Tampilkan postingan dengan label Mahfudhot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mahfudhot. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Juni 2016

Jangan Marah

Jangan Marah

لَا تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةْ

Artinya : Jangan marah, maka bagimu adalah surga (HR. Thabrani)

Marah adalah tabiat yang diciptakan Allah di dalam diri manusia sebagaimana tabiat-tabiat yang lain, seperti lemah lembut, kasih sayang, simpati, empati, toleransi dan lain sebagainya. Yang namanya tabiat tentu manusia tidak terhindar sama sekali dari amarah ini. marah sebenarnya tidak terlarang jika tepat dan sesuai dengan proposinya. Bahkan marah adalah energi yang berfungsi menjadi pembela bagi nilai-nilai kebaikan dan melindungi diri dari hal-hal yang merusak dari luar. Oleh karena itu Imam Syafi’i  pernah berkata : “Barang siapa yang dibuat marah tetapi tidak marah maka ia  adalah keledai”

Perkataan Imam Syafi’i tentu bukan dalam rangka menyelisihi sabda Nabi yang berbunyi Laa Taghdhob, namun beliau menempatkan marah pada proposinya. Jika nilai-nilai kebaikan dalam ajaran agama diabaikan dan dilecehkan tentu sebagai seorang mu’min kita wajib marah, namun marah kita bukan pada individunya, namun lebih pada sikap dan perilakunya. Marah terhadap hal-hal yang memang diperlukan tentu sangat wajar dan manusiawi, sedang larangan marah sebagaimana hadits Nabi di atas adalah marah yang dzalim, marah yang bukan pada tempatnya.

Marah yang dilarang adalah marah yang membutakan mata hati dan akal sehat, sehingga menyebabkan kita tidak adil dalam menilai sesuatu. Rasulullah SAW sendiri pun sangat marah jika larangam-larangan Allah diabaikan dan dilanggar. Namun kasih sayang dan kelembutan Rasulullah mengalahkan sikap amarahnya, sehingga beliau lebih banyak bersabar dan mengedepankan kasih  sayangnya kepada manusia. Bahkan beliau sendiri bersabda :
لَا تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةْ
Artinya : Jangan marah, maka bagimu adalah surga

Rasulullah melarang mengumbar kemarahan karena orang yang sering marah itu tidak bisa mengendalikan diri dan mudah dikuasai oleh setan, karena setan memang berasal dari bara api. Di dalam Alur’an pun banyak ayat yang memerintahkan seseorang untuk menahan amarahnya, seperti dalam surat Ali Imron ayat 134 yang artinya : “Dan orang-orang yang menahan amarahnya”, kemudian dalam surat Al-A’raf ayat 199 Allah Swt juga memerintahkan seseorang untuk lembut hati dan pemaaf serta menjahui perbuatan orang-orang yang bodoh.

Oleh karena itu seyogianya seseorang berusaha dengan sekuat tenaga untuk menghindari gelora amarah yang tak terkendali. Karena banyak kejadian yang sebenarnya sepele namun karena amarah telah menguasai jiwa maka akibatnya menjadi hal yang sangat tak terduga. Banyak kasus-kasus kekerasan yang terjadi di masyarakat bahkan berakhir dengan pembunuhan juga karena dipicu oleh kemarahan yang tidak terkendali.

Jadi ikutilah petunjun Nabi untuk jangan menumbar api kemarahan agar kita selamat, baik itu di dunia lebih-lebih di akhirat kelak. Jika seseorang dilanda api kemarahan hendaknya ia diam dan jangan melakukan hal apapun, karena tentu hasilnya tidak akan baik. Rasulullah SAW bersabda :
إِذَاْ غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ
Artinya : “Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam”

Rasulullah SAW juga mengajarkan kepada orang yang marah, jika ia dalam kondisi berdiri maka duduklah, jika dalam keadaan duduk bersandarlah, jika dalam keadaan bersandar maka berbaringlah. Jika ternyata belum reda hendaknya orang yang marah segera mengambil wudlu atau mandi, karena api hanya bisa dipadamkan dengan air. Nabi SAW bersabda :
إِذَاْ غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ بِالْمَاءِ فَإِنَّمَا الْغَضَبُ مِنَ النَّارِ

