Pages - Menu
Kamis, 31 Agustus 2017
Satu Tahun Bersama Kali Kening
Berguru Pada Buku
Selasa, 29 Agustus 2017
Tagline Bumi Tuban
Senin, 28 Agustus 2017
Lembah Mati Yang Diberkahi
![]() |
| Google.com |
Di sebuah lembah yang sepi di
tengah-tengah padang yang gersang, tidak ada makhluk hidup yang menempati.
Hewan-hewan tiada mendekat, begitupun manusia. Pohon-pohon pun tampak
jarang-jarang, kering kerontang, layu, seperti tidak ada kehidupan. Lembah itu tampak
suram dan kering, tidak ada sumber air, hanya hamparan pasir-pasir pucat dan
gunung-gunung batu yang tampak suram dan menyeramkan. Lembah itu adalah lembah
yang sangat tandus, sehingga tidak ada satu pun suku-suku pengembara di Jazirah
Arab yang menempatinya. Begitupula tidak ada kafilah-kafilah dagang yang
menjadikan tempat itu sebagai tempat untuk singgah beristirahat. Apalagi para
penggembala pun menjauhi tempat yang memang tidak ada sumber makanan untuk
ternak-ternak mereka. Maka lengkaplah kesunyian dari lembah itu.
Jika bukan karena bisikan langit,
Ibrahim pun tidak akan mendatangi lembah yang sepi tak berpenghuni, dan ia
sangat percaya istri dan anaknya akan bisa bertahan hidup dengan selamat di
tempat yang sepi itu. Pada siang yang membakar ubun-ubun, Ibrahim bersama
istrinya, Hajar, dan juga seorang bayi mungil, Ismail, yang sedang menyusu pada
ibunya, ia tinggalkan di tempat yang hantu pun enggan untuk bersarang.
Dengan langkah yang berat dan hati yang dipenuhi
kegelisahan, Ibrahim memandang sekeliling lembah itu untuk terakhir kalinya.
Angin panas berembus membawa debu-debu pasir yang berputar di antara bebatuan
tandus, seakan menegaskan betapa sunyi dan asingnya tempat itu. Di bawah langit
yang membara, Hajar memeluk Ismail erat-erat, berusaha menenangkan bayinya yang
mulai gelisah oleh terik dan dahaga. Tidak ada suara selain desir angin dan
langkah kaki yang perlahan menjauh. Namun, di balik kesunyian yang menyesakkan
itu, tersimpan keyakinan besar dalam hati Ibrahim bahwa Tuhan yang
memerintahkannya tidak akan membiarkan istri dan anaknya terlantar di lembah
yang kelak akan menjadi tempat penuh keberkahan bagi manusia sepanjang zaman.
“Wahai istriku, tinggallah di sini
sampai batas di mana takdir akan mempertemukan kita kembali,” kata Ibrahim
pelan kepada istrinya.
Ibrahim, dengan penuh kesedihan,
harus meninggalkan istri dan bayinya di bawah sebuah pohon Dauhah, di satu
tempat yang ia anggap lebih dingin tanahnya dari lembah itu. Ibrahim pun
berlalu, meninggalkan dua permata hatinya dengan berat hati.
Sambil menggendong Ismail, Hajar
mengikuti suaminya pergi. Ia tidak ingin ditinggalkan seorang diri di tempat
yang asing dan sepi.
“Wahai Ibrahim, suamiku, hendak ke
mana engkau? Mengapa engkau tega meninggalkan aku seorang diri, tanpa teman di
tempat ini?” tanya Hajar dengan penuh menghiba.
Ibrahim hanya diam. Dia terus
berlalu, meninggalkan istrinya yang penuh dengan tanda tanya.
Kemudian Hajar pun kembali
melanjutkan pertanyaannya, walau pertanyaan pertama dan kedua tidak memperoleh
jawab dari suaminya.
“Apakah Allah, Tuhan kita, menyuruh
engkau melakukan ini, wahai suamiku?” tanya Hajar kembali sambil terus
mengikuti langkah suaminya yang pelan dan berat.
Ibrahim pun berhenti. Ia menoleh
kepada istrinya itu.
“Benar, wahai istriku.”
Demi mendengar jawaban itu, ibu
Ismail ini pun berhenti. Ia tidak melanjutkan langkahnya untuk mengikuti
suaminya pergi. Dengan penuh ketabahan, Hajar pun menimpali keputusan dari
langit itu dengan penuh ketundukan. Hajar dengan penuh pilu bergumam sendu:
“Jika ini adalah perintah-Nya, tentu
Ia tidak akan menelantarkan dan menyia-nyiakan kita. Wahai anakku, mari kita
kembali di bawah pohon tadi,” seru Hajar sambil melangkah mundur kembali ke
tempat ia ditinggalkan oleh suaminya.
Ibrahim pun terus berjalan hingga
istri dan anaknya hilang dari pandangan. Setelah menjauh dari lembah di mana
istri dan anaknya ia tinggalkan, Ibrahim menghadapkan wajahnya ke arah lembah
itu. Dengan penuh kekhusyukan, Ibrahim mengangkat tangannya, kemudian berdoa
kepada Tuhannya:
“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah
menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak memiliki pepohonan, yaitu
di sisi Rumah-Mu yang suci. Jadikanlah negeri itu negeri yang aman sentosa, dan
berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara
mereka kepada Allah dan hari kemudian.”
