Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 April 2017

Resensi Novel “Taprobane Atlantis Indonesia”

Resensi Novel “Taprobane Atlantis Indonesia”
Identitas Buku
Judul Buku                    : Taprobane Atlantis Indonesia
Penulis                  : J.J. Hulux
Penerbit                : Epistemic
Cetakan                : 2016
Tebal                     : 246
Kategori                : Fiksi Fantasi
ISBN                     : 978-602-69504-5-1
Ukuran buku       : 14.5 x 21 cm
Peresensi              : Joyojuwoto

Ulasan Sekilas Mengenai Novel Taprobane Atlantis Indonesia
Membaca novel fiksi fantasi yang ditulis oleh sahabat saya, Mas J.J. Hulux dari Singgahan Tuban, seakan kita ikut asyik berpetualangan, dan tinggal memilih menjadi tokoh mana yang kita inginkan. Mau menjadi Adam, atau Thom manusia tahun 2007 yang berpetualang di dimensi ribuan tahun masa silam, atau mungkin mau menjadi Putri kerajaan Atlantis, Auora yang cantik jelita.

Novel ini tebalnya adalah 246 halaman, namun ketika saya membacanya seperti hanya membaca beberapa lembar saja. Saya tidak sadar sudah berlembar-lembar halaman selesai saya baca. Saking asyiknya hingga tidak terasa saya sudah berada di halaman terakhir buku.

Mas Hulux rupanya punya keahlian dalam membuat alur, konflik, dan teka-teki yang menyegarkan pikiran, sehingga belum sampai kepala ini penat, novel telah selesai. Denger-denger novel ini akan dwilogi, jadi saya tentu sangat menunggu kelanjutan dari novel yang ditulis oleh Mas Hulux.

Novel ini dimulai tanggal 10 Januari 2007, saat Adam dan Thom menjadi bagian dari regu pencari tenggelamnya pesawat milik salah satu maskapai penerbangan 574 yang diperkirakan hilang di perairan segitiga Masalembo.

Di setiap lembar novel ini, saya tertarik untuk terus melanjutkan membaca. Memang spada dasarnya saya  suka petualangan, jadi klop kesukaan saya dengan alur dari Taprobane Atlantis Indonesia, yang menawarkan petualangan di dunia fiksi. Saya sangat menikmati setiap perjalanan Adam, Thom, dan Auora dalam mencari panah api sebagaimana yang diwasiatkan oleh Nesos, Raja Klan Drav, ayah Auora.

Ketegangan-ketegangan yang dibangun oleh Mas Hulux cukup menambah RPM jantung, seperti saat tiga pejuang Klan Drav dikejar-kejar oleh pasukan Asura, seorang panglima andalan dari Raja jahat Marica yang menguasai kerajaan Atlantis.

Teka-teki sebagai ciri dari sebuah petualangan di novel ini juga bagus. Seperti saat Auora menerjemahkan tulisan aneh bagi Adam dan Thom yang  ada di dinding pintu gerbang.

Imajinasi yang dibangun Mas Hulux juga luar biasa, berpetualang naik ular raksasa, naik burung garudanya Leuka,bertemu Raja Mu, dan akhirnya Adam, Thom dan Auora mencari kebun legendaris. Kebun itu ternyata tidak kelihatan, namun ketika hanya Adam saja yang diperbolehkan masuk, Adam bisa melihat kebun legendaris yang tampak indah,  dengan pohon-pohon yang rindah dan buah-buahan yang banyak.

Di kebun legendaris Adam ketemu dengan penggembala yang namanya Muso, Muso inilah yang akhirnya membimbing Adam untuk mendapatkan anak panah dari panah api, yang didapatkan Adam di kerajaan Gunung Krakaca.

Saya sangat suka dengan kutipan dari perkataan Muso kepada Adam, “Dunia lamamu adalah duniaku, dan dunia baruku adalah duniamu” Kalimat ini sebenarnya membingungkan, namu ketika Adam minta penjelasan dan dijawab oleh Muso dengan enteng, “Kita tidak harus memikirkannya terlalu dalam,” selesailah pertanyaan yang memang tidak perlu jawaban itu.

Setelah mendapatkan panah api dan anak panahnya, Adam, Thom, dan Auora kembali bersama Klan Drav  melawan pasukan jahat para raksasa yang dipimpin oleh Raja Marica yang bermuka empat di keempat sisi kepalanya.

Dengan perjauangan yang berat, dan dibantu oleh Raja Singa dari Klan Hewan, Raja Uto  dari Ethopia, Leuka dengan pasukan garudanya, nenek So, dan juga sepasang hewan mitologi Garuda dan Ular Shesa penjaga Atlantis, akhirnya Klan Drav berhasil mengalahkan kekuatan jahat yang dipimpin oleh Asura dan Raja Marica.

di akhir cerita Auora dinobatkan menjadi ratu di kerajaan Atalntis, sedang Adam dan Thom kembali ke masanya lagi yaitu 12 Januari 2007, setelah dua hari dinyatakan hilang oleh teamnya.


