Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Desember 2017

Titi Kala Mangsa di Bumi Tuban

Titi Kala Mangsa di Bumi  Tuban
Oleh : Joyo Juwoto

Saat perayaan hari jadi Kota Tuban yang ke 724 kemarin ada hal yang sangat menarik bagi saya, salah satunya adalah hadirnya presiden Jancukers Mbah Sujiwo Tejo. Kehadiran Mbah Sujiwo Tejo memang tidak direncakanan,sehingga kehadirannya menjadi kejutan bagi jama’ah maiyah Tuban. Saya sendiri juga tidak mengetahui kehadirannya, namun beberapa saat sebelum Cak Nun dan Kiai Kanjeng naik panggung, saya melihat foto Sujiwo Tejo dan Cak Nun yang dishare oleh Mbak Nining penyiar radio pradya suara.

Jika diperkenankan mengaku, saya memang termasuk jama’ah maiyah Cak Nun, walau saya tidak selalu hadir di pengajian Cak Nun. Paling-paling saya hadir di pengajian yang dekat dengan tempat tinggal saya saja, namun demikian saya sering membaca dan menyimak tulisan-tulisan Cak Nun dari buku yang ditulisnya maupun dari internet.

Sedang Sujiwo Tejo, saya juga mengidolakannya. Saya suka dengan quote-quotenya yang cetar membahana. Saya juga suka tulisan-tulisannya, begitu juga dengan lagu-lagunya. Menurut saya Sujiwo Tejo orangnya ini memang njancuki. Saya dulu sering menyimak foto-foto senja di time line twitternya.

Melihat kedatangan Presiden jancukers, akhirnya melalui siaran radio Pradya  suara, saya  ikut menyimak dari rumah acara maiyah yang diselenggarakan di alun-alun Tuban itu. Sebelum  kedatangan mbah Sujiwo Tejo ke Tuban, saya sudah suka dengan lagu dan lirik-lirik yang dibawakan oleh beliau, walau demikian dari sekian lagu yang baru saya hafal hanya lagu dengan judul “Titi Kala Mangsa”. Jika tak percaya, Anda bisa mencoba meminta saya menyanyikan lagu itu, bila sedang enak hati, tentu saya dengan senang hati akan bernyanyi untuk anda.

Lagu Titi Kala Mangsa sebagaimana lagu-lagu Mbah Sujiwo Tejo lainnya bercengkok Banyuwanginan dan bernuansa kejawen magis, dan yang pasti lagu ini dan lagu-lagu Sujiwo Tejo lainnya selalu menyimpan pralambang dan makna yang cukup dalam. Coba perhatikan liriknya :

“Titi Kala Mangsa”

“Wong takon, wosing dur angkara
antarane rika aku iki
sumebyar ron-ronaning kara
janji sabar, sabar sak wetara wektu
kala mangsane Nimas, titi kala mangsa
Titi Kala Mangsa

Pamujiku dibisa
sinudya korban djiwangga
pamungkase kang dur angkara
Titi Kala Mangsa

Agar kita memahami isi dan pesan yang terkandung di lirik lagu itu, tentunya kita harus tahu arti bait perbaitnya. Karena era jaman now, tidak semua orang mampu memahami lirik lagu Mbah Sujiwo Tejo yang memakai bahasa Jawa. Secara bebas arti dari lagu itu kira-kita demikian :

“Pada Suatu Ketika”

Orang-orang sama bertanya, kapan berakhirnya keangkara murkaan
Diantara engkau dan aku
daun-daun kara betebaran
Bersabarlah, bersabarlah untuk sementara waktu
Nanti suatu ketika dinda, pada suatu ketika

Doaku semoga
korban jiwa raga berkurang
akhir dari keangkara murkaan
adalah pada suatu ketika”

Dari lagu itu, mungkin tidak secara gamblang kita memahami makna yang terkandung di bait-bait liriknya, karena memang Mbah Sujiwo Tejo gemar berteka-teki dengan lirik lagunya. Tapi setidaknya lagu ini mengisyaratkan bahwa keangkara murkaan akan selalu ada di setiap zaman dan waktu. Semua itu adalah keniscayaan kehidupan, tetapi Mbah Sujiwo Tejo juga berharap dalam doaya agar korban dari keangkara murkaan itu berkurang, karena akhir dari keangkara murkaan adalah titi kala mangsa itu sendiri, atau pada suatu ketika yag tidak pernah selesai.

 Jika keangkara murkaan tidak pernah selesai, atau akan selalu ada di setiap titi kala mangsa, maka jawabannya hanyalah apakah kita yang ikut mengusahakan dan mendoakan agar korban-korban dari nafsu angkara murka tidak banyak berjatuhan, ataukah justru kita menjadi  sumber dari keangkara murkaan itu sendiri, tentu jawabannya kita telah maklum semua. Salam Rahayu.


Kamis, 07 Desember 2017

Wejangan Presiden Jancukers di Hari Jadi Tuban Yang ke 724

Wejangan Presiden Jancukers di Hari Jadi Tuban Yang ke 724
Oleh : Joyo Juwoto

Perayaan hari  jadi Tuban yang ke 724 kemarin berjalan cukup meriah, salah satunya adalah kegiatan yang banyak dinanti oleh masyarakat yaitu ngaji budaya bersama Cak Nun dan Kia Kanjeng. Pengajian yang dilaksanakan di alun-alun kota Tuban kemarin cukup meriah dan gayeng, sayang beribu sayang, saya tidak bisa hadir di acara tersebut.

Cak Nun dan Kiai Kanjengnya selalu bisa memberikan hal-hal yang baru dan segar di setiap penampilannya, saya sendiri termasuk penyuka lagu-lagu yang dibawakan oleh Kiai Kanjeng. Tentang ngaji budaya Cak Nun dan pembangunan konstruksi pemikiran generasi muda, saya sangat suka, tapi untuk tulisan saya ini saya ingin mengulas sedikit mengenai apa yang disampaikan oleh bintang tamu sang Presiden Jancukers Indonesia, Sujiwo Tejo.

