Tampilkan postingan dengan label Legenda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Legenda. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Februari 2017

Asal-Usul Desa Klakeh

Asal-Usul Desa Klakeh
Oleh : Joyojuwoto


Pada zaman dahulu, saat Kadipaten Tuban dipimpin oleh Tumenggung Wilatikta, Islam telah masuk dan mulai menyebar di bumi Tuban, baik di kalangan para pejabat maupun rakyat jelata.  Bahkan putra dari Adipati Tuban yang bernama Raden Syahid kelak menjadi salah satu dari  dewan Walisongo, penyebar agama Islam di Nusantara, khususnya di tanah Jawa. Hal ini tentu tidak lepas dari peran para wali yang menyebarkan Islam dengan cara damai dan penuh hikmah, sehingga rakyat dengan suka rela berbondong-bondong masuk ke dalam agama Islam.

Adalah Sunan Ampel yang berjasa dan memiliki andil ikut serta membimbing rakyat sehingga mereka bisa mendalami ajaran Islam. Tidak aneh memang, jika Sunan Ampel memiliki perhatian besar di Kadipaten Tuban, karena ayahnya yaitu Syekh Asmaraqandi dimakamkan di desa Gesikharjo, Palang Tuban. Sunan Ampel kemudian juga menugaskan anaknya, yaitu Sunan Bonang untuk berdakwah dan mendirikan pesantren di Kadipaten Tuban.

Rakyat Tuban semakin hari semakin banyak yang masuk agama dari negeri Arab itu, karena Tumenggung Wilatikta, Adipati Tuban sendiri juga telah memeluk agama Islam. Lazimnya masyarakat pemeluk agama Islam, mereka membutuhkan tempat untuk beribadah, dan juga untuk keperluan-keperluan lain yang menyangkut syi’ar ajaran Islam.  Maka atas restu dari Adipati Tuban, masyarakat memiliki gagasan untuk mendirikan sebuah Masjid.

Di pisowanan agung kadipaten, Adipati Wilatikto menerima utusan atas nama wakil rakyat untuk menyampaikan gagasan dan aspirasi masyarakat tentang rencana pembangunan masjid.

Selanjutnya Adipati Wilatikto memerintahkan salah satu punggawa Kadipaten Tuban yang bernama Nolo Derma untuk mencari kayu Jati yang bagus sebagai bahan untuk membuat masjid di Tuban.

“Kakang Nala Dermo, saya tugaskan engkau untuk mencari kayu Jati di wewengkon Kadipaten Tuban, carilah kayu jati yang bagus, agar Masjid yang akan kita bangun nanti tidak mengecewakan” Titah sang Adipati kepada Nala Dermo yang duduk di depannya.

“Baiklah Kanjeng Adipati, saya akan berangkat untuk mencari kayu-kayu yang akan dipakai untuk pembuatan masjid, mungkin di tlatah Kadipaten Tuban bagian selatan sana banyak kayu jati yang baik. Karena hutan-hutan di wilayah sana masih sangat lebat.

“Iya Kakang Dermo, berangkatlah dan bawa prajurit kadipaten secukupnya untuk membantu tugasmu nanti” lanjut Sang Adipati yang duduk di dampar kencana kadipaten.

Ngesto’aken dawuh Kanjeng Adipati, selain membawa prajurit, nanti saya juga akan mengajak ikut serta istri saya, Subandiyah, karena mungkin tugas ini akan memakan waktu yang cukup lama” Jawab Nala Dermo.

Setelah dari pisowanan, Nala Dermo segera bergegas pulang untuk mengabari istrinya, tentang tugas yang akan diembannya. Sesampai di rumah Nala  Dermo segera mempersiapkan perbekalan serta perlengkapan untuk pergi mencari kayu jati.

“Istriku Subandiyah, persiapkan dirimu, kita akan pergi menempuh perjalanan ke wilayah barat Kadipaten Tuban.”

“Ada perlu apa Kakang pergi ke sana, bukankah di sana hanya hutan-hutan belantara” Tanya Subandiyah kepada suaminya.

  “Tadi di pisowanan, Kanjeng Adipati memerintahkan saya untuk mencari kayu jati, guna pembangunan masjid. Saya akan mengajakmu ikut serta menemaniku” Jawab Nala Dermo kepada istrinya.

Nyi Subandiyah pun segera mempersiapkan diri, mereka berdua bersama beberapa prajurit kadipaten akan segera berangkat melaksanakan titah dari Adipati Wilatikta.

Setelah dirasa cukup, berangkatlah rombongan yang dipimpin oleh Nala Dermo pergi ke arah barat daya. Rombongan itu melewati Merakurak, menerjang hutan Koro, mendaki bukit-bukit kapur di wilayah Montong, hingga sampai di perbukitan di Singgahan. Namun Nala Dermo belum menemukan kayu jati yang bagus dan cocok untuk bahan membuat masjid.

Rombongan itu kemudian berhenti sejenak di sebuah lembah yang memiliki mata air yang sangat jernih. Karena haus dan lapar mereka minum dari mata air di bawah pohon besar itu sambil membuka perbekalan.

“Kita istrirahat di sini dulu Nyai ! Kata Nala Dermo kepada istrinya, “Adi Nala Kerto, Adi Nala Yuda, perintahkan para prajurit untuk istirahat”, lanjutnya sambil memberi perintah kepada kedua pengawalnya untuk beristirahat.

“Iya Kakang, ayo prajurit kita istirahat dulu, yang haus silahkan minum dulu, di bawah pohon besar itu ada mata air” teriak Nala Yuda memberikan komando.

