Tampilkan postingan dengan label Cerita wayang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita wayang. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 November 2014

Wahyu Cakraningrat

Wahyu Cakraningrat Raja Suyudana menyuruh Lesmana Mandrakumara mencari Wahyu cakraningrat. Lesmana Mandrakumara pergi ke hutan Krendawahana, para prajurit mengawalnya, dipimpin oleh Patih Sengkuni, Kartamarma, Citraksa dan Citraksi. Batari Durga datang di Kerajaan Tunggul Malaya, emnyuruh agar raja Dewasrani bersemedi di Hutan Krendawahana. Dikatakannya sang Hyang Guru hendak m,enurunkan wahyu kerajaan. Dewasrani menurut perintah sang batari, lalu berangkat, dikawal Jaramaya dan Rinumaya. Lesmana Mandrakumara bertemu Dewasrani . Karena sama tujuan terjadilah perang. Tetapi masing-masing menyimpang jalan. Prabu Kresna menyuruh samba supaya pergi ke hutan Krendawahana mencari wahyu . Samba menunjung perintah Prabu Kresna , lalu berangkat, diiringi Patih Udawa. Angkawijaya dan gatotkaca menghadap Begawan Abiaysa di wukir Ratawu, sang Begawan memberitahu bahwa dewa akan menurunkan wahyu. Angkawijaya dan Gatotkaca disuruh disuruh mencarinya. Mereka berdua berangkat , para panakawan mengawalnya. Ditengah hutan bertemu raksasa dari Tunggul Malaya. Terjadilah perang , prajurit raksasa habis binasa. Sang Hyang Guru dihadap para dewa, Sang Hyang menyuruh agar Batara Cakraningrat turun ke dunia bersama Batari Widayat. Batara Cakraningrat agar merasuk kepada Angkawijaya , barati Widayat merasuk kepada Barati Utari. Batara Cakraningrat dan Batari Utari menjungjung perintah Sang Hyang Guru. Dewasrani menerima laporan bahwa para prajurit raksasa mati dibunuh Angkawijaya. Dewasrani marah, lalu akan mencari Angkawijaya. Batara cakraningrat bertemu Samba, dan bertanya maksud kedatangan Samba di Hutan. Samba menjawab, bahwa ia mencari wahyu. Batara Cakraningrat memberi saran, agar tidak mendekat perempuan selama empat puluh hari. Samba menurut saran batara Cakraningrat, tetapi ketika bertemu Batari Widayat samba jatuh cinta. Batari Widayat menolak . Tiba-tiba Batara Cakraningrat datang dan berkata, bahwa wahyu tidak mau masuk pada oranges eperti Samba. Kemudia telpak tangan Samba dirajah Batara Cakraningrat lalu disuruh kembali ke Dwarawati. Samba bertemu dengan prajurit Kuarwa, Samba dikira telah memperolah wahyu cakraningrat, maka mereka meminta wahyu itu, terjadilah perang. Korawa kalah, lalu lapor kepada Suyudana. Batara Cakraningrat memasuki Angkawijaya, batari Widayat ke Wirata, mencari Utari. Raja Dewasrani bersama prajurit datang hendak merebut wahyu. Gatotkaca melawan, prajurit Dewasrani lari ketakutan. Lesmana Mandrakumara bersama Sengkuni datang di Astina seraya menangis. Sengkuni berkata, bahwa wahyu direbut oleh Samba, Suyudana marah, Pendeta Durna menyarankan agar Adipati Karna ke Amarta, minta wahyu, sebab keluarga Dwarawati dan Pandawa berkumpul di Amarta. Angkawijaya dan Panakawan datang di Amarta disusul kedatangan Samba. Samba berkata, bahawa tidak bisa memperoleh wahyu . Kemudian Hyang Narada datang memberitahu bahwa Angkawijaya telah memperoleh wahyu, kelah keturunannya akan menjadi raja. Narada kembali ke kahyangan. Adipati Karna dan prajurut Kurawa mengamuk. Arjuna datang melawan Karna. Arjuna datang melawan Karna, Werkudara mengamuk, prajurit Kurawa lari ketakutan . Keluarga Pandawa dan Dwarawati pesta besar atas karunia wahyu cakraningrat yang diperoleh oleh Angkawijaya.

