mencapai maqam Jatikusumo adalah bersuci terlebih dahulu di telaga Jambangan yang berada di bagian selatan lereng Gunung Butak. Setelah bersuci dan membersihkan diri mereka hendaknya melepaskan niat-niat yang tidak baik dan membersihkan hati dari pikiran-pikiran kotor untuk pasrah kepada Tuhan di tempat yang disebut Pasepen yang tidak jauh dari Telaga Jambangan. Setelah itu pengunjung atau peziarah baru naik menuju puncak Jatikusumo. Hal ini dilakukan agar para peziarah bersih lahir batin sebelum mencapai puncak Jatkusumo. Jika seseorang telah bersih lahir batin, insyallah segala do’a dan permohonannya akan mudah diterima dan diijabahi oleh Tuhan.

Benar tidaknya mengenai sebuah misteri dan mitos tinggal kita menyikapinya secara arif dan bijaksana, karena bagaimanapun juga misteri dan mitos adalah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari struktur nilai dan kekayaan budaya lokal suatu masyarakat yang perlu kita hormati.



Senin, 26 Desember 2016

Muncak Ke Gunung Butak

Muncak Ke Gunung Butak
Oleh : Joyojuwoto

Gunung Butak berada di wilayah Kec. Sale Kab. Rembang tepatnya di lingkaran desa Pakis, Bitingan, Dowan dan beberapa desa lain yang melingkupinya. Di gunung Butak terdapat dua puncak gunung yang berdekatan, yang pertama puncak Gunung Jati yang terdapat maqamnya Eyang Jatikusuma dan yang kedua puncak gunung Butak yang di atasnya konon terdapat pertapaan Eyang Jatikusuma.  

Setelah mendengar info tentang lokasi Gunung Butak, saya bersama tim traveler yang terdiri dari Mas Faqih, Mas Andik, dan Mas Puput, meluncur menuju lokasi. Perjalanan dari Bangilan-Jatirogo hingga Sale sangat lancar dengan jalan yang mulus. dan udara yang sejuk. Hutan-hutan jati di pinggiran jalan masih cukup banyak, dan sangat asri.

Sesampainya di pertigaan kuburan desa Ngandangan, arah Gunung Butak ke selatan. Melewati desa Tengger, dan terus hingga ke desa Bitingan. Di batas akhir desa Bitingan menuju Gunung Butak jalannya berbatu, walau demikian secara umum jalannya bisa diakses dengan kendaraan roda dua ataupun roda empat hingga di puncaknya, khususnya puncak Jatikusuma. Jika musim penghujan, kayaknya jalannya akan sangat licin jadi perlu berhati-hati.

Gunung Butak ternyata juga menjadi kawasan konservasi alam yang melalui SK Penetapan Menteri Pertanian No : 55/Kpts/Um/2/1975 tanggal 17 Februari 1975, sebagaimana yang tertulis di plang yang dipasang di jalan menuju lokasi.

Udara pegunungan Gunung Butak sangat sejuk, di sepanjang perjalanan udara terasa dingin, suara hewan-hewan hutan menyemarakkan sepanjang perjalanan. Ada beberapa ekor kera hutan yang duduk-duduk di bebatuan dan dahan-dahan pohon. Di ceruk lembah Gunung Butak terdapat sebuah telaga yang menjadi jujugan liburan penduduk sekitar. Dari telaga untuk menuju puncak melewati petilasan yang disebut Pasepen.

Dari Pasepen pengunjung langsung bisa menuju puncak maqam Eyang Jatikusuma. Puncak Gunung Butak tingginya diperkirakan  sekitar 679 MDPL, viewnya sangat indah dan sejuk. Sepanjang memandang tampak desa-desa dan sawah yang menghampar yang berada di bawahnya.

Di puncak Jatikusuma inilah pengunjung bisa berziarah dan menikmati pemandangan yang sangat menawan. Setelah melewati medan jalan berbatu akhirnya kami berempat pun sampai di puncaknya. Keringat dan lelah terbayar sudah. 


Sabtu, 24 Desember 2016

Pasujudan Syekh Jumadil Kubro di Jatirogo

Syekh Jumadil Kubro bisa dibilang sebagai sesepuhnya Walisongo, beliau adalah ayah dari Sunan Gesik Harjo dan kakek dari Sunan Ampel. Sebagai tokoh yang keramat Syekh Jumadil Kubro memiliki banyak petilasan bahkan konon makamnya juga banyak diklaim berada di beberapa tempat.

Ada beberapa tempat yang konon dianggap sebagai petilasan ataupun makam tokoh penyebar agama Islam dari Champa ini, diantaranya berada di Mojokerto, Semarang, Jogjakarta, Wajo Sulawesi, dan satu lagi yang belum banyak diketahui ternyata maqam dan petilasan Syekh Jumadil Kubro ada  di Kabupaten Tuban.

