Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Mei 2018

Misteri Kakek Tua dan Sangkar Burung Emas

Misteri Kakek Tua dan Sangkar Burung Emas
Oleh : Joyo Juwoto

Hutan jati di lembah bukit Lodito itu cukup sepi, pohon-pohon besar nan lebat serta semak-semak liar dan rimbun membentang luas.  Selain ditumbuhi pohon jati, hutan itu juga menyimpan berbagai ragam flora dan fauna. Ada pohon mahoni, trembesi, kelor, randu, klanding, gedrek, kenitu, ploso, asem jawa, dan berbagai macam tanaman perdu lainnya seperti secang, serut, kloya-klayu, sidomabur, wangon, dan juga klorak. Di hutan itu juga berdiam binatang-binatang liar seperti Kijang, Celeng, monyet, trenggiling, landak, musang, ayam hutan, merak, burung kutilang, kepodang, cendet, betet, elang, dan berbagai ragam burung lainnya. Selain penghuni yang kelihatan oleh mata, tentu hutan juga memiliki penghuni yang tidak kasat mata, tersembunyi di dalam palung misteri diantara semak-semak dan belukar hutan.

Di sebuah lembah di kaki bukit sebelah timur di tengah belantara hutan, teradapat sebuah gubuk yang tersembunyi. Gubuk itu dikelilingi pagar tanaman hidup, kebanyakan adalah tanaman klanding, kares, residi, kelor dan jaranan.  Gubuk itu cukup sederhana, beratapkan ilalang kering yang dianyam dan ditata sedemikian rupa, melindungi dari terik matahari dan hujan. Di depan gubuk terdapat dingklik bambu dan sebuah meja kecil dari pohon gembol yang banyak tumbuh di sekitar hutan.

Di belakang gubuk terdapat sebuah sendang kecil, airnya sangat jernih. Sendang itu dikelilingi beberapa pohon gayam, sehingga membuat suasana menjadi rindang dan sejuk. Di dalam sendang terdapat ikan-ikan yang bebas berkeliaran tanpa takut disakiti oleh makhluk Tuhan yang lainnya.

Di pekarangan gubuk tumbuh tanaman jagung, ketela pohon, ketela rambat, tomat, lombok, terong dan aneka sayur-sayuran. Hal itu menandakan gubuk itu tidak kosong, namun dihuni oleh seseorang yang sengaja hidup jauh dari keramaian pedesaan, memilih menyendiri di tengah hutan belantara.

Entah sebab apa di hari seperti ini ada orang yang memilih menepi dari kehidupan, bersunyi seorang diri hidup jauh dari hiruk-pikuk dunia, apakah dia seorang pertapa? ataukah seorang pengembara yang tersesat kemudian menetap di sana? atau mungkin memang ia serta merta ingin berada di tengah hutan tanpa alasan apapun? tentu semua pertanyaan itu adalah misteri, dan saya tidak mengetahui jawabannya.

        Pagi itu, saat saya mencari rumput tidak sengaja saya jauh masuk ke tengah hutan. Ceritanya saya mengejar seekor burung yang saya pelet dengan getah pohon nangka. Sayang daya lekatnya kurang kuat sehingga burung yang telah kena pelet berhasil meloloskan diri. Saya pun mengejarnya hingga jauh masuk ke hutan.

Ketika menyusuri semak-semak di hutan itulah, saya tidak sengaja melihat gubuk tua di lembah sebelah timur bukit Lodito. “Itu ada gubuk, siapa kira-kira yang menempatinya ya? batinku, sambil mendekat perlahan ke arah gubuk yang beratapkan rumbai-rumbai ilalang.

“Guk...guk...guk! tiba-tiba saya dikejutkan oleh gonggongan seekor anjing besar berwarna hitam. Anjing itu berjarak beberapa tombak dari semak-semak tempat saya berdiri. Hampir saja saya lari ketika anjing itu menunjukkan taringnya dan bersiap melompat ke arah persembunyian saya. Saya gemetar, tubuh saya seakan lekat dengan tanah, mau lari namun tidak bisa.

Di tengah situasi yang genting, tiba-tiba terdengar suara seseorang memecahkan keheningan. “Hai Gogor, diam jangan ganggu orang yang sedang lewat” Seperti kena daya kekuatan mantra pembungkam, anjing hitam yang menyalak galak dan siap menerkam itu kemudian terdiam. Anjing itu membalikkan badannya, sambil mengibas-kibaskan ekornya anjing itu kemudian pergi meninggalkan saya yang masih diam terpaku di antara semak-semak sidomabur.

Dari dalam gubuk keluar seorang kakek tua dengan membawa cangkul di pundaknya, sedang tangan kanannya menggenggam sabit. Kemudian saya pun keluar dari semak dan mendekati kakek tadi. Dengan agak takut saya pun menyapa kakek tua itu. “Kek, Kek...terima kasih ya, hampir saja lepas jantung saya, gara-gara anjing hitam itu” Kata saya sambil menunjuk seekor anjing yang berada di sisi kaki sang kakek.

“Hehe...tidak apa-apa ngger, memangnya kamu sedang apa berada di rerimbunan semak itu? “Tadi saya mengejar burung Kek, larinya ke arah sini” jawabku. “Apa burung itu yang kamu kejar? tanya kakek sambil menunjuk ke arah dahan pohon kares yang tidak begitu tinggi dengan buah yang menggoda selera. Pohon Kares memang pohon kesukaan anak-anak desa, jika musimnya berbuah anak-anak desa akan suka menghabiskan waktunya di atas pohon. Walaupun buahnya kecil-kecil, tetapi anak-anak tergiur dengan warna merah dan manisnya buah kares.

Saya menoleh mengikuti arah jari kakek itu, benar di sebuah dahan pohon kares bertengger dengan tenangnya seekor burung dengan bulu keemasan, ya burung itu yang terkena pelet saya, namun sayang, burung itu bisa melepaskan diri kemudian terbang, dan kukejar sampai di sebuah gubug tua yang kemudian mempertemukan saya dengan kakek yang misterius ini.

          “Ke sini cucuku, duduklah! Kata kakek sambil mengajak saya duduk disebuah dingklik dari bambu. Di depan kursi terdapat meja dari pohon gembol. Saya pun duduk menuruti ajakan kakek yang rambutnya sudah hampir memutih semua. Warna rambut kakek itu seperti cahaya keperakan ditimpa matahari sore yang lembut.

