Tampilkan postingan dengan label Risalah Puasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Risalah Puasa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juni 2016

Dalam Pelukan Ramadan

Dalam Pelukan Ramadan

Hari ini tepatnya tanggal enam, bulan enam, tahun dua ribu enam belas (6/6/2016) adalah hari yang sangat dinanti dan dirindukan oleh umat Islam. Jauh-jauh hari aroma kehadirannya telah terasa di tengah-tengah kita umat Islam, khususnya umat Islam tradisional yang menyambut tamu agung ini dengan berbagai tradisi maupun kegiatan keagamaan seperti tradisi mapak (kenduri menyambut bulan puasa) dan ziarah kubur. Tamu yang ditunggu itu adalah bulan ramadan, bulan di mana umat Islam menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Puasa itu sendiri adalah sebuah ritual ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT bagi orang-orang yang beriman.

Sejatinya ibadah puasa bukanlah hal yang baru, sejak zaman dahulu orang-orang juga telah menjalankan ibadah ini dengan model dan hitungan yang berbeda-beda tentunya. Dalam Al Qur’an disebutkan Kutiba ‘alaikum as-syiyaamu kama kutiba ala al-ladzina min qablikum (diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu), ayat ini memberitahukan bahwa puasa bukan monopoli milik umat Islam, karena kaum terdahulu juga telah diwajibkan untuk berpuasa. Baik itu kaum Yahudi, Nasrani, maupun kaum-kaum yang lainnya.

Puasa adalah salah satu dari model peribadatan tertua dalam sejarah manusia, oleh karena itu puasa sangat erat dengan sisi kemanusiaan itu sendiri. Jadi puasa pada hakekatnya bukan masalah ibadah individual namun juga menyangkut ibadah sosial kemasyarakatan. Jika puasa seseorang baik dan benar tentu memberikan imbas bagi habituasi seseorang yang  lebih baik dan bermanfaat. Oleh karena itu Rasulullah SAW mengatakan banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa kecuali hanya lapar dan dahaga semata, ini mengindikasikan bahwa puasa seseorang itu hampa belum menyentuh hakekat dari puasa itu sendiri dan belum bisa memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan masyarakatnya.

Puasa sebenarnya bukan istilah yang dipakai oleh Islam, karena dalam Al Qur’an maupun hadits istilah yang dipakai adalah Siyam, yang berakar dari kata Sha-wa-ma yang artinya “menahan” yang secara kontekstualnya adalah menahan diri atau mengendalikan diri dalam rangka menjadi  apa yang disebut  la’allakum tattaqun (semoga kalian menjadi orang yang bertaqwa).

Istilah puasa menurut penulis buku Atlas Walisongo KH. Agus Sunyoto berasal dari istilah Sansekerta  yaitu dari kata upa dan wasa. Upa berarti dekat, sedang wasa artinya Tuhan. Jadi upawasa yang kemudian diucapkan menjadi puasa artinya mendekat kepada Tuhan. Para Walisongo dalam berdakwah memang menggunakan pendekatan kultural masyarakat sehingga mereka memakai istilah yang dekat dan lazim dipakai oleh masyarakat kala itu. Menilik dari arti dan maknanya tidak ada pertentangan antara kata Sha-wa-ma dengan kata upawasa bahkan cenderung sama, yaitu puasa sama-sama dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan yang dalam bahasa Al Qur’an disebut sebagai taqwa.

Orang yang mencapai derajad taqwa di dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 2-5 telah dijelaskan secara rinci yaitu :
  
2. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,
3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.
4. dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
5. mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.

Sebagaimana yang dijelaskan pada ayat di atas bahwa ciri-ciri orang yang bertaqwa adalah : mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, beriman kepada kita-kitab Allah dan yakin akan adanya (kehidupan) akhirat, memiliki dimensi ibadah vertikal (habl min Allah)- hubungan manusia dengan Tuhan. Sedang menafkahkan sebahagian rezki memiliki dimensi ibadah horisontal (habl min al-nas)- hubungan manusia dengan manusia. Jadi ketaqwaan pada hakekatnya memiliki implikasi dengan keimanan dan kemanusiaan.