Salah satu petilasan dari Syekh Jumadil Kubro  atau juga disebut dengan nama Syekh Jamaludin yang ada di Kabupaten Tuban berada di Kec. Jatirogo, tepatnya di desa Jati Klabang, dusun Jambe. Berada di tepi jalan raya Jatirogo-Bojonegoro.

Di area petilasan ini berdiri sebuah langgar kecil, di sisi langgar bagian selatan terdapat ruangan yang ada batu pasujudannya, konon batu ini dipakai oleh Syekh Jamaludin untuk menjalankan ibadah kepada Allah swt sehingga batu ini dianggap sebagai bekas pasujudan beliau.


Lokasi pasujudan terasa tenang dan sejuk serta nyaman.  Di sekelilingnya tumbuh tanaman yang tumbuh menghijau dan asri. Di belakang langgar pasujudan Syekh Jamaludin, terdapat sebuah sumur  atau sendang kecil berbentuk tapal kuda yang airnya jernih. Air ini selain dipakai untuk keperluan langgar juga dipakai untuk air minum warga sekitar. 

Selain terdapat petilasan yang berupa pasujudan, di sebelah selatan petilasan juga ditemukan makam yang dianggap tempat disemayamkannya jasad Syekh Jumadil Kubro. Wallahu 'alam

Jumat, 23 Desember 2016

Inilah Wisata Embung Lodan Yang Menawan

Inilah Wisata Embung Lodan Yang Menawan
Oleh : Joyojuwoto

“Jangan sampai kesibukanmu mengganggu waktu bermainmu”


`         Kata-kata di atas saya kira sangat tepat untuk menggambarkan musim liburan panjang sekolah di semester pertama ini. Sibuk bekerja sebuah keharusan dan penting, namun liburan pun tak kalah pentingnya, bahkan kerja hasilnya juga untuk liburan juga. Berbagai rencana dan dana tentu telah disiapkan untuk mengisi waktu liburan, baik bersama keluarga, sahabat, komunitas, maupun dengan sesama penghobi traveling lainnya.

          Sebagai penghobi traveling saya pun tak mau ketinggalan mengisi liburan kali ini dengan jalan-jalan. Saya tak butuh banyak persiapan untuk berhappy ria karena saya lebih suka liburan di alam terbuka dan di lokasi yang dekat-dekat saja. Tak perlu jauh keluar kota, tak perlu menginap, dan tidak membutuhkan banyak biaya. Cukup dengan motor saya bonceng istri dan kedua anakku Nafa dan Naila menjelajahi aspal-aspal di perjalanan dari Banjarworo Bangilan menuju Lodan Sarang.

          Pukul 08.30 WIB motor dengan muatan 160 Kg meluncur menjauhi matahari terbit. Sesampai di pertigaan Jatirogo-Paseyan saya mengambil jalur ke arah Bader-Bancar dan sampai di perempatan Ngoro. Dari perempatan ini saya ambil arah ke barat melewati desa Latsari Bancar-desa Tlogo Agung-Sampung-Bonjor dan akhirnya sampai di Lodan Wetan. Perjalanan cukup indah dan segar dengan pohon-pohon juwet, jambu mente, dan pohon-pohon penghijauan di tepi-tepi jalan yang buahnya bergelantungan.


          Sekitar pukul10.00 WIB sampai lokasi bendungan Embung Lodan yang dibangun atas bantuan dan kerjasama pemerintah Indonesia dan Jepang. Menurut penduduk sekitar bendungan itu mulai dibangun tahun 2005 dan selesai pembangunannya tahun 2008. Panorama Embung Lodan sangat menawan,airnya melimpah menghampar luas dengan bukit-bukit dan hutannya yang menghijau di balik embung. Di pinggir embung betebaran gethek (rakit) dari susunan bambu yang dipakai penduduk sekitar untuk menyeberang dan sebagai sarana transportasi guna mengangkut hasil pertanian, hasil hutan seperti kayu, daun-daun maupun rumput dan daun-daunan untuk makanan ternak.

          Saya lihat dan saya rasakan petani di daerah ini sangat perkasa, mereka harus memakai gethek untuk mengangkut hasil panennya. Tak ada perahu mesin, mereka harus menariknya dengan manual. Agar gethek atau rakit tidak keluar dari jalur penyebrangan maka dibuatkan tali yang melintangi Embung.

          Saya membayangkan jika saja Embung Lodan ini selain dipakai untuk PDAM juga bisa dimanfaatkan sebagai wisata air dengan jukung-jukungnya yang mengantarkan wisatawan mengelilingi sepanjang waduk, kemudian bisa dipadu juga dengan wisata kuliner ikan bakar, warung kopi, oleh-oleh khas Sarang Rembang tentu Embung ini lebih menarik wisatawan untuk berkunjung.