Demikian sedikit ulasan mengenai novel Taprobane Atlantis Indonesia yang ditulis oleh sahabat saya Mas J.J. Hulux. Semoga buku ini membawa manfaat bagi masa depan generasi bangsa Indonesia. Selamat membaca dan selamat berpetualangan di setiap lembar novel ini. 

Selasa, 25 Oktober 2016

Resensi Buku “Guru Juga Manusia”

Resensi Buku “Guru Juga Manusia”

Identitas Buku
Judul Buku          : Guru Juga Manusia
                              Catatan Harian Seorang Pendidik
Penulis                 : Abd. Aziz Tata Pangarsa
Penerbit               : Probi Media
Cetakan               : September, 2016
Tebal                    : 174
Kategori               : Refleksi
ISBN                    : 978-602-6353-30-6

Ulasan buku
Buku yang ditulis oleh sahabat saya, Abd. Aziz Tata Pangarsa adalah buku yang terbilang sederhana, renyah, dan mudah untuk difahami. Justru dari kesederhaaannya itulah tidak perlu mahal untuk menjadi pembaca buku “Guru Juga Manusia”. Siapapun Anda, dari golongan manapun Anda berasal, dari profesi A atau B, setinggi atau serendah apapun IQ Anda semua bisa sangat enjoy menikmati buku ini.
Buku Mas Aziz ini terbagi menjadi empat bagian, pertama membahas mengenai Guru, Cinta, Kepemimpinan, dan Fenomena Kehidupan. Tema-tema tersebut sangat dekat dan erat dengan kehidupan kita sehari-hari. Dengan bahasa yang mudah Mas Aziz berusaha menyajikan dan merefleksikan hal-hal diatas agar dapat dinikmati oleh pembaca. Karena tidak semua orang ternyata mampu mengambil hikmah dan pelajaran dari apa yang ada di sekitarnya. Di sinilah kepiwaian penulis menjembatani kekurangan tersebut dengan mewujudkannya dalam bentuk buku ke tangan para pembaca semuanya.
Hikmah dan lompatan hidup seseorang kadang memang berasal dari hal yang kecil dan sepele, Tuhan memang tidak pernah sia-sia menciptakan sesuatu di dunia ini, bahkan untuk debu sekalipun. dengan kaca mata kejeliannya penulis buku ini memunguti, mencatat pengalaman-pengalaman sehari-hari menjadi untaian keindahan yang diramu menjadi lembar-lembar buku sedemikian rupa sehingga enak untuk dibaca.
Sebagai sebuah buku refleksi diri tentu buku ini tidak ada atau bahkan tidak membutuhkan referensi di halaman bagian akhir, karena kadang memang sebuah tulisan tidak perlu pijakan referensi. Akal dan hati biarlah menjadi salah satu referensi yang menjadikan buku ini layak untuk dinikmati.


Peresensi : Joyojuwoto, Santri PP. ASSALAM Bangilan Tuban. Penulis Buku “Jejak Sang Rasul” dan Secercah Cahaya Hikmah.

Senin, 05 September 2016

Resensi Buku Bahasa Arab Di Masa Daulah Umayyah (661-749 M) Dan Masa Daulah Abbasiyah (749-1258 M)

Resensi Buku
Bahasa Arab Di Masa Daulah Umayyah (661-749 M)
Dan Masa Daulah Abbasiyah (749-1258 M)


Identitas Buku
Judul Buku   : “Bahasa Arab Di Masa Daulah Umayyah (661-749 M)
                          Dan Masa Daulah Abbasiyah (749-1258 M)
Penulis           : Umi Robi’atin Musfa’ah
Penerbit          : ---
Tebal              : 78 hal
Kategori          : Non Fiksi
ISBN               : 978-602-633-601-9

Ulasan Buku
Buku yang ada di hadapan pembaca ini adalah buku yang berisi ulasan singkat mengenai perkembangan Bahasa Arab di Masa dua kekhalifahan Islam era Umayyah dan Abbasiyah. Buku ini awalnya adalah ringkasan dari tesis Umi Rabi’atin Musfa’ah yang kemudian di adaptasikan menjadi sebuah bacaan ringan yang berbobot dan penuh informasi guna menambah wawasan mengenai perkembangan bahasa Arab.

Kita tahu bahwa bahasa Arab adalah bahasa Al Qur’an, bahasa Al Hadits yang menjadi sumber rujukan utama umat Islam. Oleh karena itu selain sebuah keharusan bagi umat Islam untuk menguasai bahasa ini, tentu akan lebih sempurna jika kita mengetahui pula asal-usul dan perkembangan dari bahasa ini. selain itu bahasa Arab juga menjadi sarana bagi penyebaran agama Islam, sebagaimana yang dikatakan oleh Philip K. Hitty dalam bukunya History Of Arab, ia berkata : “Keberhasilan penyebaran Islam diantaraanya didukung oleh keluasan bahasa Arab, khususnya bahasa Arab al Qur’an.”