Presiden Jancukers Sujiwo Tejo dalam pembicaraannya di alun-alun kemarin banyak menggunakan bahasa-bahasa yang dalam, penuh metafor dan juga dengan lagu-lagu yang digubahnya. Menurut Sujiwo Tejo, tidak ada yang mampu mencipta kecuali Tuhan, oleh karena itu dia lebih suka menggunakan kata menggubah lagu.

Di awal berbicara Sujiwo Tejo memperkenalkan lagu kebangsaan Republik Jancukers. Dalam definisi buku Republik Jancukers (2012), Sujiwo Tejo memperkenalkan definisi kata “Jancuk” dengan sebuah syair yang luar biasa “Kalau dengan jancuk pun aku tidak bisa menjumpai hatimu dengan air mata mana lagi dapat kuketuk hatimu” wis mbuh lah sak karepmu mbah!

Sesudah membahas kata “Jancuk” lagu kebangsaan Jancukers pun dinyanyikan dengan iringan musik dari Kiai Kanjeng. Setelah membahas kalimat itu, Sujiwo Tejo membahas mengenai wayang, tentang kesejatian dalam pralambang cerita Bambang Ekalaya yang berguru pada Resi Durna. Karena tidak bisa berguru secara langsung, Ekalaya berguru pada patung Resi Durna di tempat latihannya di hutan Parang Gelung. Walau demikian kemampuan memanah Ekalaya mampu mengalahkan Arjuna yang berguru secara langsung kepada Resi Durna.

Di akhir acara, Sujiwo Tejo membahas dan menjabarkan dengan indah dan syahdu mengenai makna keikhlasan yang diambilkan dari ajaran Raden Sosro Kartono (Kakak RA. Kartini). Ajaran itu tertulis di nisan beliau yang ada di kota Kudus. Bunyi ajaran itu sebagai berikut :

“Sugih tanpa bandha
Digdaya tanpa aji
trimah mawi pasrah
sepi pamrih, tebih ajrih

Langgeng tanpa susah, tanpa seneng
anteng mantheng
sugeng jeneng”

Ajaran adi luhur dari Raden Sosro Kartono ini juga telah digubah oleh Sujiwo Tejo menjadi sebuah lagu yang bercengkok Banyuwangi. Saya termasuk orang yang ngefans dengan lagu-lagu yang digubah dan dinyanyikan oleh Presiden Jancukers Indonesia itu.

Dalam filosofi wayang, Semar berkata seseorang itu harus memiliki sifat Tadah, Pradah, Ora Wegah. Tadah adalah tiada doa lain kecuali alhamdulillah. Pradah bermakna ikhlas, ora wegah bermakna saguh, atau siap menjalankan amanah dengan sebaik mungkin. Siapapun yang  memiliki sifat tadah, pradah, dan ora wegah, tidak perduli apakah ia kaya atau miskin, apabila dia membutuhkan segala sesuatu yang berkenaan dengan urusan-urusannya, maka Gusti Allah akan mengijabahi permintaannya.

Di akhir acara ngaji bareng Cak Nun, masing-masing narasumber mengakhiri pertemuan malam itu dengan kalimat inti dan closing statement. Sebagaimana biasanya Sujiwo Tejo menutup pertemuan itu dengan kalimatnya yang fenomenal yang berbunyi :

“Menghina Tuhan nggak harus menginjak-injak kitab suci-Nya, nggak harus memain-mainkan nama Rasul-Nya. Besok khawatir kau tidak bisa makan saja itu sudah menghina Tuhan”

Demikian sedikit hal yang dapat satu tulis dan saya rangkum dari wejangan Presiden Jancuker Indonesia. Salam Rahayu.



Sabtu, 02 Desember 2017

Meniti Jejak Sang Rasul

Meniti Jejak Sang Rasul
Oleh : Joyo Juwoto

Di dunia ini sosok manusia yang paling mulia, yang paling agung dan layak untuk kita ikuti jejaknya adalah Nabi Muhammad Saw.  Kemuliaan dan keagungan Nabi Muhammad Saw tidak hanya pada saat beliau hidup dan ada, namun sesudah beliau tiada pun kemuliaannya tiada tergantikan. Bahkan kemuliaan Nabi Muhammad telah ada sebelum jagad raya dan alam semesta ini ada. Nama beliaulah yang menjadi alasan Allah Swt menciptakan semesta raya.
Dalam sebuah hadits Qudsi Allah Ta’ala berfirman :

اوّلُ ماَ خَلَقَ الله تّعّالّى نُوْرِي.ْ

Artinya : “Pertama-tama yang dijadikan Allah Swt, adalah cahayaku (nur-ku)”.

Oleh karena itu seluruh semesta raya senantiasa mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, para malaikat juga bershalawat kepada beliau, Allah Swt menegaskan hal ini di dalam surat AL Ahzab ayat 56 yang artinya : “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.

          Jika Allah dan malaikat-malaikat-Nya sama bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw, tentu kita pun harus senantiasa menyenandungkan shalawat kepada beliau, baik itu shalawat yang berupa ungkapan lisan maupun shalawat yang berupa meneladani segala uswah hasanah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw, karena beliau adalah sebaik-baik teladan.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (٢١)

Artinya : :Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”.

Lalu pertanyaannya sudahkan kita mencontoh perilaku Nabi Muhammad dalam kehidupan kita sehari-hari? Tak perlu kita menjawab secara lisan, mari kita muhasabah diri, bercermin dan melihat diri kita sendiri, sudah sejauh mana kita meniti Jejak Sang Rasul, utusan Allah Swt.

Tidak perlu kita muluk-muluk mengaku sebagai umat Nabi Muhammad, jika dalam hati kita masih menyimpan iri dan dengki, tak perlu kita berkhutbah dengan gagah di atas mimbar-mimbar menyatakan diri paling mencintai dan meneladani Kanjeng Nabi Muhammad jika diri ini masih merasa paling benar sendiri, dan mengabaikan segala perbedaan.