“Dengar cucuku, kalau kamu mau, ambillah burung itu, tidak perlu kau memeletnya burung itu akan ikut bersamamu jika engkau mau.” Jawab kakek itu.

“Benarkah Kek, burung itu bisa saya bawa pulang? sambut saya penuh kegirangan.

“Iya, cucuku. Ketahuilah bahwa burung itu bukan burung biasa, warna kuning pada bulu-bulu burung itu adalah emas murni, dan kau bisa memiliki burung emas di pohon itu jika cucuku juga memiliki sangkar dari emas murni pula. Karena burung itu hanya mau berada di sangkar yang menjadi takdir dan jodohnya.”

Suasana menjadi hening, saya tertunduk memikirkan perkataan kakek pemilik gubug di tengah hutan. Bayangan untuk memiliki burung dengan warna emas berkelebat di dalam pikiran saya, bayangan apakah saya sanggup mendatangkan sangkar emas menghapus bayangan burung itu. Bayangan satu dengan bayangan yang kedua saling berganti-ganti memenuhi pikiran, hingga tidak sadar suasana sudah semakin gelap.

“Wah berat sekali Kek syaratnya? Sangkar emas, dari mana saya bisa mendapatkannya? Tanya saya lirih, sebagai tanda saya sedang pesimis untuk mendapatkan apa yang saya inginkan.

“Heuheue, heuheue… cucuku, burung dan sangkar emas itu sebenarnya pralambang saja. Ketahuilah, sangkar itu ibarat badan wadagmu, jika engkau mampu membersihkan kotoran-kotoran dari babahan hawa sanga yang ada di tubuhmu, maka dirimu bagaikan emas murni, maka dengan sendirinya burung itu akan bersarang di dalam tubuh dan jiwamu. Sedangkan burung emas itu adalah ndaru keberuntungan, dengan tanpa kau cari ia akan datang sendiri jika jiwa dan ragamu suci dari debu-debu duniawi. Maka pulanglah, tak usah kau kejar burung itu, persiapkan saja sangkarnya, ia akan datang seiring dengan takdir dan jodohmu.”

“Cucuku, kau tak perlu tergesa memahami apa yang saya omongkan ini, waktu yang akan mengabarimu akan pralambang burung emas beserta sangkarnya.”

Saya tercenung bingung mendengar penuturan kakek mengenai filosofi burung emas, dan mengenai sangkar emas yang menjadi rumah bagi burung itu. Apalagi tentang pralambang-pralambang yang sulit untuk saya mengerti diusia saya yang masih muda. Tapi kata-kata kakek itu seperti dituliskan begitu saja di lempengan batin saya. Semakin saya memikirkan kata-kata sang kakek semakin pikiran ini menjadi buntu. Suasana menjadi bisu dan sunyi.

“Guk…guk..guk…aauu, guk…guk!!!”


          Entah berapa lama saya diam merenung, tenggelam dalam telaga keheningan, saya baru kembali di ruang sadar ketika suara longgongan suara anjing terdengar seram di pedalaman hutan. Nun jauh di sana, adzan magrib terdengar dari langgar perkampungan. Saya celingukan ke kiri dan ke kanan, entah  sedang berada di mana, semua gelap, semua lenyap, hanya rerimbunan ilalang dan sebongkah batu hitam tempat saya duduk bersila. 

Kamis, 28 Desember 2017

Anak Singkong

Anak Singkong
Oleh : Joyo Juwoto*

Sepotong senja menggantung di langit lazuardi, awan putih menghias dinding-dinding langit, berarak perlahan, mengambang bagai kapas ditiup angin. Corak langit sore itu sangat indah dan cerah, menurut bapak dan emakku dulu, jika langit tampak cerah dengan corak awan putih bersisik-sisik seperti ikan, maka harga ikan asin di pasar sedang murah. Karena laut sedang banyak ikannya sehingga nelayan mendapatkan hasil tangkapan yang melimpah.

Saya tidak pernah mempertanyakan kebenaran dari omongan bapak dan emak saya, karena selain rumah saya jauh dari laut, baik ikan asin itu sedang turun atau naik harganya, tetaplah gethuk menjadi menu sarapan terbaik kami sekeluarga. Ikan asin tidak pernah terbeli selain di waktu-waktu tertentu. Jika kami membelinya itu pun memilih  ikan asin jenis pindang juwi yang harganya murah. Maklum sebagai petani kecil keluargaku harus bisa menghemat pengeluaran demi dapur tetap mengepul setiap hari.

Agar tidak bosan dengan gethuk kadang menunya diganti, itu pun tetap sama varian dasarnya, yaitu dari singkong. Emakku dan rata-rata penduduk dilingkungan kami yang juga petani kecil memang kreatif dalam mengolah keterbatasan. Sepotong singkong bisa menjadi bermacam-macam jenis makanan. Kadang singkong itu digoreng, kadang digodog, kadang dibuat ketiwul, kadang disredek, dan dibuat berbagai ragam dan corak menu lainnya, namun hakekatnya tetap sama, yaitu makanan kami sumbernya tetap sama, yaitu singkong.

Singkong ibarat pohon kehidupan bagi penduduk kampung kami yang tinggal di tepian hutan. Daunnya bisa menjadi sayur lodeh yang citarasanya melelehkan air liur, singkongnya jelas dan terbukti menjadi makanan pokok dan beragam makanan khas lainnya, pohonnya bisa dipakai kayu bakar, sekaligus bisa dipakai bibit dan ditanam kembali menjadi singkong-singkong baru. Saya yakin yang dimaksud dalam lagu lawas Koes Plus “tongkat kayu dan batu jadi tanaman” adalah pohon singkong yang menjadi pohon kehidupan di kampungku.

Selain menjadi pokok kehidupan, singkong juga menjadi arena bermaian anak-anak di kampung saya. Saat siang yang panas, atau saat senja mulai menebar sinar jingganya, kami biasa bermain-main di sela-sela pohon singkong. Pohon singkong memang tidak sekokoh pohon jati, tidak pula serimbun pohon beringin, tetapi di bawah jari-jemari daun singkong kami bisa bersembunyi dari panas saat mencari rumput, atau saat berlindung dibawahnya membuat rumah-rumahan sambil bermain wayang-wayangan yang dirangkai dari pelepah daun singkong.