Di Bab I Pendahuluan, buku ini membahas mengenai kesatuan bahasa Arab yang kokoh dan tidak mengalami perubahan, karena dinamika dan kekuatan bahasa Arab di topang oleh standar yang keabsahannya dapat dipertanggungjawabkan yaitu Al Qur’an. Bahasa Arab juga merupakan bahasa  yang sangat orisinil yang tidak memiliki masa kanak-kanak sekaligus masa renta (lughah ashilah, laisa laha thufulah wa laisa laha syaikhukhah). Lebih lanjut dijelaskan mengenai perkembangan bahasa Arab yang berlangsung secara learning cultures yang kemudian bertahap menuju teaching cultures.


DI Bab II, penulis membahas bahasa Arab masa daulah Umayyah. Pada saat itu daulah Umayyah memang mengembangkan kebudayaan Arabisme sehingga mau tidak mau segala administrasi pemerintahan menggunakan bahasa Arab. Daulah Umayyah juga mendirikan kota kecil sebagai pusat ilmu pengetahuan dan pembelajaran bahasa Arab.  Kota itu adalah Marbad. selain mengembangkan pusat studi ilmu pengetahuan era ini juga sangat semarak sekali proses penerjemahan karya Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Diantara yang semangat dalam proses penerjemahan adalah Khalid bin Yazid.

Diantara metode pembelajaran bahasa Arab waktu itu adalah dengan menggunakan metode ceramah (muhadarah), diskusi (munazarah), Dikte (imla’), membaca dan presentasi (qira’ah dan Ard), pengulangan dan hafalan, cerita (qisah).

Selanjutnya bab III, buku ini membahas mengenai bahasa Arab masa daulah Abbasiyah. Periode terpenting dan yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan bahasa Arab adalah era khalifah Harun Ar Rasyid yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya Al Makmun. Pada masa ini ilmu pengetahuan berkembang sangat pesatyang menjadikan Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada masa ini proses pembelajaran bahasa Arab dan ilmu pengetahuan berkembang pesat yang ditandai dengan adanya sebuah perpustakaan besar yang dikenal dengan nama Baitul Hikmah.

 Selain pendirian perpustakaan lembaga-lembaga pendidikan maupun majelis ilmu dan tempat yang memungkinkan ilmu pengetahuan berkembang tumbuh subur seperti : Masjid selain sebagi tempat beribadah juga sebagai pusat pembelajaran, kuttab, majelis munazarah, toko buku, galeri sastra (Al-Solun al-Adabiyah), bimaristan, dan observatorium. Kesemuanya itu sangat mendukung perkembangan ilmu pengetahuan baik umum maupun agama.

Bab IV buku ini membahas secara spisifik berisi mengenai perkembangan bahasa Arab masa daulah Umayyah dan masa daulah Abbasiyah. Karena daerah-daerah kekuasaan Islam semakin meluas ke negeri-negeri non Arab mau tidak mau yang mulanya tulisan Arab tidak memakai tanda baca maka mulailah disusun tanda baca dan berbagai macam dasar-dasar bahasa Arab yang tercakup di ilmu Nahwu.

Adalah Abu Aswad Ad Duali yang berjasa menyusun gramatika Arab dan memberikan titik pada huruf-huruf hijaiyyah yang pada mulanya tanpa titik. Penyusunan ilmu gramatika Arab ini dilakukan untuk menghindari kekeliruan terhadap bacaan al Qur’an. Jika salah baca tentu arti dan maknanya berbeda dengan Al Qur’an itu sendiri.

Pada masa Daulah Abbasiyah perkembangan ilmu bahasa dan pengetahuan berkembang pesat, boleh dikata inilah puncak dari peradapan Islam. Pada masa itu khususnya era Khalifah Harun Ar Rasyid banyak bermunculan ahli bahasa dan penyair serta banyak pula buku-buku yang ditulis. Penyair yang hidup pada masa itu diantaranya adalah Abu Al Athaiyyah dan Abu Ishaq bin Ismail bin Al Qosim. Kemudian tentu kita mengenal seorang sufi dan penyair yang bernama Abu Nuwas juga hidup masa Harun Ar Rasyid.