Mari bersama meniti jejak sang rasul dengan terus berlatih dan berproses menjadi muhammadiyyin sejati. Jika kita NU maka NU kita adalah NU Muhammadiyyin, jika kita Muhammadiyah maka harus lebih Muhammadiyyin, menjadi FPI, Persis yang Muhammadiyyin, dan semuanya bersatu dalam barisan Muhammadiyyin yang rahmatan lil ‘alamin karena  Nabi Muhammad Saw diciptakan oleh Allah sebagai pembawa misi rahmatan lil ‘alamin bukan laknaatan lil ‘alamin.

Dalam surat Al Anbiya’ ayat 107 Allah Swt berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ (١٠٧)

Artinya : “ dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.

Rahmat di ayat tersebut berasal dari kata Rahima, yang berarti kasih sayang. Kasih sayang di sini menjadi titik point penting dalam ajaran Nabi Muhammad Saw, yaitu menebar kasih sayang kepada alam semesta. Ajaran kasih sayang ini diajarkan dan dicontohkan Nabi Muhammad Saw dalam kehidupannya sehari-hari.

Mari bersama meneladani kepribadian agung Nabi Muhammad Saw, mari meniti jejak-jejak Sang Rasul agar kelak kita diakui sebagai umatnya, dan mendapatkan karunia berupa syafa’atul udzma. Aamiin... Aamiin ya rabbal ‘alamin. Shalluu ‘alan Nabi Muhammadin.


Rabu, 29 November 2017

Kembali ke akar kembali ke asal

Kembali ke akar kembali ke asal
Oleh : Joyo Juwoto

Kampung halaman adalah sumber air bening asal muasal kehidupan anak manusia, kampung halaman adalah kemurnian udara yang kita cecap yang kemudian mengalir bersama darah dan denyut nadi kita, Kampung halaman adalah matahari yang menjadi penerang bagi derap langkah manusia ke depan, kampung halaman adalah ibu bumi pertiwi yang melahirkan anak-anak manusia menjadi yang sekarang.

Kampung halaman adalah tanah tumpah darah di mana kesetiaan janji primordi digantungkan. Di manapun manusia berada tentu ia akan sangat merindukan kampung halamannya. Sejauh dan setinggi apapun manusia mengepakkan sayap-sayapnya ia akan selalu terbayang dan terkenang jua di mana ia berasal dan dilahirkan.

Kampung halaman ibarat tanah subur di mana akar-akar kehidupan mencecap hara kesucian dan tempat air kehidupan tersimpan. Setinggi apapun pohon tidak akan pernah lepas dari tanah dimana ia berpijak.  Kampung halaman menyimpan sejuta cinta dan selaksa rindu yang tersimpan di relung jiwa, yang pada saatnya akan terurai dalam pertemuan agung yang dikenal dengan nama pulang kampung.

Kampung halaman adalah tempat di mana kakang kawah adi ari-ari, getih dan puser kita bersemayam, terpendam di kedalaman bumi yang kita pijak, di kesunyian bumi batin yang terdalam dalam diri manusia. Maka ingatlah selalu kawah, ari-ari, getih dan pusermu, urip kuwi aja lali marang udele dewe, agar engkau tidak tersesat, karena pada dasarnya hidup haruslah mengerti sangkan dan paran. Sangkan Paraning Dumadi.

Sangkan berarti darimana engkau berasal, siapa engkau sesungguhnya, dan paran berarti akan kemana engkau kelak, untuk apa engkau dicipta, tujuan apa yang akan engkau capai di bayang-bayang kehidupan yang sementara ini, dan bagaimana akhir dari kehidupanmu.

Yang dari tanah kembali ke tanah
yang dari api kembali menjadi api
yang dari air kembali menjadi air
yang dari angin kembali menjadi angin
semuanya kembali menjadi cahaya
cahaya putih, cahaya kuning, merah, dan hitam
tenggelam, menyatu dalam cahaya kesejatian
kembali, kembali dalam kesejatian
Kun ma’allah


Setiap fase kehidupan pasti memiliki muara untuk kembali ke asal, kembali ke akar, kembali ke sumber, orang Jawa mengatakan bali marang mula mula nira, kembali kepada asal muasal kita. Dari tidak ada menuju ketiadaan, hanya yang sejati yang selalu ada dan tidak pernah hilang. Kesejatian itu hayyun la yamut, Yang Maha Hidup dan tidak pernah mati. Orang yang lupa jalan kembali akan tersesat dan kehilangan kesejatian, karena pada dasarnya kesejatian adalah puncak dari segala tujuan hidup manusia. Kun Ma’allah.

Senin, 23 Oktober 2017

Ribuan Santri Bangilan Gelar Apel Akbar dan Pawai Ta’aruf HSN 2017

Ribuan Santri Bangilan Gelar Apel Akbar dan Pawai Ta’aruf HSN 2017
Oleh : Joyo Juwoto

Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Kec. Bangilan tahun ini cukup istimewa, setelah malam harinya sukses menggelar acara pembacaan shalwat nariyah, dan disambung dengan nonton bareng film Sang Kiai di pendopo Kecamatan. Pada pagi harinya dilanjutkan apel Akbar Peringatan Hari Santri Nasional sekabupaten Tuban yang dilaksanakan di lapangan Sendang Kec. Senori.

Kemeriahan peringatan HSN di Kec. Bangilan dilanjutkan dengan acara Apel Akbar dan Pawai Ta’aruf yang dipusatkan di lapangan Gelora 17 Agustus Kec. Bangilan, siang hari sekitar jam 13.00WIB hingga berakhirnya acara. Tampil sebagai pembina Apel Akbar Santri Bangilan, bapak Camat, Moh. Maftuchin Riza.

Ribuan santriwan-santriwati dari berbagai ormas, pondok pesantren, dan madrasah yang dimotori oleh NU dan DPC PGMI Kec. Bangilan meramaikan peringatan HSN di kecamatan Bangilan. Setelah apel Akbar, para santri melakukan long marc sepanjang jalan raya Bangilan dengan pakaian kebesaran santri, yaitu bersarung dan berpeci, sedangkan bagi santriwati berbusana muslimah dengan lambaian dan kibaran jilbabnya.