Selasa, 01 April 2014

Irawan Maling

Irawan Maling Irawan dan Antasena setelah menyaksikan kematian Bambang Jenggala terus mengembara. Dalam pengembaraannya mereka datang di Astina, masuk ke istana dengan sangat berani. Irawan melarikan kuda kendaraan raja dan Antasena membawa gajah milik Duryudana dan bendera Astina. Dengan hasil rampokannya itu mereka kembali ke Pertapaan Yasarata, tempat kediaman Bambang Irawan. Para Kurawa berusaha menangkapnya tetapi sia-sia karena para pencuri itu terlalu pandai. Untuk menutupi kegagalannya, Begawan Drona melaporkan kepada Suyudana bahwa pencurinya dapat dikenali yakni Gatotkaca dan Angkawijaya. Sebagai hukuman lebih baik diserahkan pada Prabu Yudistira. Sementara Prabu Yudistira setelah menerima pengaduan dari Adipati Karna ia mengutus Nakula untuk pergi ke Madukara. Sedangkan Arjuna pada waktu menerima laporan Nakula sangat terkejut sebab pada waktu peristiwa itu terjadi, Angkawijaya dan Gatotkaca tidak pergi dan berada di kasatrian. Arjuna kemudian memerintahkan kedua ksatria itu mencari pencurinya. Di perjalanan mereka bertemu dengan Irawan dan Antasena dari Pertapaan Yasarata, mereka berusaha menangkapnya tetapi keduanya dapat meloloskan diri. Selanjutnya Irawan masuk ke Istana Gajah Oya, di keputren ia mengadakan hubungan gelap dengan putri raja yang bernama Tisnawati putrinya Prabu Jayadimurti yang sedang dilamar Suyudana. Pada waktu Jayadimurti masuk ke keputren, dengan gesit Irawan meloloskan diri, dan Sang Raja memberitahukan kepada Suyudana. Setelah meninggalkan Gajah Oya, Irawan belum puas, ia masuk ke kedaton Astina dan berhubungan asmara dengan Lesmanawati putri Suyudana. Pada waktu akan ditangkap, lagi-lagi ia dapat meloloskan diri. Maka Suyudana memutuskan akan menyerang Amarta sebab yakin bahwa pencurinya adalah Angkawijaya. Sementara Angkawijaya yang disertai Semar, Gareng, dan Petruk tertidur kecapaian karena mengejar pencuri. Tiba-tiba Irawan datang dan mencuri keris Angkawijaya, tetapi kali ini ia sial karena setelah membawa keris ia jatuh pingsan dan dibawa lari Antasena kembali ke Pertapaan Yasarata. Angkawijaya yang kehilangan keris meminta Semar untuk mencarinya, maka abdinya itu segera datang di Yasarata dan menjelaskan kepada Resi Kanwa yang selanjutnya keris diambil kembali oleh Semar. Pada waktu keris dibawa, Irawan sembuh kembali dan mengejar Semar. Akibatnya peperangan terjadi antara Irwan yang membawa panah Saratama melawan Angkawijaya membawa panah Pasopati. Kedua panah saling bertemu di udara, tiba-tiba Kresna datang memberitahukan bahwa keduanya masih saudara satu ayah lain ibu, putra Arjuna dan diminta menghentikan peperangan. Kurawa datang menyerang Amarta tetapi dapat diusir Arjuna.

Rabu, 26 Maret 2014

Durna Tapa (1)