Di lembah itu banyak sekali pohon-pohon besar yang menjulang tinggi, walau hari sudah siang, namun udaranya sangat sejuk. Burung-burung bernyanyi di dahan-dahannya yang kokoh, suara binatang hutan bersuara bergantian, monyet liar berloncatan ke sana kemari melihat ada serombongan manusia yang memasuki wilayahnya.

“Pohon-pohon di sini sangat besar dan tinggi Kakang Dermo, namun sayang itu bukan pohon jati yang kita cari” kata Nala Kerto, sambil duduk di sebuah batu di samping Nala Dermo.

“Iya Adi Kerto, sedang pohon jati yang kita cari tidak ada, kita akan melanjutkan perjalanan terus menembus hutan ini hingga sampai di wilayah Bangilan. Kabarnya di sana banyak kayu jati bagus”

Setelah menikmati perbekalan dan meneguk jernihnya mata air di lembah itu, akhirnya rombongan Nala Dermo melanjutkan perjalanan ke arah barat daya. Rombongan itu terus berjalan hingga sampai di sebuah perkampungan kecil dusun Bangilan. Di tengah perjalanan Nala Dermo bertanya kepada penduduk mengenai pohon-pohon jati yang ia cari.

Atas saran dari salah satu penduduk yang ditemuinya, mereka disuruh terus melanjutkan perjalanan ke arah barat daya. Di sana banyak pohon jati yang tinggi-tinggi dan besar. Pohon itu  sangat bagus kata salah satu penduduk tadi. Rombongan pun melanjutkan perjalanan hingga hari menjelang sore.

“Hutan di sini sangat lebat Kakang, pohon jatinya juga sangat banyak, mungkin di sinilah tempatnya kayu jati yang kita cari” Kata Nyi Subandiyah kepada suaminya.

“Iya Nyai, firasatku pun mengatakan demikian, lihat pohon-pohon jati itu, sangat lurus, tinggi menjulang langit dan besar” Jawab Nala Dermo.

“Kakang Nala Dermo, hutan ini pohon jatinya sangat banyak, mungkin ini yang kita cari” teriak Nala Yuda dari belakang rombongan.

“Iya Adi, kita berhenti di sini, hari sudah menjelang sore, suruh para prajurit untuk membuat kemah, dan kita istirahat dulu. Besok baru akan kita mulai penebangan” jawab Nala Dermo.

Senja mulai gelap, matahari perlahan memasuki peraduannya, angin sore bertiup membawa aroma bunga-bunga liar dari pohon-pohon yang ada di hutan. Suara ayam hutan terdengar berkokok di kejauhan, burung-burung pun mulai pulang ke sarangnya.

Pagi-pagi sekali Nala Dermo beserta rombongannya telah bangun, mereka segera membagi tugas, ada yang bagian memasak untuk sarapan pagi dan adapula yang langsung ikut Nala Kerto dan Nala Yuda untuk segera mencari dan menebang pohon jati yang akan dijadikan bahan bangunan masjid.

Karena pada saat itu musim kemarau, prajurit yang kebagian masak kesulitan mencari air, dengan terpaksa mereka kemudian menggali tanah untuk dijadikan sumur. Untung saja di dekat mereka berkemah, tanah yang digali mengeluarkan sumber air. Oleh masyarakat setempat sumur itu dinamakan sumur Kijing, dan sumur kuno itu masih ada hingga sekarang.

Para rajurit yang lainnya segera bergerak di bawah komando Nala Kerto dan Nala Yuda, dengan cekatan mereka menebang sebuah pohon jati yang paling besar diantara pohon yang lainnya. Namun tiba-tiba ada kejadian aneh yang membuat para prajurit ketakutan dan tidak berani untuk menebang pohon itu. Mereka berteriak ketakutan : "Akeh kala..akeh kala... teriak para prajuri yang akan menebang pohon jati.

“Kakang Dermo, lihatlah Kakang, para prajurit tidak ada yang berani mendekati pohon itu, banyak binatang yang mengerubunginya” teriak Nala Yuda kepada Nala Dermo.

“Iya Kakang, seakan-akan binatang-binatang Kala itu melindungi pohon yang akan kita tebang” sambung Nala Kerto.

Nala Dermo yang berada tidak jauh dari lokasi penebangan segera mendekat, dia melihat banyak binatang Kala yang mengeruminu pohon jati itu, ada Kala Jengking, Kala Umeng, Kala Ketonggeng, Kala Klabang, Kala Seremende, dan binatang Kala lainnya.

Melihat hal itu, kemudian Nala Dermo mengheningkan cipta memohon bantuan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan bersedakep penuh khusyu’ Nala Dermo berkomat-kamit membaca do’a mantra.

“A’uudzuu bi Kalimatillahittammati Min Syarri Maa Khalaq, Salaamun ‘alaa Nuuhin Fil ‘Aalamiin”

Setelah Ki Nala Dermo selesai membaca do’a, tiba-tiba binatang-binatang yang mengerumuni pohon jati yang akan ditebang oleh para prajurit musnah seketika tanpa bekas. Tuhan telah mengabulkan permintaan dari Nala Dermo.

“Adi Nala Kerto, Adi Nala Yuda, sebagai pengingat-ingat untuk anak cucu kita kelak, ketika kita akan menebang pohon jati ini, kemudian dihalang-halangi oleh binatang-bintang Kala, maka besok kalau tempat ini ramai dihuni oleh penduduk, maka aku namakan menjadi Klakeh, dari kata Kalane akeh.


Demikian legenda asal-usul nama desa Klakeh di Kecamatan Bangilan Kabupaten Tuban.

