Tampilkan postingan dengan label Kejawen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kejawen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Maret 2017

Ana Dina, Ana Upa

Pic : google.com
Ana Dina, Ana Upa
Oleh : Joyojuwoto

Ana dina, ana upa adalah ungkapan kearifan masyarakat Jawa dalam memandang rezeki Allah Swt, yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya. Ungkapan ana dina, ana upa ini memiliki arti jika masih ada hari, pasti masih ada nasi, jika kita masih diberi kesempatan untuk hidup, pasti Allah Swt telah menjamin rezeki kita. Jadi jangan pernah takut kita hidup dan tidak mendapatkan jatah rezeki dari Allah Yang Maha Razaq. Jangankan manusia, hewan dan tumbuhan pun rizkinya telah diberi dan ditentukan, dan tidak akan ada satu pun yang terlewatkan. yakin dan percayalah.

Lihatlah induk ayam beserta anak-anaknya, setiap pagi hari bangun mengais-ngais makanan dan Allah Swt, mencukupkan rezeki untuk ayam beserta anak-anaknya, lihatlah burung-burung keluar dari sarang untuk menjemput rezeki entah di mana, di sore hari burung-burung itu pun pulang sarang dengan keadaan kenyang, Allah Swt menjamin rezeki burung-burung itu. Tentu manusia pun telah dijamin rezekinya oleh Allah, tinggal ia berikhtiar mencari jalan wasilah untuk mendapatkan rezeki.

Seluruh makhluk hidup di muka bumi ini sudah ada rezekinya, bukankah Allah Swt telah berfirman dalam al Qur’an surat Hud ayat 6 yang berbunyi :

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (٦)

Artinya : “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”

Dari firman di atas mengisyaratkan bahwa Allah Swt telah memberikan janji dan jaminan bahwa rezeki makhluk di muka bumi telah diatur sedemikian rupa dan dicukupkan oleh-Nya, sehingga tak patut untuk kita khawatirkan.

Saya sangat tertarik dan sekaligus terhenyak dengan quote dahsyat yang dibuat oleh budayawan, penulis dan juga seorang dalang nyentrik, Sujiwo Tejo, ia menuliskan bahwa “Menghina Tuhan Tak Perlu Dengan Umpatan Dan Membakar Kitabnya. Khawatir Besok Kamu Tidak Bisa Makan Saja Itu Sudah Menghina Tuhan.”

Kalimat yang dibangun oleh Sujiwo Tejo menurutku sangat luar biasa, meragukan rezeki dari Tuhan adalah bentuk penghinaan dan menyepelekan Tuhan. Kita lupa siapa yang memberikan rezeki kepada kita, kita lupa siapa Dzat Sang Maha Razaq, sehingga kita takut tidak bisa makan di esok hari, kita takut tidak kebagian rezeki, dan ketakutan-ketakutan lain yang tidak berdasar sama sekali. Allah dalam surat Al Isra’ ayat 31 pun menyatakan, Nahnu Narzuquhum (Kami (Allah) yang akan memberikan rezeki kepada mereka).

Oleh karena itu ungkapan ana dina, ana upa adalah bentuk energi tawakkal dan penyerahan diri yang total kepada ketentuan Tuhan, bahwa selama masih ada hari, akan selalu ada nasi, Tuhan akan selalu memberikan rezeki kepada hamba-Nya, asal ia mau berusaha. Maka jemputlah rezeki di manapun berada asal itu baik dan halal, karena selama masih ada hari pasti ada rezeki, sebagaimana falsafah yang diwariskan dari orang tua kita dahulu : “Ana dina, ana upa, ana awan, ana pangan, angger gelem obah mesthi biso mamah.” Sekian.

Ojo Dumeh

Ojo Dumeh

oleh : Joyojuwoto*


Filosofis ajaran adi luhung yang digali dari nilai-nilai kearifan masyarakat Jawa mengajarkan agar manusia bisa menghargai dan menghormati orang lain, bersifat welas asih terhadap sesama, dan tidak merasa paling diantara orang lain.  Merasa paling inilah yang biasanya menimbulkan masalah dalam berperikehidupan di tengah masyarakat luas. Oleh karena itu mbah-mbah buyut kita mengajarkan kearifan urip iku ojo dumeh (hidup itu jangan merasa diri paling, menganggap diri lebih dari yang lainnya.

Ojo Dumeh adalah sikap dan perilaku yang mengajarkan ketawadhuan terhadap sesama makhluk Tuhan, dan tidak sombong serta angkuh, ora adigang adigung diguna, karena pada dasarnya manusia sama derajadnya, hanya ketaqwaannya yang membedakan nilai dari diri manusia di hadapan Tuhannya.

Kita harus selalu mawas diri dan ingat bahwa kehidupan ini seperti roda yang berputar, kadya cakra manggilingan, ada kalanya di atas dan ada kalanya di bawah. Tidak selamanya bunga akan mekar, ada saat layu dan luruh ke bawah. Jika kita sedang di puncak kesuksesan dan kejayaan, maka tetaplah bersikap rendah hati, andap asor dan menghargai orang lain, jangan sampai kita lupa daratan di mana bumi dipijak.

Jangan sampai kita mengandalkan harta kekayaan, derajad, dan pangkat di dunia ini, karena itu hanyalah fatamorgana. Perhiasan-perhiasaan keduniaan itu semua hanya semu semata, tidak akan kita bawa di alam kelanggengan, kecuali jika kita mempergunakan anugerah Tuhan itu untuk amal kebaikan, maka nikmat Tuhan itu akan langgeng, namun jika pangkat dan derajad serta harta kekayaan kita gunakan untuk kesombongan dan wah-wahan, maka tunggu saja karma kehidupan.

