Rabu, 04 Februari 2026

Senja yang Membunuh Asa


Senja yang Membunuh Asa
Oleh: Joyo Juwoto

Senja telah tiba, langit di Kota Karang Pethak tampak gelap dan suram. Bakri berdiri kaku di tepian jendela kamar, memandang kosong ke arah seberang jalan. Kendaraan berlalu lalang dari arah yang berlawanan; sesekali terdengar bunyi klakson yang memekakkan kendang telinga. Senja hari ini tidak seperti senja-senja sebelumnya, senja yang biasanya menawarkan cahaya keindahan di ufuk barat dengan semburat warna jingga yang memesona mata yang melihatnya. Tapi kali ini senja seperti batas cahaya menuju ruang gelap gulita. Ada nuansa ketakutan, ada kecemasan, ada harapan yang pupus dihantam palu godam.
Langit kian mendung berhias lembayung, memercik resah, menebar gundah dan gelisah. Waktu merangkak pelan, detik demi detik serasa menekan dada. Udara di kamar itu menjadi pengap, kamar Bakri terasa hampa tanpa udara. Nyanyian kesunyian menggema di setiap sudut-sudutnya, cahaya senja kian suram, tenggelam dalam ufuk malam.
***
“Selamat ya, Pak Bakri, SK PPPK kamu dari Pemda sudah turun,” seru kepala sekolah sambil mengulurkan tangan memberikan ucapan selamat kepada Bakri. “Jangan lupa bancaannya,” canda kepala sekolah melanjutkan omongannya.
Dengan wajah sumringah, Bakri menjabat tangan kepala sekolah. “Iya, Pak, terima kasih bantuan dan support-nya selama ini,” jawab Bakri sambil tersenyum bangga.
Teman-teman di kantor pun ikut merasakan kebahagiaan Pak Bakri, karena Pak Bakri paling senior di kantor itu. Beliau sudah cukup lama mengabdi, namun baru kali ini Pak Bakri mendapatkan kehormatan diangkat menjadi guru PPPK. 
“Selamat ya, Pak. Ternyata proses tidak mengkhianati hasil. Setelah perjuangan panjang, akhirnya Bapak bisa menikmati menjadi guru yang bergaji layak,” kata salah seorang guru sambil memberikan ucapan selamat kepada Bakri.
“Alhamdulillah, terima kasih, Pak. Ini semua juga berkat doa dan bantuan Bapak Ibu guru semua yang ada di sini,” jawab Bakri dengan wajah sumringah.
Hari itu adalah hari yang sangat menggembirakan bagi Bakri. Garis nasibnya sedang berada di titik cahaya, terang menyinari jalan takdirnya. Bakri membayangkan esok hari ketika gaji pertamanya cair, ia akan mengajak anak dan istrinya ke toko baju untuk membeli mukena yang telah lama diimpi-impikan oleh anak dan istrinya.
“Bapak, saya ingin mukena warna pink. Besok, pas salat Idulfitri, mau saya pakai,” pinta Aisya kepada bapaknya pada suatu ketika di pertengahan Ramadan silam.
“Iya, Nak, pasti bapak akan belikan mukena itu untuk Aisya,” jawab Bakri sambil menelan ludahnya sendiri. Bakri merasa sedih karena ia belum mampu memenuhi keinginan kecil anaknya, ber-Idulfitri dengan mukena pink muda.
“Tapi jangan sekarang ya, Aisya. Tunggu sampai bapakmu mempunyai uang yang cukup,” sela ibu Aisya, menenangkan hati putri semata wayangnya itu.
“Iya, Bu, Aisya tahu. Tapi bapak harus janji besok Aisya dibelikan mukena warna pink muda ya, Pak. Yang ada renda-renda kecilnya, kayak milik teman Aisya,” lanjut Aisya sambil cemberut.
Hati orang tua mana yang mampu menahan perih di dada, ketika sebagai orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan buah hatinya. Wajah polos dengan air muka cemberut Aisya benar-benar membuat hati Bakri menderita.