Mungkin kamu belum pernah dengar ya, wayang dari pelepah daun singkong? Saya sendiri tidak tahu apakah anak-anak sekarang mengenal model wayang dari pelepah daun singkong. Tapi saya masing mengingatnya, di waktu kecil paman saya membuatkan mainan wayang-wayangan yang dianyam dari pelepah daun singkong, sungguh saya masih ingat betul, dengan wayang itu saya mendalang tanpa pakem dan tanpa cerita.

Ah, saya banyak berceloteh dan bermonolog membosankan yang tidak jelas di cerita saya yang tidak awut-awutan ini, walau saya sendiri juga tidak tahu siapa yang mendengarkan cerita saya, atau bahkan mungkin saya bercerita dengan diri saya sendiri sebagai pendengarnya. Pokoknya saya merasa senang dan bahagia menjalani masa kanak-kanak di bawah pohon singkong, bermain di bawah pohonnya, tumbuh dan berkembang dari hasil umbinya yang diolah menjadi berbagai macam cemilan khas oleh tangan-tangan pemilik surga di telapak kakinya. Ah, bahagianya menjadi anak singkong.


*Joyo Juwoto, Pegiat Literasi di Komunitas Kali Kening Bangilan Tuban.


Selasa, 31 Oktober 2017

Merantau

 Merantau
Oleh : Joyo Juwoto

Matahari kemarau membakar jalanan, debu-debu beterbangan memerihkan mata, langit membiru tua berkilat-kilat bagai kaca raksasa tak bertepi. Seorang lelaki muda paruh baya berambut panjang digelung ke belakang. Lelaki itu berjalan dibawah terik matahari yang membakar sambil sesekali mengusap dahinya yang berkeringat. Angkutan umum, dokar, dan bus-bus beradu cepat dengan truk-truk berlalu-lalang memenuhi pandangan matanya yang tajam. Mata itu bagai burung celepuk yang menunggu mangsa di kegelapan malam.
“Hari semakin panas, tak ada uang sepeserpun di kantong sakuku bagaimana aku harus melanjutkan perjalanan ini ?, Gumam lelaki itu.
Walau sebenarnya lelaki itu juga belum tahu kemana ia akan berjalan dan menitipkan asa, hanya mata kakinya yang sekarang menjadi penerang otaknya beku mengikuti kemana langkah-langkah itu dilepas.
Lelaki itu kemudian berhenti disebuah pertigaan yang menjadi tempat berhentinya angkutan umum, orang-orang menyebutkan pertigaan Bakalan. Pemuda itu meraba kembali sakunya seakan ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia memang tak membawa uang serupiahpun. Ia sandarkan punggungnya di sebuah lincak di bawah pohon waru. Pikirannya menerawang menghadirkan kembali saat-saat ia harus pergi meninggalkan kampung halamannya. Kampung yang dicintainya.
***
“Maling-maling !!!”“Maling-maling !!! Tolong… Tolong !!!Maling !!!”
Suara teriakan membelah sepertiga malam dari ujung kampung. Suara itu bersumber dari sebuah rumah besar yang menghadap ke jalan raya. Sesosok bayangan hitam berlari sambil membawa bungkusan yang entah apa isinya. Dengan gesit ia melompati pagar kayu setinggi orang dewasa yang mengelilingi rumah sumber suara tadi. Karena pekatnya malam, dan banyaknya rumpun bambu serta perdu sehingga dengan mudah bayangan hitam itu hilang bagai menyatu dengan gelap itu sendiri.
Penduduk kampung yang mendengar teriakan gaduh itu serentak semburat menuju ke arah titik suara, petugas ronda yang kebetulan lewat di jalan dekat rumah besar itu pun berlarian mengejar bayangan hitam, namun bagai mencari jejak hantu tidak ada petunjuk ke arah mana bayangan hitam itu lenyap tiada meninggalkan bekas.
Sementara itu di tengah sawah di pinggiran desa, sesosok pemuda dengan berkerudung sarung sedang berjalan dengan tergesa. Langkahnya panjang-panjang agar segera sampai kerumah sebelum fajar kadzib muncul di ufuk timur. Fajar kadzib adalah fajar yang membentuk garis vertical dari arah ufuk timur yang berwarna putih, namun dalam fiqh Islam ini belum saatnya subuh. Sebab setelah fajar kadzib ufuk akan kembali gelap dan sebentar kemudian akan disusul fajar sadik yang membentang horizontal sebagai penanda waktu subuh tiba.
Ketika pemuda itu memasuki pinggiran desa, ia tidak sadar kalau banyak mata sedang mengawasi langkah-langkahnya. Tepat di sebuah gang jalan pemuda itu terhenyak, tiba-tiba ia telah dikepung oleh beberapa orang laki-laki dengan senjata terhunus di tangan.
“Hai…. !!!berhenti kamu, siapa kau sepagi ini berjalan tergesa-gesa !
“Owh..mengagetkan aku saja paman-paman ini, aku Cipto. Tadi aku baru saja dari tegalan di tepi hutan” Memangnya ada apa paman ? mengapa paman-paman menghadang saya dengan senjata terhunus ?”
“Hah.-.siapa yang percaya di pagi buta ini kau dari tegal anak muda, kau pasti maling yang mencuri di rumah juragan Sutik tadikan ? Ayo mengakulah sebelum kesabaran kami habis !
“Maling… pencuri… ah ! tidak paman, aku bukan pencuri lagian aku kan juga penduduk sini paman. Untuk apa aku mengotori kampungku sendiri”.
Iya.. iya… pasti kaulah malingnya anak muda” seru salah seorang yang membawa pentungan dari bambu.
“Ayo tak usah banyak cing-cong kita tangkap pemuda ini, dan kita serahkan kepada juragan Sutik”
Serentak beberapa tangan-tangan kekar memegangi pemuda malang tadi, kemudian ia diseret kearah rumah besar di ujung kampung. Di halaman rumah tampak seorang bertubuh gemuk, bercambang lebat. Lelaki itu mondar-mandir gelisah, sesekali ia mengumpat resah.
“Juragan… juragan !!! ini tadi saya tangkap seseorang yang mencurigakan di ujung kampung sana” teriak salah seorang dari mereka.
Juragan Sutik berkacak pinggang, “Heh..bajingan! kaukah yang tadi memasuki rumahku ?” bentak lelaki tambun itu.
“Ampun juragan, bukan aku pelakunya, tadi memang aku dari arah sawah di ujung kampung tapi sumpah bukan aku pelakunya”.
“Mana ada maling yang ngaku juragan! sela Parto anak buah juragan Sutik.
“Ikat dia disitu!,  paksa agar dia mau mengaku, kalau perlu siksa dia” bentak juragan Sutik sambil meludah kearah pemuda malang itu.
***
Setelah kejadian yang menggegerkan kampungnya, Cipto pemuda yang dituduh melakukan pencurian di rumah juragan Sutik terpaksa harus pergi meninggalkan tanah kelahirannya. Pedih dan hancur perasaannya, ibarat pepatah Jawa “Ora melu mangan nangkane, tapi melu kenek dadake”. Bukan dia yang melakukan perbuatan itu namun justru dirinya yang tertuduh dan menanggung malu.
Belum lagi Cipto digelandang keliling kampung diarak dan dipermalukan di depan umum. Setiap garis wajah penduduk desanya tergambar kesinisan dan kejijikan melihat pada dirinya. Cipto hanya tertunduk diam, dia mampu menahan pedih hatinya karena telah dihinakan sedemikian rupa, namun hatinya teriris pedih manakala ia melihat Nilam, gadis pujaannya berdiri mematung memandangi dirinya seperti orang asing.
***
Dengan wajah lesu Cipto beranjak dari tempat duduknya, ia melangkahkan kakinya ke jalan raya dan melambaikan tangannya kearah truk yang lewat. Siapa tahu ada sopir yang berbaik hati mau memberinya tumpangan. Tak berselang lama ada sebuah truk yang berhenti.
 “Ayo Kang naik, memang mau kemana Kang ?” Tanya sopir truk.
“Kemana saja lah Pak, saya ngikut saja, sampai bapak menurunkan saya”.
“Baiklah ayo naik !, ketepatan kenekku libur, jadi sekalian bisa menjadi teman ngobrol di jalan”
Kemudian Cipto naik dan duduk di samping sopir truk yang hampir mendekati senja. Rambutnya telah memutih, namun badannya masih tampak kekar berotot. Truk itu melaju dari arah barat, membawa batu-batu yang ditambang dari daerah Sale Jawa Tengah, mungkin batu itu sebagai bahan mentah untuk membuat kapur, juga sebagai bahan untuk membuat piring, atau mungkin digunakan untuk mengguruk tanah. Batu pedel merupakan batu berwarna putih yang memang banyak terdapat di gugusan pegunungan kendeng utara.
