Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Maret 2022

Sajak Air Mata

Sajak air mata
Oleh: Joyo Juwoto


Air matanya menggenang
Tenang menyejukkan pandangan
Air mata yang menjadi mata air
Bagi telaga jiwa yang kering kerontang

Air mata itu adalah air mata keberkahan
Yang menyirami tunas-tunas muda
Menumbuhkan bunga-bunga harapan

Air mata itu memupus haus
Dari dahaga-dahaga kemarau berkepanjangan

Air mata itu air mata kasih dan cinta
Yang menghapuskan gundah gulana

Air mata itu telaga kasih
Tempat rindu berpulang
Dalam hangatnya dekapan cinta

Bangilan, 2/3/19

Kamis, 29 April 2021

Sekuntum Cinta untuk Kekasih Tercinta

Sekuntum Cinta untuk Kekasih Tercinta
Oleh: Joyo Juwoto

Mencintaimu kekasihku, bukan seperti kisah drama cinderela
Bukan pula seperti Romeo juliet
Atau kisah kasih dalam dunia dongeng lainnya

Mencintaimu, adalah kenyataan dalam hidup
Yang kadang perih dan pedih
Walau lebih banyak gula-gulanya

Mencintaimu adalah sebuah kepastian 
Laksana langit yang bertabur berjuta bintang kebahagiaan
Walau kadang tersaput mendung dan kabut 

Percik api cinta kadang menyala-nyala
Dan berkobar menjadi  amukan rindu yang menggebu

Tak jarang pula api itu berubah menjadi samudera cemburu yang memanen badai dan debu dalam bahtera cinta

Namun begitulah cinta, selalu mengajarkan tentang arti sebuah kesabaran
Cinta selalu punya cara tuk memaafkan, bagi sebuah kekhilafan

Cinta selalu punya celah, untuk menyatukan dua hati yang telah terpatri di papan azali

Apapun yang terjadi, puzzle cinta  selalu menyatu dan mengukuhkan rasa diantara kita berdua

Cinta selalu punya cara menjaga kemurnian bara apinya

Cinta selalu mengalirkan mata air dan air mata yang jernih menyejukkan

Cintaku padamu mungkin sederhana
Tak seperti bunga-bunga kata para pujangga

Namun yakinlah cintaku tetap harum mewangi
Bagai kebun seribu bunga di taman argaloka, yang kelak akan kita panen di surga Firdaus-Nya


Bangilan, 25/04/21
Teruntuk istriku tercinta

Kamis, 26 September 2019

Cahaya Dari Kendeng


Cahaya Dari Kendeng
Oleh: Joyo Juwoto



Cahaya…
Engkaulah cahaya
Yang berpendar dari sebongkah berlian permata 
Raden Qohar, gelar dan namamu begitu sangar menggelegar
Engkau…Rembesing madu trahing kusuma

Namun, bukan karena itu kemuliaanmu
Bukan karena nasab radenmu
Bukan karena gelar kebangsawananmu
Bukan,
Sekali lagi bukan

Engkau mulia karena darma
Dan bakti suci pada Bumi Pertiwi
Tulus ikhlas demi negeri
Di bumi yang engkau diami
Bumi yang engkau cintai

Raden Qohar… Samin Surosentiko
Tlah engkau wariskan api dalam darah kami
Tlah engkau kobarkan sumbu perlawanan
Yang membakar segala sampah kesewenangan
Melawan segala bentuk tirani dan penindasan
Karena darahmu adalah darah perjuangan

Eyang Samin Surosentiko
Aku mencari jejak perlawananmu
Pada cadas yang keras
Pada debu dan batu-batu
Dan pada kalbu serta laku
Sedulur sikep, Samin; Sami-sami amin.


Bangilan, 19/09/2019.

Sabtu, 20 Juli 2019

Pada Pucuk Pinus

Pic: www.xtsquare.co.id
Pada Pucuk Pinus
Oleh: Joyo Juwoto


Di ketinggian pucuk pinus pada ranting yang aus
Angin menderu membawa kabar rindu
Pada  semesta yang bertasbih syahdu

Pohon-pohon Pinus saling berjajar, khusyu' bertafakur
dalam jejak bayang alif menjulang tinggi ke puncak langit

Dedaunan pun turut berdzikir,
dalam kesunyian gunung-gunung dan hutan

Rumput-rumput dan ilalang,
memberikan dekapan rindu dan kasih sayang yang luas membentang

Lembah,  ngarai, dan sungai-sungai berselimut kabut
Menyebut asma-asma-Mu

Bayang-bayang Pinus mengambang tenang
Dalam bening air telaga
Membasuh keruh noda-noda jelaga

Semesta raya memeluk keheningan, dalam melodi desir sang bayu
yang menerpa Pinus rentamu.