Bakri bukannya tidak percaya takdir, bahwa setiap anak membawa rezekinya masing-masing. Tapi, bagaimanapun, ia tetap merasa cemas jika harus memiliki anak yang banyak; ia khawatir tidak bisa memenuhi kebutuhan mereka. Oleh karena itu, Bakri dan istrinya memutuskan hanya memiliki satu anak saja. Ia dan istrinya bersepakat untuk menunda kehamilan anak kedua dalam rumah tangga mereka. Entah sampai kapan?
Bakri seorang guru yang telah mengabdi selama dua puluh tahun di SDN Karang Pethak. Lima tahun lagi, ia akan pensiun dari jabatannya sebagai pendidik karena usianya telah mencapai batas kerja. Lima tahun silam, Bakri sangat gembira setelah ada kebijakan dari Pemda yang mengangkat guru-guru menjadi PPPK. Bakri, yang saat itu menjadi bagian dari euforia kegembiraan kebijakan, yang akhirnya bisa mengangkat harkat dan martabatnya di tengah-tengah masyarakat, setelah mengalami masa panjangnya menjadi guru honorer, yang gajinya bahkan tidak cukup untuk membeli sabun dan peralatan mandi.
Hampir saja Bakri menyerah menjadi seorang guru, jika bukan karena panggilan hati untuk mengabdi kepada Ibu Pertiwi, Bakri mungkin sudah tumbang dan meninggalkan profesinya itu. Ujian demi ujian ia lalui dengan penuh kesabaran, khususnya tentu ujian ekonomi yang dijalaninya hingga sampai saat ini. Seberat apapun ujian itu terasa ringan, karena Bakri merasa mengajar adalah dunianya. Hal inilah yang membuat Bakri terus bertahan.
Bakri selalu percaya bahwa dunia tidak pernah benar-benar lupa pada orang-orang yang setia berjalan di jalan sunyi pengabdian. Ia meyakini, kesabaran yang dijalani tanpa banyak keluhan akan menemukan jalannya sendiri menuju keadilan, meski harus melewati waktu yang panjang dan melelahkan, meski harus melewati lorong-lorong gelapnya penderitaan. Keyakinan itulah yang membuatnya bertahan mengajar dengan upah yang nyaris tak layak, menegakkan punggung di hadapan anak didiknya, meski kehidupannya sendiri sering tertunduk. 
Setelah mendapat selembar kertas bertanda tangan dan berstempel resmi dari pejabat terkait, tentu ia merasa naik kasta sebagai seorang guru. Dari guru honorer menjadi guru yang SK-nya menjadi selembar kertas yang penuh wibawa. BRI pun siap menampung kertas itu dengan  memberikan sejumlah rupiah tentunya. Harapan Bakri tentu sederhana: setelah diangkat menjadi PPPK, ia akan menikmati itu sampai masa pensiun, apalagi usianya tinggal satu kali perpanjangan SK.
Harapan kadang tinggal harapan, dan tidak semua hal bisa terwujud menjadi sebuah kenyataan. Setelah jabatan mentereng disandangnya selama lima tahun, kini badai itu datang menerjang, memporak-porandakan mimpi dan harapannya. SK perpanjangan jabatannya sebagai guru PPPK tidak diperpanjang lagi.
“Pak Bakri, mohon maaf ya, Pak. Mulai besok Bapak sudah tidak lagi ngantor. SK Bapak tidak diperpanjang oleh Pemda, dan sudah ada guru baru pengganti Bapak di sekolah ini,” begitu kepala sekolah mengucapkan kalimat perpisahan kepada Bakri sambil mendekap bahunya untuk menguatkan asa jiwanya.
“Pak Kepala Sekolah, apakah saya tetap boleh mengajar di sini? Apakah saya masih boleh membersamai anak-anak?” tanya Bakri sambil tertunduk lesu.
Meninggalkan anak-anak adalah hal yang terberat bagi Bakri, masalah ekonomi, gaji yang tak layak bagi seorang pendidik, dan kesulitan-kesulitan lain bagi Bakri sudah selesai. Dua puluh tahun lebih Bakri telah banyak makan asam garam kehidupan, semua dihadapinya dengan penuh ketegaran. Namun ini adalah soal lain, ia harus kehilangan dunia yang dicintainya selama ini. Bagi Bakri mengajar adalah cahaya kehidupan.