Di tengah perjalanan sopir truk itu bercerita tentang tempat kerjanya yang ada di Sale, tentang gunung-gunung yang habis dibolduser, tentang hutan yang meranggas karena tanah dan batu-batunya diambili dengan liar tanpa perhitungan, semua masuk ke dalam perut keserakahan manusia. Sebenarnya ia juga menyadari tentang lingkungan yang rusak akibat penambangan liar tersebut, namun mau bagaimana lagi memang itu yang menjadi mata pencahariannya untuk menghidupi istri dan anak-anaknya.
“Mau tak kasih makan apa keluargaku kalau aku tidak kerja Kang”
Truk terus menderu menerjang siang, sesekali sambil menyedot sigaretnya sopir tua terus bercerita tiada habisnya. Seakan sedang mendongengi cucunya agar cepet-cepet terlelap dalam boboknya. Setelah selesai bercerita tentang batu-batu pedel, sopir itu bercerita tentang wana wisata Semen. Sebuah sumber air yang dijadikan objek wisata local masyarakat Sale dan sekitarnya. Di dekat sumber air Semen terdapat sebuah goa yang diberi nama goa rambut.
Goa rambut menurut legenda masyarakat sekitar terkait dengan cerita rakyat mengenai seorang brandal budiman yang masyhur disebut sebagai Naya Gimbal. Nama aslinya adalah Naya Sentika. Karena rambutnya sangat panjang maka ia lebih dikenal dengan sebutan Naya Gimbal.
Naya Sentiko telah bersumpah tidak akan memotong rambutnya sebelum kompeni enyah dari bumi pertiwi. Dia adalah salah seorang pengikut Pangeran Diponegoro dalam perang Jawa. Karena perlawanan Pangeran dari goa Selarong berakhir oleh kelicikan Belanda, maka sisa-sisa pasukan Diponegoro secara seporadis melakukan perlawanan terhadap pemerintah Belanda. Termasuk Naya Gimbal sang Robinhood dari gunung Genuk Tawunan Sale. Karena pengkhianatan saudara seperguruannya Bejo, misi perlawanan Naya Gimbal terhadap kolonial Belanda kandas di tengah jalan.
“Pengkhianatan seperti apa yang dilakukan oleh Bejo saudara seperguruan Naya Gimbal itu pak ? “ Tanya Cipto.
“Rasa iri, dengki “lan ora seneng marang kamulyaning liyan” memang benalu yang menggerogoti hati setiap insan, hanya orang-orang yang ikhlaslah yang akan selamat Kang”
“Ditambah lagi persoalan perempuan selalu membumbui setiap kisah yang tertoreh oleh tinta sejarah”. Hal ini selalu membutakan  mata setiap manusia kang”.
Naya Sentika dan Bejo sama-sama murid dari seorang sakti dari goa Nglengkir Ki Samboro namanya. Karena menurut Bejo Naya Sentika selalu beruntung, selain disayang oleh gurunya Naya Sentika juga mempunyai istri cantik bernama Dyah Ayu Sumarti. Pada suatu ketika Naya Sentika mengutarakan maksudnya untuk terus melawan Belanda. Oleh Gurunya Naya Sentika disarankan untuk bertapa di puncak Gunung Genuk.
Naya Sentika harus bertapa sampai genuk atau gana ( genuk, wadah air dari tanah liat ) yang dijaganya rebah. Kemana pun arah rebahnya gana tadi ia harus memulai peperangan dari arah situ. Karena terdorong oleh rasa irinya Bejo gelap mata dan tega melakukan kebodohan terhadap saudara tunggal banyunyaitu.Dengan diam-diam ia rebahkan mulut genuk kearah barat. Kemudian Bejo pun bersembunyi. Setelah Naya Sentika melihat genuk itu rebah kearah barat maka pulanglah ia untuk menggelar perang melawan Belanda. Dengan membawa pusaka kebanggaannya pedang Kyai Sadak Naya Sentika mengajak pasukannya menyerang Belanda dari Lasem.
“Hehe..hehe.. begitulah ceritanya, ada yang mengatakan Naya Gimbal ketangkap Belanda kemudian dimasukkan drum dan dibuang di laut. Ada versi lain yang menyatakan perjuangan Naya Gimbal berakhir di goa rambut Sale. Ia bersembunyi di dalam goa kemudian goa itu di tutup dengan batu oleh pihak Belanda dan tidak jelas bagaimana kesudahannya. Namun sampai sekarang di dalam goa itu banyak rambutnya, entah dari mana mungkin itu rambut dari Naya Gimbal tadi Kang”.
“Wah, sayang ya pak, pastinya Naya Gimbal gak jadi potong rambut kan ?hehe…. “ gurau Cipto.
“Ya begitulah kang, perjuangan yang dilakukan secara kedaerahan hampir selalu gagal di tengah jalan”
“Betul pak, tapi setidaknya Naya Gimbal telah menunjukkan baktinya pada ibu pertiwi, tempat dimana ia tlah meminum airnya, menghirup udaranya, tempat dimana jiwa dan raganya diukir dan dicatat oleh zaman”.Tambah Cipto penuh filosofis.
Percakapan pun berhenti, ketika truk yang ditumpangi Cipto berhenti di terminal Bojonegoro, Sebuah terminal yang menghubungkan daerah-daerah kabupaten di sekitarnya. Terminal yang berada di timur jalan raya itu menjadi pemberhentian bus dari berbagai jurusan, Seperti Jatirogo, Tuban, Jurusan Ngawi, Jurusan Nganjuk, dan jurusan Surabaya.
“Saya turun sini pak”, ucap Cipto kepada sopir truk yang telah berbaik hati memberikannya tumpangan.
Matahari tlah bergeser di ufuk barat, lembayung senja tersenyum meriah, memerah bagai gincu kaum hawa, angin sore mendayu lembut membelai wajah Cipto yang kelam seakan membisikinya tentang hidup yang kadang panas membakar bagai udara siang, dan kadang lembut selembut angin sore yang memeluknya di pinggir terminal. Cipto melangkah memasuki gerbang terminal.Ia melangkah tanpa arah yang kemudian membawanya ke sudut terminal. Di sebuah mushola kecil ia membasuh mukanya dari air  kran yang tersendat-sendat alirannya, seperti jalan hidup yang sedang dilaluinya. Asar sebentar lagi hilang ditelan cakrawala barat. Cipto bersimpuh mengadukan nasibnya kepada sang pemegang takdir dan garis hidup. Ia menyadarinya banyak masalah dan ketentuan Tuhan yang kadang tak perlu diselesaikan. Biar waktu sendiri yang akan menjelaskan semuanya kepada zaman.
Matahari sore telah tenggelam di ufuk barat, gelap mulai merayap, kendaraan berlalu – lalang mengejar waktu. Kondektur berteriak-teriak mencari penumpang. Cipto melangkah ragu menaiki sebuah bus. Kondektur segera menariknya masuk karena bus telah bergerak meninggalkan terminal. Bus itu menuju Surabaya. Di kaca depan tergantung tulisan Bojonegoro-Surabaya. Namun Cipto tidak peduli mau kemana tubuhnya dibawa, ia mengikutinya saja, karena memang pada dasarnya ia tidak memiliki tujuan yang pasti.
Entah berapa lama Cipto tertidur di bis, dia baru terbangun saat bis sudah berhenti di terminal Bungurasih. Cipto di bangunkan oleh kondektur bis.
“Mas bangun, bangun! sudah sampai terminal. Kata bapak kondektur setengah tua sambil menggoyangkan tubuh Cipto.
Cipto berdiri dari kursi duduknya, ia turun perlahan dari bis. Melangkah ragu di tanah yang belum pernah dipijaknya. Kota Surabaya, sebuah kota besar yang belum dikenal seluk beluknya. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan di tanah rantau yang jauh dari kampung halamannya.
Tak ada uang sepeserpun di saku bajunya, padahal ia butuh makan, tak ada tempat tinggal, tak ada sanak saudara, tak ada seorang pun yang ia kenal di belantara kota itu. Cipto berdiri mematung di tepian terminal, rambutnya yang panjang dibiarkan terurai diterpa angin sore, dilihatnya orang-orang sama berlalu lalang dengan tujuan masing-masing.
Tiba-tiba terminal menjadi gaduh, ada teriakan seorang perempuan muda yang tasnya dijambret, “tolong, tolong...!!! jambret...jambreett!!!