Pada masa ini pula proses penerjemahan karya Yunani kuno mencapai puncaknya, hingga muncul ilmuan-ilmuan muslim yang pakar dalam berbagai bidang seperti ilmu agama, ilmu tata bahasa, filsafat, astronomi, dan kedokteran. Lebih mengejutkan dan mengagumkan adalah walau perkembangan berbagai bidang ilmu pengetahuan banyak dilakukan oleh orang non Arab, namun ternyata mereka-mereka menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa ilmu pengetahuan, semisal AL Khalil ibn Ahmad, Imam Sibawaih, Al Ghazali, Ibnu Rusyd, Ibnu Malik dan masih banyak lagi, dan ternyata mereka bukanlah native speaker namun karya-karya mereka memakai bahasa Arab.

Di bab Penutup buku ini sekilas meriview ulang perkembangan bahasa Arab dari proses leraning cultures hingga akhirnya berproses menjadi teaching cultures karena mendapatkan perhatian yang serius dari pihak pemerintah. Penulis juga memberikan alasan mengapa bahasa Arab bisa menjadi bahasa ilmu pengetahuan di dua masa daulah Umayyah dan daulah Abbasiyah karena beberapa faktor diantaranya : Faktor ideologis, Faktor doktrinal, faktor linguistik, dan tentunya juga tidak kalah pentingnya adalah faktor politik.


Demikian review singkat mengenai buku yang ditulis dengan tidak sengaja oleh Umi Robi’atin Musfa’ah, karena sebagai adaptasi dari sebuah tesis dengan segala kelebihan dan kekurangannya buku ini tentu tidak dimaksudkan untuk ditulis menjadi sebuah buku. Namun atas jerih payah dari penulis untuk menghadirkan sebuah bacaan mengenai perkembangan bahasa Arab ini patut mendapatkan apresiasi. Dan tulisan saya ini menjadi bagian dari itu. Salam.

Jumat, 26 Agustus 2016

Resensi Buku “SOS (Sapa Ora Sibuk) “Menulis dalam Kesibukan”

Resensi Buku “SOS (Sapa Ora Sibuk) “Menulis dalam Kesibukan”
Joyojuwoto*

Identitas Buku
Judul Buku   : “SOS (Sapa Ora Sibuk)”
                         “Menulis dalam Kesibukan”
Penulis           : Much. Khoiri
Penerbit          : Unesa University Pres
Cetakan Pertama  : Juni 2016
Ukuran          : 14 x 20 cm
Tebal              : xxii + 138
Kategori          : Non Fiksi
ISBN               : 978-979-028-854-6

Ulasan Buku
Melihat dari judulnya buku ini tentu di tulis oleh penulis yang memiliki seabrek kesibukan, iya beliau Bapak Much. Khoiri penulis buku yang ada di hadapan pembaca bukanlah pengangguran yang hanya merenung sambil sesekali menangkap ilham dari langitd untuk kemudian dituliskan di selembar kertas. Tidak sekali lagi tidak, buku ini tentu di tulis di tengah kesibukan beliau yang sangat padat. Di profil penulis disebutkan beliau adalah seorang dosen Unesa, ketua UPT Pusat Bahasa di Unesa, seorang trainer, dan tentu juga seorang penulis. Dari jajaran profil itu tentu sudah dapat kita duga kesibukannya Pak Emcho panggilan akrab lelaki murah senyum itu, yang tentu juga sibuk sebagai seorang Ayah bagi anak-anaknya, dan sebagai seorang suami bagi istrinya. Bisa dibayangkan menjadi seorang ayah saja sudah sibuk belum ditambah embel-embel yang lain, namun nyatanya Pak Emcho mampu produktif berkarya mencerdaskan anak-anak bangsa lewat tulisan.

Buku “SOS (Sapa Ora Sibuk), Menulis dalam kesibukan” ini hadir sebagai rahmat dan anugrah bagi orang yang sibuk lebih-lebih orang tidak sibuk yang berangan-angan menulis sebuah buku. Di dalam buku ini Pak Emcho memaparkan secara mudah, praktis, dan aplikatif mengenai kiat-kiat dan pengalaman beliau dalam menulis buku di tengah kesibukannya menjalani darmanya secara vertikal maupun horizontal.

Setelah membolak-balikkan dan membaca buku ini nantinya diharapkan kita yang sibuk beneran maupun yang merasa sok sibuk tidak lagi berfikap excuse untuk tidak menulis. Karena menulis adalah sebuah kata kerja yang akan memberikan makna bagi diri kita sebagai manusia. Menurut beliau manusia pada hakekatnya adalah subjek. Tanpa kata kerja subjek hanyalah entitas mati, tanpa makna kontekstualitasnya. Bahasa lainnya wujuduhu ka adamihi,  adanya seperti tidak adanya. Ah... betapa naif dan menyedihkannya menjadi makhluk yang seperti itu. Padahal sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain, dan menulis adalah salah satu cara untuk kita mengabadi dan ada serta memberikan sedikit sumbangsih untuk sebuah peradapan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Pram “Menulis adalah kerja keabadian”.