Jumat, 29 Januari 2016

Wuludomba Pancal Panggung

Wuludomba Pancal Panggung

Pangeran Benawa adalah putra dari Sultan Hadiwijaya raja Pajang. Bersama dengan saudara-saudaranya yang lain yaitu Pangeran Jatikusuma, Pangeran Jatiswara, Pangeran Warihkusuma, Pangeran Warsakusuma, dan Pangeran Anom (Pangeran Panjaringan) pergi ke kadipaten Jipang untuk memerintah dan menjadi Adipati di sana. Karena sepeninggal Sultan Hadiwijaya yang menggantikan jabatan sultan adalah menantunya yang bernama Arya Pangiri. Walau sebenarnya yang berhak menjadi sultan Pajang adalah Pangeran Benawa karena dialah sebenarnya yang menjadi putra mahkota. Karena saudaranya yang pertama adalah seorang perempuan yang kemudian menikah dengan Arya Pangiri tadi.
Ketika Pangeran Benawa madeg Ratu di Jipang Panolan, Mataram di bawah kepemimpinan Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati menginginkan wilayah-wilayah di brang Wetan tunduk di bawah kekuasaan Mataram termasuk diantaranya adalah Jipang, namun Pangeran Benawa tidak mau. Hingga pada suatu ketika Jipang Panolan menyerang Rajekwesi sebuah kadipaten di sebelah timur Jipang yang telah menyatakan tunduk pada Mataram. Penyerangan itu gagal Rajekwesi berhasil menghalau pasukan Jipang Panolan.
Melihat keadaan yang demikian akhirnya Rajekwesi meminta Mataram untuk membantu kadipaten itu untuk menumbangkan Jipang. Namun sayang Jipang masih cukup kuat saat itu, bahkan pasukan Mataram yang dikirim untuk membantu Rajekwesi dalam menghadapi Jipang melalui jalur bengawan Solo dapat dihalau. Setelah diselidiki mengapa Jipang sangat berani menghadapi gempuran dari Mataram dan Rajekwesi, ternyata Jipang memiliki piyandel berupa pusaka peninggalan dari Pajang yang dikenal dengan nama Wuludumba Panjal Panggung. Yaitu lima buah pusaka yang terdiri dari Pedang Kyai Kangkam, Keris Kyai Karawelang, Keris Kyai Sengkelat, Cundrik Kudi Trantang, dan Tombak Kyai Tunggulwulung. Pusaka yang tersimpan dalam gentong silatung itulah yang dianggap mengayomi kebesaran dan kedigdayaan Jipang Panolan.
Karena dengan cara kekerasan Jipang tidak dapa dilunakkan maka Adipati Rajekwesi, Sosrodingrat berunding dengan para punggawa kadipaten rajekwesi bagaimana caranya bisa menaklukkan Jipang Panolan. Atas usul dari patih Yudanagara agar supaya mencuri piyandel kadipaten Jipang Panolan itu. Usul pun diterima kemudian Tumenggung Danalapa juga memberikan masukan agar yang melakukan pencurian pusaka diserahkan kepada Modin Nguken dan Modin Kuncen, mereka berdua adalah murid dari Pangeran Andongwilis Sukalila yang terkenal memiliki kesaktian ilmu sirep tingkat tinggi.
Setelah dicapai kata sepakat Adipati Sosrodiningrat memerintahkan kepada Bekel Ngasem untuk memberi kabar kepada Modin Kuncen dan Modin Nguken agar menghadap kepada Adipati. Dengan tergesa Bekel Ngasem menaiki kudanya dan memacunya menuju ke arah barat untuk menemui kedua Modin itu.
Sesampainya di Nguken Bekel Ngasem pun memberitahukan agar kedua Modin itu segera sowan kepada Kanjeng Adipati. Karena tidak diberi tahu maksud dari Adipati Sosrodiningrat kedua Modin itu dengan tergesa sowan menuju kotaraja. Di Pendapa kadipaten mereka berdua  diterima oleh Adipati Sosrodiningrat. Setelah berbasa-basi dan menanyakan kabar kedua modin itu Adipati Sosrodiningrat kemudian mengatakan maksud dan tujuan kedua modin itu di panggil ke kadipaten.
“Modin Kuncen dan Modin Nguken, ketahuilah keadaan sedang genting-gentingnya, Jipang Panolan dengan terang-terangan berani menyerang Rajekwesi, setelah Saya rundingkan dengan para punggawa ternyata Jipang Panolan berani menyerang Rajekwesi karena mereka memiliki piyandel pusaka Wuludomba Pancal Panggung. Oleh karena itulah kalian berdua saya minta sowan ke kadipaten. Kalian berdua saya tugasi agar mencuri pusaka itu dari Jipang Panolan” Dawuh Sang Adipati.
Karena menyangkut tugas bela negara mau tidak mau Modin Kuncen dan Nguken pun menerima kewajiban itu, mereka berdua kemudian meninggalkan kadipaten Rajekwesi dan selanjutnya pergi untuk mencuri pusaka Jipang Panolan. Modin Nguken sebagai penunjuk jalan, karena tempat tinggalnya dekat dengan wilayah Jipang, dengan penuh kehati-hatian mereka berdua akhirnya bisa mendekati gedung tempat penyimpanan pusaka.
“Adi Nguken, lihatlah banyak prajurit yang berjaga di sekitar gedung pusaka, kita tunggu hingga tengah malam baru kemudian kita matek aji sirep kita, karena pada saat itulah daya sirep Begananda sedang jaya-jayanya.” Kata Modin Kuncen sambil bisik-bisik kepada Modin Nguken.
