Tampilkan postingan dengan label tafsir Al Iklil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tafsir Al Iklil. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Maret 2017

Mutiara Surat At Tin

Mutiara Surat At Tin
Oleh : Joyo Juwoto

Surat At Tin termasuk surat yang diturunkan di kota Makkah, jumlah ayatnya ada delapan. At-Tin di sini adalah merujuk pada nama sebuah pohon yang banyak tumbuh di daerah timur tengah, namun tanaman ini sekarang juga banyak dibudidayakan di Indonesia.

Nama pohon Tin ini disebut satu kali, yaitu dalam surat At-Tin ayat 1, “Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun”. Jika Allah menjadikan pohon ini sebagai lafal sumpah, tentu pohon ini punya keistimewaan yang lebih dibandingkan dengan pohon-pohon yang lainnya. Bahkan Rasulullah menyebutnya buah Tin sebagai salah satu buah dari di surga.

          Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw, bersabda mengenai buah Tin ini :
“Rasulullah telah diberi hadiah satu wadah buah Tin, kemudian Nabi Bersabda : “Makanlah kalian!” lalu beliau pun memakannya dan berkata, “Jika engkau berkata ada buah yang diturunkan dari surga, maka aku bisa katakan inilah buahnya, karena sesungguhnya buah dari surga tanpa biji. Oleh karena itu makanlah, karena buah Tin ini dapat menyembuhkan penyakit wasir dan encok.” (HR. Abu Darda)”.

          Selain berfungsi sebagai obat wasir dan encok, buah Tin ini banyak mengandung senyawa garam, kalsium, fosfor, dan zat besi. Selain itu juga mengandung vitamin A dan B. Buah Tin juga banyak mengandung vitamin C dan K yang memiliki fungsi menghentikan pendarahan saat proses pembekuan darah.

Pohon Tin ini selain keramat menurut pandangan umat Islam, dalam literatur agama samawi lainnya seperti Yahudi dan Nasrani juga menyebut mengenai pohon Tin ini. Yesus Kristus bahkan menjadikan pohon Tin atau pohon Ara sebagai perumpamaan yang diajarkan kepada murid-muridnya. “Tariklah pelajaran dari perumpamaan pohon ara: Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat...”.

Selain memiliki manfaat sebagai obat dan sebagai penanda musim, pohon Tin ini disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir Juz III, bahwa Ibnu Abbas ketika menafsiri lafadz “Waraqal Jannah” (daun-daun surga), dalam surat Thaha ayat 121, bahwa daun surga yang dimaksud itu adalah daun dari pohon Tin. Daun-daun Tin inilah yang dipakai oleh Adam dan Hawa untuk menutupi aurat-aurat mereka yang terbuka setelah memakan buah Khuldi atas bujukan dan rayuan sesat dari syetan.

          Sedangkan nama Zaitun disebut dalam Al Qur’an sebanyak 7 (tujuh) kali, yait pada surat Al An’am ayat 99; An Nahl ayat 11; al Mukminun ayat 20; an-Nur ayat 35; Abasa ayat 29; dan dalam surat At Tin ayat 1.

          Sebagaimana pohon Tin, pohon zaitun juga banyak memiliki manfaat. Sekarang ini produk olahan dari buah zaitun sangat banyak, dipakai sebagai obat maupun untuk komoditi lain, semisal sebagai bahan pembuatan sabun, kalium karbonat, sebagai obat penawar racun, bahan baku salep, sebagai pewarna produk-produk tekstil dan lain-lain. Hal ini juga sesuai yang disabdakan oleh Rasulullah Saw, bahwasanya Zaitun memiliki banyak manfaat dan keberkahan. Dalam sebuah hadits Nabi Bersabda : “Makanlah buah zaitun dan peraslah minyaknya, karena dia pohon yang membawa berkah.”