Pacet, 28/06/19

Kamis, 18 Juli 2019

Hikayat Wanita dengan seekor kucing yang bahagia dalam pangkuannya

Hikayat Wanita dengan seekor kucing yang bahagia dalam pangkuannya
Oleh: Joyo Juwoto

Dalam terang purnama, rembulan tersenyum penuh pesona.
Lekuk pipinya merona
Memendar  binar cahaya, memandikan anak-anak desa selepas isya.

Selembar tikar digelar, di sebuah halaman rumah, sambil menikmati sajian cerita, dari sang kakek ihwal seekor kucing yang bahagia, dalam pangkuan seorang wanita.

Disetiap purnama ke-lima belas, wanita itu selalu hadir dengan senyumannya, dan juga seekor kucing meringkuk bahagia.
Sedang sang kakek kembali bercerita sama di halaman rumah, pada selembar tikar dan juga anak-anak desa yang menungguinya.

Siklus purnama selalu bercerita tentang wanita dan kucingnya, yang menebar senyum  bahagia pada semesta raya, sambil menunggu penuh kerinduan pada  sang kekasih yang menjemputnya pulang.

Wanita yang bahagia dengan kucing dipangkuannya itu selalu setia, walau menunggu seribu purnama, ia selalu hadir dengan senyuman yang jelita.
Wanita itu purnama, kucingnya adalah cahaya.


*Di bawah cahaya purnama, 18 Juli 2019*

Sabtu, 29 Juni 2019

Pada Secangkir Teh di Hutan Pinus

Pada Secangkir Teh di Hutan Pinus
Oleh: Joyo Juwoto

Di sela-sela bebatuan dan percikan air sungai
Diantara bayang-bayang pinus dan kabut yang mulai turun
Dingin terasa

Bunga-bunga bermekaran di sepanjang jalan
Harum mewangi menerbangkan angan dan mimpi

Pada secangkir teh dengan aroma wangi bunga melati
Menghangat gairah cinta dan rinduku padamu

Aku peram seribu rindu
Aku pendam sejagad cinta
Pada lembah dan ngarai
Pada percik air sungai
Pada gunung-gunung
Dan pada semesta raya

Aku dekap jagad semesta
Pada setitik debu yang berhamburan di aspal dan jalan
Aku arungi luasnya samudera
pada setitik air embun yang menggantung di pucuk daun

Pacet, 28-06-2019

Rabu, 15 Mei 2019

Pemilu, Kretek Dan Secangkir Kopi Untuk Negeriku


Pemilu, Kretek Dan Secangkir Kopi Untuk Negeriku
Oleh: Joyo Juwoto


Hiruk pikuk pemilu tlah usai kawan
Mari menepi kembali
Di meja-meja warung kopi
Kita angkat secangkir kopi persaudaraan
Yang  menyatukan kembali kerukunan kita

Pemilu tlah kita lewati penuh kedamaian kawan
Mari Kita hisap bersama
Harumnya kretek-kretek keguyuban
yang asap tembakau dan cengkehnya
mengingatkan kita akan ke-Indonesiaan

Wahai kawan!
Pemilu bukan untuk berseteru
tapi pemilu adalah pesta kemenangan rakyat
pesta demokrasi kita bersama
pesta dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat

Seharusnya begitu
Walau mungkin,banyak hal yang belum
seperti itu
tapi bukan berarti wajah demokrasi
kita lukis dengan kanvas anarkhi

Wahai kawan!
Pemilu adalah ajang bersatu
wahai politisi, wahai para caleg, wahai semua rakyat

jangan kau kotori pemilu dengan ambisi dan nafsumu
mari rajut kembali semua perbedaan
dalam kebhinekaan yang tunggal ika

Kita minum dari air yang sama
kita menghirup udara nusantara
kita berdiri di bumi persada Indonesia
saatnya kita kembali dalam pangkuan ibu pertiwi
mengeyahkan segala perbedaan

rapikan bendera parpol
lipat kembali bendera ormas
singkirkan bendera ego
dan kita kibarkan bersama merah putih
di seantero bumi Nusantara tercinta.

*Puisi ini dibacakan saat acara scooterist for Indonesia di gedung serbaguna kec. Bangilan.