Bandha bakal lungo, pangkat bakal oncat (harta akan pergi, pangkat akan lepas) begitu yang sering diwejangkan sesepuh-sesepuh kita, hal ini menjadi pelajaran berharga bahwa manusia hendaknya selalu eling dan waspada, ojo dumeh, dan bisa meletakkan diri  dengan baik di tengah-tengah masyarakat.

Oleh karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk dumeh, terhadap apa yang kita punyai, karena pada hekekatnya semua yang kita miliki adalah titipan, bahkan dengan hidup kita pun kita tidak punya hak dan wewenang apapun. Jika Tuhan mengambilnya maka tiada kekuatan apapun yang dapat menghalanginya.

Sangat banyak contoh dalam sejarah masa silam orang-orang dumeh, yang akhirnya mereka hancur lebur dalam kehinaan. Fir’aun dumeh dengan kekuasaannya, akhir kehidupannya ditenggelamkan ke dalam laut merah, Qarun dumeh dengan banyaknya emas dan permata, seluruh harta kekayaannya hilang ditelan bumi, Namrud, Jalut, adalah raja-raja yang dumeh, diakhir kehidupannya sangat jelas, terhina di dunia, dan tentu dimurkai Tuhan di akhirat. Oleh karena itu ojo dumeh sapada padaning tumitah.

Selasa, 08 November 2016

Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe

Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe

Kerja keras adalah jawaban dari sebuah sikap ingin mendapatkan hal yang layak bagi kehidupan. Baik itu dalam hal pekerjaan, dalam hal sosial kemanusiaan, dan bahkan dalam hal peribadahan sekalipun. Orang yang suka bermalas-malasan tidak akan mendapatkan apapun kecuali kesia-siaan belaka. Seorang pemalas biasanya mengharapkan imbalan gaji yang besar namun ia sendiri enggan untuk giat bekerja. Mengharapkan penghormatan dalam masyarakat sedang ia sendiri tidak pernah berbakti dan berjuang untuk nilai-nilai kemanusiaan. Bahkan yang lebih lucu lagi ia enggan mengikuti perintah Tuhan, namun mengharapkan surga di akhir kehidupannya.

Ada harga yang perlu dibayarkan dari sebuah gaji yang tinggi, ada mahar yang perlu dikorbankan dengan ikhlas untuk sebuah penghormatan, dan ada amalan serta tindakan yang baik untuk sebuah kemuliaan menjadi orang-orang yang tercatat dalam lembaran-lembarannya Malaikat Ridwan, kesemuanya itu adalah butuh satu kata yaitu perjuangan. Berjuang yang Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe. 

Ungkapan Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe ini walaupun secara tersurat seakan-akan kita disuruh bekerja keras tanpa mendapatkan imbalan apa-apa dari yang  kita kerjakan, sebenarnya makna yang terkandung bukanlah demikian. Maksudnya Sepi Ing Pamrih adalah kita bekerja dan berkhidmat murni untuk kebaikan, bukan ada maksud-maksud yang tidak baik yang kita sembunyikan dalam hati. Atau dalam istilah sekarang ada modus, ada udang di balik batu, ada niat-niat dan kepentingan-kepentingan lain yang menumpangi, ada i'tikad yang buruk, dan potensi-potensi penyakit hati yang lainnya. 

Contoh mudahnya jika seorang menjadi pemegang policy kebijakan, ia dalam menelurgan gagasan dan kebijakannya di ruang publik itu karena memang sesuai dengan kebutuhan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, bukan karena kepentingan lain semisal mendapatkan imbalan dari pemilik modal atau dari orang-orang yang dulu mendukungnya dalam pemilihan kepala daerah, atau modus-modus lainnya yang tidak murni demi kepentingan rakyat.

Jadi Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe bukan sebuah eksploitasi atas diri orang lain, Eksploitation the man by man and the nation by nation apapun itu bentuknya adalah  bentuk lain dari sebuah penjajahan yang telah dikutuk oleh semua bangsa di dunia ini. Apapun alasannya penjajahan adalah hal yang sangat dibenci oleh agama dan nilai-nilai universal, karena pada hakekatnya manusia dilahirkan ke dunia dalam rangka bebas merdeka dan bermartabat antar sesama manusia.

Rasulullah saw sendiri memerintahkan kita untuk menggaji orang yang bekerja kepada kita sebelum kering keringatnya. Ini menjadi bukti bahwa makna  Sepi Ing Pamrih itu bukan tiadanya imbalan terhadap yang kita lakukan. Allah swt sendiri pun memberikan imbalan pada setiap kebaikan yang dilakukan oleh hamba-Nya. Hanya saja kadang kita salah dalam meletakkan dan keliru dalam menafsirkan kalimat kebajikan yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita zaman dahulu.

Mari Bersepi Ing Pamrih dan Berame Ing Gawe secara adil, murni dan bermartabat, guna meraih kehidupan yang barakah baik di dunia maupun di akhirat.