 “Kami mengadakan peringatan HSN 2017 dengan rangkaian acara nobar dan juga Apel Akbar serta Pawai Ta’aruf bersama masyarakat Bangilan, ingin menginspirasi kepada santri dan generasi muda penerus perjuangan bangsa, biar mereka mengetahui kegigihan serta keuletan filosofis politik kiai yang selalu istiqomah dan tangguh, bukan untuk diri beliau sendiri, akan tetapi semata-mata untuk kepentingan umat.” Demikian tutur ketua DPC PGMI Kec. Bangilan, Bapak Kiai Mukhlisin, S.Pd.I.

Lebih lanjut Pak Muklisin mengatakan bahwa “Santri bukan saja mereka yang pernah mencicipi pesantren, namun siapapun saja yang mengerti dan meneladani perjuangan Kiai dalam berjuang dan berkorban untuk negeri adalah seorang santri. Sekalipun ia tidak mengerti huruf hijaiyyah.” Demikian dawuh dari beliau.

Selasa, 10 Oktober 2017

Inilah Nasehat KH. Muchit Muzadi Al Bangilani

Inilah Nasehat KH. Muchit Muzadi Al Bangilani
Oleh : Joyo Juwoto

Siapa yang tidak kenal  salah satu Kiai kharismatik kelahiran asli dari Bumi Bangilan Tuban, sosok Kiai yang sederhana, tawadhu’ dan ikhlas. Mbah Muchit adalah salah seorang Ulama NU yang tahu banyak tentang NU dengan segala isinya. Menurut K.H. M.A. Sahal Mahfudh, mbah Muchit itu orang yang tahu seperti apa NU, kemana NU, dan bagaimana seharusnya NU. Pokoknya Mbah Muchit adalah sosok yang mengerti NU sak jerohane.
Tidak aneh memang jika mbah Muchit mengerti benar organisasi kemasyarakatan terbesar di Nusantara ini, karena beliau masuk NU tahun 1965 yaitu sejak masa Mbah Muchit menjadi santri hadratus Syekh di pondok pesantren Tebu Ireng Jombang. Saat itu untuk masuk menjadi anggota NU membayar iuran sebesar 25 sen, sedang uang syahriyah yang harus dibayarkan adalah sekitar 20 sen. Kartu tanda keanggotaan NU mbah Muchit saat itu ditanda tangani langsung oleh Mbah Abdul Wahab Chasbullah.
Oleh karena itu, karena pengetahuan mbah Muchit tentang NU telah khatam, dan juga karena kedekatan mbah Muchit dengan tokoh-tokoh kunci NU, serta telah masuk NU sejak awal, maka mbah Muchit ini layak  dijuluki sebagai Kiai pakar Khittah NU. Tidak jarang banyak tokoh-tokoh NU yang berkonsultasi dengan mbah Muchit tentang ke-NU-an, karena beliau memang mengerti luar dalam apa itu NU.
Oleh karena itu, para kader dan tokoh NU sebagai generasi penerus perjuangan para Ulama Nahdlatul Ulama untuk terus belajar dan meneladani nilai-nilai kearifan yang dicontohkan oleh Ulama-ulama terdahulu.
Salah satu pesan yang selalu disampaikan dan diwanti-wanti oleh Mbah Muchit Muzadi untuk warga NU bahwasanya NU adalah tempat ndandakno awak “memperbaiki diri” bukan tempat rebutan iwak “tempat berebut rezeki”. Masuk NU harus dengan ikhlas untuk memperbaiki diri, bukan karena pamrih untuk mengais rezeki, demikian pesan yang disampaikan oleh Mbah Muchit Muzadi seorang Kiai kelahiran Bangilan Tuban yang kini tinggal dan menetap di dekat Masjid Sunan Kalijaga Jember hingga akhir hayat beliau. Semoga amal ibadah beliau diterima oleh Allah Swt, dan diampuni segala dosa dan kesalahannya. Aamin.