Jika seseorang hanya baik ditingkat keimanannya saja dia belumlah layak disebut orang yang bertaqwa, begitu juga jika seseorang hanya baik di sisi kemanusiaannya maka jelas juga bukan orang yang bertaqwa. Karena taqwa adalah konsekuensi dari dua hal tadi, habl min Allah (hubungan manusia dengan Tuhan) dan habl min al-nas (hubungan manusia dengan manusia). Beriman kepada Allah serta bekerja untuk kemanusiaan.

Taqwa inilah sebenarnya yang menjadi puncak penghambaan seorang hamba kepada Tuhannya, yang mana dengan taqwa seseorang mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah di surat Al Baqarah ayat 5 yang disebut sebagai orang-orang yang beruntung. Jadi startnya puasa adalah pengendalian diri dan finisnya adalah keberuntungan baik di dunia maupun keberuntungan di akhirat.
Di dalam Al Qur’an disebutkan bahwa orang yang bertaqwa adalah orang yang dijanjikan oleh Allah SWT akan mendapatkan kemenangan dan keberuntungan, sebagaimana yang termaktub dalam surat Al Naba ayat 31 :
إنّ للمتّقين مفازا

. Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan

Dengan demikian, dengan menjalankan ibadah puasa memberikan kesempatan istimewa bagi umat Islam untuk mendapatkan janji Allah SWT, yaitu menjadi orang yang bertaqwa yang dapat meraih kemenangan di hari di mana umat Islam kembali kepada kesucian atau dikenal dengan istilah ‘id al-fithr (idul Fitri). Idul fitri ini bermakna kembali kepada fitrah atau kembali kepada kesucian seperti di mana manusia terlahir kembali ke muka bumi.

Hari raya idul fitri inilah yang kemudian dirayakan secara meriah dan besar-besaran oleh umat Islam diberbagai belahan dunia, bukan saja karena mereka telah terbebas dari kewajiban puasa selama satu bulan, namun juga sebagai momentum di mana mereka telah kembali kepada kesucian di mana dosa-dosa pada hari itu terbasuh oleh ibadah puasa selama sebulan penuh.

Momen idul fitri ini adalah momen ishlah, rekonsiliasi baik rekonsiliasi dengan Tuhan maupun dengan manusia lain, momen di mana kita saling memberi dan saling menerima maaf dengan penuh ketulusan, baik diantara maupun antara umat manusia agar terjalin suatu hubungan yang baik di muka bumi guna menciptakan kedamaian dan rahmatan lil’alamin.

Bangilan, 1 Ramadan 1437 H

Minggu, 12 Agustus 2012

Tidak Berpuasa Ramadhan

Hilal Ramadhan
Hasil akhir dari puasa ramadhan adalah TAQWA, sebagaimana yang di firmankan oleh Allah LA 'ALLAKUM TATTAQUN. Lalu apa sebenarnya taqwa itu ?. Dalam kitab kecil Taisirul Kholaq diterangkan bahwa taqwa adalah mengerjakan segala apa yang diperintahkan oleh Allah azza wa jalla dan meninggalkan segala larangannya baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan. Lalu bagaimana kita mengetahui apa yang diperintahkan oleh Allah dan mengetahui segala apa yang menjadi larangan-NYA ?

Allah Maha adil dan bijak, Allah tidak akan memerintahkan maupun melarang kepada hamba sebelum diutus seorang rosul kepada kaum tersebut. Sebab perintah dan larangan Allah memiliki konsekuensi yang harus ditanggung oleh suatu kaum yaitu menjalankan perintah Allah berbalas surga, sedang melanggar segala aturannya akan menyebabkan murka dan siksa-NYa. Oleh karena itu Allah berfirman :

وما كنّا معذّبين حتي نبعث رسولا
"Sesungguhnya Kami tidak akan menyiksa (suatu kaum) sehingga Kami utus seorang Rosul kepadanya..