          Sungguh panorama Embung Lodan indah, sejuk dan sangat menawan pandangan, panoramanya pun mendukung untuk dikembangkan menjadi alternatif tempat wisata lokal yang bagus dan representatif. Tinggal kita menunggu sentuhan manis dari pihak pemerintah daerah atau yang terkait.

Selasa, 13 Desember 2016

Piknik Asyik Di Pantai Sowan Bancar

Piknik Asyik Di Pantai Sowan Bancar
Oleh : Joyo Juwoto

Pantai Sowan merupakan salah satu destinasi wisata pantai yang ada di wilayah Kab. Tuban. Pantai ini berada di Dusun Sowan, Desa Bogorejo Kec. Bancar. Dari kota Tuban ke arah barat sekitar 40 KM, dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua ataupun roda empat di jalur utama pantura, yakni jalur Surabaya-Semarang.

Di Pantai Sowan ini kita bisa menikmati hamparan pasir putih dan sengatan sinar matahari yang cukup sejuk di pagi dan sore hari, namun untuk siang hari cukup panas. Selain berpasir putih, di pantai ini juga menawarkan pemandangan batu-batu karang berwarna kekuningan yang cukup indah ditangkap mata kamera para wisatawan.

Di pantai ini juga terdapat hutan-hutan Trembesi dan pohon Klampis yang cukup menyejukkan pandangan mata, apalagi di antara pohon-pohon ini terdapat pedagang yang menawarkan aneka makanan dan minuman. Di bawah pohon-pohon inilah para wisatawan dapat menikmati semilir angin pantai sambil menikmati secangkir kopi hangat, atau pun menikmati degan hijau muda yang memanjakan selera.

Pantai ini bisa menjadi rujukan wisata keluarga yang mengasyikkan. Kemarin saat weekand panjang saya sekeluarga menyempatkan diri menikmati belaian angin pantai sowan yang lembut. Bermain pasirnya yang putih, mengejar kepiting laut, dan menjumputi cangkang kerang yang bertebaran di tepi pantai.

Selain itu di Wanawisata Pantai Sowan juga terdapat beberapa satwa yang dipelihara oleh pihak pengelola.  Ada beberapa ekor ular besar yang dikurung di kandang kawat, juga terdapat beberapa ekor kera. binatang-binatang ini sangat menarik perhatian anak-anak.

Naila sudah beberapa kali ke pantai, ia sudah sangat akrab dengan tarian ombaknya dan ia sangat senang kembali menikmati pasir dan air laut. Aktivitas yang ia lakukan adalah memunguti batu-batu karang dan menjumputi cangkangnya kerang.  Sedang Nafa yang baru pertama kalinya menyapa pantai, ia masih canggung dan tampak takut melihat geliat gelombang yang berkejar-kejaran ke tepi laut. Suaranya yang bergemuruh juga menciutkan nyalinya. Nafa akhirnya hanya bisa menikmati pantai digendongan uminya.

          Suasana pantai sangat ramai, maklum memang saat itu hari libur. Ada yang bermain di pasir putihnya, berselfie welfie, atau sekedar duduk-duduk bercengkerama bersama di bawah pohon yang rindang. Suasananya sangat meriah, dan menyenangkan. Alhamdulillah, Saya dan keluarga kecil saya pun bisa menikmati piknik yang sangat asyik di Pantai Sowan.


Kamis, 24 November 2016

Gerbang Kata, Rumah Makna

Gerbang Kata, Rumah Makna
Oleh : Joyojuwoto

Gerbang Kata adalah judul buku antologi puisi yang ditulis oleh penulis kondang Much. Khoiri yang akrab dipanggil pak Emcho. Saya sengaja menggunakannya sebagai judul tulisan memoar saya mengenai Kopdar kepenulisan yang diselenggarakan oleh komunitas literasi Sahabat Pena Nusantara (SPN) yang diketuai oleh Ust. Husnaini. Kopdar ini sendiri diadakan di Pondok Pesantren Darul Istiqomah Pekuniran, Maesan, Bondowoso tanggal 20 November 2016.

Dalam judul saya terdapat dua kalimat penting yang saling berkaitan, yang pertama adalah gerbang kata kemudian disambung Rumah Makna. Saya mengibaratkan SPN adalah sebuah gerbang kata di mana para anggotanya mengolah kata yang akan diproduksi menjadi sebuah tulisan. Sedang rumah makna saya ibaratkan sebagai salah satu tujuan dan arah di mana dunia kepenulisan itu berlabuh. Pesantren Darul Istiqomah yang diasuh oleh KH. Masruri Abdul Muhits, Lc. tempat di mana SPN kopdar, saya ibaratkan sebagai Rumah Makna yang mempesona.