Senin, 09 Oktober 2017

Ulama dan Santri Pusaka Nusantara

Ulama dan Santri  Pusaka Nusantara
Oleh : Joyo Juwoto*

Tidak diragukan lagi peran Ulama dan santri bagi negeri  Nusantara kita tercinta, hampir di setiap tempat di desa-desa di wilayah Nusantara dan Jawa khususnya memiliki punden atau sesepuh desa. Dipercaya punden atau tempat yang dianggap keramat dan dihormati adalah maqamnya para ulama yang berjasa membuka perkampungan atau menjadi penyebar agama Islam yang pertama.
Ulama-ulama dan para santri tersebut dianggap menjadi cikal bakalnya suatu perkampungan, sehingga tidak heran masyarakat menjaga punden dan maqamnya para ulama dengan cara menggelar kegiatan rutin tahunan yang dikenal dengan sebutan Khaul.
Penghormatan masyarakat terhadap maqam para ulama tentu tidak berlebihan dan melampaui batas. Masyarakat berusaha memberikan bakti syukur dengan cara mengadakan tahlilan, yasinan, khataman Al Qur’an, dan mendoakan para arwah terdahulu yang telah berjasa membuka desa dan mengajarkan agama Islam kepada generasi selanjutnya.
Ulama dan santri memang menjadi pusaka bagi daerah mereka masing-masing. Bahkan dalam sebuah riwayat cerita ketika pulau Jawa belum ada manusia yang menempati, saat pulau jawa masih angker gung lewang lewung, jalma moro jalma mati. Hutan-hutan dan gunungnya dihuni oleh berbagai makhluk angker, Jin-jin, setan, gendruwo, brekasaan, kuntil anak, kemamang, banaspati dan berbagai makhluk mengerikan lainnya.
Sultan Rum, kemudian mengirimkan ekspedisi manusia untuk menempati tanah Jawa. Namun ekspedisi itu gagal, karena rombongan itu banyak yang mati ditelan oleh makhluk-makhluk ghaib tanah Jawa. Singkat kata kemudian Sang Sultan mengirimkan seorang sakti yang bernama Syekh Subakir. Dipercaya Syekh Subakir inilah yang kemudian menumbali tanah Jawa sehingga bisa ditempati oleh manusia.
Jika kita melihat fenomena sejarah yang ada di masyarakat Nusantara, cerita mengenai Syekh Subakir ini bukanlah hal yang aneh. Dibanyak tempat di tanah Jawa terdapat maqam para wali sebagai pepunden yang dihormati oleh masyarakat. Sebut saja di Tuban yang dikenal sebagai Bumi Wali, hampir disemua tempat terdapat maqam para wali yang menjadi pusaka bagi masyarakat sekitar. Hal ini pula yang mengilhami Pemerintah daerah Tuban menyebut Tuban sebagai Bumi Wali, walau tentu ada kontroversi juga dalam penyebutan ini.
Tidak berlebihan sekiranya saya mengatakan bahwa Ulama dan santri pada hakekatnya adalah pusaka-pusaka negeri nusantara ini. Selain karena banyaknya punden-punden keramat para wali yang notabenenya adalah para Ulama dan santri, perjuangan dalam merebut dan membela kedaulatan Negeri Nusantara ini juga tidak terlepas dari peran para Ulama dan Santri.
Seperti yang saya tulis di depan tentang penumbalan tanah Jawa oleh Syekh Subakir, kemudian dilanjutkan masa penyebaran Islam era Walisongo, dan peran ulama dan santri terus berlangsung hingga kini. Sebut saja perjuangan pangeran Diponegoro seorang santri yang didukung oleh Kyai Maja, Sentot Ali Basya, dan beberapa Kiai lainnya.
 Termasuk juga yang menjadi cikal bakal pondok pesantren Tambak Beras dan Tebu Ireng di Jombang adalah pengikut dan orang kepercayaan Pangeran Diponegoro yang berhasil meloloskan diri dari kejaran Belanda. Namanya Mbah Abdussalam. Dari Mbah Abdussalam inilah terlahir tokoh besar pendiri Nahdhatul Ulama KH. Hasyim Asy’ari dan Mbah Wahab Chasbullah.
Selain tokoh-tokoh ternama di atas kita juga sering mendengar wali-wali yang menjaga dan menjadi pusaka Nusantara tercinta ini. Kisah-kisah kelebihan para ulama dan santri sudah menjadi kisah yang begitu melegenda di tengah masyarakat. Seperti kisah Kiai Abbas yang mampu menaklukkan bom pada perang 10 November di Surabaya, Kisah Gus Maksum sang pendekar NU, Kisah Mbah Hamid Pasuruan yang ngerti sak durunge winarah, Kisah Gus Dur dengan berbagai kelebihannya, di Tuban ada juga ada kisah karamahnya  Syekh Assomadiyah Makam Agung yang ketika berjalan untuk shalat jama’ah di Masjid Agung Tuban, melewati tempat hiburan orang-orang Belanda musiknya tiba-tiba mati, dan masih banyak sekali kisah ulama dan santri yang menjadi khasanah dan kearifan lokal di tengah masyarakat.
Yang saya ceritakan di atas itu yang kelihatan, belum lagi para ulama-ulama yang menjadi waliyullah yang duduk diam berkhidmat untuk umat dengan seribu karamah yang mereka miliki. Yang pasti Negeri Nusantara ini dipusakai oleh Ulama dan santri, yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan.

*Joyo Juwoto. Santri Ponpes ASSALAM Bangilan Tuban Indonesia.


Sabtu, 30 September 2017

Menggapai Khusyu’ Dalam Shalat

google.com
Menggapai Khusyu’ Dalam Shalat
Oleh : Joyo Juwoto

Shalat adalah salah satu cara seorang hamba menyapa Tuhannya, seseorang tidak akan bisa menyapa Tuhan dengan penuh kekhusyukan dan ketawadhuan, sebelum hamba tersebut benar-benar mengenal Tuhannya dengan baik. Dan seseorang tidak akan sampai pada maqam mengenal Tuhan jika ia belum mengenal dan memahami dirinya sendiri.

Ada istilah tak kenal maka tak cinta, begitu pula dalam ibadah shalat, jika seorang hamba belum mengenali Tuhannya mustahil ia bisa menyapa Tuhan dalam shalatnya. Sehingga dalam shalat tidak didapati rasa kenikmatan, ketenangan dan keintiman. Hamba yang kehilangan makna dan hakekat shalat akan menjadikan shalat hanya sebagai penggugur kewajiban saja, shalat sambil lalu, tanpa sampai pada maqam hakekat dari ibadah shalat.

Seorang hamba yang merasakan cinta, tentu akan merasa butuh dan ingin selalu bertemu dengan yang dicintainya.  Begitu juga perumpamaan jika kita mencintai Tuhan dan butuh akan kehadiran-Nya. Perasaan cinta dan merasa butuh inilah yang akan menjadi sebuah energi untuk mendekatkan diri seorang hamba kepada Tuhannya. Karena tak ada kedekatan dan keintiman melebihi perasaan jatuh cinta.

Ibadah shalat ini adalah ibadah yang paling utama, ibadah yang menjadi barometer amal ibadah lain diterima atau tidak. Ibadah yang besok pertama kalinya dihisap di hari kiamat. Ibadah shalat adalah salah satu medium pertemuan sakral antara makhluk dengan Sang Khaliq. Dalam shalat yang khusyu’ seorang hamba akan mampu menghadirkan eksistensi ilahiyyah ke tempat di mana ia bersujud.

Jika Rasulullah Saw bertemu Tuhan di sidratil muntaha dengan cara di isra’ dan dimi’rajkan, maka seorang hamba yang beriman bisa menemui Tuhannya dengan cara menjalankan shalat. Rasulullah Saw, menyabdakan bahwasanya ibadah shalat adalah mi’rajnya seorang hamba yang beriman kehadirat Tuhannya.

Sungguh beruntung sekali orang-orang yang bisa menjalankan shalat dengan khuyu’, karena ukuran keimanan seseorang terletak sampai seberapa ia bisa khusyu’ dalam menjalankan shalat. Dalam Al Qur’an Allah Swt, berfirman yang artinya :

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya.” (Al Mu’min  ayat 1-2)

Ibadah shalat bukan hanya sekedar aktifitas fiqhiyyah semata, bisa saja secara hukum fiqih shalat seseorang sah, namun amalan shalatnya tidak mampu mewarnai kehidupannya sehari-hari. Shalat hanya sekedar rutinitas tanpa makna. Hal ini karena shalat yang dikerjakan hanya sebagai peristiwa biologis semata, tanpa menyertakan amal batiniyyah, tanpa menyertakan kekhusyukan.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw. bersabda : “Barang siapa yang hatinya belum bisa khusyu’, maka shalatnya dikembalikan (ditolak).