Artinya : “Apabila salah seorang diantara kamu marah maka hendaklah ia berwudlu dengan air karena marah adalah dari api” 
                                                                                                                                                Joyojuwoto

Minggu, 15 Mei 2016

Adab Itu Kemuliaan

Adab Itu Kemuliaan

الأدب شرفٌ
“Adab Itu Kemuliaan”

Ada sebuah hikmah yang mengatakan “Al Adabu Fauqol Ilmi” Adab itu di atas ilmu pengetahuan. Begitu tingginya maqam adab hingga diletakkan di atas ilmu pengetahuan, padahal kita tahu bahwa maqam ilmu sangatlah tinggi. Tidak salah memang kalau adab itu lebih tinggi dari ilmu karena ilmu tidak akan ada faedahnya jika tidak disertai dan dihiasi dengan adab yang mulia. Kepandaian terhadap ilmu tanpa didasari adab hanya akan menyebabkan mafsadah-mafsadah saja. lihatlah di era sekarang, banyak orang berilmu namun kurang adab hasilnya perbuatan-perbuatan dan amal mereka justru mengkhianati teori-teori ilmu pengetahuan yang mereka pelajari sendiri.

Saya sebenarnya sangat risau bin galau jika melihat dunia pendidikan sekarang, walau tidak semuanya namun setidaknya ini menjadi sinyal merah bagi dunia pendidikan di Indonesia. Adab yang menjadi mahkota kemuliaan seorang pelajar mulai ditanggalkan dan ditinggalkan.

Indikasinya sudah sangat terasa dan sangat memprihatinkan, di era yang serba materialistik ini hubungan antara guru dan murid sudah bukan lagi hubungan batin, ‘alaqah ruhiyah, namun lebih kepada hubungan materi saja. Murid bahkan sang wali murid merasa telah mahal-mahal membayar biaya sekolah maka ia dengan seenaknya saja memberlakukan dan bersikap bahwa sekolah adalah transaksi bisnis semata. Tidak kalah memprihatinkannya juga ada walau tidak semua lembaga sekolah juga didesain seperti model bisnis. Naudzu billah.

Tidak heran jika perilaku para siswa jauh dari adab yang semestinya. Lihatlah ketika ada pengumuman kelulusan Ujian Nasional, mereka menyikapi dengan hal-hal yang kurang bermanfaat dan cenderung destruktif. Apa mereka tidak tahu, atau memang sudah menjadi latah bahwa pemerintah sekarang tidak mematok kelulusan dari nilai Ujian Nasional, ah bangga yang fatamorgana.

Merayakan kegembiraan tidak ada yang melarang bahkan justru sangat dianjurkan namun, namun ketika baru dinyatakan lulus UN saja sudah begitu euforianya, sebenarnya saya bertanya-tanya apa yang sedang ada di kepala mereka ?

Dengan bangganya mereka berkonvoi di jalan-jalan raya, mengganggu lalu-lintas, suara knalpotnya yang berisik, kemudian baju-nya dicorat-coret tidak jelas, disobeki sana-sini, dan berbagai kegilaan lain yang dipertontonkan. Ah!!! Mereka memang belum pernah tahu rasanya lembaran-lembaran skripsinya di tinta merahi oleh dosen pembimbing. Atau belum pernah merasakan dahsyatnya pertanyaan-pertanyaan malaikat Munkar-Nakir walau soal itu sudah dianggap bocor namun tidak ada satupun orang yang berani menjamin bahwa dirinya akan lulus dari itu.

Sekali lagi adab adalah kemuliaan, seyogyanya seorang terpelajar memiliki adab yang baik sebagaimana yang dikatakan oleh Pram, “Adil sejak dalam pikiran.” Cobalah mari berfikir sejenak wahai generasi muda, wahai harapan bangsa, wahai tumpuan cita dan cinta orang tua, di tangan kalianlah masa depan kami-kami yang telah tua-tua ini. Jangan gadaikan nasib bangsa Indonesia tercinta ini dengan kesia-siaan yang engkau lakukan. Begitu juga kami yang tua-tua ini juga akan berusaha memberikan teladan yang baik dengan terus memegang teguh adab kebaikan guna menebar manfaat dan kemaslahatan bagi umat semesta raya.