*Joyojuwoto, lahir di Tuban, 16 Juli 1981, Anggota Komunitas Kali Kening; Santri dan Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” bisa dihubungi di WA 085258611993

Jumat, 09 September 2016

Wani Ngalah Luhur Wekasane

Wani Ngalah Luhur Wekasane
Joyojuwoto*


Dulu saat saya ngaji di pesantren seringkali mbah Yai Moehaimin Tamam menggembleng santri-santrinya dengan sebuah tembang yang sangat bagus, beliau bilang itu adalah tembang yang dinyanyikan oleh Waljinah seorang sinden. Walau secara umum masyarakat memandang sinden dengan pandangan yang rada-rada negatif namun entah mengapa Mbah Yai sering sekali mengutip tembang itu. Dengan suaranya beliau yang terasa masih saya ingat sampai sekarang beliau menembang, dan santri-santri pun diajak bersama-sama menembangkan. Kalau tidak salah bunyi dari tembang itu adalah demikian :

Cubluk wadah uyah
Tali kenur aran lawe
Sapa wani ngalah
Bakal luhur wekasane

Artinya :
“Bejana plastik tempatnya garam, tali kenur dinamakan benang lawe, siapa yang berani mengalah, maka akan mendapatkan kemenangan di akhirnya”

Mbah yai waktu itu tidak pernah menerangkan artinya secara detail, namun beliau hanya mengupas kalimat intinya, yaitu pada kalimat “Sapa wani ngalah, bakal luhur wekasana”  (Siapa berani mengalah, maka akan mendapat kemenangan di akhirnya). Karena inti dari tembang tadi ya kalimat yang kedua dan ketika tentang ajaran untuk andap asor dan tidak menang-menangan, lebih baik mengalah saja, karena siapa yang berani mengalah maka Allah akan meluhurkan derajad orang tersebut.

Menurut KH. Agus Sunyoto dalam bukunya Atlas Walisongo kata mengalah itu bukan asli kosakata Jawa, tidak ada dalam bahasa kawi itu kata “kalah” kata ngalah atau “ngallah” sendiri diciptakan oleh para wali yang berarti menuju Allah. Semisal kata “Ngalas” maksudnya adalah menuju hutan, oleh karena itu untuk menanggulangi sifat tinggi hati dan suka menang-menangannya masyarakat Jawa, para wali membuat satu kata “Ngalah” sebagai wujud kearifan dan kebesaran jiwa untuk berani mengalah agar tercipta keharmonisan di dalam tata perikehidupan masyarakat.

Lihatlah sejarah zaman dulu ketika Raja Jawa, yaitu Prabu Kertanegara Raja Singhasari di datangi utusan dari kerajaan Mongol untuk disuruh takluk, maka sang Raja sangat marah dan murka, Meng Khi sang utusan dari kaisar Kubilai Khan dilukai dahinya dan dipotong telinganya. Kasar sekali pokoknya. Karena pada aturannya duta itu tidak boleh disakiti. Ini adalah bentuk tinggi hatinya orang Jawa yang tidak mau direndahkan, sehingga Sang Raja berbuat yang tidak seharusnya diperbuat untuk seorang duta.

Tuhan pun membalas Kepongahan dan kesewenang-wenangan dari Kertanegara dengan kehancuraan kekuasaannya karena diserang oleh Jayakatwang sepupu, ipar, dan besannya sendiri. Bahkan Kertanegara tewas dalam prahara itu.

Ngalah mungkin akan sangat mudah dilakukan oleh orang-orang yang memang lemah dan tidak memiliki kekuatan, namun ngalah ini akan sulit dilakukan oleh orang-orang yang berkuasa dan memiliki kekuatan, baik itu kekuatan berupa pangkat, derajad, dan harta kekayaan. Oleh karena itu tidak mudah memang menjadi orang yang ngalah pada saat kita memiliki kemampuan untuk mengungguli orang lain. Apalagi harus ngalah kepada orang yang lebih rendah secara duniawi. Sangat sulit sekali tentunya. Oleh karena itu leluhur kita mengatakan hanya orang yang memang luhur dan tinggi derajadnya di sisi Tuhan yang mampu melakukannya, mereka akan mendapat kemuliaan di mata manusia dan di mata Tuhan. Sedang orang yang menang-menangan diancam sebagai orang yang tinggi hati dan sombong, dan akhir dari kesombongan adalah kehancuran dan kebinasaan. Naudzu billahi min dzaalik.


Jika kita mengingat bahwa kebesaran dan kekuasaan yang kita miliki hanyalah titipan Tuhan, dan kehidupan kita di dunia hanyalah tempat persinggahan sementara, maka hendaknya kita menjadi orang yang andap asor dan tidak menang-menangan. Karena pada dasarnya manusia adalah sama di hadapan Tuhan. Ayo...wani ngalah luhur wekasane, menang tanpa ngasorake.

 *Joyojuwoto, lahir di Tuban, 16 Juli 1981, Anggota Komunitas Kali Kening; Santri dan Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” yang tinggal di www.4bangilan.blogspot.com.

Kamis, 08 September 2016

Aja adigang adigung adiguna

Aja adigang adigung adiguna
Joyojuwoto*

Pic : http://herulegowo.com/
Dalam falsafah kearifan masyarakat Jawa kita sering mendengar leluhur-leluhur kita memberikan petuah kepada anak cucunya : “Wong kuwi aja adigang adigung adiguna” yang memiliki makna seseorang itu jangan merasa paling kuasa, merasa paling agung, dan merasa paling berguna diantara sesama. Menjadi manusia itu harus rendah hati tidak merasa paling diantara sesama lainnya, karena hanya Tuhan yang memiliki sifat paling dan yang memiliki sifat Yang Maha.
Dalam sebuah hadits Qudsi Allah berfirman :
العظمة إزاري والكبرياء ردائي فمن نازعني فيهما قصمته
Artinya : “Kebesaran adalah kain sarung-Ku dan kesombongan adalah kain selendang-Ku. Bangsiapa melawan Aku pada keduanya niscaya Aku menghancurkannya”

Keagungan dan kebesaran adalah sarung Tuhan, kesombongan dan kedigdayaan adalah selendang Tuhan, maka apakah layak kita memakainya ? jika kita memaksa memakai hak-hak Tuhan, maka Tuhan sendiri yang akan menghancurleburkan kita. lihatlah akibat daripada orang-orang yang sombong, akhirnya tentu kehancuran dan kehinaan belaka. Lihatlah Firaun yang menyombongkan kekuasaannya ia dihinakan oleh Allah ditenggelamkan ke dalam laut merah, lihatlah Namrud yang menyombongkan tahtanya dan kerajaannya, ia dihancurkan karena kesombongnnya, lihatlah Qarun yang menyombongkan harta bendanya, ia dan seluruh harta bendanya di telan oleh bumi, tidak ada kesombongan yang membawa keberkahan, yang ada selalu kehinaan dan kehancuran.