Kepala sekolah menarik napas panjang, menatap Bakri dengan mata yang berkabut, lalu berkata pelan namun tegas, “Pak Bakri, saya tahu betul ketulusan Bapak untuk anak-anak, dan itu tidak pernah kami ragukan, tetapi keputusan ini adalah kewenangan Pemda yang harus kami dan kita patuhi bersama, untuk sementara Bapak belum bisa mengajar di sini, namun doa kami selalu menyertai langkah Bapak, semoga Allah membuka jalan yang lebih baik, karena guru sejati tidak pernah berhenti mengabdi, meski tak lagi berada di ruang kelas, tentu bapak masih terus bisa berkiprah untuk masyarakat dengan cara yang lain.”
Bapak Kepala Sekolah tahu, Bakri orangnya tidak neko-neko, rajin, dan penuh dedikasi. Bakri adalah pendidik yang baik, sangat mencintai profesinya. Jika ia dipecat dari jabatannya, itu seperti kiamat baginya. Tapi ia sebagai kepala sekolah tidak bisa berbuat banyak. Surat pemecatan itu bukan wewenangnya.
Bakri diam. Ia tak bisa berkata-kata; hanya isakan tangisnya yang lirih terdengar. Hari ini Bakri terakhir berada di sekolah yang telah lama ia peluk dalam setiap doa-doanya. Hari ini Bakri pulang dengan hati yang kosong. Ia melangkah dengan berat meninggalkan semua tentang hari-hari indah yang telah ia lalui selama ini.
Bakri berdiri kaku di tepian jendela kamar. Ia memandang kosong ke arah seberang jalan, seakan-akan langit runtuh, bintang ke bintang berguguran di jalan-jalan, trotoar, dan selokan. Bakri termangu bisu, diam membeku membayangkan nasibnya yang makin pedih dan pilu. Dunia terasa gelap, cahaya harapannya telah padam, ditelan gerhana kenyataan yang tak seindah apa yang ia bayangkan.
Bakri merasa habis. Tidak ada lagi yang tersisa dari kehidupannya. Seragam PDH yang mentereng, lencana korps yang mengkilat, PIN nama yang tersemat di atas saku bajunya harus ia tanggalkan dan ia tinggalkan. Bakri sedih. Ia belum bisa menerima suratan nasibnya. Ia telah mengabdi dengan penuh dedikasi, sepenuh hati mengajar anak-anak setiap hari, menempuh perjalanan panjang dengan motor bututnya, tapi apa yang ia dapatkan? Sebuah surat keputusan yang menghancurkan karier dan harapannya.
Terbayang di ingatannya tentang anak-anak didiknya, senyum yang merekah, mata yang berbinar, tawa yang riang, dan ocehan-ocehan lucu mereka. Juga tentang harapan-harapan serta cita-cita dan mimpi yang belum usai, semua puzzle-puzzle kegembiraan dalam papan kehidupannya itu telah lenyap dalam sekejap, terenggut keputusan sepihak yang tanpa perintan dan aba-aba sebelumnya.
Semua kenangan itu kini menjadi luka yang tak kunjung sembuh, mengiris hati Bakri yang sudah remuk. Ia merasa telah gagal: gagal sebagai guru, gagal sebagai kepala keluarga, dan gagal sebagai manusia. Wajah Bakri tampak mendung. Air matanya terbendung dalam telaga pilu, sebentar lagi akan jatuh ke pipinya menjadi hujan duka, dan menggenang dalam samudera luka yang mengiris-iris jiwa.
Tak terasa Bakri tersedu, menangis dalam kesedihan panjang. Hatinya rontok, harapannya hancur. Ia merasa langit kehidupannya telah runtuh. Senja itu seakan telah mengakhiri segalanya. Langit makin gelap, jalanan pun mulai sepi deru kendaraan lenyap ditelan sang waktu. Bakri masih berdiri kaku di tepian jendela kamar.
Angin senja berhembus pelan, burung-burung pun mulai pulang ke sarang, cericit dan nyanyian kelelawar malam mulai riuh terdengar, menyambar di langit-langit halaman rumah Bakri yang redup, seredup hati Bakri yang telah kehilangan separuh jiwanya.