Gambaran Pondok Pesantren Darul Istiqomah yang berudara sejuk, berpanorama indah, lingkungan yang bersih nan asri, penghuninya yang ramah, santun dan penuh dengan iklim keilmuan dan ketawadhuan adalah rumah makna tempat di mana nilai-nilai ukhuwwah kemanusiaan tumbuh subur dan terjalin dengan indah. Nilai-nilai dan keilmuan pun berkembang dengan baik dan dinamis, seperti yang saya lihat para santri sibuk belajar dengan membaca, berdiskusi, tenggelam dalam lautan ilmu pengetahuan. Pesantren ini menciptakan iklim dan milieu yang baik bagi pembelajar-pembelajar sejati.

Dari tulisan-tulisan para peserta kopdar anggota SPN saya perhatikan sangat menyukai iklimnya Daris, nama beken dari Pesantren Darul Istiqomah. Sedang saya sendiri tidak usah ditanya, saya sangat suka, betah, dan sangat kerasan tinggal di pesantren ini. Pak Kyai Masruri, Bu Nyai, segenap asatidz-ustadzaat beserta para santrinya berhasil memindahkan dan mengejawentahkan alam surgawi ke bumi, dan surga itu ada di Pondok Pesantren Darul Istiqomah.

Pengalaman kopdar di Daris adalah pengalaman pertama saya di SPN, walau sebetulnya ini adalah kopdar ketiga SPN. Kopdar pertama di Malang dan yang kedua di Jogja saya belum bisa hadir. Alhamdulillah untuk kopdar yang ketiga  bismillah tawakkaltu ‘alallah saya berangkat. Perjalanan saya dari rumah ke Daris cukup lancar, berangkat pukul 10.00 WIB sampai Daris pukul 22.00 WIB alhamdulillah.

Saya sangat beruntung bisa hadir di kopdar SPN yang ketiga, ketemu dengan teman, sahabat, dan guru-guru yang hebat, lebih-lebih bisa merasakan kesejukan dan keasrian Daris di bawah asuhan bapak Kyai Masruri Abdul Muhits, sungguh pengalaman yang sangat berharga dan tak terlupakan.

Acara kopdarnya pun luar biasa karena saya bisa ketemu dan menyecap ilmu dari para pakar dan tokoh literasi nasional. Ada pak Didi Junaedi, beliau adalah penulis produktif, setidaknya ada lima judul buku yang terbit di tahun 2016, karya-karyanya telah diterbitkan oleh penerbit mayor dan telah banyak menghiasi toko-toko buku di seluruh Indonesia, Pak Didi Al Brebesi yang didapuk sebagai pemateri pertama ini memberikan materi tentang mengemas tulisan menjadi naskah buku. Selanjutnya pemateri kedua adalah Prof Muhammad Chirzin, beliau pakarnya ilmu tafsir Al Qur’an, karyanya sudah puluhan judul yang diterbitkan Gramedia, Pak Prof. Ini banyak menginspirasi dalam hal penulisan buku dari Al-Qur’an, dan beliau menyampaikan materi tentang penerbitan buku, pemateri ketiga ada pak Emcho yang memberikan materi mengenai promosi dan menjual karya sendiri, dan tidak kalah dahsyatnya pemateri keempat, Dr. Taufiqi Bravo, beliau seorang Kyai, motifator Nasional sekaligus pakar  hipnotis yang benar-benar bravo.

Sungguh kopdar SPN di Ponpes Darul Istiqomah Bondowoso bertabur ilmu dan pengalaman yang luar biasa, saya bersyukur kepada Allah swt., dan berterima kasih kepada seluruh sahabat-sahabat, guru-guru di SPN yang telah memberikan ilmu dan keteladanan dalam hal tulis menulis, dan tentu tak lupa juga saya sampaikan penghormatan dan rasa terima kasih yang mendalam kepada Pak Kyai Masruri beserta seluruh keluarga besar Pondok Pesantren Darul Istiqomah yang telah menyambut dan menyediakan tempat kopdar, kami tidak dapat memberikan balasan apa-apa, kami hanya bisa berdo’a semoga Allah swt membalas kebaikan beliau dengan balasan yang sebaik-baiknya. Jazakumullah ahsanal jaza’.

Sungguh SPN adalah gerbang kata yang luar biasa dan Pondok Pesantren Darul Istiqomah adalah rumah makna yang menginspirasi kita semua. Semoga perjalanan SPN ke depan lebih baik dan membawa manfaat bagi para anggotanya pada khususnya dan bagi bumi pertiwi Nusantara yang kita cintai ini pada umumnya.