Semua kebesaran, keagungan, dan kekuatan yang kita miliki hanyalah titipan dari Tuhan, tidak layak jika kita menyombongkannya dihadapan manusia lain. Karena sepercik api kesombongan yang ada di dalam dada kita besok akan berubah menjadi bara api yang akan menghancurkan dan meluluhlantakkan diri kita sendiri. Kesombongan itu akan membakar kita di dunia ini dan juga menghanguskan amalan-amalan kita di hari pertanggungjawaban.

Banyak hal yang menipu dan menjadikan seseorang menjadi sombong, diantaranya adalah mungkin karena ilmunya pengetahuannya, karena amal ibadahnya, karena kecantikan dan kebagusannya, karena kekayaannya dan juga karena keturunannya. Hal ini yang sering menjadikan seseorang menjadi adigang adigung dan adiguna, merasa paling dibandingkan orang lain serta melupakan siapa yang memberi semua nikmat tersebut.

Oleh karena itu mari berhati-hati dengan potensi dan rasa kesombongan yang muncul di dalam hati kita, bertawadu’lah terhadap sapada-padaning tumitah di muka bumi, karena sepercik kesombongan itu akan berbalas murka dari-Nya, sebagaimana dalam sebuah hadits Rasulullah selalu mengingatkan kepada kita : “Tidak akan masuk surge orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sebesar dzarrah.


 *Joyojuwoto, lahir di Tuban, 16 Juli 1981, Anggota Komunitas Kali Kening; Santri dan Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” yang tinggal di www.4bangilan.blogspot.com.

Rabu, 13 Juli 2016

Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe

Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe

Ungkapan sepi ing pamrih rame ing gawe mengandung afirmasi positif terhadap gerak laku peradapan yang mengarah kepada dinamisme hidup yang penuh dengan makna dan nilai-nilai yang membangun kehidupan masyarakat yang madani. Sepi ing pamrih berarti kosongnya nafsu-nafsu duniawi dyang membelenggu kehendak manusia dalam rangka menuju nilai-nilai ketuhanan. Sepi ing pamrih berarti memurnikan niat hanya kepada Tuhan saja segala bermuara.

Pamrih adalah penyakit hati yang sangat mengganggu gerak laju peri-kehidupan di tengah-tengah masyarakat, karena pamrih  berarti hanya mengusahakan kepentingan sendiri individualnya tanpa memperhatikan kepentingan-kepentingan bersama. Pamrih pada dasarnya adalah tindakan mengacau dan mengganggu keselarasan kepentingan sosial, karena sikap pamrih hanya berusaha mengeksiskan dan memutlakkan diri,  ego dan keakuannya belaka.

Sikap pamrih ini akan tampak pada orang yang selalu ingin menjadi orang yang terdepan, nomor satu  atau nepsu menange dewe, menganggap diri selalu benar, sedang yang lain salah, atau nepsu benere dewe, dan tentu orang yang suka pamrih hanya memperhatikan kebutuhannya sendiri tanpa menghiraukan kepentingan kolektif masyarakat, atau nepsu butuhe dhewe.

Orang yang telah dikuasai nafsu pamrih akan kehilangan akal budinya, orang semacam ini tidak saja berbahaya bagi keselarasan harmoni kehidupan namun juga akan mengancam lingkungannya serta menyulut konflik-konflik serta menimbulkan ketegangan-ketegangan yang membahayakan ketentraman masyarakat.

Oleh karena itu menyepikan dan menyuwungkan hati dari tujuan pamrih adalah satu kearifan dan kebajikan sikap yang perlu dipelihara dan dihidupkan agar manusia nantinya bisa rame ing gawe. Jika manusia rame ing gawe karena mengerti tujuan penciptaan dirinya oleh Tuhan dalam rangka beribadah maka saya kira manusia akan memurnikan niatnya hanya untuk penyembahan kepada Tuhan semata, bukan sebab harta, jabatan, kemuliaan yang semu dan tujuan-tujuan keduniaan lainnya.

Ketulusan niat dalam hati dan pikiran adalah kunci dari rame ing gawe, jumbuhing lahir lan batin menjadi piranti penting dalam rangka mewujudkan cita-cita kenabian yang terpapar dalam istilah rahmatan lil’alamin atau memayu hayuning bawana dalam konsep kejawennya.

Sikap sepi ing pamrih rame ing gawe mengajari kita sikap keikhlasan, ketulusan serta pengharapan semata-mata hanya kepada Tuhan saja. Ilaahii Anta Maqsuudii, Wa Risdhooka Madluubii. Joyojuwoto

Selasa, 28 April 2015

“Sungkeman”

“Sungkeman”

Sungkeman adalah tradisi masyarakat Jawa yang dilakukan pada saat-saat tertentu, semisal saat ritual upacara pernikahan, saat perayaan halal bi halal di hari raya Idul fitri, maupun pada saat-saat seorang anak meminta berkah do’a kepada orang tuanya.