Bangilan, 30 Januari 2026

Selasa, 04 November 2025

Pendakian Gunung Kelud: Menziarahi Mitologi Sang Dewi Kili Suci


Pendakian Gunung Kelud: Menziarahi Mitologi Sang Dewi Kili Suci
Oleh: Joyo Juwoto

Gunung Kelud adalah gunung dengan legenda yang sangat masyhur di seantero Nusantara. Gunung ini terkenal dengan kisah asmara Lembu Suro dan Mahesa Suro, yang mana mereka berdua ingin menikahi Dewi Kili Suci. Cerita legenda ini sudah cukup lama saya baca, namun keinginan untuk menziarahi jejak mitologi dan legenda era kerajaan Jenggala ini nampaknya baru terlaksana di bulan Oktober 2025.

Tentang mitos ataupun legenda ini sebenarnya tidak bisa disepelekan, walau hari ini masyarakat tidak begitu saja percaya akan hal itu, karena memang fungsi dari mitos itu sebenarnya sebagai alat untuk menyimpan informasi sekaligus mewariskannya kepada generasi selanjutnya. Mitos itu sendiri menjadi semacam cluster untuk menjaga warisan leluhur dengan cara mengemas nilai-nilai, pengetahuan, dan pengalaman hidup masa lalu ke dalam bentuk cerita simbolik yang mudah diingat dan diceritakan kembali. 

Melalui mitos, masyarakat tradisional tidak hanya menanamkan ajaran moral dan etika, tetapi juga menyampaikan pengetahuan tentang alam, sejarah asal-usul, hingga tata nilai sosial yang mengatur kehidupan bersama. Dengan demikian, meskipun kini mitos sering dianggap sekadar dongeng atau cerita mistik, keberadaannya tetap memiliki fungsi kultural yang penting sebagai media penyimpanan dan pengajaran moral serta kebijaksanaan lokal yang membentuk identitas suatu komunitas atau kelompok masyarakat.

Walau saya belum memahami ada apa di balik kisah legenda Dewi Kili Suci, Mahesa Suro dan Lembu Suro, namun saya yakin ada pesan luhur yang harus dijaga dibalik legenda itu. Silakan dicermati kutukan dari Lembu Suro saat itu terbunuh terkubur di dasar sumur yang ia buat sendiri di puncak Gunung Kelud:
"Yoh, wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yoiku. Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung."
Artinya: “Ya, orang Kediri besok akan mendapatkan balasan dariku yang berlipat ganda. Kediri akan menjadi sungai, Blitar menjadi tanah lapang, dan Tulungagung akan menjadi kedung”

Dari kutukan itu silakan diambil satu atau bahkan banyak hikmah dan pelajaran hidup tentang keselarasan kehidupan manusia dengan alam. Tentu banyak hal yang perlu direnungkan dari kutukan tersebut, khususnya terkait dengan kelestarian dan keseimbangan alam.

Oke, Saya tak perlu membahas lebih detail lagi tentang legenda dan kutukan itu, karena sejatinya saya ingin menuliskan perjalanan pendakianku ke Gunung Kelud bersama sahabat pendaki, Mas Ziqi, seorang pendaki dari Bangilan Tuban yang sealmamater dengan saya.

Sebelum berangkat ke Gunung Kelud, saya sudah menjelajahi terlebih dahulu medan dan letaknya melalui google map dan menelusurinya di media sosial. Jaraknya ternyata cukup jauh. Jalur Kabupaten Kediri ada dua basecamp: Pertama jalur via Ngancar, dan kedua jalur Laharpang. Untuk jalur dari Blitar ada jalur yang basecampnya di Tulungrejo, dan Jalur Karangrejo. Rata-rata jarak tempuhnya lebih dari tiga jam. Setelah melihat reviewnya di media sosial, saya bersama Mas Ziqi lewat basecamp Karangrejo Kabupaten Blitar, yang hitungan mapnya 173 KM, ditempuh kurang lebih selama 4 jam 18 menit. 