Ayo para pelajar generasi muda bangsa mari berjalan beriringan, bergandengan tangan, merapatkan barisan, dan saling menguatkan untuk mewujudkan nilai-nilai dan tujuan dari Pancasila utamanya sila yang kedua “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” serta melunasi janji kemerdekaan dari para generasi pendahulu kita, dan tentu harapan itu masih ada. Joyojuwoto

Jumat, 13 Mei 2016

Sikap Tawadhu’

Sikap Tawadhu’

Ketika ditanya oleh seseorang tentang tawadhu’, Fudhail menjawab : “Tawadhu’ adalah kamu tunduk kepada kebenaran, dan patuh kepadanya sekalipun kebenaran itu kamu dengar dari anak kecil, bahkan sekalipun kamu dengar dari orang yang paling tidak tahu kiblatnya sholat.” Itulah salah satu definisi sikap tawadhu’ yang bersumber dari ulama zaman dahulu, mereka tidak pernah meremehkan sebuah kebenaran, tidak pernah memandang dari mana kebenaran itu bersumber, kebenaran tetaplah sebuah kebenaran sekalipun bersumber dari orang yang lebih kecil dari kita bahkan bersumber dari orang yang tidak benar sekalipun.
Abu Yazid berkata : “Selagi seorang hamba masih mengira bahwa diantara makhluk masih ada orang yang lebih buruk darinya maka ia adalah orang yang sombong.” Dikatakan kepadanya : Lalu kapan iamenjadi orang yang tawadhu’ ? Abu Yazid menjawab : “Apabila tidak memandang adanya kedudukan dan hal bagi dirinya.”
Begitulah ulama-ulama zaman dahulu menjadikan sikap tawadhu’ ini menjadi hiasan dan kemuliaan, walau mereka memiliki kedudukan yang tinggi secara keilmuan, maupun secara pangkat dan derajad namun hati mereka tunduk dan tawadhu’ kepada sesama. Tidak merasa paling benar, tidak menyombongkan pangkat dan kedudukannya. Dalam surat AL Hijr ayat 88 Allah SWT berfirman :
واخفض جناحك للمؤمنين (88)
Artinya : “Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.”
Begitulah Allah SWT menginginkan hamba-hambanya yang beriman untuk salah berendah diri terhadap orang mu’min lainnya, saling menjaga silaturahmi, menjaga ukhuwwah, dan saling berhusnudzon diantara mereka. Jika sikap tawadhu’ ini diterapkan maka persatuan umat Islam akan kuat dan kemuliaan seorang mu’min akan terjaga.
Namun lihatlah di era sekarang, antara satu mu’min dengan mu’min yang lain tidak ada lagi ketawadhu’an. Bahkan kata mu’min sudah jarang kita dapati, yang ada tinggal kelompok-kelompok seperti NU, Muhammadiyah, Syi’ah, Salafi, Wahabi, HTI dan kelompok-kelompok lain yang terpecah-belah dalam firqoh-firqoh yang saling menyalahkan. Persatuan umat Islam tercerai-berai dalam golongan-golongan. Mereka lupa akan nilai persaudaraan untuk saling mengasihi, saling menjaga silaturahmi, saling menghormati, dan saling menguatkan tentunya.
Oleh karena itu mari kita kembali pada sikap tawadhu’ yang telah dicontohkan oleh ulama-ulama zaman dahulu yang menjadikan tawadhu’ sebagai hiasan dalam berkehidupan, tidak mudah menyalahkan kelompok lain, saling mengkafirkan diantara orang-orang mu’min, dan saling menghormati dan menghargai diantara perbedaan-perbedaan yang ada. Jadikanlah perbedaan itu sebagai jalan rahmat yang perlu disyukuri bersama.
Cukuplah dengan tawadhu’ umat Islam mendapatkan kemuliaan, dengan lapang dada mendapatkan ketaqwaan, dan dengan keyakinan umat mendapatkan kejayaan. Mengesampingkan motif-motif duniawi untuk meraih ridho Tuhan, guna mewujudkan perikehidupan yang rahmatan lil ‘alamin. Dalam sebuah hadits Rosulullah SAW bersabda :
الكرم التّقوى, والشّرف التّواضع, واليقين الغنى
Artinya : “Kedermawanan adalah taqwa, kemuliaan adalah tawadhu’, dan keyakinan adalah kekayaan ( Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Dunya. AL Hakim meng-isnad-kan bagian awal dan berkata : Sahih sanad-nya)
Mari bersama membangun kejayaan umat dengan ketawadhu’an, menghindari sikap merasa paling benar sendiri, saling menyalahkan, menghindari saling curiga sesama mu’min, dan tentunya meneladani sikap dan perilaku Rosulullah SAW, para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in dan para ulama salafus saleh yang menjadi panutan kita semua. Joyojuwoto