          Setelah Allah bersumpah dengan menyebut Tin dan Zaitun, dalam ayat kedua Allah menyebut Thursina, yaitu nama sebuah gunung yang berada di Semenanjung Sinai. Di gunung inilah Nabi Musa berbicara langsung dengan Allah, oleh karena itu Nabi Musa mendapatkan julukan “Kalimullah” maksudnya adalah beliau langsung bercakap-cakap dengan Allah tanpa melalui perantara Malaikat saat menerima wahyu di puncak bukit Thursina. Hal ini sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Swt dalam surat An Nisa’ ayat 164 yang artinya : “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.”

          Di ayat ketiga, Allah Swt, bersumpah demi negeri yang dijadikan aman. Dalam tafsir Al Iklil yang ditulis oleh KH. Misbah Zainil Mustofa, dinyatakan bahwa negeri yang dimaksud adalah negeri Makkah. Negeri Makkah adalah tempat yang mendapatkan perlindungan langsung dari Allah Swt ketika pasukan gajah yang dipimpin oleh Raja Abrahah saat akan menghancurkan Ka’bah. Di tempat ini pula setiap orang akan merindukannya untuk menyempurnakan rukun Islam yang kelima, yaitu berangkat menunaikan ibdah haji.

          Ayat keempat dan kelima Allah menyatakan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang baik dan sempurna. Secara lahiriah kesempurnaan manusia sebagai makhluk Tuhan lama kelamaan akan sirna, mulai dari kelahiran, masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan akhirnya akan menua. Seperti pohon-pohon hijau yang lama kelamaan akan menguning dan kering, kemudian luruh ke tanah dan akhirnya mati.

          Yang mampu mengabadikan kesempurnaan manusia adalah keimanannya dan amal sholeh yang diperbuatnya, karena dengan iman dan amal sholeh itulah manusia akan mendapatkan ganjaran yang tiada terputus. Demikian sebagaimana yang disebutkan dalam ayat yang keenam.

Di ayat yang ketujuh Allah Swt, menegaskan dengan sebuah pertanyaan “Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu ? Ayat ini memberikan gambaran bahwa Allah pasti akan memberikan balasan yang baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, sedangkan orang yang tidak beriman dan membuat kerusakan akan direndahkan oleh Allah dengan serendah-rendahnya di akhirat kelak.

Kemudian surat At-Tin ditutup dengan penegasan dan pernyataan dalam bentuk pertanyaan, “Bukankah Allah Hakim yang adil ? di dalam tafsirnya, Mbah Yai Misbah memberikan keterangan di ayat terakhir ini, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda : Barangsiapa yang membaca surat At-Tin hingga akhir ayat, sebaiknya kemudian membaca :
بلى وانا على ذلك من الشاهدين


Maksud dari bacaan di atas adalah kita mengiyakan dan bersaksi bahwa Allah Swt Dzat yang Maha Adil dengan segala hukum-hukumnya. Kita tunduk dan taat kepada hukum Allah dan ridha dengan segala qadha-Nya. Demikianlah para ulama dahulu bertata karma dalam menyikapi sebuah ayat.

Jumat, 16 Desember 2016

Mutiara Surat Al Fiil

Mutiara Surat Al Fiil
Oleh : Joyo Juwoto

Surat Al Fiil adalah surat yang diturunkan oleh Allah swt di Makkah al Mukarramah, surat ini terdiri dari lima ayat yang menerangkan mengenai Pasukan Gajah yang akan menghancurkan Ka’bah menjelang kelahiran Nabi Muhammad saw. Di Habasyah saat itu ada seorang Raja Nasrani yang bernama Ashamah Najasi.

Pasukan Gajah ini dipimpin oleh seorang Raja Yaman yang menjadi bagian dari kerajaan Ashamah, ia bernama Abrahah. Latar belakang penyerangan Ka’bah didasari rasa dengki Abrahah terhadap kota Makkah yang menjadi pusaat peribadatan di tanah Arabia, sehingga untuk menyaingi Ka’bah, Abrahah ini mendirikan rumah peribadatan yang megah di San’a ibukota Yaman dengan maksud memalingkan kiblat peribadatan orang-orang Arab ke negeri Yaman. Rumah peribadatan itu dinamakan Al Qalish.