“Baiklah Kang, kita tunggu di sini, nanti saat tengah malam mari kira rapal ajian sirep kita, sekalian mencoba daya kekuatan sirep Begananda dari Eyang Guru Andongwilis Sukalila.” Modin Nguken menimpali.
Waktu terus berjalan, para prajurit yang bertugas menjaga gedung pusaka masih mondar-mandir penuh kesiagaan, seakan tiap jengkal ruang dan tempat tidak luput dari perhatian mereka. Malam terus merayap menuju puncaknya, keadaan semakin sepi hanya suara kelepak kelelawar malam yang beterbangan kesana-kemari menyambar buah-buahan dari pohon-pohon di depan gedung pusaka.
Di tempat yang tertutup rerimbunan semak dan pohon-pohon Modin Nguken dan Modin Kuncen masih bersiaga, mereka bersiap-siap menebar kedigdayaan ajian sirep Begananda yang tanpa tanding.
“Kakang Kuncen ini saat yang tepat kita beraksi kakang.” Bisik Modin Nguken
“Baiklah di, ayo bersiaplah !.”
Kemudian kedua modin itu bersedakep mengosongkan pikiran memuja kepada dzat yang maha kuasa, memohon diperkenankan do-a-do’a mereka. Dari bibir kedua modin itu terlihat berkomat-kamit membaca mantra :
“Hong Ingsun amatek aji sirep begananda kang ana Indrajid, kumelun nglimputi ing mega malang, bul peteng ndhedhet alelimengan, upas racun darubesi, pet pepet kemput bawur wora-wari aliwaran tekane waminasara, kang katempuh jim setan peri parayangan, gandarwa, jalma manungsa tan wurung ambruk, lemes wuta tan bisa krekat, bleg seg turu kepatisaking kersane Gusti Allah.”
Setelah selesai membaca mantra, kedua modin itu kemudian njejeg bumi tiga kali sambil menahan napas. Perlahan namun pasti daya sirep begananda mulai bekerja. Tiba-tiba angin bertiup semilir membawa hawa kantuk yang luar biasa, satu persatu para prajurit penjaga gedung pusaka ambruk ke tanah dan tertidur. Bahkan ada pula yang tidur dalam kondisi masih berdiri.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Modin Kuncen dan Modin Nguken, mereka berdua langsung masuk ke gedung pusaka dan mengambil piyandel Jipang Panolan berupa pusaka Wuludomba Pancal Panggung.
Setelah berhasil mereka berdua kabur membawa pusaka itu ke arah timur dengan maksud mereka bisa segera membawanya pulang ke Nguken yang memang tidak terlalu jauh dari Jipang Panolan. Wilayah itu hanya dibatasi oleh Bengawan Solo. Namun sayang pusaka yang diwadahi Gentong terlalu mencolok jika  dibawa langsung, akhirnya Modin Nguken dan Modin Kuncen membagi tugas.
“Adi Nguken, rumahmu kan dekat dari sini, engkau pulanglah terlebih dahulu ke Nguken kemudian setelah itu segera melapor ke Rajekwesi bahwa kita telah berhasil memboyong pusaka Jipang Panolan”
“Baik Kakang, lha Kakang Kuncen sendiri bagaimana ? tanya Modin Nguken
“Saya akan pergi ke Kedung Tuban Adi, di sana saya akan membeli satu gentong sehingga bisa saya pikul Adi, dan saya akan menyamar sebagai pedagang keliling” Jawab Modin Kuncen
“Baiklah Kang, saya pamit dulu dan Kakang Nguken berhati-hatilah, semoga Tuhan melindungi perjalanan Kakang”
“Terima kasih Adi segeralah berangkat, mumpung belum datang waktu Shubuh”
Kemudian Modin Nguken segera beranjak pergi meninggalkan Modin Kuncen yang menunggu datangnya pagi agar keberadaannya tidak dicurigai.
Pagi itu di Kadipaten Jipang Panolan geger, para prajurit disiagakan untuk melakukan pengejaran terhadap maling yang telah mencuri pusaka kadipaten. Di paseban Kadipaten Pangeran Benawa mengumpulkan adik-adiknya untuk merundingkan kejadian tadi malam.
“Dimas Jatikusuma, ketahuilah bahwa pusaka Jipang Panolan telah dicuri, dana kita tidak ada yang tahu siapa dan untuk apa maling itu mencuri pusaka kadipaten.”
“Iya Kangmas, para prajurit juga telah saya perintahkan untuk melakukan pengejaran terhadap maling itu Kangmas.” Kelihatannya malingnya memiliki kelebihan yang luar biasa hingga tak ada satupun dari para penjaga yang mengetahuinya.”
“Oleh karena itu Dimas Jatikusuma saya titahkan kepada kamu dan adik-adikmu semua, Jatiswara, Warihkusuma, Warsakusuma, dan Panjaringan untuk ikut serta melacak hilangnya pusaka kebesaran Jipang Panolan. Dan Jangan pernah kembali sebelum mendapatkan pusaka itu Dimas.” Kata Pangeran Benawa kepada Jatikusuma.
“Baik Kangmas !
Selanjutnya Pangeran Jatikusuma bersama keempat adiknya pun meninggalkan kadipaten untuk melacak hilangnya pusaka kadipaten. Mereka berempat masuk hutan keluar hutan, mendaki bebukitan serta menuruni lembah-lembah serta jurang yang dalam.
.......