Durna Tapa (1) Syahdan raja Astina prabu Kurupati berkenan memerintahkan kepada adipati Karna dan wasi Aswatama putra pendita Durna , untuk segera berangkat menjaga keamanan pendita Durna yang mendapatkan tugas dari raja untuk bertapa, demi terlaksananya maksud prabu Kurupati. Konon prabu Suyudana menginginkan wadyabalanya hendak unggul di medan laga kelak kemudian hari dalam perang Baratayuda, apalagi sekarang dirasanya paran Pandawa mendapatkan sekutu yang kuat dari raja-raja lain negara, untuk itulah pendita Durna bertapa di hutan pagedangan. Dipati Karna dan wasi Aswatama segera bermohon diri untuk menunaikan tugasnya, diiringi oleh segenap para Korawa, tampak patih arya Sakuni, raden arya Dursasana, raden Kartamarma, raden Durmagati, raden Citraksa dan raden Citraksi. Di kerajaan Jurangparang, tersebutlah seorang raja bergelar prabu Kalakalpika, jatuh asmara dengan putri raja Astina, Dewi Lesmanawati. Kepada embannya yang bernama Cantekawerdi raja menyampaikan maksudnya, emban mengusulkan sebaiknya utusan terlebih dahulu menyampaikan surat lamaran kepada raja Astina. Usul diterima, kepada yaksa Kalabangcuring, Kalakarumba, Kalakalapa, kyai Togog dan Sarawita ditugaskan untuk segera berangkat membawa surat lamaran ke negara Astina, mereka segera bermohon diri untuk berangkat ke karajaan Astina. Di pertengahan perjalanannya mereka bertemu dengan wadyabala Astina, terjadilah perselisihan dan peperangan. Kedua-duanya berusaha untuk mengindarinya, sehingga akhirnya mereka meneruskan perjalanannya masing-masing. Resi Abyasa di pertapaan wukir Retawu menerima kedatangan cucundanya raden Angkawijaya beserta para punakawan, mereka Nalagareng dan Petruk. Raden Ankawijaya menyampaikan maksud kedatangannya yang tak lain diutus oleh ayahandanya yalah raden Janaka untuk memohon saran, dikarenakan kyai lurah Semar sakit, usaha apakah kiranya yang harus diperuntukkannya. Resi Abyasa menjelaskan tiada satu obatpun yang menjadi sarana kesembuhannya, namun segala hal ihwal dan sebab musababnya kepada raden Angkawijaya sang Pendita telah membuka takbirnya. Bermohon dirilah raden Angkawijaya dikuti oleh Nalagereng dan Petruk, dalam perjalanannya di tengah hutan bertemu dengan para yaksa dan praja Jurangparang, dan terjadilah peperangan. Para raksasa dapat dibunuhnya, kayai Togog dan Sarawita dapat menghindarkan diri dan melarikan diri kembali ke praja untuk melapor kepada raja. Di kahyangan Jonggringsalaka hyang Guru mengadakan pertemuan dengan hyang Kanekaputra, hyang Bayu, hyang Yamadipati dan hyang Kuwera. Masalah yang dibicarakan tak lain huru-hara di dunia, dilaporkan kepada hyang Guru bahwasanya kesemuanya itu terjadi dikarenakan bagawan Lanabrata atau pendita Durna menggentur tapa di hutan padedangan, permohonannya tak lain hendak kyai Semar sebagai botohmya para Pandawa dikelak prang Barayuda, mati terlebih dahulu. Hyang Guru bersabda kepada hyang Yamadipati, untuk segera turun ke mretyapada dalam rangka tugas mencabut nyawa kyai lurah Semar, adapun hyang Bayu diperintahkan untuk bertindak mencabut nyawa begawan Durna. Keduanya segera bermohon diri turun ke bumi, untuk menunaikan tugas mereka masing-masing. Begawan Lanabrata kelihatan sedang bertapa brata dengan khusuknya, lama sudah sang begawan berdiam di hutan pagedangan, seluruh anggota badannya penuh dengan penyakit, sangat menyedihkan keadaan sang begawan Lanabrata. Para Korawa yang meninjau begawan sangat iba hatinya, apalagi putra sang begawan yang bernama wasi Aswatama dengan menangis mendekati ayahandanya sambil meratapinya, bermohon hendaknya jangan diteruskan lagi menggemtur tapa.Namun sang begawan tak sedikit pun terusik dengan keadaan disekitarnya. Hyan Bayu yang ditugaskan untuk mencabut nyawa Begawan Lanabrata segera mendekati diarah kepala sang begawan, mengenai kedatangannya tak seorang pun yang melihatnya, hanya sang begawan menyadri namun tak kusa lagi untuk, berucap, hanya kelihatan tangannya saja meraba-raba,mulutnya berkumat-kumit. Segera tubuh begawan Lanabrata dibawa hyang Bayu ke kahyangan, para Korawa menyaksikan terngkatnya badan begawan Lanabrata, segera mengejarnya dan terus mengikuti, demikian pula wasi Aswatama juga mengejarnya. Sampailah sudah para Korawa dihadapan pintu masuk ke kahyangan Jonggringsalaka, namanya kori Selamatangkep dijaga oleh hyang Cingkarabala. Para Korawa dicegah untuk masuk ke kahyangan, terjadilah peperangan para Korawa dapat diundurkan oleh hyang Cingkarabala. Namun wasi Aswatama dapat meloloskan diri dari amukan hyang Cingkarabala, mengikuti terus perjalanan hyang Bayu yang membawa begawan Lanabrata. Di Madukara, raden Janaka ditemani oleh wara Sumbadra, Dewi Srikandi dan niken Larasati menunggui kyai Semar yang sedang sakit. Mereka menangisinya, sangat dirundung malang keadaan kyai Semar, keadaannya sangat parah. Selagi mereka menangisi jyai lurah Semar, datanglah sri Kresna diiringkan prabu Puntadewa, raden arya Wrekodara, raden Nakula, raden Sadewa. Mereka pun sangat iba hati melihat manyaksikan keadaan kyai lurah Semar, tak lama datang pula raden Angkawijaya yang diiringkan oleh Nalagareng dan Petruk. Kepada Prabu Puntadewa, sri Kresna dan para Pandawa raden Angkawijaya melapor bahwa mengenai sakitnya kyai lrah Semar, eyang Abyasa bersabda tak ada obatnya, akan tetapi tidak menjadikan ajalnya, namun akan terjadi huru-hara yang akan menimpa para Pandawa. Sri Kresna dan para Pandawa sangat prihatin dengan sabda begawan Abyasa. Selagi mereka berbincang-bincang, datanglah hyang Yamadipati mendekati kyai lurah Semar, tak seorang pun yang menyaksikan kedatangannya, kyai lurah Semar berkomat-kamit, tanganya digerak-gerakkan, namun tak seorang juapun yang tanggap akan gerak-gerik Semar. Hyang Yamadipati segera membawa kyai lurah Semar menuju kahyangan, para Pandawa menyaksikan hilangnya kyai lurah Semar sangat bingung, segera tampak hyang Yamadipati membawa serta kyai Semar, diikutinya.