Singkatnya di buku SOS itu nanti anda akan diajak berpetualang di rimba kata, menambang emas pengetahuan dan wawasan tentang kepenulisan, serta mencoba jurus-jurus sakti kepenulisan, sehingga setelah membaca buku SOS diharapkan anda siap di segala medan dan kondisi untuk terus menulis, dan kesibukan tidak lagi menjadi alibi dan dalih untuk tidak menulis. Salam SOS !

*Joyojuwoto, lahir di Tuban, Anggota Komunitas Kali Kening; Santri dan Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” tinggal di www.4bangilan.blogspot.com.

Kamis, 09 Juni 2016

Resensi Buku “Jejak Sang Rasul”

Resensi Buku “Jejak Sang Rasul”
Identitas Buku
Judul Buku      : Jejak Sang Rasul
                          Sebuah Tarikh Singkat Nabi Muhammad SAW
Penulis             : Joyojuwoto
Penerbit           : Dreamedia
Cetakan           : Mei 2016
Tebal               : 177
Kategori          : Nonfiksi
ISBN               : 978-602-6226-09-9

Ulasan buku
Buku Jejak Sang Rasul adalah buku yang menjadi jejak pertama saya dalam menulis sebuah buku. Sebagaimana lazimnya yang pertama, ada nuansa romantis dan keindahan yang mungkin hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang mengalaminya, ya pengalaman batiniyyah semacam ini memang kadang susah disampaikan dalam bentuk tulisan. Saking senangnya, sampai buku ini harus saya resensi sendiri.

Buku ini hadir sebagaimana yang saya tulis sebagai sebuah bentuk lain dari shalawat kepada Nabi, sebuah ungkapan yang tulus, serta rasa cinta yang berbunga, serta kerinduan yang mendalam kepada beliau Rasulullah SAW, dengan harapan dan pamrih kelak kita termasuk umat yang diakui oleh beliau Rasulullah SAW, umat yang berada di bawah bendera dan panji-panjinya.

Buku itu saya tulis dalam rentang waktu yang cukup lama, dalam artian naskah itu lama tidak saya tulis-tulis, saya bingung, ragu-ragu, dan sejumlah perasaan lain yang tidak menentu Ibaratnya buku adalah anak ideologis kita, buah pikiran, perenungan, serta cerminan dari diri dan jiwa kita, jadi sebelum kita melahirkan anak itu, tentu ada berbagai macam perasaan yang menghantuinya. Kalau dalam istilah Jawa seorang yang hampir melahirkan didera rasa sakit yang berkepanjangan yang dikenal dengan istilah mar marti, begitu juga dengan saya, - saya harus melawan berbagai macam rasa itu, akhirnya pada tahun 2015 saya menemukan momentum untuk berani melahirkan. Dengan bergabungnya saya dengan Komunitas Sahabat Pena Nusantara yang digagas dan diketuai Oleh : Ustadz M. Husnaini saya akhirnya punya keberanian untuk meneruskan program menulis saya.

Saya berusaha rutin menulis agar naskah itu segera selesai, alhamdulillah berkat dorongan semangat, dan bimbingan dari para guru, sahabat semua di Komunitas Sahabat Pena Nusantara akhirnya naskah saya bisa diterbitkan, walau  tentu saya sangat menyadari masih banyak kekurangan-kekurangan yang perlu perbaikan di sana-sini.


Mengenai ulasan buku “Jejak Sang Rasul” saya kutipkan testimoni dari para pembaca, monggo disimak :
Testimoni Pembaca

“Segala “Proses menjadi” harus bermula dari dasar. Dan buku yang sedang dalam genggaman Anda ini adalah sebuah dasar kuat untuk mempelajari sejarah dan kebudayaan Islam secara keseluruhan. Jika dihayati, saya yakin buku ini akan menginspirasi umat dalam melanjutkan perjuangan Kanjeng Nabi Muhammad SAW.”
Mohammad Haris Suhud
Penulis Buku Best Seller “Bening Senja”

“Sebagai sebuah karya perdana, buku ini patut diapresiasi. Penulis menuturkan kisah tentang sejarah hidup Rasulullah SAW secara runtut, gamblang dan tidak berbelit-belit sehingga memudahkan pembaca dalam menelusuri Sirah Nabawiyyah. Semoga buku ini  menginspirasi pembaca semua.”
Yuniarta Ita Purnama, S.Pd, M.Pd
Dosen IKIP PGRI Bojonegoro


“Di tengah-tengah mental yang sering mulai goyah akibat kehidupan duniawi. Buku ini hadir untuk mengingatkan kembali perjuangan dan sifat-sifat Nabi Muhammad SAW.”
Endrik Safudin
Penulis Buku “Langkahkan Kakimu”



“Buku yang sangat layak untuk di telaah! Racikan tulisan penulis terasa renyah. Iqra’ tafham, bacalah! Maka anda akan faham bahwa buku yang ada ditangan anda ini terlalu sayang untuk dilewatkan!