 Begitu juga dengan puasa Ramadhan ini, Allah telah memerintahkan kepada Rosululloh untuk menyeru kepada umatnya menjalankan puasa sebagaimana perintah itu juga telah diberikan kepada umat-umat terdahulu. Sehingga tidak ada alasan bagi bagi umat Nabi Muhammad untuk tidak berpuasa. Namun pada kenyataannya hari ini banyak kita saksikan orang-orang yang enggan berpuasa. Padahal seruan berpuasa tentu telah mereka dengar. 

Melalui lisan mulia Rosulullah Allah mengancam bagi orang yang meninggalkan puasa Ramadhan dengan sengaja tanpa disertai udzur syar'i, bahwa satu hari puasa yang ditinggalkan tidak bisa diganti dengan puasa satu tahun penuh. Dan lebih dahsyat lagi orang yang meninggalkan puasa ia lebih jelek dari pelaku zina, lebih jelek dari dosanya penghidang khamr, bahkan sampai diragukan lagi keimanan dan keislaman orang tersebut.

Masihkah kita akan tinggalkan puasa Ramadhan ini ? 
Semoga kita semua selalu mendapatkan taufiq, hidayah, dan ampunan dari Allah SWT. Amien. jwt

Kamis, 02 Agustus 2012

Amal Utama di Bulan Ramadhan


Amal Utama di Bulan Ramadhan

Ini adalah sebagian amal utama, yang sudah selayaknya bagi seorang muslim untuk bersungguh-sungguh mengamalkannya pada malam-malam yang berkah ini.  Ini adalah sebagian amal utama, yang sudah selayaknya bagi seorang muslim untuk bersungguh-sungguh mengamalkannya pada malam-malam yang berkah ini. Kita memohon kepada Allah swt agar memberikan pertolongan kepada kita semua dan juga kepadamu untuk menjalankannya.

Diantara amal-amal utama ini adalah:

1. Siyam
    Rasulullah saw bersabda:

«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَاناً وَاحْتِسَاباً، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدّمَ مِنْ ذَنْبِهِ». (متفق عليه)
Siapa yang berpuasa karena iman dan dalam rangkan mencari pahala di sisi Allah swt, maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni. (muttafaqun ‘alaih).

2. Qiyam (shalat malam).
    Rasulullah saw bersabda:
«مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَاناً وَاحْتِسَاباً، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدّمَ مِنْ ذَنْبِهِ». (متفق عليه).
Siapa yang melakukan qiyam (shalat malam) di bulan Ramadhan karena iman dan dalam rangka mencari pahala di sisi Allah swt, maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni. (muttafaqun ‘alaih).

3. Shadaqah (sedekah).
    Rasulullah saw bersabda:
أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فِيْ رَمَضَانَ
(أخرجه الترمذي عن أنس والبيهقي في الشعب والخطيب في التاريخ، قاله المناوي).

Shadaqah yang paling mulia adalah shadaqah pada bulan Ramadhan
(HR At-Tirmidzi dari Anas, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan Al Khathib Al Baghdadi dalam Tarikh Baghdad, demikianlah ucapan Al Manawi dalam al faidhul Qadiir syarh Jami’ Ash-Shaghir).

Selain amal-amal diatas pada bulan Ramadhan kita juga dianjurkan untuk, banyak Qira’atul Qur’an (membaca Al Qur’an), beri’tikaf, melaksanakan umroh, bermujahadah untuk mendapatkan malam seribu malam (lailatul Qodar), banyak berdo’a dan beristighfar serta menjalin tali silatur rahim.

Semoga pada puasa di tahun ini kita mampu meraih derajat muttaqien. Amien.

Selasa, 16 Agustus 2011

KEISTIMEWAAN BULAN RAMADHAN

KEISTIMEWAAN BULAN RAMADHAN

1. Puasa Ramadhan adalah rukun keempat dalam Islam. Firman Allah Ta'ala :
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan asas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. "(Al-Baqarah : 183).
Sabda Nabi :
Islam didirikan di atas lima sendi, yaitu: syahadat tiada sembahan yang haq selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi hajike Baitul Haram. " (Hadits Muttafaq 'Alaih).