Langgar Tua dan Kenangan Tentangnya

google.com
Langgar Tua dan Kenangan Tentangnya
Oleh : Joyo Juwoto

Kususuri kelokan sepanjang kali kening yang membelah kotaku di suatu senja, airnya jernih berkilap-kilap di terpa warna jingga senja. Pantulan gedung-gedung tua yang berdiri di pinggiran sungai tampak kokoh dan megah, indah bagai lukisan naturalistik yang sempurna. Di dam dekat pasar Bangilan, tepatnya di utara pasar kambing, air kali kening dibendung oleh Dinas pengairan. Air itu dipakai untuk keperluan pengairan sawah penduduk. Dibagi-bagi dengan sistem pintu air menuju arah selatan, dan timur.

Air Kali Kening ini ibarat darah bagi kehidupan masyarakat Bangilan, dari air itu telah mengairi berbagai macam tanaman yang tumbuh disepanjang alirannya, dari waktu ke waktu tiada henti-hentinya. Menghidupi penduduknya dari generasi ke generasi.  Belum lagi air kali kening dipakai untuk keperluan mandi dan mencuci. Jika musim kemarau tiba, kali kening memberikan hadiah berupa ikan, udang, dan juga kijing kali.

Di dam itulah, dulu biasanya aku mandi, menghabiskan senja hingga burung-burung berkejaran pulang ke sarangnya. Dan tepat saat cericit kelelawar pertama yang terbang di atas sungai, saya pun pulang ke rumah. Mega merah melukis langit barat, angin sore bertiup sepoi-sepoi dari arah persawahan penduduk. Kususuri pematang kali dengan rumputnya yang menghijau, suara adzan menggema dari arah langgar di kampungku, kampung yang bersebelahan dengan pasar.