Farichatul Aulia
Mahasiswi PBA UIN Surabaya

Buku ini berisi tentang kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW. Kemurahan hati, kesetiaan, keramahan, kejujuran, kedamaian, sifat pemaaf, dan semua kebaikan dalam diri Rasulullah SAW patut untuk kita teladani. Semoga kelak kita diakui sebagai umat-Nya di hari kiamat. Amiin.”

Didik Jatmiko
Ketua Komunitas Blogger Bojonegoro


"Sebuah karya yang layak dibaca bagi mereka yang  punya waktu sempit namun ingin mendapat gambaran umum tentang figur dan perjuangan Rasulullah SAW.” 

Rita Audriyanti - Ibu Rumah Tangga dan Penulis Buku "Haji Koboi. Catatan Perjalanan Haji Backpacker"

“Buku sejarah biasanya tebal, melihatnya saja sudah enggan, apalagi menikmati. Buku ini berbeda, kisah manusia utama pilihan Allah Swt diulas dengan ringkas, padat, dan renyah. Sangat bermanfaat dan mencerahkan.”
Hidayati Nur, Ketua Forum Lingkar Pena Tuban

Demikian sekilas mengenai buku saya “Jejak Sang Rasul” semoga bisa membawa manfaat, dan berbuah syafaat untuk saya khususnya, dan para pembaca tentunya. 

Terima kasih saya sampaikan kepada para guru dan sahabat saya semuanya yang telah ikut membantu terbitnya buku ini, terima kasih untuk Ustadz Husnaini, Kang Haris Suhud, Yuniarta Ita P., Mas Endrik Safudin, Aulia, Mas Didik Jatmiko, Ibu Rita Audriyanti, Mbak Hidayati Nur, dan semua saja yang tidak dapat saya sebutkan satu-persatu. Dan akhirnya Tegur dan sapa dari pembaca sangat saya harapkaan demi perbaikan tentunya. Salam. Joyojuwoto

Resensi Buku “Quantum Ramadhan”

Resensi Buku “Quantum Ramadhan”
Identitas Buku
Judul Buku      : Quantum Ramadhan
                          Cerdas Meningkatkan Kualitas Diri di Bulan Suci
Penulis             : Joyojuwoto dkk (Sahabat Pena Nusantara)
Penerbit           : Genius Media
Cetakan           : 2015
Tebal               : 180
Kategori          : Nonfiksi-Populer/Agama
ISBN               : 978-602-1033-10-4
Ukuran buku   : 13.5 x 20.5 cm

Ulasan buku
Quantum Ramadhan adalah buku perdana dari Komunitas Sahabat Pena Nusantara yang terbit tahun 2015 silam. Buku ini ditulis dalam rangka menyambut bulan yang penuh berkah yaitu bulan ramadhan, kapanpun bulan ramadhan hadir buku ini bisa menjadi salah satu referensi untuk memperbarui dan meningkatkan kualitas diri di bulan suci. Apalagi bulan ramadhan adalah bulan iqra’ maka sangat tepat jika kita memperbanyak membaca baik itu membaca Al Qur’an ataupun membaca buku-buku yang dapat meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT.

Berikut saya kutipkan beberapa kalimat yang luar biasa yang ada di dalam buku ini :
“Ramadhan, sebuah kata yang mengingatkan kita pada suatu bulan yang penuh dengan segala rahasia kebaikan dan keutamaan. Bulan yang mampu mengubah orang-orang menjadi lebih tertata, peduli terhadap lingkungan, dan bahkan peduli terhadap akidahnya sendiri” (Mutiara Ramadhan, Abdul Halim Fathani. Hal. 1)

“Semoga kita disucikan oleh Allah dari segala dosa, sehingga ketika menyambut Idul Fitri, kita benar-benar berjiwa pemenang, jiwa yang sukses mengalahkan nafsu yang bersarang dalam dirinya. Aamin. (Apakah Ibadah Ramadhanku diterima?, Ahmad Rifa’i Rif’an, hal. 11)

“Puasa mempunya arti penting dari segi ruhani. Tanpa itu maka puasa seperti tempurung kosong tanpa isi. (Ramadhan Bulan Pencerahan, Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. hal. 99)

“Jangan sampai umur kita sampai di bulan ramadhan sedang jiwa kita kosong dari mengharap ampunan Allah SWT. (Ramadhan Bukan Basa-basi. Joyojuwoto, hal. 97).

Demikian beberapa kutipan yang saya ambil dari beberapa penulis di buku Quantum Ramadhan, semoga memberikan sedikit peta mengenai isi buku tersebut.