Bagaimanakah kisah lima pangeran itu? simak kelanjutannya di lain waktu...terima kasih.












Rabu, 05 November 2014

Haul Mbah Ahmad bin Muhammad Ar Rozi

Foto : Muin Al Hijamah
Bangilan, 04/11/2014, Setiap tanggal 11 Muharram warga masyarakat Bangilan Tuban punya gawe memperingati haulnya pepunden desa Bangilan Mbah Ahmad bin Muhammad Ar Rozi yang disemayamkan di dusun Dopyak desa Bangilan.

Rangkaian acara haul tak banyak perubahan, seperti tahun-tahun sebelumnya didahului dengan acara khotmil Qur'an, manganan, dan dilanjut dengan pengajian akbar.

Foto : Muin Al Hijamah   
KH. Abdullah Fatah Ridwan membacakan riwayat singkat Mbah Ahmad yang kemudian dilanjutkan dengan mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh beliau Romo KH. Duri Azhari dari Semarang.

Foto : Muin Al Hijamah
Haul yang didatangi oleh warga sekitar ini menjadi agenda rutin yang layak untuk dilestarikan baik dari dimensi ibadah maupun dimensi sosialnya. Dari dimensi ibadah berupa kegiatan relegius yang menyertai haul semisal khotmil Qur'an, ziarah kubur, dan mendoakan arwah-arwah yang telah meninggal dunia. Sedang dimensi sosialnya kegiatan ini tentu menyertakan banyak orang dan kelompok yang tentu akan terjalin sebuah interaksi yang baik dan guyup dalam kepanitiaan atau ikut sumbangsih dalam kegiatan haul ini. 

Haul adalah sebuah cara masyarakat menghormati jasa-jasa pendahulu mereka, karena bagaimanapun kehidupan ini tidak akan terpisah dari dimensi masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Karena menurut para bijak bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Jas Merah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Salam. Jwt.

Kamis, 08 Mei 2014

Legenda Gunung Pegat Babat-Jombang

Legenda Gunung Pegat

Pada zaman kejayaan Kerajaan Majapahit, ada seorang Prawira sandi yang menikahi putri cantik yang bernama Ledung Sari. Sang Putri mempunyai permintaan jika mereka kelak jadi menikah ia ingin agar keduanya hidup dan membangun rumah tangga di pelosok pedesaan yang jauh dari hiruk-pikuk urusan perpolitikan. Permintaan sang putri Ledung Sari dikabulkan oleh Wira Sandi, namun Majapahit masih berharap walau ia jauh dari kerajaan Wira Sandi masih bisa menyempatkan diri untuk membantu dan memikirkan urusan kerajaan serta berbakti kepada Sang Prabu Raden Wijaya.

Setelah keduanya menikah, sepasang pengantin yang laki-laki ibarat Batara Kamajaya sedang yang perempuan bak Dewi Ratih lambang kecantikan dewa-dewi kayangan ini bermukim jauh dari kotaraja. Mereka berdua memilih lereng gunung Pucuk Wangi bagian selatan sebagai tempat membangun biduk rumah tangga, kearah barat daya dari pusat pemerintahan Majapahit. Kehidupan mereka berdua dihiasi warna-warni pelangi kebahagiaan, bahagia apa adanya, bahagia dengan alam yang telah dianugerahkan Tuhan kepada mereka. Tanah yang subur, air yang jernih mengalir, dan hewan-hewan liar yang mencukupi kebutuhan hidup, bukan keserakahan dan nafsu tamak yang menghancurkan. harta benda bukan menjadi ukuran kebahagiaan, derajat serta pangkat tak lagi membius ambisi sepasang pengantin surga itu.

Dalam dagrasi kuning senja, puncak gunung Pucuk Wangi kelihatan cerah, udara  sepoi-sepoi menyegarkan, saat itu Ledung Sari sedang berada di rumah berhias menunggu sang suami pulang dari sawah. Setelah matahari hampir tenggelam Wira Sandi datang dari pintu depan. Ledung Sari menyambut kedatangan suaminya dengan wajah yang cerah sambil menyapa, suaranya halus merdu bagai dewi Wara Sembadra, “Monggo  langsung siram Kang Mas, meniko agemanipun gantos” ujar Ledung Sari sambil menyodorkan pakaian ganti untuk suami. “Ee lha dalah awak lungkrah sido dadi bungah, ngene iki diajeng” sambut Wira Sandi membalas ucapan istrinya.
 “Lha kenging nopo toh Kang mas ?”
“Ya mergo awakmu cah ayu, kang dadi pepujaning atiku, Sedino ra ketemu prasasat kadya sewindu” sambung Wira Sandi sambil mencubit dagu sang istri.
Sambil tersipu malu Ledungsari menuju dapur, mempersiapkan makan malam buat suaminya yang seharian bekerja disawah.

Begitulah hari-hari kebagiaan sepasang suami istri yang hidup dalam kesederhanaan, makan dari apa yang ditanam, minum dari air sumber yang banyak terdapat di dekat tempat mereka tinggal, kehidupan yang penuh dengan harmoni dan cinta antara makhluk Tuhan.

Sejenak kita tinggalkan lokasi tempat tinggal Wira Sandi dan istrrinya. Gunung Pucuk Wangi ternyata tidak hanya dihuni oleh manusia saja, namun disitu hidup juga beragam hewan bahkan juga bangsa lelembut atau siluman. Di puncak gunung Pucuk Wangi tepatnya di dalam gua hiduplah sepasang naga siluman. Namanya Naga Diahulu. Wujudnya seperti hewan ular dalam mitologi Cina namun berkepala dua. Satu di depan dan satunya lagi dibagian ekornya. Naga Diahulu mempunyai dua sifat, yang bagian kepala agak tumpul warna hitam putih memiliki sifat naga perempuan. Ia sering disebut sebagai naga Wiling, sedang yang bagian ekor kepalanya agak lonjong dikenal dengan nama naga Wilang dan ia bersifat sebagai naga jantan. Walau naga Diahulu memiliki mulut selebar pintu kandang ternak, namun mangsa naga ini adalah embrio dari janin (bakalan nyawa) seperti telur, janin, dan makhluk hidup yang masih berupa embrio. Naga Diahulu paling senang memangsa bakal jabang bayi manusia yang masih dalam rahim sang ibu.