“Ayo, segera ke langgar, Ali! masukkan dulu ayam-ayammu ke kandangnya, jangan sampai terlambat jama’ah magrib! Seru bapak, saat kakiku memasuki pelataran rumah.

Bapak memang selalu begitu, jika sore hari, saat mega di ufuk barat memerah, beliau pasti segera menyuruhku bergegas ke langgar. Tanpa banyak bicara, segera ku masukkan ayam-ayam peliharaanku ke kandangnya, kemudian kuambil sarung dan songkok, dan aku pun berlalu menuju langgar yang tidak jauh dari rumahku.

Sedang bapak sendiri telah siap berangkat ke langgar, beliau selalu menjadi orang pertama yang kakinya menginjak batas suci lantai langgar. Dengan surban yang melilit di lehernya, beliau mendahuluiku berangkat menjadi muadzin shalat magrib di langgar yang berada di tepian sungai kali kening di dekat dam pasar Bangilan.

Setelah mengumandangkan adzan, bapak biasanya melantunkan pujian sambil menunggu para jama’ah datang memenuhi langgar. Suara bapak yang tua menggema dari toa langgar yang ditaruh di atas wuwungan langgar.

Cilik-cilik diulang ngaji
mbesuk gedhe supaya ngerti
ngerti iku akeh syarate
aja eman karo bandhane

agama Islam agama suci
ora bisa ngaji mbesukke rugi
rugi dunyo ra dadi apa
rugi akhirat bakal cilaka

Sholatullah salamullah 'ala Thoha Rasulillah
Sholatullah salamullah 'ala yasin habibillah

Bisa dikatakan dari langgar itulah cerita kehidupanku selalu ku kenang. Langgar yang telah memberikan kenangan yang tak pernah lekang oleh waktu, walau kini aku telah jauh namun rindu akan langgar dan kampungku tak pernah lekang oleh waktu. Langgar menjadi pengikat hati dan pusaka jiwa yang kubawa mengarungi kerasnya tanah rantau di kota metropolitan.

Dari langgar tua yang ada di tepian kali kening itu masa kanak-kanak dan remaja ku lalui dengan indah. Sebuah langgar panggung yang memberikan dekapan hangat seperti seorang ibu yang mengasuh anak-anaknya. Langgar tua yang memberikan senyum kedamaian bagi kami anak-anak kampung di pinggiran kali kening.

Bersama teman-teman kami biasa mengaji turutan setelah bakda magrib. Bapakku sendiri yang mengajari anak-anak membaca huruf hijaiyyah. Setelah mengaji biasanya kami mendapat cerita dari bapak tentang Nabi Sulaiman, Nabi Dawud, Nabi Ibrahim, cerita konyol Abu Nawas, dan kisah-kisah sakti para Wali Songo di tanah Jawa.

Bapak memang pandai bercerita, hal ini pula yang menjadi daya tarik anak-anak senang dan betah mengaji di langgar. Cerita-cerita bapak selalu ditunggu anak-anak.

Sudah menjadi kebiasaan di kampungku, anak laki-laki biasanya kalau malam sesudah shalat isya’ tidak pulang ke rumah. Mereka akan bermain di halaman langgar, apalagi saat purnama lima belas, mereka akan bermain hingga cahaya bulan redup di ufuk barat. Langgar juga menjadi rumah kedua bagi anak-anak, mereka biasa tidur di langgar dan pulang sesudah shalat shubuh. Langgar memberikan kehangatan dan kenyamanan bagi anak-anak kampung kami.

“Ali, nanti setelah ngaji turutan, bapakmu mau cerita soal apa? ayo aku ikut ke langgar ya! sapa Arman, temanku saat kami bertemu untuk berangkat shalat magrib juga.

Sore itu aku menapaki kembali kenangan di tepian kali kening, setelah puluhan tahun lamanya kutinggalkan kampung halamanku. Langgar itu masih berdiri di tempatnya. Hanya saja kondisi langgar itu telah berubah, bersolek mewah menuruti kemajuan zaman. Langgar itu tampak kokoh dan indah dengan gemerlap warna cat dindingnya yang eksotis. Langgar panggung itu telah tiada, dan  direhap menjadi bangunan permanen yang lebih baik.

Hanya saja kemeriahan langgar seperti masa kecilku telah pudar. Tidak ada suara anak-anak mengaji turutan setelah magrib, tidak ada teriakan gaduh anak-anak yang bermain di halamannya sambil melihat bulan purnama, tidak ada anak-anak yang tidur di pelukan lantai kayu serambi langgar. Langgar itu kesepian, sendu dan tak bergairah.


Rabu, 20 September 2017

Pulung Lurah

Pulung Lurah
Oleh : Joyo Juwoto

Udara dingin musim kemarau di desa Bangilan belum sirna, penduduknya biasanya masih berselimut sarung, duduk-duduk di depan bediang menghangatkan badan sambil menikmati kretek dan secangkir kopi hitam. Asap dari perapian yang sebenarnya untuk menghangatkan ternak-ternak di kandang dan pengusir nyamuk itu masih mengepulkan asap putih dengan bau sangit yang sangat menyengat. Tapi aroma itu sudah biasa bagi warga desa, sangat biasa dengan kehidupan mereka di desa.

Pagi itu penduduk Bangilan tidak berangkat ke ladang maupun ke pasar. Hari itu penduduk kampung sedang menyelenggarakan pesta rakyat, pemilihan lurah baru. Pagi-pagi sekali penduduk telah bersiap untuk pergi ke balai desa, mereka akan memberikan suaranya kepada calon lurah baru yang dipilihnya.

“Kang Parjo, nanti kamu pilih siapa? Tanya Diman kepada teman ngopinya di warung Mbok Darmi

“Ah, rahasia to Kang, yang pasti jagoku jelas menang” Jawab Parjo dengan penuh kebanggaan dan kepedean tingkat dewa.

“Kalau aku siapapun yang menang sih sama saja, kita rakyat akan tetap menjadi rakyat jika tidak bekerja toh tidak akan makan. Ya hanya saat pencalonan lurah saja suara kita ada harganya, diperhitungkan. Setelah ini toh kita tetap sebagai rakyat biasa.” Sahut Paimo yang duduk di sudut warung.