Rabu, 03 Agustus 2011

Lima Belas Alasan Merindukan Ramadhan (11 s/d 15)


11. Masuk surga melalui pintu khusus, Rayyaan
"Sesungguhnya di surga itu ada sebuah pintu yang disebut rayyan yang akan
dilewati oleh orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat nanti, tidak
diperbolehkan seseorang melewatinya selain mereka. Ketika mereka dipanggil,
mereka akan segera bangkit dan masuk semuanya kemudian ditutup." (HR.
Bukhari)

12. Minum air telaganya Rasulullah saw
"Barangsiapa pada bulan Ramadhan memberi makan kepada orang yang berbuka
puasa, maka itu menjadi ampunan bagi dosa-dosanya, dan mendapat pahala yang
sama tanpa sedikit pun mengurangi pahala orang lain.

Mereka (para sahabat) berkata, 'Wahai Rasulullah, tidak setiap kami
mempunyai makanan untuk diberikan kepada orang yang berbuka puasa.' Beliau
berkata, 'Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi buka puasa meski
dengan sebutir kurma, seteguk air, atau sesisip susu...Barangsiapa memberi
minum orang yang berpuasa maka Allah akan memberinya minum seteguk dari
telagak dimana ia tidak akan haus hingga masuk surga." (HR. Ibnu Khuzaimah
dan Baihaqi)

13. Berkumpul dengan sanak keluarga
Pada tanggal 1 Syawal ummat Islam merayakan Hari Raya Idhul Fitri. Inilah
hari kemenangan setelah berperang melawan hawa nafsu dan syetan selama bulan
Ramadhan. Di Indonesia punya tradisi khusus untuk merayakan hari bahagia itu
yang disebut Lebaran. Saat itu orang ramai melakukan silahtuhrahim dan
saling memaafkan satu dengan yang lain. Termasuk kerabat-kerabat jauh datang
berkumpul. Orang-orang yang bekerja di kota-kota pulang untuk merayakan
lebaran di kampung bersama kedua orang tuanya. Maka setiap hari Raya selalu
terjadi pemandangan khas, yaitu orang berduyun-duyun dan berjubel-jubel naik
kendaraan mudik ke kampung halaman.

Silahturahim dan saling memaafkan itu menurut ajaran Islam bisa berlangsung
kapan saja. Tidak mesti pada Hari Raya. Tetapi itu juga tidak dilarang.
Justru itu momentum bagus. Mungkin, pada hari biasa kita sibuk dengan urusan
masing-masing, sehingga tidak sempat lagi menjalin hubungan dengan tetangga
dan saudara yang lain. Padahal silahturahim itu dianjurkan Islam,
sebagaimana dinyatakan hadis, "Siapa yang ingin rezekinya dibanyakkan dan
umurnya dipanjangkan, hendaklah ia menghubungkan tali silaturahmi!" (HR.
Bukhari)

14. Qaulan tsaqiilaa
Pada malam Ramadhan ditekankan (disunnahkan) untuk melakukan shalat malam
dan tadarus al-Qur'an. Waktu paling baik menunaikan shalat malam
sesungguhnya seperdua atau sepertiga malam terakhir (QS Al Muzzammil: 3).
Tetapi demi kesemarakan syiar Islam pada Ramadhan ulama membolehkan
melakukan terawih pada awal malam setelah shalat isya' dengan berjamaah di
masjid. Shalat ini populer disebut shalat tarawih.

Shalat malam itu merupakan peneguhan jiwa, setelah siangnya sang jiwa
dibersihkan dari nafsu-nafsu kotor lainnya. Ditekankan pula usai shalat
malam untuk membaca Kitab Suci al-Qur'an secara tartil (memahami maknanya).
Dengan membaca Kitab Suci itu seseorang bakal mendapat wawasan-wawasan yang
luas dan mendalam, karena al-Qur'an memang sumber pengetahuan dan ilham.