Selasa, 09 April 2019

Sekuntum Mawar Hitam

http://gambarpedia.org

Sekuntum Mawar Hitam
Oleh: Joyo Juwoto

Dalam temaram senjakala kueja seraut muka
Yang bercengkrama bersama gelap
Engkau adalah bunga penghias malam
Dengan kelopak hitammu yang bermekaran
Mengabadi dalam gulita tanpa pelita

Engkaulah sekuntum mawar hitam
Yang mewangi bagai sedap malam
Menghiasi koridor-koridor waktu
Dan bercumbu dengan remang senja
Dalam kehampaan nir-rasa

Senandung sajak senja kau mantrakan
Dalam kidung-kidung pilu
lalu menyeruak ke dalam jantung malam
Menyisakan aroma wangi mekarmu
Yang sunyi

Sekuntum mawar hitam tenggelam
Dan luruh dalam keheningan malam
Bersujud dan bermunajat
Menghaturkan sembah wangi
Pada Gusti yang Maha Suci

Bangilan Kalasenja, 9-4-19




Minggu, 07 Oktober 2018

Tuhan Kapan Engkau Memanggilku?


Pic. by google.com
Tuhan Kapan Engkau Memanggilku?
Oleh: Joyo Juwoto

Tuhan, kapan engkau memanggilku?
Dengan panggilan Rahman-Rahim-Mu bukan kemurkaan

Tuhan, kapan engkau memanggilku?
Dengan panggilan Maghfiroh-Mu bukan ancaman

Aku tak akan mampu menolak apapun dari-Mu
Segala daya dan upaya 

Hanyalah semata dari Engkau jua
Dan bagaimana mungkin aku bisa selamat melewati gerbang kefanaan

Menuju alam keabadian
Tanpa maunah dan taufiq-Mu

Tuhan

Dalam lirih aku berusaha bertasbih
Memanggil asma-asma-Mu

Tuhan 

Aku rindu menunggu panggilan-Mu
Sebagaimana engkau memanggil orang-orang yang Engkau ridhoi

Yaa ayyatuhan nafsul Muthmainah
Irji'ii ilaa Rabbiki raadhiyatan mardhiyyatan

Bangilan, 7-10-18

Rabu, 03 Oktober 2018

Hamba Menghiba di Keharibaan-Mu

Pic. by google.com
Hamba menghiba di Keharibaan-Mu
Oleh: Joyo Juwoto


Berjalan di jalan-jalan terjal penuh onak duri
Menyusuri labirin waktu yang semu
Tersesat dalam kabut duka nan nestapa]

Perjalanan ini penuh luka
Bermandi darah dan air mata
Mencari shirathol Mustaqim yang entah di mana

Bunga-bunga berguguran di sepanjang jalan
Mewangi memenuhi rongga hati
Tak ketinggalan debu-debu berhamburan

Menelan wajah-wajah lelah
Perjalanan panjang yang entah di mana garis ujungnya
Di bawah panas bara yang membakar telapak kaki

Adakah secauk air yang menghapuskan dahaga ini?
Atau di manakah telaga salsabil penyembuh segala luka dan dahaga?

Hanya harapan pada-Mu yang menguatkan langkahku
Hanya pelukan hangat-Mu yang mengokohkan perjalanan

Jika saatnya nanti aku kembali
Terima daku dengan segala rindu

Jika saatnya nanti aku datang mengetuk pintu-Mu
Bawa daku bersujud di altar suci-Mu

Duhai Tuhan
Hamba terjatuh
Hamba bersimpuh

Hamba yang hina menghiba
Di keharibaan-Mu

Terimalah hambamu ini
Dalam samudera rahman dan rahim-Mu

Tuhan
Rengkuh raga dan jiwaku dalam Maghfiroh-Mu

Bangilan, 3/10/18

Kamis, 20 September 2018

Gerimis Asyura'

Gerimis Asyura
Oleh: Joyo Juwoto



Gerimis Asyura
membawa gerimis hatiku
Mendung langitmu
Sendu batinku

Gerimis Asyura
Gerimis luka duka dan nestapa
Padang Karbala menangis darah
Memeluk kekasihnya dalam dekapan debu bisu

Gerimis Asyura
Wahai Kasan wahai kusen
Wahai Zaenab

Wahai kekasih bumi
Wahai kekasih langit

Darah dan air matamu
Membasuh Angkara murka

Memadam  api dendam
Meremas culas dalam dada

Wahai para pemuda penghulu surga
Wahai kekasih sang Datuk mulia
Shalawat dan salamku terangkai dalam untaian tasbih dan doa-doa