Selasa, 25 Maret 2014

Gojali Suta

Raja trajutisna prabu sitidja alias boma narakasura merasa sangat sedih dan kecewa. Karena istrinya Dewi Hagnyawanawati atau dei Mustikawati tak mau melayaninya sebagai suami. Malah sang istri mabok kepayang dengan saudaranya sendiri yaitu raden samba wisnubrata. Susana sangat suram menyelimuti paseban agung. Sang raja prabu sitidja cuma diam saja. Sedangkan Prabu Supala, patih Pancadnyana, Ditya Maudara, Ditya Ancak Ogra, Ditya Yayahgriwa, Ditya Sinundha cuma bisa ikutan diam sambil memandang kosong ke lantai. Mereka sangat takut melihat keadaan rajanya yang sedang bermuram durja. Untuk memecah kesunyian maka sang raja prabu sitidja berkata kepada patihnya prabu supala: paman supala saya mengadakan pertemuan ini sengaja ingin membhas masalah raden samba dan dhiajeng Hagnyanawati. Dua orang itu sudah bener bener kasmaran sampe dhiajeng Hagnyanawati dibawa pulang ke dwarawati. Maksud saya daripada didengar orang luar, mending adik saya samba saya nikahkan dengan istri saya dhiajeng Hagnyanawati. Lalu saya dudukan di kerajaan trajutisna dengan baik baik sebentar kanjeng prabu, bukankah kelakuan adik baginda samba itu berarti telah berani melakukan tindakan mesum dan berkhianat kepada sang prabu?Barani mengambil istri paduka sebagai pacarnya?Bukankah itu sama dengan berani menginjak injak kepala sang prabu sendiri tidak apa apa paman, karena samba itu adik saya yang paling saya sayangi. Karena itu saya akan mengirim utusan ke dwarawati yaitu maudara dan ancak ogra untuk menghadap ke prabu kresna agar mau mengijinkan membawa samba dan hgnywati untuk saya nikahkan di trajutisna. kemudian prabu sutidja memberikan perintah kepada maudara dan ancak ogra untuk berangkat ke dwarawati untuk menghadap sri baginda kresna ayahnya untuk menyampaikan keinginan prabu boma narakasura. Maka maudara dan ancak ogra segera berangkat. Di paseban agung kerajaan dwarawati. Disana sang raja sri baginda raja bhatara kresna sedang berdiskusi dengan patih udawa dan raden setyaki. Yang dibicarakan tidak lain adalah kelakuan raden samba yan telah merusak pagar ayu dengan membawa istri saudaranya sendiri untuk dijadikan sebagai kekasih. Belum lama pembicaraan berlangsung datanglah ditya maudara dan ancak ogra. Setelah datang dan saling beramah tamah mereka mengatakan tujuan kedatanganya ke pada prabu kresna. Lalu prabu bhatara kresna yang sudah mengetahui akan jadi apa lelakon ini mengijinkan raden samba untuk dibawa ke trajutisna. Maka ditya maudara dan ancak ogra segera pamit dengan membawa raden samba ke trajutisna. Setelah kedua utusan pamit, setyaki maju menghadap bhatara kresna dan matur: kakanda prabu kenapa kakanda ijinkan mereka membawa raden samba?Iya jika kedua utusan tadi berkata benar, bagaimana jika mereka berbohong dan ingkar janji?Di sana nantinya raden samba bukan akan dinikahkan mlah akan dihukum?Bagaimana kakanda prabu wahai adiku setyaki, janagn berpikiran seperti itu. Ingat semua itu sudah diatur takdir. Walopun digedong baja sekalipun, jika sudah saatnya mati pasti terjadi. Walopun dihujani tembakan peluru pun jika masih belom waktunya pasti kan selamat. Adi setyaki jangan ikut campur, biarkan saja samba mau diapkan saja. Yang jelas jangan sampe sitidja melawan dan melibatkan orang yang tanpa dosa!!. Jika itu dilakukan apalagi melawan adi arjuna maka aku sendiri yang akan menghadapi sitidja anaku. Sekarang adi setyaki bubarkan paseban pertemuan ini. Saya mau tidur dan menenangkan hati diceritakan smapelah rombongan ditya maudara dan ancak ogra yang mengiring jaka samba ditengah hutan. Disana 2 rksasa ini gak menerima kelakuan jka samba yang mengambil istri baginda rajanya. Maka mereka berdua menyiksa jaka samba. Sehingga jaka samba menjerit kesakitan. Kebetulan saat itu datanglah arjuna yang kan menuju kerajaan dwarawati. Kaget hati arjuna mendengar jeritan dari raden samba. Karena kaget maka arjuna segera bertanya dan mencegat rombongan itu: kalo ga salah ini maudara dan samba. Kenapa ini kok badan samba biru biru seperti ini?Dan kalian hendak pergi kemana? maudara menjawab: kalo raden arjuna bertanya maka sebenarnya saya dan ancak ogra menjalankan perintah kanjeng gusti sitidja untuk membawa anak mas raden samba ke trajutisna untuk di nikahkan dengan dewi hagnyawati. Nah kenapa badan raden samba biru biru?Karena kena duri dan onak di dalam hutan apa benar seperti itu samba tanya arjuna tidak percaya kepada samba. aduh paman itu tak benar, kenapa saya babak belur begini karena saya sebenernya digebuki oleh paman maudara dan ancak ogra karena marah maka maudara di tusuk oleh raden arjuna dengan pusaka pulanggeni hingga tewas dan balik ke asalnya yaitu bangkai burung dara. Sementara ancak ogra diberikan surat tantangan yg ditulis arjuna untuk sitidja. Karena temen seperjalananya tewas segera ancak ogra berlaripulang ke trajutisna. Sementara