Abarahah kemudian menyebarkan selebaran kepada rakyat Habasyah dan Yaman agar mereka setiap tahunnya beribadah di gereja Al Qalish yang dibangun oleh Abrahah di San’a, dan tidak perlu pergi ke Ka’bah. Pada suatu ketika, ada seorang Arab yang bernama Malik bin Kinanah mengetahui akan hal ini, ia merasa tidak suka dengan isi dari selebaran yang dibuat oleh Abrahah. Di suatu malam yang sepi Malik bin Kinanah memasuki Gerejanya Abrahah, ia menaruh kotoran manusia di tempat ibadah itu kemudian Malik pun pergi.

Mendengar laporan gerejanya di kotori oleh seorang Arab, Abrahah pun murka. Segera saja Abrahah mengumpulkan pasukan untuk menggempur Ka’bah. Ia segera meminta bantuan gajah yang besar dari Raja Habasyi. Gajah itu bernama Mahmud. Dengan mengendarai  Gajah Mahmud Abrahah dengan gagah perkasa memimpin pasukan gajahnya menuju kota Makkah.

Sesampai di kota Mighmas, Abrahah mengerahkan pasukan berkudanya untuk menyerang Makkah dan mengambil harta-bendanya orang Makkah. Termasuk di dalamnya ada sebanyak 200 ekor unta milik Abdul Muthalib. Mendengar bahwa unta-untanya dirampas oleh pasukan Abrahah, Abdul Muthalib pun menemui Abarah dan meminta kembali untanya, karena itu adalah haknya. Sedang jika Abrahah mau menghancurkan Ka’bah itu urusannya dengan pemilik Ka’bah. Sesungguhnya Ka’bah itu rumah Allah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim, dan Allah sendirilah yang akan menjaganya.

Sepeninggal Abdul Muthalib, Abrahah segera menyiapkan pasukan gajahnya untuk memasuki kota Makkah. Namun sayang gajah Mahmud yang dinaikinya tidak mau beranjak menuju arah Makkah. Anehnya jika gajah itu diarahkan oleh pawangnya yang bernama Nufail ke Yaman, dengan cepat gajah Mahmud pun beranjak pergi. Isyarat ini sama sekali tidak menyurutkan niat Abrahah untuk menyerang Ka’bah.

Abdul Muthalib kemudian mengungsikan penduduk Makkah ke balik bukit, ia tiada henti berdo’a meminta perlindungan kepada Allah dari serangan pasukan gajahnya Abrahah. Abdul Muthalib mengucapkan do’a permohonan kepada Allah demikian :

يا ربّ لا أرجولهم سواكا # يا ربّ فامنع عنهم حماكا

Setelah selesai berdo’a, tiba-tiba ia melihat serombongan burung dari arah langit Yaman. Burung itu belum pernah dilihat oleh penduduk Makkah. Masing-masing burung membawa tiga butir kerikil. Satu di paruhnya dan dua di cengkeram di kedua kakinya.

Burung-burung ini kemudian menghujani pasukan Gajah yang mendekati Ka’bah. Masing-masing batu tertulis nama prajurit yang akan menjadi korbannya, dan lemparan batu ini tidak pernah meleset sedikitpun. Jika batu itu dijatuhkan pasti akan mengenai kepala orang yang namanya tertulis di batu tersebut. Satu persatu pasukan gajah berguguran seperti daun-daun yang di makan ulat.

Abrahah sendiri pun tidak kalah menyedihkannya, tubuhnya rusak, jari-jari tangannya terputus satu persatu, badannya dipenuhi darah dan nanah yang sangat menjijikkan, hingga akhirnya Sang Raja yang perkasa itu meninggal dunia dengan cara yang mengerikan.

Ada seorang yang hampir berhasil meloloskan diri dari serangan burung-burung itu, dia adalah patihnya Abrahah yang bernama Abu Yaksum. Sang Patih berhasil melarikan diri dan pulang ke Habasyah, kemudian ia melaporkan kejadian itu kepada Raja. Namun ternyata ada seekor burung yang mengikuti dan telah mengincarnya. Di paruhnya telah siap sebutir kerikil yang bertuliskan nama Abu Yaksum. Ketika Abu Yaksum melapor kepada Raja, tiba-tiba masuklah seekor burung dan melemparkan batu itu ke arah sang patih. Tewaslah sang patih di hadapan Raja Ashamah.