Oleh karena itu selain menetapi rukun dan syarat sahnya shalat, seorang hamba perlu menghadirkan rasa khusyu’ dalam shalatnya sehingga ia merasakan cahaya ketuhanan merasuk memenuhi rongga jiwanya. Setelah cahaya ketuhanan masuk, menembus hijab hamba dengan Tuhannya maka cahaya itu akan menjelma menjadi rahmatan lil ‘alamin yang terpancar memenuhi lingkungan sosial dan semesta.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menyempurnakan shalat dengan kekhusyukan dan ketawadhuan di hadapan Tuhan.



*Joyo Juwoto, Santri Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban. Diantara buku yang ditulisnya adalah: Jejak Sang Rasul (2016); Secercah Cahaya Hikmah (2016), Dalang Kentrung Terakhir (2017,) dan menulis beberapa buku antologi bersama Sahabat Pena Nusantara dan beberapa komunitas literasi lainnya.”

Sabtu, 23 September 2017

Namira

Namira
Oleh : Joyo Juwoto

Namira bukanlah nama istri saya, atau nama anak-anak saya yang di foto yang saya pakai gambar tulisan ini. Namira juga bukanlah nama seorang gadis cantik, walau dari namanya kelihatan nuansa kecantikanya. Namira adalah sebuah masjid cantik yang konon bernuansa timur tengah, tepatnya bernuansa masjidil haram yang ada di Makkah. Begitu kata bapak dan ibu mertua saya yang sudah pernah umroh.

Kebetulan kemarin saya bersama keluarga ada acara ke Lamongan, akhirnya kami sengaja mampir ke Namira untuk menjalankan sholat Jumat. Memang benar masjid yang berada di kota soto, Lamongan ini cukup cantik dengan tampilannya yang minimalis dan unik.

Yang saya kagumi dari masjid ini adalah fasilitas layanannya. Mulai dari lahan parkir yang luas dengan pemandangan yang cukup indah, ruangan masjidnya juga adem dan menyegarkan. Aromanya wangi khas, entah minyak apa yang dipakai untuk mewangikan masjid itu. Kamar mandi dan tempat wudhunya pun bersih. Di depan tempat wudhu terdapat kolam ikan hias yang cukup menyita perhatian Naila dan Nafa, kedua putri saya. Selain nyaman dipakai untuk menjalankan ibadah, masjid Namira ini juga ramah dipakai untuk wisata religi keluarga.

Satu lagi yang membuat saya takjub dan tercengang adalah masjid Namira ini menyediakan minuman dingin yang bisa dinikmati oleh para pengunjung secara gratis. Dan saat saya selesai berwudhu di salah satu layar informasi di dekat tempat wudhu menampilkan beberapa layanan masjid Namira, seperti kontak person masjid, layanan group Whatshap, jadwal pengajian, hingga informasi sarapan pagi gratis di setiap hari ahad setelah sholat subuh.

Dengan segala layanan dan fasilitas yang ada di masjid Namira, kita merasa sangat dimuliakan ketika berada di baitullah. Sangat nyaman dan menyenangkan. Hal ini kayaknya juga dirasakan oleh para pengunjung di masjid Namira, walau saya tidak mewancarai mereka. Terlihat selesai mengerjakan sholat saya lihat banyak pengunjung yang berfoto ria dengan latar belakang tulisan Namira.


Selain sarana dan prasarana yang menakjubkan, masjid Namira ini juga menyediakan imam sholat yang bernuansa Masjidil Haram. Saya tahu ini karena pernah mendengar para imam sholat Masjidil Haram di layar televisi saat bulan puasa, karena memang saya belum mendapat jatah panggilan untuk ke sana. Do’akan saja saya dan keluarga serta orang-orang yang punya keinginan kuat ke sana, semoga segera bisa pergi ke baitullah untuk menjalankan ibadah haji maupun umroh. Joyo

Jumat, 22 September 2017

Gebyar Muharram Ponpes ASSALAM Bangilan Tuban

Gebyar Muharram Ponpes ASSALAM Bangilan Tuban
Oleh : Joyo Juwoto

Peringatan 1 Muharram  1439 Hijriyah di Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban cukup meriah, selain mengadakan aneka macam perlombaan antar santri, peringatan tahun baru Islam yang jatuh pada hari Kamis (21/9/2017) itu juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan  yang menampilkan aneka kreasi dan kolaborasi karya-karya santri Ponpes ASSALAM Bangilan di panggung akbar Arena Gembira.

Acara yang ditampilkan di Arena Gembira cukup menarik perhatian pengunjung yang hadir, berbagai macam tontonan disajikan dengan dengan spektakuler, ada nasyid, hadroh, seni musik tongklek, perkusi, akustika, step pramuka, hingga pertunjukan barongan gendruwon.

Selain pentas Arena Gembira, juga digelar pameran galeri santri yang mendisplykan berbagai macam kreasi santri. Ada lukisan, kaligrafi, hasta karya, pohon buku yang berdaun buku-buku karya santri dan alumni, dan berbagai ragam benda-benda seni lainnya.


Pohon buku menjadi pajangan yang sangat unik dan menarik, apalagi buku-bukunya adalah karya dari keluarga besar pondok pesantren ASSALAM sendiri, seperti kumpulan cerpen yang berjudul : Sialan Ini hanya Tumpukan Sampah, Sebelas Keping Cerita, karya Ikal Hidayat Nur, Pelukan Terakhir Alya, Karya Mashari, Sajak Senja (kumpulan Puisi) karya Syamsuddin, Batu di Kepala Emak, AS (Novel) karya Ayra , Senja dan Burung-burung Pemakan Kenangan Karya Adib Riyanto, Let’s Move On karya Nindya Sintya R., Jejak Sang Rasul, Secercah Cahaya Hikmah, Dalang Kentrung Terakhir, karya Joyo Juwoto, dan beberapa buku lainnya.