Kembali ke setting dimana dua sejoli Wira Sandi dan Ledung Sari tinggal, ada siang ada malam dan waktu pun terus berjalan hingga suatu saat keluarga kecil itu kehabisan bahan makanan yang menghajatkan untuk pergi ke pasar. Babat adalah tempat terdekat yang menjadi tujuan mereka untuk berbelanja. Selain itu telah lama juga mereka tidak melihat keramaian manusia yang saling berinteraksi di tempat yang mempertemukan segala macam dan model manusia. Di tempat itu berbagai barang keperluan pun tersedia, garam dari laut, asam dari gunung, perkakas-perkakas rumah tangga dari kota semua tumplek blek di tempat yang disebut pasar. Setelah selesai berbelanja Wira Sandi mengajak istrinya untuk sarapan pagi disebuah warung makan.
“Diajeng ayo sarapan dhisik”
Mereka berdua masuk disebuah warung yang agak luas. Penjualnya seorang perempuan paruh baya, kulitnya hitam manis, wajah sumringah, grapyak semanak mempersilahkan Wira Sandi untuk mencicipi menu yang telah disediakan.
”Monggo pinarak….. ingkang sekeco, ngersakne nopo toh mas ?” sambut si pemilik warung.
“Sarapan mbak Yu” jawab Wira Sandi pendek.
“Dahar ngagem lawuh menopo ? meniko wonten dendeng banteng, ugi urang watang, meniko jangan lodeh sambel jeruk purut” ujar perempuan itu menawarkan aneka masakan yang ada diwarungnya.
Di pojok ruangan warung, terlihat tiga orang laki-laki berwajah sangar berpakaian hitam-hitam, berkumis lebat memperhatikan Wira Sandi dan istrinya. Namun Wira Sandi tidak begitu memperhatikan. Setelah selesai makan Wira Sandi membayar kepada pemilik warung. Setelah selesai membayar Wira Sandi dan istrinya bergegas pulang, Wira Sandi memanggul belanja, sedang Ledung Sari berjalan di sampingnya. Mereka berdua berjalan lambat karena medannya yang menanjak. Siang itu langit tampak gelap, mendung hitam bergulung-gulung, di sudut-sudut cakrawala petir berkilat menyambar, tanda hujan akan segera turun. Wira Sandi kemudiaan berjongkok ke tanah dan mengambil sebongkah kecil tanah liat yang kering (brogalan) kemudian mengheningkan cipta memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,  
“Ojo pati ceblok banyu udan sakdurunge lemah sing tak gegem ceblok ning bumi pertiwi”

Tiba-tiba disebuah tikungan jalan yang sepi, melompatlah tiga orang  berwajah sangar menghadang jalannya Wira sandi. “Heh ! mandek bondho opo nyawa ?” bentak salah seorang dari manusia asing itu. Ledung sari kaget dan merangkul suaminya. “Kakang…kakang aku wedi !!!” 
Wira sandi segera tanggap bahwa ia sedang berhadapan dengan orang-orang yang bermaksud jahat. 


Tiga orang berpenampilan sangar itu tertawa terbahak-bahak meledek Wira sandi.
“Hai ! tadi kau di pasar belum membayar !“
“Lha sudah kan, tadi saya mendapatkan uang kembali dari penjualnya” bela Wira Sandi
“Itu tadi kan membayar nasi, ini urusan pajak “
“Pajak Apa itu “ lanjut Wira Sandi heran.
“Ini urusan pajak belanja, pajak buat Negara”
“Sebentar-sebentar, Ki sanak ini siapa memang ?” Tanya Wira sandi
“Ha..ha..ha, ketahuilah, bahwa saya ini adalah pejabat Negara, sudah segera bayar, sebelum saya hukum kamu”.
Wira sandi bukan anak kemarin sore yang gentar akan gertakan, ia dengan tenang membalas ancaman itu dengan kata-kata ejekan.
 “Lha ! Pejabat Negara kok mengakali rakyat kecil, ohh…dasar kalian adalah manusia-manusia hina”.
 


Minggu, 15 September 2013

Asal mula Desa Ngrojo Bangilan Tuban

Asal mula Desa Ngrojo Bangilan Tuban
 Oleh : Lailatul Nurul Istiqomah Kls XII MA ASSALAM Bangilan Tuban 

Ada banyak cerita/ legenda yang beredar di masyarakat desa Ngrojo tentang asal mula desa itu diberi nama “Ngrojo”. Salah satu ceritanya adalah tempat tinggal para rajja pada zaman dahulu, ada juga yang bercerita kalau dulu daerah itu banyak tumbuh pohon pisang raja, dan ada pula yang menceritakan ada seorang nenek tua yang datang ke tempat itu kemudian memberikan nama daerah tersebut Ngrojo. 

Perihal nenek tua tersebut diceritakan beliau bernama Mbah Buyut Sakep. Beliau tinggal di tempat itu dan membangun rumah, lama kelamaan tempat itu menjadi ramai oleh pemukiman penduduk. Menurut para sesepuh desa rumah Buyut Sakep berada disekitar kuburan sekarang yang tepatnya berada di sebelah timur desa. Buyut Sakep konon adalah seorang yang linuwih. Beliau memiliki benda aneh yang berupa beras yang diolah menjadi nasi. Dan nasi tersebut tidak pernah habis walau dimakan berkali-kali selama hidupnya. Sehingga Buyut Sakep tidak perlu bekerja keras untuk mencukupi kebutuhannya, ia hanya sesekali pergi untuk mencari laup pauknya saja.

 Sepeninggal Buyut Sakep nasi tersebut ikut hilang entah kemana. Untuk mengenang jasa-jasa dari Buyut Sakep sebagai orang yang pertama kali babat desa, tempat itu oleh masyarakat Ngrojo kemudian diberi nama jalan Buyut Sakep. 