Begitulah penyerangan Abrahah mengalami kegagalan total. Tidak ada satu pun pasukannya yang berhasil lolos dari adzab Allah swt kecuali gajah Mahmud dan pawangnya yang bernama Nufail.

Selasa, 15 November 2016

Mutiara Surat Al Kafirun

Mutiara Surat Al Kafirun
Oleh : Joyojuwoto

Surat Al Kafirun adalah surat yang diturunkan di Makkah, jumlah ayatnya ada delapan. Surat ini turun sebagai respon keinginan orang-orang kafir Quraiys yang ingin berkompromi  dalam hal peribadatan dengan Nabi Muhammad. Orang-orang Kafir mengusulkan agar tidak terjadi ketegangan diantara mereka dan dalam rangka menjaga kerukunan dan toleransi alangkah baiknya jika umat Islam dan orang-orang kafir saling bergantian dalam menjalankan ibadah kepada Tuhan.

Orang-orang kafir Quraiys mau menyembah kepada Allah dengan syarat orang Islam juga harus menyembah berhala yang menjadi Tuhan orang kafir. Mereka akan bergantian melakukan penyembahan itu. Jika dilihat secara sekilas seakan-akan usulan orang-orang kafir sangat indah, saling bekerja sama dan rukun. Namun hal ini dengan tegas ditolak oleh Allah sehingga turunlah surat Al Kafirun ini. Antara kebatilan dan kebaikan tidak mungkin akan bersatu dan saling mendukung sebagaimana air dan minyak yang tidak akan pernah bersatu, ada jarak dan pembeda diantara keduanya.

Ajaran Islam punya batasan dan aturan yang jelas dalam hal toleransi, dalam hal kemanusiaan toleransi dijunjung tinggi, sedang dalam hal aqidah tidak diperkenankan mencampur adukkan keyakinan. Karena Islam mengakui benar adanya keragaman dan pluralitas.

Dalam ayat pertama dan kedua surat Al Kafirun ini dinyatakan bahwa Nabi Muhammad tidak akan menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kafir, ini adalah ungkapan yang sangat tegas bahwa orang yang beriman tidak akan menyembah dan membenarkan Tuhan selain Allah. Sebagaimana kelanjutan ayat ke tiga orang-orang kafir pun tidak akan menyembah Tuhannya orang-orang yang beriman.

Ayat keempat dan kelima adalah penegasan kembali dari ayat yang sebelumnya, bahwa orang Islam tidak akan menyembah Tuhannya orang kafir, dan orang kafir pun tidak akan pernah menyembah Tuhannya orang Islam. Jadi keinginan orang kafir untuk bergantian dalam hal penyembahan adalah alasan semata yang mereka buat-buat karena mereka kesulitan untuk memalingkan keyakinan umat Islam untuk tidak menyembah Allah swt. Kemudian ayat ini ditutup dengan ungkapan yang sangat indah sekali “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku”

Keyakinan adalah sesuatu yang sangat esensial di dalam hidup ini, apalagi itu meyangkut masalah aqidah, umat Islam harus tegas sebagaimana dalam kandungan surat Al Kafirun ini. kita memang tidak boleh fanatik dengan golongan, dengan komunitas, dengan kesukuan kita, namun dengan agama fanatik itu harus bahkan wajib hukumnya. Keyakinan terhadap keimanan agama adalah salah satu alasan kita rela mati atasnya. Karena memang keyakinan adalah sumber kehidupan, sebagaimana yang dikatakan oleh Martin Luther King Jr, “Jika seseorang belum menemukan sesuatu yang akan membuatnya bersedia mati untuk itu, ia belum cocok untuk hidup”.