Senin, 30 Juli 2018

Cerita Anak Kucing Yang Malang


Cerita Anak Kucing Yang Malang
Oleh : Joyo Juwoto


Anak kucing malang itu mengeja resah
Diantara deru debu dan panas menyengat
Warna hitam bulunya tampak lusuh
Dan ekor panjangnya menyentuh langit perasaan

Anak kucing yang entah itu
Mengeong-ngeong parau
Menggedor pintu hatimu
Membuka ruang untuk sekedar berteduh

Mencicipi sisa duri dan sekedar remahan
Dari makanan yang tak termakan
menghindar dari haus dan lapar
yang meneror perut dan kerongkongan

Anak kucing yang malang itu
adalah anak-anak waktu
yang menunggu uluran hati
dan tangan-tanganmu


 Bangilan, 30 Juli 2018






Sabtu, 24 Februari 2018

Senja di Telaga Sarangan

Senja di Telaga Sarangan 

Senja baru saja turun
Melenggang bersama kabut, gerimis, dan dingin yang menusuk
Kabut berkapas mengambang tipis
Berenang di pinggang perbukitan sarangan
Terasiring sawah dan ladangmu terhampar hijau
Penuh padi, ketela, dan juga bawang merah
Jalan-jalanmu berkelok beku, menanjak bisu
Pepohonan berjajar sabar, melambai penuh damai
Gremicik asyik di tepian telagamu
Berbaur akur dengan deretan penjual sate kelinci, wedang ronde, dan juga jagung bakar
Gemerlap deretan pertokoan
Menawarkan beragam cinderamata yang menggoda mata
Senja di telaga sarangan
Menaiki langit anganku
Mensyukuri anugerah indah
Akan kuasa Tuhan Yang Maha Indah


*Joyo Juwoto*. Telaga Sarangan, 24/02/18

Sabtu, 03 Februari 2018

Ibu Sang Bumi Cinta

Ibu Sang Bumi Cinta
Oleh : Joyo Juwoto*


Ibu Sang bumi cinta
Mengandung bibit kawit kehidupan
melahirkan jabang bayi peradaban
mengasuh penuh peluh, mengukir jasad dan ruh

Ibu, dari lembah  kasih sayangmu
terpancar sumber dan muara hidup semesta
Dari dekapan cinta sucimu
terlahir kuncup berkembang bunga

Ibu, air matamu adalah mata air bening
yang menyejukkan dahaga raga dan segenap jiwa
doa-doamu meruwat segala asa dan cita
menghapus pupus segala lampus

Ibu, telaga jiwamu adalah oase rindu
yang merembes basah, menahan segala resah
menghantarkan harapan dan cita-cita anakmu
ke altar suci ladang harapan

Ibu, pendar matamu bagai purnama
penerang gulita kala gelap melanda
Ibu, sembah puji dan baktiku
di bawah telapak kakimu

 Bangilan, 03/02/18

*Joyo Juwoto, Anggota Forum Lingkar Pena Tuban. Diantara buku yang ditulisnya adalah: Jejak Sang Rasul (2016); Secercah Cahaya Hikmah (2016), Dalang Kentrung Terakhir (2017,) dan menulis beberapa buku bunga rampai. Penulis dapat dihubungi di 085258611993”

Kamis, 07 September 2017

Embun Pagi

Embun Pagi
Oleh : Joyojuwoto


Hening, tenggelam dalam lorong-lorong malam
Berselimut kabut berkondensasi menjadi embun
Bening  membasuh kumuh wajah malam
Menjelma senyum pagi yang indah berseri

Kaca-kaca nurani terbasuh luruh
Dalam  diam bertapa penuh
Menapak hamparan hijau dedaunan
Mewedar suci sabda Tuhan

Embun sunyi menyapa pagi
menyirami kegersangan bumi
embun pagi menempuh sunyi
menghapus haus ladang-ladang sepi

Embun-embun di pucuk rerumputan
menempuh jauh pucuk ilalang
tersebar bagai butiran-butiran mutiara
yang tergelar di jagad mayapada

Embun adalah hening yang menjelma bening
menziarahi nurani yang suci
embun adalah  diam yang terpendam
dalam tanda dan ayat-Nya



Matahari Merah, 7 September 2017



Minggu, 27 Agustus 2017

Suatu Sore di Tepian Kali Kening

Suatu Sore di Tepian Kali Kening
Oleh : Joyo Juwoto

Suatu sore di hamparan rumput yang menghijau
Dan pada pokok pohon besar di tepian Kali Kening
Yang gremicik airnya menjelma Kata~Kata
Terangkai indah dalam puisi semesta