raden samba dan dewi hagnywati untuk sementara waktu dipersilahkan menginap di kasatrian madukoro. Di kerajaan trajutisna sedang duduk prabu sitdja diatas singgasana dengan menhadap para bawahanya. Tiba tiba datanglah ancak ogra dengan ngos ngosan dan berdarah darah. Prabu sitidja sangat marah membaca surat tantangan. Dan langsung menyerang madukoro. Prabu sitidja naik diatas garuda wilmuna sementara semua prajuritnya berbaris didaratan. Tetapi sebelum tanding dengan arjuna prabu sitidja hendak mencari terlebih dahulu dimana raden samba yang menjadi pnyebab kejadian perkara ini. Sementara perang pun pecah. Baladewa, arjuna, setyaki, gatotkaca berperang melawan wadya bala dr trajutisna. Perang besar pun pecah di madukoro. Diluar terjadi perang besar sementara di dalamkesatrin madukoro 2 muda mudi sedang bermadu asmara. Yaitu raden samba dan dewi hagnywati. Mereka berdua mabuk asmara bercumbu dan juga berpeluk peluk. Apalagi raden samba merasa pamanya arjuna merestui dan melindungi dirinya. Karena sedang asyik masyuk tak merasa ada endung yang tiba. Itulah garuda wiluma yang segera turun. Dan kagetlah raden samba melihat turunya garuda yang ditunggangi kakanya sitidja. Segera raden samba tergopoh gopoh menghaturkan sembah. sembah saya kepada kakanda prabu, saya tak menyangka kakanda prabu sendiri yang akan datang kemari. Mohon kakanda prabu mau memaafkan segla kesalahan hamba prabu seitidja berkata iya adiku, sebenarnya aku kesini akan marah kepada di samba, tp melihat adi seperti ini seolah hilang kemarahanku. Sudahlah bukan watak trajutisna untuk marah cuma gara gara wanita ketika naik kembali ke garuda prabu sitidja mendengar omongan togog yang berkata: bagaimana sih ndoro?Bukankah ndoro itu hendak marah dan menjatuhkan hukuman kepada samba yang telah merebut istri paduka?Kenapa jadinya ketika sudah ketemu orangnya malah batal begini? lalu tanpa peringatan karena sangat marah dari atas garuda prabu sitidja melemparkan senjata limpung ke arah raden samba.sehingga lukanya sekujur tubuh. Kemudian mengingat perang trajutisna dan madukoro terjadi karena samba plus melihat banyaknya mayat bergelimpangan. Kemarahan prabu sitidja semakin membara. Di hancurkanya tubuh samba. Di robek mulutnya, dihancurkan hidungnya, tanganya dipatah dan dipuntir, lalu mayatnya dijuwing juwing. Melihat keadaan ini dewi hagnywati menghunus patrem dan menusukan ke tubuhnya. Ikut belapati. Sesudah itu prabu sitidja mengambil sisa mayat samba dan dilemparkan ke medan perang. Dan sang prabu menaiki garuda untuk mengejar jatuhnya mayat. Di medan perang para pandawa merasa sangat marah karena merasa tak mampu menjaga kselamatan raden samba. Arjuna segera membidikan panahkyai sarotama yang di lepaskan ke leher prabu supala. Dan tewaslah seketika prabu supala. Sementara patih pancatnyana di gemplang senjata neggala oleh bladewa dan tewas seketika. Semua wadyabala trajutisna mulai habis di bantai oleh gatokaca dan werkudoro serta setyaki. Mengetahui ini segera prabu sitidja maju perang. Terjadi perang dahsyat antara arjuna dan prabu sitidja. Tetapi prabu sitidja punya ajian pancasona. Mati 7 kali sehari bisa hidup kembali. Jd tak ada guna. Ahirnya arjuna memilih keluar dr perang dan bertapa lg dengan nama benggawan cipto ening karena malu arjuna keluar dr perang dan memilih betapa menjadi begawan cipto ening. Mengetahui keluarnya arjuna maka para pndawa segera mencari bantuan sri bhatara kresna. Malah sri bhatara kresna tidur tak bisa dibangunkan. Bahkan diceritakan anaknya samba mati dijuwing juga tak bangun. Sri bhatara kresna hanya bangun ketika diceritakan arjuna merasa malu dan keluar serta menghilang dr perang. Rupanya sri bhatara kresna mengunjungi ibunyi sitidja yaitu dewi pratiwi di kayangan sapta pratala. Di sana bhatara kresna menanyakan apa kelemahan sitidja. Dei pratiwi menceritakan: sitidja punya aji pancasona tak akan mati selama masih menyentuh tanah. Nah kelemahanya adalah sebuah anjang anjang besi. Dalam episode topeng waja terjadi perkelahian antara sutedja dan gatotkaca. Dimana topeng waja gatot di gemplang oleh senjata gamparan kencana milik sutedja lalu terjadi salah kedaden. Ahirnya topeng itu berubah wujud jd anjang anjang besi di alas pramonokoti daerah pringgondani. Itu pengapesan dr anak saya sitidja ketika bngun prabu kresna segera bilang kepada gatotkaca: jika nanti mayat saudaramu sitidja jatuh, segera bawa kabur ke alas pramonokoti dan baringkan di anjang anjang besi baik paman prabu kata gatotkaca kemudian sitidja yang sedang menaiki garuda wiluma sedang terbang berputran di arena perang dilepasi senjata chakra oleh sri kresna. Ahirnya tubuhnya terbelah dan jatuh kebumi lalu segera dibawa terbang oleh gatotkaca ke alas pramonoti dan diletakan di anjang anjang besi. Sehingga matilah sitidja karena tak menyentuh tanah. Maka berahirlah kisah perang gojali suta ini.