Yang pasti buku ini hadir ke tangan pembaca sebagai ikhtiar para penulis “Saahbat Pena Nusantara” dalam rangka membumikan “makna” ramadhan agar terinternalisasikan dalam kehidupan kita umat Islam, agar umat Islam dalam beramadhan tidak hanya sekedarnya saja namun benar-benar mampu meraih derajad ketaqwaan di sisi Allah SWT sebagaimana yang menjadi tujuan dari puasa itu sendiri, la’allaqum tattaquuna. Joyojuwoto

Minggu, 05 Juni 2016

Resensi Buku Quantum Cinta

Resensi Buku “Quantum Cinta”

Identitas Buku
Judul Buku      : Quantum Cinta
                          Aneka Menu Hidangan Jiwa
Penulis            : Joyojuwoto dkk 
                          (Sahabat Pena Nusantara)
Penyunting      : M. Husnaini, Rita Audriyanti
Penerbit           : Genius Media
Cetakan           : 2016
Tebal               : 230
Kategori          : Nonfiksi-Motivasi/Karir

Ulasan buku
Buku yang berjudul “Quantum Cinta, Aneka Menu Hidangan Jiwa” adalah buku kedua yang ditulis bersama oleh Komunitas Literasi “Sahabat Pena Nusantara.” Lazimnya buku Antologi buku ini ditulis oleh para penulis dengan berbagai latar belakang yang berbeda tentunya, namun dengan ketentuan tema yang dipilih hal ini menjadikan fokus kajian buku ini tidak melebar.

Tema cinta dalam buku ini sangat beragam dan mendiaspora dalam berbagai aspek kehidupan kita. Karena memang tidak ada satu pun celah dalam kehidupan ini yang nir akan cinta. Cinta selalu menjadi semacam daya tarik yang menggerakkan segala potensi kejiwaan manusia. Menarik sekali apa yang ditulis oleh Endrik Safudin dalam tulisannya yang berjudul “Dari dan Untuk Cinta” ia menuliskan :
“Dengan cinta dan untuk cintalah langit dan bumi diciptakan. Dari cintalah langit dan bumi dihadirkan. Atas dasar cintalah semua makhluk diberi fitrahnya masing-masing. Karena cintalah seluruh planet bergerak pada garis edarnya. Malam berganti siang. Siang berganti malam. Matahari bersinar di pagi hari dan bulan bersinar di malam hari”

Begitu dahsyat energi cinta hingga apapun tunduk atas nama cinta. Dalam sebuah maqalah disebutkan man ahabba syai’an fahuwa abdun lahu (barangsiapa yang mencintai sesuatu maka ia menjadi hamba dari sesuatu itu) ini adalah isyarat bahwa potensi cinta memang sangat luar biasa. Dalam pengantarnya Prof. Dr. Imam Suprayogo guru besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengatakan mengenai tiga kata yang berbeda namun memiliki kaitan erat, yaitu Cinta, Perjuangan, dan Pengorbanan. Dari kata cinta itulah nantinya akan melahirkan potensi perjuangan dan pengorbanan. Hampir tidak ada perjuangan dan pengorbanan tanpa menyertakan energi cinta di dalamnya.

Cinta adalah energi yang tidak tampak wujud dan bentuknya secara kasat mata, tetapi tampak jelas jejak dan tapak tilasnya. Seorang fisikawan menyebutnya gelombang elektro-magnetik. Cinta selalu menghadirkan gelombang partikel dan bentuk-bentuk manifestasi yang baru tanpa batas (QC, hal : 5).  Inilah “ketidak terbatasan” cinta yang selalu menjadi medan energi bagi sebuah perubahan dan menjadi mata air penyejuk bagi sebuah peradaban dunia. Semua menjadi indah dengan cinta, karena cinta tidak pernah membutuhkan alasan-alasan apapun itu, sebagaimana kita tidak perlu beralasan lagi mengapa mencintai orang yang kita cintai, kecuali hanya alasan cinta bukan ?

Hadirnya buku ini ke tangan pembaca semua, tidak lain semoga bisa memberikan sedikit sumbangsih bagi geliat dunia literasi di negeri kita tercinta, dan tentunya juga dalam rangka mengabadikan ibrah dalam goresan tinta. Semoga hal ini menjadi amal jariyah dan kebaikan bagi para penulisnya dan bagi kita semua. Amin. Joyojuwoto


Jumat, 03 Juni 2016

Resensi Buku “Surgaku Adalah Mengajar”

Resensi Buku “Surgaku Adalah Mengajar”
Identitas Buku
Judul Buku      : Surgaku Adalah Mengajar
                          Kumpulan Tulisan Mengenang KH. Abd. Moehaimin Tamam
Penulis             : Tim Majalah KMI ASSALAM
Editor              : Juwoto, Adzim Muntolib
Lay Out           : Misbahul Munir
Penerbit           : ASSALAM Press
Cetakan           : 2016
Tebal               : 276
Kategori          : Nonfiksi-Biografi

Ulasan buku
Tiada sesuatu yang lebih membahagiakan selain mengenang, apalagi itu mengenang sosok yang teramat istimewa di hati kita. Begitu pula dengan buku ini adalah sebuah kenangan indah, kenangan yang kadang membuat butiran air mata ini deras mengalir. KH. Abd. Moehaimin Tamam atau sering dipanggil Abah adalah sosok yang patut dan layak dikenang khususnya oleh santriwan-santriwati pondok Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban Indonesia.