Dengan keteguhan jiwa dan wawasan yang luas itulah Allah kemudian
mengaruniai qaulan tsaqiilaa (perkataan yang berat). Perkataan-perkataan
yang berbobot dan berwibawa. Ucapan-ucapannya selalu berisi kebenaran. Maka
orang-orang yang suka melakukan shalat malam wajahnya bakal memancarkan
kewibawaan.

15. Hartanya tersucikan
Setiap Muslim yang mampu pada setiap Ramadhan diwajibkan mengeluarkan zakat.
Ada dua zakat, yaitu fitrah dan maal. Zakat fitrah besarnya 2,5 kilogram per
orang berupa bahan-bahan makanan pokok. Sedangkan zakat maal besarnya 2,5
persen dari seluruh kekayaannya bila sudah mencapai batas nisab dan
waktunya.

Lima Belas Alasan Merindukan Ramadhan (8 s/d 10)


8. Turunnya Lailatul Qodar
Pada bulan Ramadhan Allah menurunkan satu malam yang sangat mulia. Saking
mulianya Allah menggambarkan malam itu nilainya lebih dari seribu bulan (QS.
al-Qadr). Dikatakan mulia, pertama lantaran malam itulah awal al-Qur'an
diturunkan. Kedua, begitu banyak anugerah Allah dijatuhkan pada malam itu.

Jumat, 29 Juli 2011

Marhaban ya Ramadhan

MARHABAN YA RAMADHAN..MARHABAN SYAHROS SIYAM..NAS-ALUKA RIDHOOKA WAL JANNAH WA NA'UUDZU BIKA MIN SAKHOTIKA WANNAR..AL 'AFWU MINKUM JAMII'AN..jwt

Rabu, 06 Juli 2011

Lima Belas Alasan Merindukan Ramadhan (6, 7)


6.        Dicintai Allah
Nah, sesesorang yang meneladani Allah sehingga dia dekat kepada-Nya. Bila sudah dekat, minta apa saja akan mudah dikabulkan. Bila Allah telah mencintai hambanya, dilukiskan dalam satu hadis Qudsi, "Kalau Aku telah mencintai seseorang, Aku menjadi pendengaran untuk telinganya, menjadi penglihatan untuk matanya, menjadi pegangan untuk tangannya, menjadi langkah untuk kakinya." (HR Bukhari)

Selasa, 05 Juli 2011

Lima Belas Alasan Merindukan Ramadhan (5)


5. Ibadah istimewa
Keistimewaan puasa ini dikatakan Allah lewat hadis qudsinya, "Setiap amalan anak Adam itu untuk dirinya, kecuali puasa. Itu milik-Ku dan Aku yang membalasnya karena ia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku." (HR Bukhari Muslim)

Menurut Quraish Shihab, ahli tafsir kondang dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, puasa dikatakan untuk Allah dalam arti untuk meneladani sifat-sifat Allah. Itulah subtansi puasa.

Rabu, 29 Juni 2011

Lima Belas Alasan Merindukan Ramadhan (4)

4. Pintu surga dibuka dan neraka ditutup
"Kalau datang bulan Ramadhan terbuka pintu surga, tertutup pintu neraka, dan setan-setan terbelenggu."(HR Muslim)

Kenapa pintu surga terbuka? Karena sedikit saja amal perbuatan yang dilakukan, bisa mengantar seseorang ke surga. Boleh diibaratkan, bulan puasa itu bulan obral. Orang yang tidak membeli akan merugi.