Suatu sore Saat cakrawala terkuas jingga
Matahari beramah tamah dengan sepucuk ilalang
Dan juga daun~daun yang luruh berguguran
Merabuk subur tanah~tanah harapan

Suatu sore pada denting waktu yang terus berlalu
Sehembus angin mengibarkan angan
Pada sebuah Titian menuju langit impian
Yang tergoreskan pada sebuah lembar kanvas

Suatu sore pada janji yang telah Kita ikrarkan
Bersama mewarnai dunia dengan pena 
Menegakkan panji~panji literasi
Di sepanjang aliran Kali Kening Kita

Suatu sore di hamparan rumput yang menghijau
Saat cakrawala terkuas jingga
Dan pada denting waktu yang terus berlalu
Mari Bersama bergandengan tangan
Merapatkan barisan
Melangkah dengan gagah
Saling membahu
Melunasi janji yang telah Kita ikrarkan.


*Selamat Ulang Tahun, Komunitas Kali Kening*
26 Agustus 2017
Tepian Kali Kening Yang Hening


Rabu, 25 Januari 2017

Aku Adalah Samudera

Aku Adalah Samudera
Oleh : Joyojuwoto

Aku adalah Samudera
Membentang luas tak terbatas
Membiru sunyi  berkontemplasi pada langit

Aku adalah Samudera
Memeluk hening  pada debur gelombang meradang
Meriak  air memercik kebisuan yang panjang

Aku adalah samudera
Muara segala resah
Hilir  segenap sampah
Delta semua dosa

Aku adalah samudera
Secauk mata air
Dari air mata semesta

Bangilan, 25/1/17


Rabu, 14 September 2016

Nun


Nun
Nun...
Samudra ma’rifat Tuhan
Memendam peram rahasia semesta
Percik tinta-tinta pengetahuan
Lenyap di kedalaman lengkungmu

Nun...
Titikmu adalah mentari
Yang menebar pendar sabda suci Tuhan
Dalam kun fayakun -Nya
Meniti garis-garis cahaya takdir
menjelma menuju kodrat alam raya


Nun...
Lengkungmu adalah lembah rahasia
Titikmu adalah pepohonan
Yang diraut menjadi pena
Menari di atas jagad metacosmik
Lembar lauhil mahfuz

Nun...pena...jagad raya...

*Joyojuwoto, lahir di Tuban, 16 Juli 1981, Anggota Komunitas Kali Kening; Santri dan Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” bisa dihubungi di WA 085258611993

Kamis, 18 Agustus 2016

Kali Kening Wanci Enjing

Kali Kening Wanci Enjing
Joyojuwoto*


Sumunare srengenge gumebyar
Madangi salumahing bumi
Pedut sumibyak sirna katerak
Barat ing mongso ketigo

Weninge banyu Kali Kening
mbasuh pasuryaning enjing
Klerap-klerip mili
Ambabar ganda arum lan wangi

Grumisiking pring lan alang-alang
Sinawang kadya beksaning
Dewa-dewa ing angkasa
Kang sumawur sekar ing bawana

Elining banyu kali
Ing wanci enjing
Mangambah-ambah
Angresiki reregeting diri

Kali Kening Wanci Enjing
Bening  suci
Angresepi ati
Anggawa kaendahaning negari


*Joyojuwoto, lahir di Tuban, Anggota Komunitas Kali Kening; Santri PP. ASSALAM Bangilan dan Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” tinggal di www.4bangilan.blogspot.com.

Rabu, 10 Agustus 2016

Kali Kening Madya Ratri

Kali Kening Madya Ratri

Ing pinggiring Kali Kening
Rikala wanci ing madya ratri
Rembulan wudar
Nglegena tanpa busana

Wengi iki tan saya nglangut sepi
Kekidungan jiwa Sun racik
Ing sagelaring jagad alit
Sumebyar wangi tumuju Hyang Gusti

Ning Nang Ning Nung
Duh Sekaring Bawono Langgeng

Sun manembah raga
Manembah cipta
Manembah jiwa
Lan manembah rasa
Marang INGSUN kang sejati

Ning Nang Ning Nung
Duh Sekaring Bawono Langgeng

Manunggal tunggal
Antarane kawula lan Gusti



*Joyojuwoto, lahir di Tuban, 16 Juli 1981, Anggota Komunitas Kali Kening; Santri dan Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” yang tinggal di www.4bangilan.blogspot.com.