Demikian sekilas tentang legenda desa Ngrojo Bangilan Tuban.

Selasa, 10 September 2013

Asal Mula Goa Ngerong Rengel Tuban

kasku.co.id


Menurut folklore yang beredar di masyarakat sekitar wisata goa Ngerong, bahwa di wilayah tersebut, sekitar 2000 tahun yang lalu berdiri sebuah kerajaan lokal yang berpusat di wilayah Rengel tepatnya sekarang di dukuh Gumeng Desa Banjaragung Kec. Rengel Kab. Tuban. Kerajaan itu bernama Gumenggeng. Rajanya adalah Raden Arya Bangah putra dari Kyai Gede Lebe Lontang. Alkisah pada suatu ketika wilayah kerajaan Gumenggeng yang memang secara geografis berada di pegunungan kapur sulit untuk mengakses sumber air khususnya di musim kemarau dilanda paceklik dan kekeringan panjang, hingga rakyat menderita. Raden Arya Bangah sangat prihatin melihat kondisi rakyatnya, beliau kemudian lelana brata, laku prihatin untuk mendapatkan petunjuk dari dewata tentang pagebluk panjang yang menimpa kerajaan yang dipimpinnya. Beliau pun mendapat petunjuk dalam mimpinya jika ada yang bersemedi di puncak gunung (saat ini bernama Desa Andhong), maka Kerajaan Gumenggeng akan selamat dari kekeringan. Jadi, diadakanlah sayembara. Dan bagi yang bersedia, akan dihadiahi tanah yang luas. Kemudian, muncullah seseorang yang bernama Kyai Jala Ijo. Ia memberikan persyaratan agar ditemani oleh dua orang pengawal kerajaan. Sesampainya di puncak bukit, sang kyai pun bertapa, mengheningkan cipta mandeng pucuking grana, sedakep saluku tunggal, nutup babahan hawa sanga, muji marang Dzat kang murbeng wisesa untuk mendapatkan bisikan ghaib dan petunjuk. Dan benar setelah bertapa di puncak Ngandhong, Kyai Jala Ijo mendapatkan petunjuk bahwa ia harus menyungkil tanah di tempat tertentu di Kerajaan Gumenggeng (saat itu masih belum ada namanya). Akhirnya, dengan ditemani dua pengawalnya, jadilah ia menancapkan tongkatnya di tempat tersebut, lalu mencungkilnya. Setelah itu, dia segera berbalik pulang dan mengamanati kepada kedua pengawalnya untuk tidak menoleh ke belakang sama sekali. Tetapi, ketika berjalan pulang, salah satu pengawalnya menoleh ke belakang. Tiba-tiba, muncul seorang putri nan cantik rupawan yang menggoda pengawal itu, dan membawanya pergi, hilang sampai saat ini. Sedangkan tanah yang tadinya dicungkil oleh Kyai Jala Ijo, menurut kepercayaan, kemudian mengeluarkan air dan berubah menjadi celah (gua) yang berbentuk menyerupai rong (terowongan/ lubang). Sehingga, tempat tersebut kini diberi nama Gua Ngerong.

Minggu, 21 Oktober 2012

Asal Mula Desa Demit Kec. Jatirogo


Asal Mula Desa Demit Kec. Jatirogo


                Dahulu kala ada suatu daerah terpencil yang mana daerah tersebut masuh berupa hutan belantara. Duceritakan suatu ketika ada seorang wali bersama dengan para pengawalnya melewati daerah itu. Tepat pada saat itu datang waktu untuk melakukan sholat dhuhur. Wali itu pun mencari tempat yang dapat digunakan untuk sholat dhuhur. Akan tetapi tidak ada tempat yang layak digunakan untuk sholat, hingga akhirnya salah satu pengawalnya mengusulkan untuk membuka daerah itu menjadi sebuah padepokan. Sang wali pun menyetujui saran dari salah satu pengawalnya itu. Dan saat itu juga dimulailah pembabatan hutan hingga akhirnya menjadi tanah yang lapang yang luas.
                Untuk melengkapi sarana padepokan maka sang wali berfikir untuk mendirikan masjid di tempat tersebut agar kelak dapat digunakan untuk beribadah bersama sekaligus tempat untuk belajar para santri-santrinya. Sebelum proses pembangunan masjid dilaksanakan sang wali akan melaksanakan sholat terlebih dahulu guna meminta petunjuk kepada Allah SWT. Namun ketika akan mengambil air wudlu ia mencari-cari sumber air disekitar padepokan namun tidak menemukan sumber air hingga akhirnya sang wali berjalan ke arah selatan dari padepokannya. Dan ternyata disitu ditemukan sebuah sendang besar, beliaupun menuju ke Sendang itu dan mengambil air wudlu. Pada saat wali mengambil air wudlu beliau merasakan sesuatu yang aneh, air di sendang itu ternyata sangat dingin sekali yang dalam bahasa Jawa disebut“ademe amit-amit”.
                Akhirnya masjid yang direncanakan pun dibangun didekat sendang tersebut. Lama kelamaan daerah itu menjadi ramai dan banyak orang yang sama menetap disana. Hingga akhirnya daerah itu oleh sang wali diberi nama “DEMIT” sebuah nama yang diambil dari sebuah sendang yang airnya dingin sekali atau “ademe amit-amit”. Sendang tersebut masih dapat kita jumpai hingga sekarang di Dusun Demit Kec. Jatirogo.



Dikisahkan oleh :

ULFA ROMADHOTUL FATIMAH Siswi Kelas XII MA ASSALAM Bangilan

Selasa, 28 Agustus 2012

Jalan-Jalan ke Maqom Wali Punjul dan Situs Dadung Awuk

Pintu Gerbang masuk maqom Wali Punjul yang dijaga oleh Khodam beliau tu bisa di panthengin fotonya.....!!!! ssstttt..Kalau tidak salah nama khodam Mbah Punjul adalah Singo Pramono Jati.....(Just Kidding Brow..)