Sungkeman berasal dari kata sungkem, yaitu duduk posisi berjongkok sambil mencium tangan orang yang lebih tua, sambil meminta do’a kepada orang yang kita sungkemi. Sungkem bukan berarti menyembah, namun hanya sebatas bentuk penghormatan kepada orang yang dituakan. Sungkeman  adalah wujud ketawadu’an seorang yang lebih muda kepada yang lebih tua.

Biasanya orang yang lebih muda akan sowan (menghadap) kepada yang lebih tua, kemudian berjongkok dan bersalaman sambil mencium tangan orang yang lebih tua sambil mengucapkan kalimat pokok sungkeman. Seorang santri yang sowan kepada gurunya pada saat idul fitri misalnya akan berucap begini :
"Ustad/ustadzah lahir batin, Sugeng riyadin ngaturaken sedaya lepat nyuwun pangapunten, nyuwun donga pangestunipun supados kula saged dados siswo-siwi ingkang sholeh, migunani dhateng agami, nusa, bangsa, lan nagari, lancar anggenipun pados ilmu, gampil anggenipun pados rejeki ingkang halal lan thayyib, saha sukses nglampahi gesang ing donya lan akhirat.

Dan si guru pun menjawab ucapan murid dengan permintaan maaf dan do’a pula :
"Ngger cah bagus, ngger cah ayu tak sepuro opo kang wus kalampahan,semana uga  wong tuwa akeh lupute, muga-muga isa kalebur ing dina riyaya iki, tak dongakke muga-muga apa sing tak citak-citakke dikabulke marang Gusti Allah…
Amien... amien ya Rabbal 'Alamin.

Dalam tradisi Jawa, sungkeman menjadi salah satu tradisi yang meneguhkan akan rasa hormat dari generasi yang lebih muda kepada yang lebih tua, sungkeman juga menjadi penanda kasih sayang yang diberikan orang yang lebih tua kepada yang lebih muda. Ajaran saling menghormati dan saling menyanyangi menjadi dasar dari seluruh aspek kehidupan beragama. Islam sendiri yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW juga mengemban risalah rahmatan lil ‘alamin, dalam konsep kehidupan masyarakat Jawa dikenal dengan istilah “Memayu Hayuning Bawana”

Tradisi semisal ini perlu kita fahami, dan kita fahamkan kepada generasi mendatang agar tidak terjadi salah persepsi, yang akhirnya mengundang polemik yang tidak berkesudahan. Semisal dikatakan sebagai amalan bid’ah, syirik, khurafat dan lain sebagainya. Karena memang sungkeman jauh dari maksud itu semua. Bagaimanapun juga kalau tidak berkenaan dengan ibadah mahdhoh saya kira ritual ini sah dan halal untuk dilakukan, dengan catatan yang melakukannya mengerti dan tidak salah niat. Sekian. Joyojuwoto.

Jumat, 16 Januari 2015

Petuah Ndelok Jithoke Dhewe

“nDelok Jithoke Dhewe”

Pengertian secara bahasa :

Melihat pada tengkuknya sendiri.

Makna yang tersirat :
Kita sebagai manusia diajak untuk melihat dan mengetahui tentang diri kita lebih jauh. Selain ada kebaikan ada juga kekurangan dan kelemahannya. Kita diajak untuk menyadari akan kekurangan dan kelemahan diri kita sendiri. Jangan sampai seperti pepatah "Gajah dipelupuk mata tak tampak, kuman diseberang lautan tampak"

Nilai yang dapat kita petik :
Ungkapan ini mengajarkan agar setiap orang mau mawas diri. Mawas diri merupakan cara  yang menyebabkan orang mengetahui bahwa manusia dirinya juga pernah mempunyai kekurangan, dan kelemahan. Kalau orang sudah menyadari kekurangannya, maka pada dirinya pasti tidak terdapat perasaan lebih tinggi dari orang lain.Karena memang pada dasarnya Tuhan menciptakan manusia dalam kondisi yang lemah dan berkekurangan. Dalam Al Qur'an disebutkan :

وخلقنا الإنسان ضعيفا
"Dan Kami ciptakan manusia dalam kondisi yang lemah"

Dengan menyadari kondisi yang sedemikian  pada gilirannya pasti dapat menyebabkan manusia mempunyai sikap rendah hati, bertenggang rasa dan gampang memberikan maaf bagi orang yang mempunyai kesalahan/bersalah kepada kita. Karena memang pada dasarnya manusia tempatnya salah dan dosa.

ألإنسان محلّ الخطئ والنّسيان
"Manusia itu tempatnya salah dan lupa"

Oleh karena itu jangan sampai kita disibukkan menghitung kesalahan orang lain dan lupa akan kesalahan kita sendiri. Ingat selalu pesan sesepuh kita :

“Ojo metani alaning liyan,
"Ojo mitungi becike dewe”

Salam. jwt

Rabu, 07 Januari 2015

Filosofi Macapat

Filosofi Macapat

tembi.net
Macapat  dalam ajaran masyarakat  Jawa tidak hanya sekedar dipakai menamakan jenis tembang (tembang alit) saja ada banyak filosofi tentang Macapat dalam kehidupan orang Jawa. Macapat artinya tata cara yang didasarkan pada jumlah empat. Macapat dikaitkan dengan sistem tata kota, konsep asal-usul manusia, arah mata angin dan lain sebagainya.