“Benar sekali, hanya kali ini saja wong-wong gede itu peduli sama kita, lha wong ada maunya. Coba nanti kalau sudah terpilih, mereka tidak akan kenal dengan wajah kita-kita wong cilik ini, jadi siapapun yang memberi kita uang yang paling banyak itu yang kita pilih nantinya” Kata Diman penuh semangat.

Di warung mbok Darmi pagi itu cukup ramai, rata-rata bapak-bapak yang akan berangkat ke balai desa untuk memberikan suaranya. Warung mbok Darmi memang bisa dikatakan punya peran penting dalam menyukseskan pemilihan lurah. Dari warung itu segala informasi bisa diserap oleh para botoh calon lurah, kemudian strategi apa yang selanjutnya akan dimainkan. Bahkan tidak jarang pula warung mbok Darmi dipakai sebagai markas pemenangan salah satu calon lurah.

Para botoh biasanya memboking warung mbok Darmi, siapapun yang marung di situ di hari tertentu dalam masa pencalonan gratis tis tanpa di suruh membayar. Tidak heran warung yang memiliki tanda bokingan salah satu calon lurah ramai dikunjungi oleh penduduk kampung. Bisa ditebak siapa yang memiliki amunisi dana kuat yang mampu menggaet suara dari warung itu.

Kali itu calon lurah baru desa Bangilan ada tiga orang, pertama Kang Sogol dengan lambang gambar jagung, kedua Pak Amin dengan lambang gambar kelapa, dan Kang Mukri dengan lambang gambar padi. Ketiga calon lurah baru desa Bangilan ini memiliki pendukung yang solid.

Kang Sogol yang berlatar belakang sebagai seorang tokoh pemuda yang malang melintang di dunia jalanan, memiliki peluang suara dari anak-anak muda. Kang Sogol pun memiliki banyak akses ke orang-orang pemerintahan, karena keluwesannya dalam pergaulan. Pak Amin, yang seorang santri dermawan, baik hati, dan tak memiliki cela yang berarti memiliki peluang mendapatkan suara dari kaum santri dan orang-orang soleh. Dengan kebaikannya itu Pak Amin bertaruh dengan dalam pemilihan jabat lurah. Sedang Kang Mukri yang seorang abangan, mengandalkan kerja botohnya yang cukup piawai dalam memenangkan seorang calon lurah. Kang Mukri memang kurang luwes dalam pergaulan, namun uang bisa menjadikannya tampak baik, hari-hari ini. Apalagi didukung dana yang cukup kuat, Kang Mukri merasa berada di atas angin dalam memenangkan kontes pemilihan lurah kali ini.

Walau dibilang pemilihan lurah adalah ajang demokratisasi di desa, namun sebenarnya penduduk tidak begitu memahami tetek bengeknya demokrasi-demokrasi itu, penduduk masih mempercayai bahwa lurah adalah jabatan yang mengandalkan semisal wahyu keprabon. Atau orang-orang menyebutnya sebagai pulung lurah. Calon yang mendapatkan pulung itulah yang nantinya akan keluar sebagai pemenang di pemilihan calon lurah.

Jadi selain sibuk berkampanye dengan mendatangi satu persatu rumah penduduk untuk meminta dukungan, atau menempelkan lambang gambarnya di jalan dan pohon-pohon untuk sosialisasi, seorang calon lurah juga berikhtiar agar pulung lurah jatuh kepada dirinya. Tidak ada gunanya didukung rakyat banyak jika pulung itu ternyata hinggap di calon lain. Mereka mempercayai pulung itulah yang akan memenangkan pencalonan mereka sebagai lurah.

Seperti dalam dongeng pewayangan, seorang calon raja harus menerima wahyu cakraningrat terlebih dahulu dengan cara bertapa di suatu tempat dalam kurun waktu tertentu. Begitu pula seorang lurah, biasanya para calon itu akan mendatangi punden desa untuk meminta restu akan pencalonan mereka sebagai lurah desa. Setelah melakukan ritual tertentu di punden tersebut biasanya masing-masing calon akan mendapatkan isyarat yang berbeda-beda.

***
Beberapa pekan sebelum pencalonan lurah, para calon lurah maupun botohnya sibuk mencari dukungan, baik secara moril maupun spiritual. Ada yang mendatangi dukun-dukun sakti, ada yang mendatangi tempat-tempat keramat, menggelar istighosah pemenangan, hingga mencari syarengat yang sesuai petunjuk dari masing-masing tokoh spiritual.

Malam itu adalam malam Jumat Kliwon, tepat satu minggu sebelum digelarnya pemilihan lurah. Kang Mus bersama Kang Jo yang mendukung pencalonan salah satu calon lurah mendapat tugas untuk mencari tujuh sumber mata air dan segenggam tanah di satu dusun dekat punden desa. Dan pekerjaan itu jangan sampai diketahui oleh pendukung calon lainnya. Tensi persaingan pemilihan lurah kali ini memang terasa panas, sehingga para botoh perlu berhati-hati dalam bertindak.

“Kang Jo, nanti tepat tengah malam kita ke punden desa ya? ajak Kang Mus mengawali obrolannya di rumah Kang Jo. Rumah kang Jo memang berada di tepi desa dekat dengan punden, sehingga memudahkan mereka untuk melancarkan maksudnya.

“Iya, nanti siapkan botol wadah air, sebentar lagi kita berangkat, ini mendekati tengah malam, dan jangan lupa senternya sekalian kamu bawa” Jawab Kang Mus sambil melihat jam yang ada di atas dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu.

Saat jam dinding menunjukkan angka 12, dua botoh dari Kang Sogol itu keluar rumah. Mereka berdua berjalan menerobos jalan setapak, agar tidak diketahui oleh orang-orang yang mungkin belum tidur. Kang Mus dan Kang Jo berjalan beriringan dalam gelap, menuju punden desa yang berada di tengah sawah. Punden desa itu berupa sumur kecil di bawah pohon trembesi besar yang usianya mungkin sudah ratusan tahun, sumur kecil itu airnya tidak pernah kering. Orang-orang menyebutnya sebagai sumur Ngasinan.

Sesampainya di sumur itu, Kang Jo segera mengambil gayung sumur dari tempurung kelapa. Kang Jo menahan nafas kemudian menghentakkan kakinya ke tanah tiga kali, setelah itu merapal doa yang telah diajarkan oleh guru spiritual Kang Sogol, baru kemudian ia mengambil air dan memasukkannya ke wadah botol  yang dibawanya.