Rabu, 13 April 2016

Teman Yang Baik itu Bernama Buku

Teman Yang Baik itu Bernama Buku

خير جليس في الزّمان كتاب
“Sebaik-Baik Teman Duduk Di Segala Masa Adalah Kitab”
Sudahkah Anda beli buku minggu ini ?
Sudahkah Anda beli buku bulan ini ?
Sudahkah Anda beli buku tahun ini ?

Buku atau kitab masih belum menjadi prioritas daftar belanja rumah tangga kita, jika kita begitu ringannya membeli perabot rumah tangga, membeli baju, membeli kendaraan pribadi, gonta-ganti handphone, namun tidak dengan buku. Buku belum pernah menjadi list kebutuhan yang kita anggarkan baik itu anggaran jangka pendek maupun anggaran jangka panjang.
Di rumah-rumah kita masih jarang pula yang mengoleksi buku, menjadikan oleh-oleh, cinderamata, atau menjadikannya sebagai asesoris yang melengkapi ruang tamu kita. Buku memang bukan untuk itu kita koleksi, namun setidaknya jika di rumah kita dilengkapi buku maka kita bisa mengambil manfaat dari buku itu.
Dalam nasehatnya AL Jahizh menganjurkan agar kita senantiasa membaca buku beliau berkata : “Buku adalah teman duduk yang tidak akan memujimu dengan berlebihan, sahabat yang tidak akan menipumu, dan teman yang tidak membuatmu bosan. Dia adalah teman yang sangat toleran yang tidak akan mengusirmu. Dia adalah tetangga yang tidak akan menyakitimu. Dia adalah teman yang tidak akan memaksamu mengeluarkan apa yang kamu miliki. Dia tidak akan memperlakukanmu dengan tipu daya, tidak akan menipumu dengan kemunafikan, dan tidak akan membuat kebohongan.
Buku akan senantiasa berbuat baik kepadamu, akan menemani hari-hari suka maupun dukamu, buku akan menghiburmu kala susah, dan akan memberikan manfaat yang besar bagi dirimu, dan akan menyempurnakan kebahagiaanmu. Bercakap dengan buku akan menghindarkanmu dari ngibah, dan menyakiti hati orang lain, maka perbanyaklah kamu bersama dengan buku karena buku adalah teman yang baik di segala tempat, waktu dan keadaan.
Buku adalah jendela dunia dan pintu peradapan suatu bangsa. Bangsa yang berperadapan selalu menempatkan buku pada posisi yang penting. Sejak zaman dahulu hingga sekarang salah satu tanda dari majunya suatu bangsa bisa dilihat dari jumlah buku yang dibaca oleh penduduknya, dan jumlah buku yang dihasilkan oleh kaum cerdik cendikiawannya. Tercatat peradapan tertua di dunia pun telah ada buku, walau masih berupa lempengan-lempengan tanah liat. Seperti peradapan Mesir dengan huruf hiroglifnya, Peradapan Meshopotamia dengan huruf pakunya, Peradapan India kuno dengan Sankritnya.
Buku atau kitab adalah hal yang sangat mulia, buku bahkan menjadi salah satu dari mu’jizat yang diberikan oleh Allah SWT kepada Rosulnya yaitu mu’jizat Al Qur’an. Sebagaimana firman Allah SWT yang tercantum dalam surat Al A’raf ayat : 2 yang artinya :
  
2. ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, Maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman.