Berkenaan dengan tata kota sistem macapat yang digagas oleh Kanjeng Sunan Kalijaga ini dapat kita lihat dikota-kota lama. Seperti Tuban, Rembang, Blora, Demak dan lain sebagainya. Seperti di Tuban tempat kelahiran beliau, model macapat dapat kita saksikan bahwa penataan kota berdasarkan empat arah penjuru mata angin. Disebelah selatan terdapat pusat pemerintahan dimana Bupati menjalankan tugasnya, disebelah barat terdapat masjid tempat beribadah sehingga diharapkan Bupati dan segenap pamong prajanya tidak melupakan urusan keagamaan, disebelah utara terdapat pasar tempat bertemunya para kawula dan tempat dimana roda ekonomi dijalankan, disebelah timur terdapat bangunan penjara dimana siapapun yang melanggar aturan maka harus dihukum sesuai dengan aturan yang berlaku. Ditengah biasanya terdapat alun-alun dan disitu terdapat dua pohon beringin.

Sistem tata kota yang digagas oleh Kanjeng Sunan Kalijaga tidak sekedar masalah sistem tata ruang saja, namun dibalik itu banyak nilai yang terkandung di dalamnya. Seperti Kantor Bupati selalu menghadap ke utara membelakangi gunung dan menghadap ke arah laut. Ini memiliki makna bahwa seorang pimpinan harus meninggalkan sifat tinggi hati dan kesombongan sebagimana sifat gunung yang tinggi, dan pemimpin harus memiliki hati yang luas seluas samudra. Tentang alun-alun adalah punjer, dan perwujudan keberagaman masyarakat. Alun-alun berasal dari kata bahasa Arab “allaunu-allaunu” yang berarti beraneka warna jadi pemimpin adalah untuk masyarakat majemuk bukan golongan. Di tengah alun-alun terdapat dua beringin kembar yang melambangkan sumber hukum pemerintahan harus sejalan dengan dua pusaka peninggalan Nabi Muhammad Saw untuk umatnya yaitu al-Qur’an dan al-Hadits.

Konsep Macapat yang berkenaan dengan asal usul manusia, masyarakat Jawa meyakini bahwa kelahiran seorang didunia ini tidak sendiri tapi ada unsur-unsur lain yang menyertainya dan itu bukan tanpa makna dan fungsi. Dalam keyakinan Jawa ini dikenal dengan istilah “Sedulur Papat  Lima Pancer”. Konsep sedulur papat lima pancer ini meliputi :
Mar marti : Rasa ngilu dan sakit saat akan melahirkan
Saudara Tua : Kakang Kawah (air Ketuban)
Saudara Muda : Adi Ari-ari (Plasenta)
Darah : Getih
Pancer : Jabang bayi itu sendiri.

Keempat elemen yang menyertai kelahiran jabang bayi menjadi saudara yang menemani bayi yang baru lahir hingga masa ia ke alam kelanggengan. Mereka akan setia menjaga bayi tersebut dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu biasanya orang Jawa jika punya hajat maka ia akan memanggil kadang-kadangnya dengan cara-cara tertentu.

Setelah ajaran Islam mewarnai kehidupan masyarakat Jawa empat elemen saudara manusia tadi ada yang menggambarkannya dalam bentuk empat malaikat penjaga kehidupan manusia yang menerima titah Tuhan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Malaikat itu adalah :
1.       Jibril (Penyampai wahyu/ informasi ilahiyyah)
2.       Israfil (Pembaca buku Qadha’ dan Qadarnya Tuhan)
3.       Mikail (Pembagi rezeki untuk manusia)
4.       Izrail (Pencabut Nyawa manusia)

Selain makna diatas konsep sedulur papat dalam pewayangan Jawa digambarkan sebuah gunungan (kekayon) yang di dalamnya terdapat empat macam lukisan, yaitu Macan, Banteng, Kera, dan Burung Merak. Hewan empat tadi menggambarkan nafsu manusia yang selalu menemani selama hidupnya. Macan adalah lambang nafsu Amarah, Banteng menggambarkan nafsu Supiyah, Kera menggambarkan nafsu Aluwwamah, dan merak menggambarkan nafsu Muthmainnah.

Dalam Ajaran Jawa macapat  juga digunakan untuk menggambarkan proses kehidupan manusia dari lahir hingga meninggal dunia. Hal ini digambarkan dalam urutan tembang cilik (tembang macapat). Urutan itu adalah :
1.       Maskumambang (alam manusia di terapung di dalam rahim sang Ibu)
2.       Mijil ( Masa Kelahiran manusia)
3.       Kinanthi (saat-saat manusia dinanti-nanti (dikudang)
4.       Sinom (Saat muda)
5.       Asmaradana (Merasakan api cinta terhadap lawan jenis)
6.       Gambuh ( Gambuh, Jumbuh, saat pertemuan manusia dengan jodohnya)
7.       Dandhanggula (Saat manis-manisnya menjadi sepasang pengantin/ saat bulan madu)
8.       Durma (Durma atau darma. Kehidupannya sudah mapan dan bermanfaat untuk orang lain)
9.       Pangkur (Kepungkur, mulai meninggalkan hiruk-pikuk kehidupan, dan banyak meninggalkan kesenangan duniawi, saat manusia madeg pandita )
10.   Megatruh (Saat terpisahnya jasad dan ruh manusia )
11.   Pucung (saat manusia dipocong dan dibungkus kain kafan untuk dikuburkan)

Proses kelahiran manusia juga diwujudkan dalam empat arah mata angin, dimulai dari arah timur, barat, selatan, dan utara. Dalam sebuah puisi yang aku tulis dengan judul “Kun fayakun” telah saya uraikan dari ajaran kejawen tentang awal mula kiblat  empat menurut Darmogandul yang menjelaskan asal-usul wujud manusia. Lebih jelasnya silahkan simak puisinya disini. "Kun fayakun"

Demikian beberapa uraian tentang filosofi macapatnya orang Jawa. Jwt.