Santri-santri ASSALAM ternyata selain pandai mengaji, berorganisasi, juga pandai berkarya seni guna mengukuhkan identitas bangsa dan kecintaan terhadap Nusa dan bangsa, serta ikut serta menjaga dan melestarikan budaya Nusantara.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan, KH. Yunan Jauhar, M.Pd.I kegiatan Arena Gembira ini dilaksanakan rutin setiap tahunnya untuk mengasah bakat dan kemampuan santri dalam bersinergi, berkarya, berinovasi guna mempersiapkan generasi-generasi muda Islam Indonesia yang siap terjun di tengah-tengah masyarakat.

“Santri-santri ASSALAM di pondok dididik, diajar, dan digembleng dengan berbagai macam ilmu pengetahuan dan ketrampilan  agar nantinya  siap berkhidmad untuk umat serta menjadi mundirul qaumi di seluruh persada bumi nusantara” lebih lanjut, Abah Yunan Jauhar mengatakan bahwa santri-santri ASSALAM akan bersama-sama menapak bumi, meniti jalan, menggapai dunia, meraih ridho Allah Swt”.

Selasa, 19 September 2017

Syahadatnya Saridin

Syahadatnya Saridin
Oleh : Joyo Juwoto

Saridin atau lebih dikenal sebagai Syekh Jangkung adalah murid dari Kanjeng Sunan Kudus dari Pati Jawa Tengah, Saridin tidak seperti santri-santri Sunan Kudus yang lainnya, ia termasuk orang yang memiliki keyakinan yang kuat, pemberani dan tanpa tedeng aling-aling dalam menjalankan keyakinannya, bahkan untuk hal-hal yang kelihatannya membahayakan sekalipun.

Ketika untuk pertama kalinya Sunan Kudus memperkenalkan ajaran Islam kepada para santri, Sunan Kudus mengajari dan menuntun mereka mengucapkan dua kalimat syahadat. Saridin termasuk diantara orang yang baru mengikrarkan syahadat tauhid dan syahadat rasul di hadapan Sunan Kudus.

Tidak seperti santri-santri lain yang mengikuti ucapan kalimat syahadat yang diajarkan oleh Sunan Kudus, ketika giliran Saridin disuruh mengucapkan kalimat syahadat, ia justru berdiri dari tempat duduknya, kemudian Saridin mendekati pohon kelapa yang ada di halaman pesantren, selanjutnya Saridin naik ke atas pohon kelapa. Sesampai di atas dengan tanpa rasa takut Saridin menjatuhkan diri dari atas pohon. Wusss....semua santri yang melihat adegan itu terkejut, termasuk juga Sunan Kudus. Aneh bin ajaib, walau terjatuh dari atas pohon kelapa yang cukup tinggi Saridin tidak cidera, bahkan ia hanya senyum-senyum saja, seperti tidak terjadi apa-apa.

Kanjeng Sunan Kudus bertanya kepada Saridin. “Saridin, apa yang kamu lakukan itu?

“Saya sedang bersyahadat sebagaimana yang Kanjeng Sunan minta? Jawab Saridin enteng

            Kisah Saridin di atas bisa jadi benar bisa jadi hanya sebuah cerita kiasan saja, karena memang dalam khasanah masyarakat Jawa sering menggunakan kiasan dan pralambang untuk menyampaikan suatu hal. Namun yang pasti kisah Saridin di atas menjadi satu pelajaran penting bagi kita, bahwa jika seseorang telah bersyahadat maka tidak ada sesuatu yang membahayakan di dunia dan bagi kehidupan kita kecuali hanya Allah Swt, semata. Dengan pengakuan syahadat maka tidak ada yang kita takuti kecuali hanya takut kepada Allah Swt saja, sebagaimana syahadat yang dipraktekkan oleh Saridin di hadapan gurunya Sunan Kudus.

            Saya dan kita semua mungkin telah bersyahadat lisan secara terus menerus, dalam sehari semalam setidaknya sepuluh kali kita berikrar syahadat di dalam shalat kita, namun hati kita masih belum yakin dengan haqqul yakin akan syahadat yang kita lafalkan. Walau kita mengucapkan kalimat syahadat itu dengan tartil dan fasih namun nyatanya atsar dari syahadat yang kita ucapkan belum memiliki dampak yang berarti bagi kehidupan kita.

            Betapa lisan ini mengatakan bersaksi tidak ada Tuhan yang layak disembah kecuali Allah, “Laa ilaaha illallah” namun perbuatan yang kita lakukan sehari-hari secara hakiki, belum mencerminkan pengakuan itu, lain di hati lain dimulut. Ada banyak Tuhan yang kita sembah, ada banyak Allah yang bersemayam di dalam dada kita.

Tuhan itu bisa bernama harta, jabatan, popularitas, uang, atasan atau bos kita, perempuan, mobil mewah, rumah megah dan seabrek kepentingan duniawi lainnya. Betapa mudahnya lisan ini mengucapkan ‘Asyhadu an laa ilaaha illallah, tapi pada kenyataannya ‘Asyhadu kita untuk selain Allah Swt. ‘Asyhadu kita bukan lillah, tapi lighairillah.

Kalimat Syahadat adalah kalimat yang sangat mudah dan ringan diucapkan oleh lisan, tetapi pembenaran di dalam hati dan pengaplikasiannya di dalam amal perbuatan sungguh berat. Karena jika kita telah bersyahadat maka konsekuensinya adalah kita telah rela menerima segala aturan yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Jadi syahadat tidak hanya berhenti pada persaksian lisan semata, namun harus dibuktikan dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, ketika Rasulullah Saw, menawarkan dakwah kalimat syahadat ini kepada orang-orang Makkah, maka Abu Lahab dengan lantang menolaknya.

تبّا لَكَ سَائِرَ الْيَوْمِ, أَمَا دَعَوْتَناَ إِلاَّ لِهذاَ ؟
Artinya :“Sesungguhnya celaka kamu sepanjang hari ini, hanya untuk inikah kamu mengumpulkan kami ?.”