Selasa, 12 April 2016

Menjadi Pribadi Yang Benar

Menjadi Pribadi Yang Benar

الصدق منجّ

“Kebenaran adalah  Keselamatan

Siddiq berasal dari shadaqa yang memiliki makna cukup banyak diantaranya : benar, nyata, berkata benar, dan juga diartikan sebagai kejujuran. Walau sebenarnya jika diarti sebagai kejujuran sendiri kurang begitu tepat, namun kata jujur juga termasuk di dalam pengertian siddiq. Siddiq adalah puncak dari kebenaran, hakekat dari kebaikan, serta bagian yang tak terpisahkan dari keimanan seseorang.

Sifat siddiq ini adalah iri, karakter, serta pemikiran yang utama bagi seorang Rosul, oleh karena itu sifat ini menjadi salah satu dari sifat wajibnya para Rosul yang mulia. Tidak mungkin seorang Rosul tidak memiliki sifat ini. Dalam Al-Qur’an setidaknya Allah SWT tiga orang nabi dan rosul-Nya yang memiliki sifat siddiq. Pertama Nabi Ibrahim yang termaktub dalam surat Maryam ayat : 41 Allah berfirman :
واذكروا في الكتاب إبراهيم إنّه كان صدّيقا نبيّا

41. Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan[905] lagi seorang Nabi.

Kedua adalah Nabi Idris yang disebutkan dalam firman Allah surat Maryam ayat : 56 yang artinya :
   
56. dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi.

Dan yang ketiga adalah penyebutan siddiq pada Nabi Yusuf AS karena penolakan Yusuf atas ajakan Zulaikha untuk berzina sebagaimana yang tertulis dalam surat Yusuf ayat : 51 artinya :

51. raja berkata (kepada wanita-wanita itu): "Bagaimana keadaanmu[755] ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?" mereka berkata: "Maha sempurna Allah, Kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari padanya". berkata isteri Al Aziz: "Sekarang jelaslah kebenaran itu, Akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan Sesungguhnya Dia Termasuk orang-orang yang benar."

Sifat siddiq ini menjadikan Nabi Ibrahim dan Nabi Idris dipuji oleh Allah SWT, begitu juga sifat siddiq ini menyelamatkan Nabi Yusuf dari tipu-daya Zulaikha. Sifat siddiq yang menceritakan tentang ketiga Rosul di atas tidak sepenuhnya berkaitan dengan kejujuran, namun lebih mengarah kepada sikap percaya pada kebenaran serta keyakinannya akan Ketuhanan. Karena akhir dari siddiq adalah keselamatan karena tetap berpegang teguh pada kebenaran itu sendiri.


Begitulah seorang mu'min yang sejati diajari untuk benar kepada Tuhannya, benar kepada dirinya sendiri, benar kepada orang lain, benar kepada keluarganya, benar kepada tetangganya, bahkan benar kepada orang yang menjadi musuhnya. Sebagaimana Nabi Ibrahim yang meyakini kebenaran akan Ketauhidan, yang menjadikannya menentang Raja Namrud dan ia harus dihukum bakar. Namun sifat siddiq telah menyelamatkan Nabi Ibrahim dari kobaran api itu.

Sifat siddiq juga dipegang teguh oleh Nabi Idris, yang menjadikan beliau diusir dari negerinya dan dikejar-kejar untuk dibunuh oleh raja yang dzolim. Begitu pula yang terjadi pada Nabi Yusuf beliau tetap berpegang teguh pada kebenaran Tuhan walau berada di tengah-tengah godaan yang meremuk-redamkan keimanannya namun Yusuf tegar walau ia harus masuk penjara.