Selasa, 06 Januari 2015

Wong Jawa Ojo Ilang Jawane

http://bagasarrahman.deviantart.com
Memaknai Ajaran Kejawen

Pokok ajaran masyarakat  Jawa dikenal dengan istilah Kejawen. Ajaran kejawen kadang dipandang secara sinis oleh orang-orang tertentu dan seakan menjadi hal yang negatif yang perlu untuk dijauhi. Padahal menurut saya kejawen adalah sebuah pengetahuan, sebuah nilai dan kearifan yang dimiliki oleh masyarakat  Jawa. Jika itu bukan masalah yang prinsip dan pokok dalam ibadah saya kira ada sesuatu yang layak kita ambil dan kita petik manfaat dari ilmu kejawen tadi. Bukankah Rosulullah pernah bersabda bahwa :

“al Hikmatu Dhoollatul Mu’minin, Khaitsuma wajadaha fahuwa ahaqqu biha”

“Hikmah itu adalah barangnya orang mukmin yang hilang, siapa saja yang menemukannya maka ia berhak atasnya”

Barang yang hilang ini tentu perlu untuk dicari, dimanapun kita menemukannya maka wajib kiranya bagi kita untuk mengambilnya. Begitu pula dengan kejawen jika itu tidak berkenaan dengan ibadah mahdhoh maka alangkah bijaknya jika kita bisa mengambil manfaat darinya. Karena semua ilmu bermuasal dari yang satu yaitu Tuhan yang maha Alim. Jadi jangan sampai kita mengkonfrontasikan  ajaran Islam umpamanya dengan ajaran masyarakat Jawa, tapi hendaknya kita bisa mensinergikan kearifan lokal budaya tersebut agar bisa menjadi sebuah simponi kehidupan yang indah dan menjadi sebuah harmoni yang hidup dan tidak kaku.

Wali Sanga dalam berdakwah di tanah Jawa perlu kita teladani, walau kebanyakan mereka bukan dari Jawa tetapi Wali Sanga dapat berserasi dengan pola kehidupan masyarakat Jawa secara luas. Namun sayang sekali cerita sejarah Wali Sanga ini telah banyak mengalami distorsi sejarah sehingga sulit bagi kita untuk mengungkapkannya secara detail. Sekilas banyak aroma mistik dan klenik yang menyelimuti dakwah Dewan Wali yang dikirim oleh Sultan Turki ini sangat  menyulitkan kita untuk mencontoh dan meneladaninya. Namun jika kita pandai meniti cara berfikir orang Jawa yang adi luhung, penuh hikmah tentu kita tidak akan salah faham dalam memaknai segala fenomena tersebut. Karena hikmah perlu ditelaah lahir batin, sirran wa alaniyyah tidak sekedar mengandalkan kecerdasan otak dan logika saja. Ingat bahwa ilmu hikmahnya orang Jawa itu lebih tinggi dibanding filsafatnya orang Barat.

Ambil satu gambaran saja tentang pola belajar dan dakwahnya Sunan Kalijaga, beliau diceritakan ketika nyantri di Pesantren Bonang, oleh Sunan Bonang Raden Sahid putra sang Bupati ini disuruh bertapa di tepi sungai dan diberi amanat untuk menjaga tongkat Sunan Bonang hingga beliau kembali ke tempat itu. Bertahun-tahun ternyata Sunan Bonang tidak datang hingga tongkat yang ditancapkan ditanah berubah menjadi hutan bambu yang rimbun, sedang Raden Sahid masih setia duduk menunggu kedatangan gurunya. Ketika cerita semacam ini kita telan mentah-mentah tentu akan sulit bagi kita untuk meneladani cara belajarnya Sunan Kalijaga. Siapa manusia di dunia ini yang mampu hidup tanpa makan dan minum selama bertahun-tahun ? tentu secara sunnatullah tidak ada. Begitu juga tentang dakwah Sunan Kalijaga kepada beberapa muridnya juga banyak menyimpan pertanyaan yang tak bisa kita fahami secara tekstual. Seperti kisah Bupati Semarang Ki Pandalarang yang berguru setelah seorang kakek tua penjual rumpun mencangkul tanah dan berubah menjadi bongkahan emas, lalu bagaimana kita harus mengikuti cara dakwah yang demikian ? ada lagi kisah Ki Cakrajaya alis Sunan Geseng yang berguru dengan cara bertapa di tengah padang ilalang untuk menunggu kedatangan gurunya, karena ilalangnya sangat rimbun akhirnya Sunan Kalijaga mebakar rumpun ilang itu dan Ki Cakrajaya hangus terbakar dalam posisi sujud namun tidak meninggal dunia sehingga beliau dipanggil Sunan geseng.

Menurut pemahaman saya orang Jawa memang sangat halus dan suka sanepan. Sering kali sebuah cerita adalah sebuah misteri dan teka-teki yang harus kita pecahkan dengan perenungan yang mendalam.

Orang Jawa selalu menyelipkan makna yang tersirat dalam setiap cerita dan ungkapan jadi jangan cepat-cepat menghakimi kalau memang kita belum mengerti. Dan yang menjadi sumber masalah adalah kita ini kurang nguri-uri kebudayaan Jawa kita, kurang melu handarbeni pusaka warisan nenek moyang kita, malah kita merasa minder, underestimate terhadap Jawa dan silau dengan budaya luar.  Oleh karena itu jangan sampai kita orang Jawa tidak tahu akan budaya Jawa. Menjadi “Wong Jawa ilang Jawane” Tidakkah kita ingat pesan Cak Nun dalam maiyahannya “ Jowo digowo, Arab digarap, Barat diruwat”. Sekian. Jwt.