Ibrahim pun kemudian berlalu dan
tidak meninggalkan apa pun kepada anak istrinya, kecuali keberkahan doa yang ia
baca di ujung lembah sunyi yang ia tinggalkan.
***
Hajar kebingungan. Bekal air yang ia
bawa menipis. Tidak ada sumber air yang ia lihat di sekitar lembah itu. Karena
udara yang sangat panas memicu haus yang mencekik leher, air susunya pun
mengering hingga Ismail menangis berguling-guling di pasir. Tanpa tikar, tanpa
pelindung di atasnya, hanya hamparan pasir dan bentangan langit yang entah di
mana ujungnya.
Hajar pun berlari menuju sebuah
bukit. Ia berharap ada sumber air atau orang yang memberikan pertolongan
kepadanya. Harapannya sia-sia belaka. Lembah itu tampak sunyi dan mati. Tidak
ada seorang pun yang tampak. Sepanjang memandang hanya hamparan resah yang
terasa mengaduk dada perempuan itu.
Dari satu bukit, Hajar pun tak putus
asa. Ia berlari ke arah bukit lainnya, terus berlari berulang-ulang hingga
tujuh kali, sampai ia pun kelelahan.
Pada saat hitungan yang ketujuh, saat
Hajar berada di lembah dekat anaknya yang menangis, Hajar tertegun. Ia melihat
bekas hentakan kaki anaknya basah. Tidak mungkin Ismail mengompol, karena
cairan tubuh anaknya sendiri telah mengering.
Hajar pun mendekati anaknya. Di
tempat jari jemari kaki anaknya tampak air yang merembes dari dalam tanah yang
berpasir. Dengan segera Hajar menggali dan membuatkan kubangan. Air memancar
semakin deras. Dengan tangannya, Hajar menciduk air itu, kemudian meminumnya
sehingga memancar kembali air susunya, dan Hajar pun menyusui anaknya.
Saat Hajar menyusui Ismail, anaknya,
tiba-tiba ada suara yang menggema entah dari mana datangnya.
“Wahai wanita yang mulia, engkau
jangan khawatir akan disia-siakan di tempat ini, karena di sini ada Baitullah
yang kelak pada masanya akan dibangun kembali oleh bapak dan anaknya.”
Mulai saat itu, ibu dan anak itu
tinggal di dekat mata air yang jernih dan penuh barakah. Orang-orang kelak
menyebutnya sebagai sumur Zam-zam, sumur yang terus mengalirkan sumber air
abadi sepanjang masa, yang airnya menjadi obat bagi siapa saja yang meminumnya.
Lembah yang mati itu kini menghijau,
menjadi lembah yang diberkahi. Banyak hewan yang berdatangan, burung-burung pun
sering datang, berputar-putar di atas langitnya. Hal itu kemudian mengundang
para kafilah untuk singgah, hingga ada yang kemudian menetap bertetangga dengan
Hajar dan Ismail. Mereka berdua bergembira karena lembah yang dulu sepi kini
menjadi ramai.
Ibrahim tak tahu dan tidak pernah
menyangka jika doanya di batas lembah, saat air matanya tumpah meninggalkan sang
istri dan anaknya, diijabahi oleh Tuhan dengan keberkahan lembah yang kelak
bernama Makkah. Dan pada saatnya nanti, takdir akan membawa Ibrahim kembali.
Kelak, lembah yang dahulu sunyi, dan tak berpenghuni
itu akan menjadi tempat yang paling banyak dikunjungi oleh manusia dari seluruh penjuru dunia. Di
sanalah do’a dan harapan seorang ayah, kesabaran dan ketulusan seorang ibu, serta
tangis dari seorang anak berubah menjadi mata air keberkahan yang tidak pernah
kering di sepanjang zaman. Dari waktu ke waktu, dari masa ke masa, lembah itu
menjelma menjadi lembah yang selalu diziarahi, menjadi kiblat dan pusat rotasi
hati umat manusia. Tuhan selalu mengabulkan doa dari para hamba-Nya yang tulus
dan percaya akan kekuasaan-Nya.
Minggu, 27 Agustus 2017
Suatu Sore di Tepian Kali Kening
Jumat, 25 Agustus 2017
Orang pintar, Baca KibarKabar.Top
Senin, 21 Agustus 2017
Epistemologi Jomblo Revolusioner
Kamis, 17 Agustus 2017
Emak-emak Ngeblog, Kelar Hidup Lo!
Khidmat, Santri ASSALAM Bangilan Upacara HUT RI Ke-72
Oleh : Joyo Juwoto
Selasa, 15 Agustus 2017
Sikap Toleransi Untuk Kebhinnekaan yang Tunggal Ika
Rabu, 09 Agustus 2017
Kang Djacka Artub Sang Fiksionis Romantis
Jumat, 04 Agustus 2017
Kang Rudi Blogger Top Dari Tuban
Rabu, 02 Agustus 2017
Wanita Pertama Yang Syahid Dalam Islam
![]() |
| Google.com |