Amal sedikit saja dilipatgandakan ganjarannya sedemikian banyak. Obral ganjaran itu untuk mendorong orang melakukan amal-amal kebaikan di bulan Ramadhan. Dengan demikian otomatis pintu neraka tertutup dan tidak ada lagi kesempatan buat setan menggoda manusia

Selasa, 28 Juni 2011

Lima Belas Alasan Merindukan Ramadhan (3)


3.   Pahalanya dilipatgandakan
Tidak hanya pengampunan dosa, Allah juga telah menyediakan bonus pahala berlipat-lipat kepada siapapun yang berbuat baik pada bulan mulia ini. Rasulullah bersabda, "Setiap amal anak keturunan Adam dilipatgandakan. Tiap satu kebaikan sepuluh lipad gandanya hingga tujuh ratus lipat gandanya." (HR. Bukhari Muslim)

Bahkan amalan-amalan sunnah yang dikerjakan pada Ramadhan, pahalanya dianggap sama dengan mengerjakana amalan wajib (HR. Bahaiqi dan Ibnu Khuzaimah). Maka perbanyaklah amal dan ibadah, mumpung Allah menggelar obral pahala.

Jumat, 17 Juni 2011

Lima Belas Alasan Merindukan Ramadhan (1)


Lima Belas Alasan Merindukan Ramadhan


Seperti seorang kekasih, selalu diharap-harap kedatangannya. Rasanya tak ingin berpisah sekalipun cuma sedetik. Begitulah Ramadhan seperti digambarkan sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, "Andaikan tiap hamba mengetahui apa yang ada dalam Ramadhan, maka ia bakal berharap satu tahun itu puasa terus."

Sesungguhnya, ada apanya di dalam Ramadhan itu, ikutilah berikut ini :

1.        Gelar taqwa
Taqwa adalah gelar tertinggi yang dapat diraih manusia sebagai hamba Allah. Tidak ada gelar yang lebih mulia dan tinggi dari itu. Maka setiap hamba yang telah mampu meraih gelar taqwa, ia dijamin hidupnya di surga dan diberi kemudahan-kemudahan di dunia. Dan puasa adalah sarana untuk mendapatkan gelar taqwa itu.

"Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa." (QS al-Baqarah: 183) Kemudahan-kemudahan yang diberikan Allah kepada hambanya yang taqwa, antara lain:
a.        Jalan keluar dari semua masalah Kemampuan manusia amat terbatas, sementara persoalan yang dihadapi begitu banyak. Mulai dari masalah dirinya, anak, istri, saudara, orang tua, kantor dan sebagainya. Tapi bila orang itu taqwa, Allah akan menunjukkan jalan berbagai persoalan itu. Bagi Allah tidak ada yang sulit, karena Dialah pemilik kehidupan ini. "...Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar." (QS. Ath Thalaaq: 2) "...Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (QS. Ath Thalaaq: 4)

b.        Dicukupi kebutuhannya"Dan memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya...."(QS. Ath Thalaaq: 3)

Ketenangan jiwa, tidak khawatir dan sedih hati Bagaimana bisa bersedih hati, bila di dalam dadanya tersimpan Allah. Ia telah menggantungkan segala hidupnya kepada Pemilik kehidupan itu sendiri. Maka orang yang selalu mengingat-ingat Allah, ia bakal memperoleh ketenangan. "Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang
menceritakan kepadamu ayat-ayat-KU, maka barangsiapa bertaqwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. al-A'raaf: 35)

Kamis, 16 Juni 2011

Doa Menjelang Bulan Ramadhan



اشهد ان لااله الا الله استغفر الله نسالك رضاك و الجنة. و نعوذبك من سخطك والنار اللهم انك عفو كريم تجب العفو واعف عنا يا كريم اللهم سلمنا لرمضان و سلم رمضان لنا وتسلمه منا متقبلا
Saya bersaksi pada tuhan kecuali Allah, saya minta ampun kepada Allah ya Allah kepada MUlah aku meminta ridhoMU dan surgaMU dan aku berlindung kepadaMU dari murkaMU dan api neraka, ya Allah engkau dzat yang maha pengampun lagi mulya sesungguhnya engkau suka memaafkan dan maafkanlah kami wahai dzat yang maha mulya, ya Allah selamatkanlah kami untuk menghadapi bulan romadhon dan selamatkanlah bulan romadhon untuk kami serta terimalah amal perbuatan kami di bulan romadhon. Jwt