Karena Abu Lahab paham betul tentang makna dari syahadat, tidak cukup hanya diucapkan di lisan saja, namun harus diikuti dan dipertanggungjawabkan dengan tindakan amal perbuatan. Penolakan Abu Lahab terhadap kalimat syahadat ini ternyata tidak hanya menyinggung Nabi Muhammad, namun Allah pun tersinggung, sehingga laknat kepada Abu Lahab diabadikan oleh Allah di dalam Al Qur’an pada surat Al Lahab. Inilah pelajaran berharga bagi orang-orang yang menolak kalimat syahadat.

Bersyahadat berarti kita telah berikrar, kita telah bersumpah, berbaiat, dan kita telah mengikat tali perjanjian dengan Allah Swt secara langsung. Jika kita telah mengakui bahwa Al Ilah adalah Allah, maka apa yang kita harapkan, apa yang kita takuti, apa yang kita cintai hanya semata Allah saja, tidak yang lainnya.

Kita hari ini lebih khawatir dimusuhi manusia daripada dimusuhi Allah, kita lebih takut kekurangan harta benda daripada takut kepada Allah, kita lebih takut kehilangan jabatan dibanding takut kehilangan Allah Swt, sehingga dengan segala daya dan upaya harta kekayaan kita kumpulkan sebanyak-banyaknya, jabatan kita pertahankan sekuat-kuatnya, bahkan kadang sampai tidak memperhatikan lagi apakah harta dan jabatan itu didapat dengan cara yang halal ataupun haram.

Bahkan lebih kacau dan menyedihkan lagi ada orang-orang yang mengatakan begini “Hari gini mikir halal ataukah haram, yang haram saja susah dapatnya, apalagi yang halal” naudzubillah min dzalik.

Begitulah jika syahadat tidak dipahami dengan benar, sehingga syahadat hanya dianggap sebagai bunga di bibir saja, dan tidak memberikan dampak positif bagi kehidupan di dunia. Hari ini jabatan lebih banyak diperebutkan, popularitas, dan kemewahan menjadi incaran setiap manusia, mereka lupa dengan syahadat yang telah diucapkan, bahwa dengan syahadat seharusnya dunia tidak lebih berat dibanding sepasang sayap seekor lalat.

Dengan kalimat syahadat inilah seseorang mampu menanggung resiko kematian yang menyakitkan sekalipun, dengan kalimat ini pula seseorang mampu bertahan dari siksaan yang berat, dengan kalimat ini seseorang mampu dan berani meninggalkan segala kemewahan duniawi, bahkan dengan kalimat ini pula pintu-pintu surga akan terbuka.

Dalam banyak kisah shohabiyah diterangkan demi tegaknya kalimat syahadat ini Bilal bin Rabbah rela dipanggang diterik matahari padang pasir yang panas, demi dakwah kalimat tauhid ini pula, Mush’ab bin Umair rela kehilangan kemewahan dalam keluarganya, ia dikurung dan diboikot oleh keluarganya agar meninggalkan agama Rasul. Demi kokohnya kalimat syahadat ini keluarga Yasir menanggung beban siksa yang tak terperikan, seluruh keluarga mereka dibakar pada bara api yang menyala-nyala.

Bahkan Sumayyah, istri Yasir dibunuh secara kejam dengan ditusuk tombak pada bagian kehormatannya oleh Abu Jahal, hingga Sumayyah menemui kesyahidannya. Sampai-sampai Rasulullah Saw menghibur keluarga Yasir “Shabran Abal Yakhdzan, shabran ya Ahla Yaasirin, Fa Inna Mauidakum Al Jannah”  “Bersabarlah wahai Abu Yakhdzan,, bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat kalian kelak di surga. Allahu Akbar.

Demi mempertahankan kalimat tauhid ini pula Saad bin Abi Waqqash sampai menghadapi aksi mogok yang dilakukan oleh ibunya sendiri. Hingga Saad yang sangat mencintai ibunya itu harus mengatakan sesuatu yang menggetarkan penduduk langit. “Wahai ibu demi Allah, seandainya ibu mempunyai 100 nyawa. Lalu satu persatu nyawa itu binasa. Aku tidak akan meninggalkan agama ini sedikitpun. Makanlah wahai ibu...jika ibu menginginkannya. Jika tidak, itu juga pilihan ibu.” Dari peristiwa ini, Allah Swt, menurunkan salah satu dari surat Al Qur’an, surat Luqman ayat 15 :

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya : “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS: Luqman  Ayat: 15).

            Begitulah, betapa dahsyatnya efek kalimat syahadat yang telah diucapkan dan menyatu dengan jiwa dan raga seorang hamba yang meneguhkan keimanannya, hingga tidak ada sesuatupun di dunia ini yang mampu menghalang-halangi, bahkan kematian sekalipun. Hanya pahala dan surga yang menjadi balasan bagi orang-orang yang bersyahadat dengan sebenar-benar  syahadat.

            Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda :
مَنْ قَالَ لَا اِلهَ اِلّا الله خَالِصًا مُخْلِصًا دَخَلَ الْجَنَّةَ.
Artinya : “Barangsiapa mengucapkan ‘Laa ilaha illallah’ dengan ikhlas semata-mata karena Allah, maka dia masuk surga.”
           
            Hadits di atas menyatakan pengucapan kalimat syahadat harus dengan ikhlas semata-mata karena Allah, maka dia akan masuk surga. Ikhlas di sini bermakna ridha dengan segala ketentuan yang datang dari Allah Swt, baik berat maupun ringan, baik suka maupun tidak suka.

Jika Allah telah menjadi titik tolak dari segala tindakan dan perbuatan manusia yang bersyahadat, maka layak bagi seorang hamba untuk memegang ‘miftahul jannah Laa ilaha illallah’ kunci surga adalah kalimat persaksian tiada Tuhan selain Allah. Oleh karena itu mari berislam yang tidak sekedar di lisan namun juga menjadi sebuah keyakinan yang menghunjam di lubuk hati yang paling dalam.