Selasa, 11 Maret 2014

Kala Bendana Gugur

Kala Bendana Gugur Kala bendana adalah anak terahir dr prabu tremboko yaitu penguasa pringgondani yang gugur di tangan prabu pandu dewanata dari hastinapura. Kala bendana juga adik dari arimbi istri dari bima yang melahirkan gatotkaca. Bentuk kala bendana adalah raksasa cilik atau cebol. Dimana memiliki kelebihan dan keutamaan tidak bisa berbohong dan cenderung membela kebenaran. Pada kisah pemberontakan brajadenta, kala bendana menjadi temens etia gatotkaca dan brajamusti. Dimana kala bendana sendiri datang bersama brajamusti untuk mengingatkan bahwa tindakan saudaranya itu merebut tahta pringgondani dari keponakanya gatotkaca adalah tidak syah. Kala bendana dikisahkan memiliki akhir hidup yang tragis. Saat itu negeri plangkawati sedang dilanda kesedihan karena sang pangeran abimanyu penguasa kesatrian plangkawati menghilang. Istrinya siti sundari putri dari dwarawati merasa sangat sedih. Saat itu yang menemani adalah gatotkaca dan kala bendana. Merasa ditangisi setiap hari oleh siti sundari sambil curhat soal hilangnya abimanyu membuat kala bendana sangat sedih dan pamit mencariw arta atau kabar. Maka berjalanlah kala bendana mencari kabar dimana angkawijaya atau abimanyu berada. Di negeri mastsyapati ternyata abimanyu baru aja menikah dengan utari yang kalo diurut umurnya jauh lebih tua dan bisa disebut neneknya. Tetapi karena dewi utari jago spiritual maka disebutkan sang dewi awet muda. Dan menurut hyang bhatara kresna sendiri, wiji mahkota para raja hanya bisa disemai di rahim dewi utari. Ketika sedang berkasih kasih datanglah kala bendana. Sampe disana karena kala bendana tak bisa berbohong dia hampir saja membocorkan bahwa abimanyu sudah punya istri. Tapi oleh abimanyu kala bendana diusir dengan ditusuk keris, sampe ahirnya kala bendana pun lari pulang ke plangkawati. Saat itulah utari curiga dan berkata pada abimanyu. Jika abimanyu sudah punya garwa pun akan diterima sebagai saudara oleh utari. Tapi dasar abimanyu malah ebrbohong bahkan bersumpah akan mati dikeroyok perawan 1000 jika bohong, tapi kepleset lidahnya jadi bersumpah akan mati dikeroyok panah seribu. Dan jagad nyakseni, jagad mendengar itulah karma abimanyu. Mati dalam perang bharata yudha dengan keadaan dikeroyok panah 1000 sampe tak ada sisa di tubuhnya yang tak kemasukan panah. Hati hatilah dalam bersumpah!! Jangan lalai terutama dalam keadaan bergembira. Kala bendana pulang ke plangkawati. Disana gatotkaca menemani siti sundari. Siti sundari bergembira menyambut kala bendana dan menanyakan bagaimana kabar abimanyu. Kala bendana aka mengucap tapi di halang halangi oleh gatotkaca dengan kasar. Tapi kala bendana yang tak bisa berbohong merasa bahwa kebenaran harus diungkapkan apapun resikonya. Ketika kala bendana mengucap abimanyu ada di negera matsyapati langsung gatotkaca karena kesalnya mengayunkan tanganya ke kepala kala bendana. Tak dinyana tak diduga, kepala pamanya itu langsung hancur berantakan. Tak sadar gatotkaca sudah melakukan pembunuhan kejam kepada pamanya sendiri. Saat itu kala bendana badanya moksa, hilang mayatnya bersama rohnya. Terdengar suara anaku gatotkaca, aku sebenarnya sudah masuk sorga. Tapi aku ga rela jika aku masuk sendirian. Karena cintaku padamu maka aku akan tunggu engkau gugur di perang bharatayudha. Dan kita akan masuk ke sorga bersama. Gatotkaca sangat menyesal dengan kejadian ini. Dan pada perang bharata yudha, kala bendana membawa konta yang dilontarkan oleh adipati karna untuk masuk menembus tubuh gatotkaca. Inilah pembalasan karma gatotkaca terhadap pembunuhan pamanya kala bendana.dan ahirnya paman anak ini masuk sorga bersamaan.