Cungkup maqom Mbah Punjul Ngepon Jatirogo


















Prasasti rehab pembangunan maqom Wali Punjul yang dibangun oleh PLK.K. Kertodjoyo.......












Kalau ingin tahu secara jelasnya tentang mbah Punjul monggo hubungi kemawon Panjenenganipun Pak Darsilan Juru Kunci maqom...










Setelah dari maqom Mbah Puncul saya menyempatkan diri melihat situs Dadung Awuk yang berada kurang lebih 1 Km ke arah barat dari Mbah Punjul...Yuk kesana !!!

Senja dalam perjalanan ke situs Dadung Awuk, jalan ke arah lokasi situs Dadung Awuk banyak ditumbuhi pohon-pohon Jambu Mete, saat itu sedang musim buah..emmm...jadi pengin Mbakar metenya aku...









Inilah bongkahan-bongkahan batu yang dalam mitosnya dianggap penjelmaan dari kerbau yang dibawa oleh Abdul Rokhim (Wali Punjul) yang akan diserahkan ke Demak....










ini cungkup situs mitos Dadung Awuk yang di papan informasinya disebut sebagai situs budaya. Di sebelah barat cungkup ini terdapat pohon besar dab sebongkah batu yang biasaya digunakan ritual, dang nyepi oleh orang-orang yang katanya ngalap berkah (embuh yo!)...

Kawasan situs budaya Dadung Awuk yang terletak di desa Ngepon ini biasanya banyak dikunjungi oleh para peziaroh pada malam Jum'at Pahing, begitu penuturan dari juru parkir di maqom Wali Punjul....


Sekian ya kawan-kawan informasi yang dapat saya sampaikan. Isi dan kegiatan yang terjadi di Maqom Wali Punjul dan Situs Mitos Dadung Awuk diluar tanggung jawab penulis...hehe !!!

Jumat, 27 Juli 2012

Folklore Jati Gembol Montong Tuban

Montong - Jika anda masyarakat Tuban dan sekitarnya tentunya pernah mendengar  cerita tentang Jati Gembol yang berada di Kecamatan Montong tepatnya di perbatasan antara Pucangan dan Koro Merakurak. Ada juga yang menyebutnya sebagai jati kamplok. Karena menurut legenda pohon jati itu adalah jelmaan dari  pengembala yang di sabda oleh seorang wali (anonim) karena jengkel dengan ulah si pengembala. Ketika jati tersebut akan di tebang si penggembala merangkul (ngamplok) ke pohon jati tersebut guna menghalang-halangi maksud sang wali yang akan mengambil jati guna pembangunan masjid Demak. Cerita atau folklore ini memang tidak sepopuler dengan kisah Sunan Bonang dengan seorang pendeta dari India atau bahkan mungkin anda tidak pernah mendengarnya sama sekali.

Saya  yang bertahun-tahun melewati jalur itu pun baru mendengar kisahnya, kemudian saya menyempatkan untuk mencari lokasi Jati gembol tersebut. Sebenarnya lokasi jati gembol ini sangat dekat dengan jalan raya yaitu berada di samping kiri jalan dari arah Pucangan Montong dan pohonnnya pun bisa dilihat dari jalan raya, hanya karena cerita ini sudah terkubur dengan hiruk pikuknya sinetron maupun film-film di televisi sehingga folklore lokal ini tidak lagi mendapat tempat di hati masyarakat setempat. 

Menurut salah seorang warga Pucangan Jati gembol itu dulunya berjumlah tiga batang, pada masa kecilnya tidak ada seorang pun yang berani menebang pohon jati tersebut. Konon jika di tebang pohon itu mengeluarkan darah seperti halnya manusia yang terluka. Namun sekarang pohon itu hanya tinggal satu batang saja, itu pun bagian batang yang bawah sudah banyak yang di ambili oleh orang-orang yang punya maksud-maksud tertentu, ada yang dipakai untuk jimat, untuk pesugihan maupun yang lainnya. Untuk mengambil sebagian batang pohon jati gembol tidak bisa sembarangan biasanya harus menunggu hari Jum'at Pahing terlebih dahulu begitu kisahnya.

Ya begitulah yang namanya folklore beredar dari mulut ke mulut dan hampir selalu tidak jelas pangkal ujungnya. Namun kita hendaknya bisa arif dan bijak guna mengambil apa yang dapat kita jadikan sebagai pelajaran bagi kehidupan kita mendatang. Jwt

Rabu, 11 April 2012

Wasiat Bambu Kuning ( Cerita Makam Punjul )

Tidak ada yang menyangka kalau langit yang semula cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap. Siang itu mendung tebal menyelimuti wilayah barat ibukota Majapahit. Kilat disertai suara petir menyambar-nyambar bagaikan seekor naga sedang mencari mangsa.
Benar-benar cuaca yang sulit diduga, seperti sulitnya keadaan Majapahit saat itu. Memang kerajaan itu sedang mengalami ujian besar, seiring masa pemerintahan Raja Brawijaya pamungkas yang lesu, kacau dan bahkan seringkali mencekam (Akhir abad ke-15).
Hari masih siang, ketika hujan mulai turun. Bersamaan dengan itu dua bayangan berkelebat dari satu tempat ke tempat lain. Tidak jauh di belakang mereka puluhan prajurit berlarian mengejar sambil berteriak-teriak saling memberi semangat.
“Tangkap, ayo tangkap tamu tak diundang itu !!”
“Ayo kejar terus ….!”