Di layar google map perjalanan dari Bangilan menuju bascamp Karangrejo memang sekitar 4 jam, karena perlu berhenti untuk sholat dan makan perjalanan yang saya tempuh cukup lama, kami berangkat naik motor dari Bangilan pukul 16.30 WIB, dan baru sampai di basecamp pukul 22.30 WIB, perjalanan sekitar 6 jam. Cukup melelahkan sekali.

Sesampainya di basecamp, saya langsung registrasi. Karena kami merencanakan muncak pukul 03.00 WIB dini hari, maka kami beristirahat dan tidur agar capeknya hilang. Awalnya kami hanya berdua yang akan mendaki, tapi lama kelamaan banyak juga anak-anak muda yang juga akan mendaki. Ada yang dari Gresik, Sidoarjo, Surabaya, Malang, bahkan juga banyak yang dari Kediri dan Blitar sendiri.

Singkat kata, sekitar pukul 03.30 WIB, kami meluncur ke pos 1 Gunung Kelud dengan naik motor, perjalanan sekitar setengah jam, di pos ini ada selter untuk penitipan kendaraan. Tepat pukul 04.00 WIB kami meluncur berjalan kaki ke Pos 2 hingga pos 4.  Perlu diketahui bahwa jalur dari pos 1 sampai pos 4 treknya cukup landai dan nyaman bagi para pendaki pemula. Baru setelah pos 4 ini petualangan pendakian dimulai, jalurnya mulai mendaki, medannya pun mulai menyulitkan nafas-nafas tua seperti saya. Karena saat mendaki banyak teman, capeknya perjalanan tidak begitu terasa.

Langit mulai cerah, matahari melempar senyum memberikan nuansa semburat jingga. Walau kabut mulai turun tipis-tipis melayang di udara, namun cahaya pagi tak bisa disembunyikan begitu saja. Setelah pos 4 ini jalurnya sangat menantang, kami harus bergelantungan dengan tali, merangkak menaiki tangga-tangga besi, baru kemudian menelusuri jalan berpasir menuju pos bayangan atau disebut Bukit Pasir Jenggolo Manik. Di pos bayangan ini hamparan pasirnya lumayan luas, dari sini puncak Gunung Kelud sudah kelihatan.

Setelah menghela nafas, meneguk dinginnya air, dan nyemil bekal makanan ringan, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini treknya menurun menuju sebuah lembah dengan hamparan sabana rumput yang menawan. Lembah ini bernama Lembah Joto Suroo. Dari lembah ini pemandangan ke arah puncak sangat instagramable. Spot potonya cukup bagus. Setelah melewati lembah, treknya kembali menanjak. Di sini kami harus bergelayutan pada seutas tampar kembali. Tak lama setelah bergelayutan pada tali dan melewati dinding ratapan, kami pun sampai di Puncak Gunung kelud dengan ketinggian 1731 Mdpl.  Alhamdulillah.

Pendakian ke Gunung Kelud bukan sekadar perjalanan menaklukkan puncak, melainkan juga sebuah ziarah batin menapaki jejak mitologi dan sejarah yang tertanam di setiap lekuk alamnya. Di balik kabut, batu, dan pasir yang terhampar, tersimpan kisah Dewi Kili Suci, Lembu Suro, dan Mahesa Suro yang terus hidup dalam memori kolektif masyarakat. 

Dari sini saya menyadari bahwa mitos bukanlah sekadar dongeng masa lalu, melainkan cermin kearifan, wisdom lokal yang mengajarkan manusia tentang keseimbangan, kesetiaan, dan konsekuensi dari keserakahan. Pendakian ini mengajarkan bahwa alam bukan untuk ditaklukkan, tetapi untuk dihormati, dan legenda bukan untuk dilupakan, tetapi untuk direnungkan agar kita tak kehilangan arah dalam memahami hubungan antara manusia, alam, dan spiritualitas yang menyatu dalam kebudayaan Nusantara.