Bagaimanapun keadaan kita hendaknya selalu tegar dalam kebenaran karena sesungguhnya kebenaran itu adalah dari Tuhan, maka hendaknya kita jangan ragu. 'AL HAQQU MIN ROBBIKA FALA TAKUUNANNA MINAL MUMTARIN' Kebenaran itu  dari Tuhan kamu, maka janganlah kamu menjadi orang yang ragu. Karena kebenaran mampu membawa pelakunya kepada kebajikan, dan kebajikan akan menuntun pelakunya menuju jalan keselamatan yaitu jalan ke surga.

Cukuplah firman Allah Surat at taubah ayat : 119 menjadi dasar kita untuk menjadi seorang mukmin untuk terus memiliki sifat benar dan selalu bersama orang-orang yang benar. Allah SWT berfirman yang artinya : 

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar” (At Taubah :119). Joyojuwoto



Senin, 11 April 2016

Diantara kalian mana yang lebih bagus amalnya ?

Ahsanu Amalan

أيّكُمْ أحْسَنُ عَمَلاً

Diantara kalian mana yang lebih bagus amalnya ?

Seorang hamba besok di akhirat akan dimintai pertanggung jawaban mengenai amal perbuatannya. Amal yang diterima oleh Allah SW adalah amal yang berkualitas baik dana murni lillahi ta’ala, bukan amal yang disertai dengan niat yang tidak murni semisal riya, ujub, atau karena beramal bukan karena Allah SWT.

Said bin Jubair  pernah mengatakan, Tidak diterima suatu perkataan kecuali disertai amal, tidak akan diterima perkataan dan amal kecuali disertai niat, tidak akan diterima perkataan amal dan niat kecuali sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad SAW. Di dalam Al Qur’an Surat Al Kahfi ayat : 7 Allah SWT berfirman mengenai amal perbuatan baik seorang hamba, yang artinya :
  
7. Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (Al Kahfi : 7).

Mengenai keterangan ayat di atas para ulama menafsiri tentang “Ayyuhum Ahsanu Amalan sebagai berikut :
-   Fudhail bin Iyad  menjelaskan, ahsanu amalan adalah  yang paling ikhlas dan  yang paling benar. Sesungguhnya suatu amal sekalipun benar tapi bila tidak dikerjakan dengan ikhlas maka amal tersebut tidak akan diterima
-   Said bin Jubair  pernah mengatakan, Tidak diterima suatu perkataan kecuali disertai amal, tidak akan diterima perkataan dan amal kecuali disertai niat, tidak akan diterima perkataan amal dan niat kecuali sesuai dengan sunnah Nabi saw.
-   Sesungguhnya yang menjadi pedoman adalah kualitas suatu amal, bukan kuantitas amal. Ayyukum ahsanu amalan, bukan Ayyukum aktsaru amalan.

Dari keterangan di atas bahwa pedoman amal yang baik itu harus memenuhi syarat sebagai berikut :
1. BENAR
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (3:31)
Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada padanya perintahnya dari kami maka amalan itu tertolak (HR Muslim)
2. IHLAS
Abu Qasim Al Qusyairi,  ikhlas adalah menjadikan satu-satunya  tujuan taat ialah Allah SWT. Imam al Harits Al Muhasibiy, orang yang jujur ialah yang tidak memperdulikan lagi  apapun penilaian orang.



Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim juga menjelaskan mengenai syarat diterimanya amal perbuatan seorang hamba kelak di akhirat adalah karena ahsannya amal bukan karena banyaknya amal. Berikut arti dari haditsnya :

“Yang pertama kali akan diadili di hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Kemudian ia dibawa ke hadapan Allah dan Allah memberitahukan  kenikmatan kepadanya, maka iapun mengetahuinya. Allah berfirman, “Apa yang engkau lakukan di dunia?” Orang itu berkata “Aku telah berperang karenaMu hingga aku syahid”. Allah berfirman, “Engkau berdusta. Sebenarnya engkau berperang karena ingin dikatakan sebagai pemberani dan hal itu telah dikatakannya”.  Kemudian Allah Swt memerintahkan untuk membawanya, maka orang itu diseret di atas wajahnya hingga dilemparkan ke neraka.” (HR Muslim)