Senin, 03 Maret 2014

Brajadenta-Brajamusti

Brajadenta - Brajamusti Prabu duryodana dan para punggawa kurawa sedang bertemu di dampar agung negara hastina. Mereka membicarakan krisis yang menimpa pringgondani. Karena brajadenta ga mau menyerahkan kursi kepada prabo anom gatotkaca. Duryodana melihat hal ini sebagai peluang. Hal ini diamini oleh resi drona dan patih sengkuni. Maka diutuslah patih sengkuni dan resi drona untuk bertamu ke brajadenta. Maka berangkatlah utusan hastina menemui brajadenta. Dikediaman brajadenta para utusan hastina diterima. Drona menceritakan bagaimana perang dengan ayah pandawa menewaskan prabu tremboko ayah dari brajadenta. Kemudian ditambah cerita patih sengkuni tentang werkudoro yang membunuh kakak mereka tertua arimba. Dan memanas manasi bahwa arimbi malah membelot menikah dengan werkudoro. Karena dipanasi brajadenta tambah marah dan bersumpah merebut tahta pringgandani. Di pringgandani prabu anom gatotkaca menghadapi para pamanya. Ada brajamusti dan kala bendana. Prabu anom menanyakan kenapa brajadenta pamanya ga pernah sowan. Karena dianggap aneh maka gatotkaca mengutus dua pamanya brajamusti dan kala bendana mengunjungi kediaman brajadenta. Apalagi telah santer beredar kabar bahwa brajadenta akan mengkudeta gatotkaca dari kursi raja pringgondani. Erangkatlah dua utusan tadi ke kediaman brajadenta. Mereka kaget melihat adanya rombongan dari kerajaan hastina sudah ada disana. Mereka masuk lalu menyampaikan pesan kedatanganya adalah karena diutus gatotkaca. Untuk melihat kabar brajadenta apakah sakit kenapa kok ga pernah sowan ke sitihinggil keraton pringgondani. Brajadenta marah besar dan mengatakan dengan lantang bahwa dia akan merebut kedaton dari tangan gatotkaca. Brajamusti dan kala bendana berusaha mengingatkan brajadenta. Bahwa dia sudah dipengaruhi oleh drona dan sengkuni. Tapi brajadenta tak mau peduli dan menyuruh kedua adiknya itu kembali membawa surat tantangan. Maka keluarlah brajamusti dan kala bendana dan diikuti oleh bala tentara hastina. Bala tentara hastina disuruh untuk membunuh kedua utusan tapi mereka dikalahkan dengan mudah oleh brajamusti. Dan segera mereka kembali ke kedaton pringgondani. Mereka mengatakan apa yang mereka dengar langsung dari brajadenta kepada prabu anom gatotkaca. Gatotkaca menjadi resah dan merasa rikuh berhadapan dengan paman sendiri. Sementara bala tentara brajadenta bersiap menuju ke istana pringgandani. Ketika pasukan brajadenta sampai terjadi pertempuran. Brajadenta sakti luar biasa sehingga hampir semua mereka yang membela gatotkaca dikalahkan. Sampai sampai gatotkaca sendiri maju dan dikalahkan oleh brajadenta. Kemudian gatotkaca mundur dan ebrkeluh kesah kepada pamanya brajamusti. Paman saya dikalahkan dan kerajaan direbut. Bagaimana baiknya?. Brajamusti berkata...masalah bisa beres jika tuan raja mengorbankan satu pilar kerajaan. Gatotkaca mengira pilar yg dimaksud adalah bener bener pilar bangunan keraton. Maka dia mensetujui saja perkataan pamanya. Tiba tiba brajamusti berkata bahwa brajadenta bisa mati asal bertarung sampai sama sama mati melawan dirinya. Lalu brajamusti pamit dan melawan brajadenta. Pertarungan sangat seru. Keduanya seimbang. Dan ahirnya sama sama mati tertusuk keris pusaka masing masing. Gatotkaca menangisi mayat kedua pamanya. Lama lama mayat itu mengecil lalu masuk ke dalam tangan kanan dan kiri gatotkaca menjadi sebuah keilmuan. Dan keilmuan itu dikenal dnegan keilmuan brajadenta dan brajamusti. Sementara sisa pasukan pemberontak dan hastina dipukul mundur.