“Ayo kita berburu dengan waktu, Kang Jo, saya akan mengambil segenggem tanah di sini, setelah itu mari segera meninggalkan tempat ini, dan kita ambil air dari sumur-sumur penduduk di dusun sini”. Kata Kang Mus mengomando dirinya sendiri.

Setelah selesai dari sumur punden, mereka berdua bergegas kembali ke dusun. Dengan perlahan Kang Mus dan Kang Jo mengendap mencari sumurnya penduduk. Tak berlangsung lama, tugas yang diemban oleh kedua botoh itu selesai dengan tanpa meninggalkan masalah. Kemudian mereka berdua kembali ke rumah Kang Jo.

***
Di hari pemilihan orang-orang sama berbondong-bondong mendatangi TPS (Tempat Pemungutan Suara) yang ada di balai desa. Satu demi satu antrian masuk ke bilik suara. Beberapa Hansip desa mengatur masuknya antrian, agar tidak berdesak-desakan. Tiga calon lurah duduk di pendopo balai desa dengan latar belakang lambang gambar masing-masing. Padi, jagung,dan kelapa, tiga lambang gambar untuk pemilihan lurah di desa Bangilan.

Kang Sogol calon lurah dengan gambar padi telah datang di awal sebelum kedua calon datang. Bahkan matahari belum muncul Kang Sogol telah menduduki kursinya, Ia berharap kedatangan awalnya menjadi pertanda baik sebagai pemenang di pemilihan lurah. Kang Mukri datang paling akhir, karena atas petunjuk dukunnya ia disuruh berkeliling kampung dulu dengan tanpa memakai alas kaki, sebelum sampai ke balai desa, dengan harapan seluruh tempat yang ia lewati dan terkena telapak kakinya akan memilihnya menjadi lurah baru. Sedang Kang Amin, santai saja. Ia mempercayai bahwa Tuhan akan membela orang-orang baik. Di belakangnya ada Tuhan. Dia datang pukul tujuh, sebagaimana orang-orang berangkat untuk beraktivitas. Kang Amin tidak melakukan hal-hal yang aneh, dia seorang rasionalis dan terlalu baik untuk melakukan hal-hal yang diluar nalar.

Demokrasi memang sebuah misteri, walau kebenaran adalah milik mayoritas, namun mayoritas belum tentu memilih yang benar. Belum tentu orang baik akan dipilih sebagai lurah. Pimpinan dalam demokrasi tidak perlu orang baik, asal terpilih mayoritas ia punya legalitas menjadi pemimpin masyarakat. Entah bagaimana dulu asal muasal dan legenda tentang lahirnya demokrasi di negeri ini.

Dalam penelusuran jejak-jejak sejarah nenek moyang, zaman dahulu proses memilih pimpinan kelompok tidak menggunakan demokrasi. Entahlah mungkin demokrasi memang belumlah lahir. Hanya orang hebat, kuat, dan memiliki kecerdasan lebih yang akan dijadikan pimpinan, orang-orang pintar menyebutnya sebagai proses primus interpares. Semenjak demokrasi lahir yang entah kapan, hal itu sudah tidak berlaku kembali.

Hari telah siang, orang-orang masih berkerumun di dekat balai desa. Mereka menunggu hasil penghitungan suara. Setelah semua orang memberikan hak suaranya, penghitungan pun di mulai oleh pihak panitia. Pak Pandi yang bertugas membaca kertas suara meraih microfon, setelah lipatan kertas dibuka dan ditunjukkan ke khalayak, ia pun membaca kertas itu dengan suara keras, “Jagung, jagung, padi...” kemudian bagian saksi meneliti bekas coblosan di kertas suara dan menimpali suara pak Pandi dengan teriakan juga, “Sah”.

Penghitungan dilaksanakan hingga menjelang senja, para calon lurah masih juga duduk di kursinya, berharap dirinya yang mendapatkan suara terbanyak. Wajah ketiga calon lurah itu tampak lelah dan tegang, maklum seharian mereka duduk di sana.

Setelah penghitungan selesai panitia pun merekap data, dan pemenangnya ternyata adalah Kang Sogol, kemudian disusul suara dari Kang Mukri, dan itu terpaut sekitar ratusan suara.

“Keparat!!! Hai Tarmu, kau kemanakan uang-uangku? Mengapa orang-orang yang kau beli tidak memilih gambarku? Kang Mukri merah padam, ia murka karena uang yang dikucurkan untuk pemenangan dirinya ternyata tidak sampai ke penduduk, uang itu entah raib kemana. Para kerabat Kang Mukri menenangkannya, karena bagaimanapun pemilihan telah usai, dan ia harus menerima kekalahan yang menyakitkan itu.

Orang-orang di balai desa sama berteriak menyanjung nama Kang Sogol sebagai pemenang lurah desa Bangilan, “Sogol, Sogol, Sogol!” Pulung lurah desa Bangilan jatuh ke pangkuan Kang Sogol. Para pendukung Kang Sogol kemudian mengerumuninya, suasana histeria menyelimuti senja penghabisan di pendopo balai desa. Dengan berjalan kaki para pendukung Kang Sogol membobong lurah baru itu hingga ke rumahnya. Dan dipastikan malamnya akan ada pesta besar di rumah Kang Sogol. Seekor sapi besar telah disiapkan untuk menjamu orang-orang yang datang ke rumahnya.

Pak Mukri akhirnya hanya diam pasrah, ia pun pulang dengan langkah gontai dan menundukkan kepala. Ada beberapa orang yang mengikutinya, dipastikan itu bukan botoh-botoh dari Pak Mukri. Karena ternyata botoh-botohnya berkhianat. Uang yang dikucurkannya sejumlah ratusan juta ludes tanpa membawa hasil yang diharapkannya.  Sedang Pak Amin juga harus menerima dengan dada terbuka akan kekalahannya, kini ia mengerti bahwa demokrasi ternyata belum memberikan tempat kepada orang baik seperti dirinya. Budi baiknya kalah dengan suara “Tuhan”.

Di pojok balai desa di sebuah warung kopi, Kang Mus dan Kang Jo duduk dengan tenang sambil menyeruput kopi pengabisan di cangkirnya. Kretek yang di hisap juga hampir padam, tinggal tersisa beberapa hisapan. Mereka berdua kemudian bergegas meninggalkan warung kopi.