Tanda-tanda ikhlas
1.   Tunduk pada kebenaran dan menerima nasihat sekalipun dari orang yang lebih rendah tingkatannya. Abdurrahman bin Mahdi berkata, Sungguh menjadi ekor dalam kebenaran lebih aku sukai daripada menjadi kepala dalam kebatilan.
2.   Tidak gegabah memutuskan suatu hukum
Suatu hari  Asy Sya’bi ditanyakan suatu persoalan, tetapi ia menjawab “Aku tidak tahu”. Kemudian ada yang bertanya, “Apa anda tidak malu menjawab, Tidak tahu. Beliau menjawab, “Jangankan aku,  malaikat saja tidak malu, ketika berkata, “Maha suci engkau (Ya Allah), tidaklah kami memiliki ilmu kecuali yang telah Engkau ajarkan kepada kami (2:32)


Kesabaran

 Kesabaran

الصبر يعين على كلّ عمل

Kesabaran itu membantu segala pekerjaan

Kesabaran ibarat mahkota bagi seorang hamba yang menjadi hiasan bagi orang yang berakal. Kesabaran juga ibarat obor yang menerangi jalan kehidupan seorang hamba di dunia. Dengan kesabaran seseorang bisa menyelesaikan pekerjaan yang kelihatannya mustahil untuk diselesaikan. Barang siapa yang sabar sesungguhnya ia telah memiliki kunci untuk menyelesaikan berbagai macam permasalahan.

Oleh karena itu hendaknya orang yang berakal selalu sabar dalam menghadapi suatu masalah, karena sesungguhnya tidak ada satu pun masalah yang tidak dapat diselesaikan, Inna Ma’al Usri Yusron. artinya sesungguhnya sesudah kesukaran pasti ada kemudahan. Pada hakekatnya musibah yang menimpa seorang hamba telah tercatat di Lauhul Mahfuzh, maka kesulitan dan bencana itu harus dihadapi dengan kesabaran. Allah SWT berfirman dalam surat Al Hadid ayat : 22 yang artinya :
  
"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah". (QS. AL Hadid : 22)

Dari ayat di atas dapat kita ambil pelajaran bahwa semua yang menimpa kita adalah atas kehendak Allah SWT. Karena tiada satu pun di dunia ini yang luput dari pengawasan Allah SWT. Oleh sebab itu hendaknya kita selalu berbaik sangka dan selalu sabar dalam menghadapi segala cobaan dan ujian dari-NYA.

Gambaran jiwa seorang muslim sejati adalah sabar ketika ia tertimpa musibah dan bersyukur ketika ia mendapatkan berkah. Sabar dan Syukur adalah Ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Sayyidina Ali bin Abi Thalib berpesan kepada kita tentang kesabaran terhadap musibah yang menimpa kita, beliau berkata : "Jika kamu bersabar dalam menghadapi musibah, maka yang ditakdirkan Allah tetap menimpamu dan kamu berpahala. tetapi jika kamu tidak bersabar, maka yang ditaqdirkan Allah tetap juga tetap menimpamu dan kamu akan mendapatkan dosa dari ketidaksabaranmu.

Para ulama membagai sabar menjadi tiga macam yaitu :
1. Sabar dalam menghadapi musibah
2. Sabar dalam menuaikan ketaatan
3. Sabar dalam menjauhi kemaksiatan

 Begitulah seharusnya sikap seorang muslim untuk terus bersabar hingga Allah memberikan predikat
إنّ الله مع الصّابرين

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar”

Jadi ketika seseorang bilang bahwa kesabaran itu ada batasnya, maka sesungguhnya orang tersebut memang telah keluar dari kesabaran itu sendiri.

Oleh karena itu mari bersama mentadabburi firman Allah Surat Al Baqarah ayat 155-156 yang artinya sebagai berikut :

155. dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun."


Kamis, 07 April 2016

Man Jadda Wajada


من جدّ وجد

Artinya : Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.