Senin, 03 November 2025

Ke Puncak Gunung Mongkrang

Ke Puncak Gunung Mongkrang

Jika tulisan saya ini dibaca pendaki gaek, tentu akan ditertawakan habis-habisan, masak seorang pendaki kok Cuma ke Mongkrang? Iya, bukit Mongkrang yang ada di Desa Gondosuli Kecamatan Tawangmangu Karanganyar bukanlah termasuk gunung yang menjadi legenda bagi sejarah pendakian. Tidak seperti Gunung Rinjani, Gunung Semeru, Gunung Slamet, ataupun Gunung Gede Pangrango dengan lembah Mandalawanginya yang menjadi jalur pendakian favoritnya Soe Hok Gie. Tapi manusia diperbolehkan menuliskan sejarahnya sendiri, dan manusia bebas menentukan ke mana kakinya akan dilangkahkan, termasuk bebas ke gunung mana ia akan mendaki, itulah yang menjadi salah satu ciri dari manusia merdeka.

Tapi tak apalah walau tak terlalu tinggi dengan puncak yang berada di 2.194 Mdpl cukup rasanya untuk memeras keringat, berolahraga dengan gembira, mandi cahaya matahari pagi, memanen kemurnian oksigen, dan tentu juga dalam rangka mentadabburi dan mensyukuri keindahan alam ciptaan Allah Swt.

Akhirnya pada kesempatan liburan sekolah, awal tahun 2025, saya bersama sahabat pendaki dari Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan, menuju Gunung Mongkrang untuk meredakan ketegangan syaraf setelah sekian waktu bergulat dengan aktivitas sehari-hari. Sebelum fajar shubuh merekah, saya bersama sahabat-sahabat pendaki telah meluncur menuju Karanganyar Jawa Tengah, di mana Gunung Mongkrang berdiri dengan gagahnya mendampingi Gunung Lawu.

Untuk menuju puncak Mongkrang jalurnya cukup nyaman, dari bascamp menuju puncak memakan waktu kurang lebih 3 jam.  Di setiap pos atau di lokasi yang sekiranya bagus kami tentu tak lupa mendokumentasikannya dalam jepretan kamera handphone. Puncak Candi 1, Puncak Candi 2, masuk sabana rumput dan ilalang, baru kemudian menuju puncaknya yang menjadi akhir dari tujuan pendakian kami.

Setelah melepas lelah, kami pun segera turun. Karena jika terlalu lama berhenti kami khawatir timbul rasa nyaman, dan akhirnya malas untuk turun dan pulang lembali. Karena kondisi menurun, perjalanan turun seharusnya lebih cepat, tapi saat turun memasuki pos dua hujan turun dengan lebatnya. Mau  tidak mau perjalanan sedikit terhambat. Jalanan licin, sehingga kami harus ekstra hati-hati. Agar tidak terlalu kedinginan, kami pun memakai jas hujan plastik yang kami beli di toko. Walau tipis, jas itu menolong kami dari kedinginan akut. Alhamdulillah setelah menerjang hujan selama beberapa waktu kami pun sampai di bascamp. Setelah berbenah, kami pun langsung meluncur pulang.

Mungkin tidak banyak yang bisa saya dokumentasikan dan saya ceritakan perjalanan pendakian ke Gunung Mongkrang ini, namun kesan dan atsar batin setelah pendakian ke gunung itu mengabadi dalam palung hati, terpatri dalam lembaran kebahagiaan jiwa. Tidak begitu kelihatan tapi cukup terasakan. 

Karena bagi saya mendaki gunung bukan sekedar menuruti kesenangan hati, mendaki gunung bukan hanya untuk berbangga diri, mendaki gunung pada hakekatnya adalah mendaki pada puncak kesadaran diri. Mendaki gunung adalah bagian dari kemerdekaan jiwa manusia, jiwa itu melayang bagai kapas menuju puncak pendakian, walau sejatinya tujuan dari pendakian bukan berada di ketinggian, justru mendaki adalah menaklukkan puncak ego masing-masing, dan meletakkannya pada lembah kesadaran jiwa. 

Setiap ke gunung saya selalu bertanya untuk apa? Dan selalu saja ada jawaban yang berbeda di setiap langkah dan jejak kaki pendakian. Karena mendaki adalah seni, seni untuk lebih deep in love with Allah Swt. Salam.