Buku “Surgaku Adalah Mengajar” ini ditulis oleh tim Majalah ASSALAM berdasarkan hasil dari wawancara dengan berbagai pihak seperti : Keluarga ndalem, Dewan Asatidz, Alumni dan para santri tentunya yang mana buku ini menceritakan secara intim hubungan antara Sang Guru terhadap santri-santrinya. Buku ini ibarat tali ikatan batin atau alaqah ruhiyah antara Kyai dengan santrinya yang tidak terputus walau salah satu diantara mereka telah tiada dan berpisah secara fisik, namun dimensi batin terus tersambung hingga kelak sama-sama bersatu dalam kasih sayang dan ridho Allah SWT.

Sungguh suatu kebahagiaan tersendiri seseorang yang merasakan dunia pondok pesantren, dunia yang penuh dengan cinta, keakraban, keta’dziman, dan tentu dunia untuk saling menebar berkah rahmatan lil’alamin. Dunia pesantren ibarat ladang pembenihan yang selalu membutuhkan siraman air kehidupan sehingga benih-benih itu akan tumbuh menjadi tanaman yang subur. Seorang Kyai  ibarat air bagi benih-benih itu. Ibarat telur-telur ayam yang tidak akan menetas kecuali diangkremi oleh induknya, dan Sang Kyai adalah induk bagi santri-santrinya.

Begitulah gambaran kehidupan antara Sang Kyai dan santrinya, jadi sangat wajar sekali jika para santri sangat merindukan siraman air kehidupan dan membutuhkan angkreman dari Kyainya. Hubungan mereka diibaratkan dalam hadits Nabi “Rajulaani Tahabba Fillah, Wa Tafarraqa Fillah” Dua orang yang saling mencintai karena Allah, dan beripisah juga karena Allah Swt semata.

Begitu pula dengan Abah Moehaimin Tamam di mata keluarga ndalem, dewan Asatidz, dan para santri yang masih mukim ataupun yang sudah alumni. Beliau adalah sosok yang selalu hidup di hati sanubari dan selalu menjadi sumber kerinduan para santrinya yang telah mencecap jernihnya air pesantren, segarnya udara pesantren, dan menapakkan kakinya di keberkahan Kampung Damai ASSALAM Bangilan Tuban.

Dalam WA-nya beberapa alumni banyak meng-quote beberapa tulisan penting di buku tersebut diantara bernama Mohammad Haris Suhud dari Ngasem Bojonegoro menguraikan dengan apik tentang beberapa hal yang tertulis di buku itu, diantaranya :

“...Ibuk bertanya pada Abah. “Anakmu mbuk wei opo ? beliau menjawab dengan mantapnya “Rezeki anak itu sudah ada sendiri. Kalau kita meninggali mereka ilmu, InsyaAllah rezeki akan mengikuti mereka. Ndak usah kita memikirkan akan kita kasih apa anak kita (Hj. Noor Anim Suryawati : SAM hal. 34)

Kemudian salah satu alumni dari Grobogan Purwodadi juga menukil salah satu tulisan :
“Yik Husain : Sampeyan nek nyantri ning Pak Moehaimin sing tenanan, Kyaimu kuwi pinter tenan, ilmune akih” (Ust. Sutrisno)

“Di sela-sela itu, beliau dawuh kepada saya : “Ju ASSALAM baru seperti ini atau sudah seperti ini ? (Mbah Ju hal. 189)

Dan terakhir saya tutup dengan apa yang saya tuliskan sendiri di alinea terakhir tulisan saya di buku itu yang berbunyi :
Kini pesantren ASSALAM yang dulu diperjuangkan oleh beliau Abah Moehaimin Tamam telah menginjak dewasa, estafet tali kepemimpinan telah diwariskan pada genersi selanjutnya. Tuhan telah memeluk kekasihnya dalam kasih dan cinta-Nya. Semoga beliau Abah Moehamin Tamam tersenyum bahagia melihat taman surga membumi, semoga beliau bangga melihat bunga-bunga pesantren yang dulu ditanamnya kini telah bermekaran mewangi semerbak memenuhi bumi Persada Nusantara. Amin. (Joyojuwoto hal : xiii)

Demikian sekilas dari buku “Surgaku Adalah Mengajar” semoga pendar-pendarnya bersinar dan memberikan manfaat bagi santriwan-santriwati ASSALAM khususnya dan bagi bumi persada Nusantara pada umumnya. Joyojuwoto.