Bima Suci

Bima Suci Bima berguru kepada pendeta Durna. Ia disuruh mencari air yang bisa menyucikan dirinya. Bima lalu ke Ngamarta, memberitahu dan pamitan kepada saudara-saudaranya. Yudisthira diminta oleh ketiga adiknya supaya menghalangi keinginan Bima. Bima tidak dapat dihalangi, lalu pergi berpamitan dan minta petunjuk kepada pendeta Durna. Bima menghadap pendeta Durna. Pendeta Durna memberitahu, bahwa air suci berada di hutan Tikbrasara. Bima lalu berpamitan kepada raja Doryudanan dan pendeta Durna. Bima meninggalkan kerajaan Ngastina, masuk ke hutan. Setelah melewati hutan dengan segala gangguannya, perjalanan Bima tiba di gunung Candramuka. Bima mencari air suci di dalam gua dan membongkari batu-batu. Tiba-tiba bertemu dengan dua raksasa bernama Rukmuka dan Rukmakala. Bima diserang. Ke dua raksasa mati dan musnah oleh Bima. Mereka berdua menjelma menjadi dewa Indra dan dewa Bayu. Kemudian terdengar suara, memberi tahu agar Bima kembali ke Ngastina. Di tempat itu tidak ada air suci. Bima segera kembali ke Ngastina. Bima tiba di Ngastina menemui pendeta Durna yang sedang dihadap oleh para Korawa. Mereka terkejut melihat kedatangan Bima. Semua yang hadir menyambut kedatangan Bima dengan ramah. Pendeta Durna menanyakan hasil kepergian Bima. Bima menjawab bahwa ia tidak menemukan air suci di gunung Candramuka. Ia hanya menemukan dua raksasa dan sekarang telah mati dibunuhnya. Pendeta Durna berkata, bahwa air suci telah berada di pusat dasar laut. Bima percaya dan akan mencarinya. Dengan basa-basi Duryodana memberi nasihat agar Bima berhati-hati. Bima berpamitan kepada pendeta Durna dan Doryudana. Bima menemui saudara-saudaranya di kerajaan Ngamarta, ia minta pamit pergi mencari air suci. Yudisthira dan adik-adiknya sangat sedih, lalu memberitahu kepada Prabu Kresna raja Dwarawati. Kresna datang di Ngamarta, memberi nasihat agar para Pandhawa tidak bersedih hati. Dewa akan melindungi Bima. Bima minta diri kepada Kresna dan keluarga Pandhawa. Banyak nasihat Kresna kepada Bima, tetapi Bima teguh pada keinginannya. Para Pandhawa mencoba menghalang-halanginya, tetapi tidak berhasil menahannya. Bima berjalan menelusuri hutan, kemudian tiba di tepi samodera. Bima mempunyai kesaktian berasal dari aji sangara. Dengan berani ia terjun ke dalam samodera. Tiba-tiba seekor naga mencegatnya. Naga membelit Bima, tetapi alhirnya naga mati ditusuk kuku Pancanaka. Bima tiba di pusat dasar samodera, bertemu dengan Dewa Ruci. Dewa Ruci dapat menjelaskan asal keturunannya Bima dan menyebut sanak saudaranya. Lagi pula Dewa Ruci tahu maksud kedatangan Bima di pusat dasar samodewa. Dewa Ruci memberi nasihat, orang jangan pergi bila tidak tahu tempat yang akan ditujunya. Jangan makan bila belum tahu rasa makanan yang akan dimakannya. Jangan mengenakan pakaian bila belum tahu nama pakaian yang akan dikenakannya. Barang siapa tidak tahu, bertanyalah kepada orang yang telah tahu. Bima merasa hina, lalu minta berguru kepada Dewa Ruci. Bima disuruh masuk ke rongga perut Dewa Ruci. Bima heran mendengar perintah Dewa Ruci. Ia harus masuk melalui jalan mana, bukankah Dewa Ruci lebih kecil dari pada Bima. Dewa Ruci berkata, bahwa dunia seisinya bisa masuk ke rongga perutnya. Bima disuruh masuk lewat lubang telinga kiri. Tibalah Bima di dalam rongga perut Dewa Ruci. Ia melihat samodera besar lagi luas, tidak bertepi. Ketika ditanya, Bima menjawab, bahwa ia hanya melihat angkasa kosong jauh sekali, tidak mengerti arah utara selatan, timur barat dan atas bawah. Ia kebingungan. Tiba-tiba terang benderang, Bima merasa menghadap Dewa Ruci. Ia tahu arah segala penjuru angin. Dewa Ruci bertanya tentang sesuatu yang dilihat oleh Bima. Bima menjawab, bahwa hanya warna hitam merah kuning dan putih yang dilihatnya. Dewa Ruci memberi wejangan kepada Bima. Setelah menerima wejangan, Bima merasa senang. Ia tidak merasa lapar, sakit dan kantuk. Ia ingin menetap tinggal di rongga perut Dewa Ruci. Dewa Ruci melarang, Bima diwejang lagi tentang hakekat hidup manusia. Sempurnalah pengetahuan Bima tentang hidup dan kehidupan. Bima telah lepas dari rongga perut Dewa Ruci, lalu minta diri kembali menemui saudara-saudaranya di Ngamarta. Yudisthira mengadakan pesta bersama keluarga menyambut kepulangan Bima. Sumber aplikasi wayang