Surat al Kafirun ini menjadi hujjah dan bantahan yang sangat kuat bagi orang-orang yang mengatakan bahwa semua agama itu sama, hanya jalannya saja yang berbeda. Tidak sekali lagi tidak, dengan jelas dan gamblang Allah berfirman bahwa hanya Islam sebagai jalan keselamatan yang sempurna. Inna ad-diena ‘indallahi al Islam, Sesungguhnya agama yang diridhoi Allah adalah Islam.




Senin, 10 Oktober 2016

Inilah Tafsir AL Iklil Surat Al Maidah Ayat 51

Inilah Tafsir AL Iklil Surat Al Maidah Ayat 51

يأيّها الّذين آمنوا لا تتّخذ اليهود والنّصرى أولياء بعضهم أولياء بعض, ومن يتولّهم منكم فإنّه منهم, إنّ الله لا يهدى القوم الظالمين (51)

51. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Dalam tafsirnya KH. Misbah Zainil Mustofa, seorang ulama ternama dari Bangilan Tuban menjelaskan mengenai kandungan surat Al Maidah ayat 51, beliau berkata :
“Hai wong kang podo iman, sira kabeh ojo podo nggawe wong Yahudi lan wong Nasrani dadi kekasih nira, tegese kanca kang sira percaya gandeng karo nindakkake hukume Allah SWT. Sebagian sangking wong Yahudi lan wong Nasrania iku dadi kekasihe sakwenehe, tegese sji-sijine wong Yahudi lan wong Nasrani iku bantu membantu ana ing persoalan agamane”

Mbah Bah, membuka penjelasan tafsirnya dengan sebuah ayat Al Qur’an, surat Al Baqarah ayat 20.

Kita harus selalu mengingat  Dawuhnya Allah SWT yang berbunyi :
ولن ترضى عنك اليهود ولا النّصرى حتّى تتّبع ملّتهم
Artinya : “Orang Yahudi dan orang Nasrani (Kristen) itu tidak akan pernah ridho, tidak akan suka hatinya hingga kamu mengikuti agama mereka

Selanjutnya, Mbah Misbah menjelaskan mengenai tafsir Al Maidah ayat 51 dengan mengutip sebuah riwayat dari Abu Musa Al Asy’ari, seorang gubernur Basrah pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Berikut riwayatnya :

Diriwayatkan oleh Abu Musa Al Asy’ari yang diangkat sebagai gubernur Basrah oleh khalifah Umar bin Khattab, Abu Musa berkata kepada Umar : “Wahai Khalifah Umar, saya Ini memiliki juru tulis orang Nasrani. Umar pun menanggapi : “Apa perlunya engkau memiliki juru tulis seorang Nasrani ? mengapa tidak mengambil orang Islam saja ? Apa engkau tidak pernah mendengar firman Allah SWT yang berbunyi :
يأيّها الّذين آمنوا لا تتّخذ اليهود والنّصرى أولياء بعضهم أولياء بعض...
Aku matur : “Dia memang menganut Kristen, saya hanya mengambil manfaat dari kepandaiannya menulis saja” Umar pun berkata dengan tegas : “Saya tidak akan memuliakan orang Nasrani, karena Allah sendiri sudah merendahkan orang Nasrani, dan saya tidak akan mendekati orang Nasrani, karena Allah sudah menjauhkan orang Nasrani dari kita. Saya pun berkata :“Persoalan-persoalan negeri Basrah tidak akan sempurna jika tidak melibatkan orang-orang Nasrani” Umar kemudian menjawab : “Jika seandainya orang Nasrani itu meninggal dunia, siapa yang akan engkau jadikan juru tulis ?

Demikian tafsir surat Al Maidah ayat 51 dalam tafsir Al Iklil yang ditulis oleh seorang ulama yang wira’i dari Bangilan Tuban. Terlepas dari perdebatan-perdebatan politik yang terjadi saat ini, kiranya umat Islam memang perlu merenungi kembali apa yang diajarkan oleh salafus sholih guna kemaslahatan umat Islam khususnya dan kemaslahatan dunia pada umumnya.