Rabu, 24 Desember 2014

“Urip Iku Urup”

“Urip Iku Urup” 

Begitulah salah satu filosofi Jawa yang adi luhung dan sarat ajaran yang luar biasa. Urip Iku Urup, hidup itu menyala, tak boleh padam. Karena jika padam maka kegelapan akan dirasakan oleh dunia. Kita hidup harus mampu menjadi penerang bagi alam sekitar kita, kita hidup harus bisa memberi manfat untuk sesama manusia, hidup harus terus bergerak dan tidak boleh berhenti, seperti air jika ia mengenang dan tak bergerak maka ia akan menjadi sarang nyamuk dan berbau busuk. Lain halnya jika air itu bergerak maka air itu akan bermanfaat. Thoohirun Muthohhirun, suci lagi menyucikan. Shoolihun Linafsihi, wa Naafi’un Li Ghoirihi, baik untuk dirinya sendiri dan bermanfaat untuk selainnya. Begitu juga dengan hidup harus selalu menyala dan bermanfaat untuk orang lain, karena sebaik-baik kehidupan manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. Khoirunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. 

Kita manusia diciptakan Oleh Tuhan untuk tujuan besar, menjadi khalifah fil ardh, menjadi penerang di jagad raya ini. Gunung-gunung tak sanggup mengemban amanat yang begitu besar ini, begitu juga makhluk-makhluk Tuhan yang lain, dan hanya manusia yang siap dan sanggup menerima titah Sang Maha Agung untuk membawa dunia ini dalam kedamaian, memayu hayuning bawana. Oleh karena itu hidup kita harus terus menyala dan berusaha menggapai nyala Tuhan, cahaya Tuhan yaitu nuurun ‘ala nuur, cahaya diatas cahaya yang meliputi semesta agar kita bisa menyelaraskan gerak lahir kita dengan qodrat-Nya, agar segala kehendak dan pengharapan kita hanya menuju pada-NYa, nur candra, ghaib candra, warsitaning Candara, pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Ilahi, Lir handaya paseban jati, mengalirkan hidup semata pada tuntunan Ilahi, karena disitulah jumbuhing kawula lan Gusti, menyatu dan memahami kodrat kehidupan serta kehendak-Nya. 

Urip Iku Urup, Hidup itu harus menyala.Jwt

Senin, 01 Desember 2014

“Legawa”



“Legawa”

Akhir-akhir ini kata “legawa” marak dipakai dalam perbincangan-perbincangan baik di tengah-tngah masyarakat  ataupun di social media. Legawa sejatinya berasal dari bahasa Jawa namun telah diadopsi ke dalam bahasa Indonesia. Biasanya penggunaan legawa di dalam bahasa Jawa disertai kata “lila legawa”. Kata legawa itu menggambarkan sikap batin yang ikhlas, rela, dan tidak merasa kecewa terhadap apa yang telah terjadi.

Kata legawa tegese nampa kanthi ati longgar, menerima segala sesuatu dengan hati lapang dada dan ikhlas. Jika dalam sebuah kompetisi harus kalah maka ia  bisa menerima kekalahan itu, dan sebaliknya jika menang tidak terlalu pongah dan sombong. Kayaknya kata legawa memang perlu dijadikan semisal keyword dalam kehidupan masyarakat kita yang memang beraneka ragam dan multicultural ini, agar tidak terjadi gesekan diakar rumput.

Segala perbuatan pasti ada konsekuensinya tersendiri. “wong kuwi bakal ngunduh wohing pakerti”. Dan perlu diingat tidak semua yang menjadi cita-cita kita pasti terlaksana oleh karena itu sikap legawa ini perlu dimiliki oleh orang yang hidup penuh dengan kompetisi dan persaingan.
Setiap manusia hendaknya menjaga sikap legawa ini, karena manusia hanya bias berusaha sedang kepastian berada pada takdir Tuhan. Ingatlah selalu “Ana Urid, Anta Turid, WAllahu yaf’alu maa yurid”.  Saya punya keinginan, kamu pun punya keinginan, namun Allah berkehendak sesuai dengamn qudrah-NYA”.

Manusia bisa saja sakit, manusia tentu punya rasa susah, dan manusia mungkin berada pada nasib yang tidak baik, menjadi tua dan kemudian mati. Kalau memang  sudah takdirnya, manusia hanya bisa pasrah terhadap Tuhan. Walau ikhtiar tidak boleh kita tinggalkan, namun manusia tidak akan pernah keluar dari bingkai takdir Tuhan. “Ora ono kesekten kang bias madani pepesthen” tidak ada satu pun kesaktian didunia ini yang mampu mengalahkan takdir Tuhan. Dalam Hikamnya ibnu Athaillah as Sakandari menyatakan :
سوابق الهمم لا تخرق أسوار الأقدار
“Kekuatan semangat (azam, cita-cita, ikhtiar) tidak akan mampu memecahkan benteng takdir”

Oleh karena itu kita perlu legawa, ridha, dan ikhlas menjalani kehidupan ini. KGPAA Mangkunegara IV dalam Serat Wedhatama mengingatkan agar kita memiliki tiga sifat utama yaitu :
1    .       Lila lamun kelangan (Ikhlas apabila kehilangan sesuatu)
2    .       Trima yen ketaman (Lapang dada jika terkena musibah)
3    .       Legawa lan pasrah marang sing gawe urip ( Ridha terhadap ketentuan Tuhan)

“Lila lamun
kelangan nora gegetun
trima yen ketaman
sak serik sameng dumadi
tri lagawa nalangsa srah ing bathara”

Jwt. 1/12/2014