Mantra ajaib ini diperkenalkan oleh Ahmad Fuadi di novelnya yang berjudul Negeri 5 Menara, kalimat Man Jadda Wajada menjadi salah satu kalimat yang mampu membangkitkan raksasa tidur yang ada dalam diri kita. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil, penuh motivasi, optimis, mengalir dan menggerakkan.

Kesungguhan memang kunci dari kesuksesan, segala sesuatu yang dikerjakan dengan serius akan membuahkan hasil. Rosulullah SAW sangat menghargai usaha serta kesungguhan seseorang. Beliau tidak suka melihat umatnya bermalas-malasan. Beliau pernah berjabat tangan dengan seorang pemuda yang tangannya keras dan kasar, kemudian beliau mencium pemuda itu sambil bersaabda : “Inilah kedua tangan yang dicintai oleh Allah SWT” Dari hadits ini menegaskan bahwa Allah dan Rosulnya sangat mencintai orang-orang yang bersungguh-sungguh baik untuk urusan duniawinya lebih-lebih urusan ukhrawinya.

Dalam firman-Nya yang mulia Allah SWT pun mengatakan “Walladziina Jaahadu Fiina Lanahdiyannahum Subulana” “Barang  siapa yang bersungguh-sungguh di jalan-Ku maka akan Aku tunjukkan jalan keridhoan-Ku” Allah SWT menyambut dengan antusias dan penuh cinta bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh memenpuh jalan-Nya. Tiada sesuatu yang menggembirakan melebihi dari seruan Tuhan itu sendiri bukan ? oleh karena itu bersungguh-sungguhlah dalam segala amal perbuatan kita karena itu adalah salah satu jalan kecintaan Tuhan.

Begitu pentingnya kesungguhan sampai-sampai Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum tanpa usaha dan kesungguhan dari kaum itu sendiri. Allah menginginkan kita untuk bekerja keras, bukan hanya sekedar menyalahkan takdir semata, sikap menyalahkan takdir adalah sikap yang merusak dimensi ikhtiyar manusia. Dengan kalimat Man Jadda Wajada kita tidak sedang mendahului nasib, kita tidak sedang membaca ramalan bintang, namun kita sedang lari dari takdir Tuhan menuju Takdir Tuhan yang lainnya pula. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sahabat Umar bin Khattab saat ia dan pasukannya akan memasuki negeri Syam, sedang di sana sedang terjadi wabah penyakit yang menular, kemudian Umar pun memembatalkan kunjungannya dan memilih kembali ke Madinah. Umar pun berkata : “Kami lari dari takdir Tuhan, menuju takdir Tuhan pula”

Usaha yang sungguh-sungguh memang tidak menjamin keberhasilan seseorang, apalagi tanpa usaha tentu keberhasilan itu akan semakin jauh darinya. Allah SWT dalam surat An Najm ayat : 39 menegaskan tentang adanya hubungan antara kesungguhan dengan keberhasilan seseorang :
br&ur }§øŠ©9 Ç`»|¡SM~Ï9 žwÎ) $tB 4Ótëy ÇÌÒÈ  
39. dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,
Oleh karena itu bersungguh-sungguhlah dalam segala hal agar apa yang kita cita-citakan dan kita usahakan tercapai sebagaimana yang kita inginkan. Sing Sopo Tekun Bakal Tekan. Man jadda Wajada. Joyojuwoto



Rabu, 06 April 2016

Diam adalah Hikmah

Diam adalah Hikmah

الصمت حكم وقليل فاعله

Artinya : Diam itu mengandung beberapa hikmah, namun sedikit yang mampu melakukannya.

Tiap-tiap sesuatu itu ada najisnya, dan najisnya lisan adalah jeleknya ucapan, begitu sebuah keterangan hadits mengenai  keutamaan dalam diam. Diam bukan berarti gerakan senyap yang tidak mau berbicara, diam di sini adalah menyangkut masalah-masalah yang tidak penting dan kesia-siaan belaka. Lebih baik diam daripada ngobrol ngalor-ngidul tanpa ada kebaikan di dalamnya.

Diam juga merupakan sebuah keselamatan, selamat dari najisnya lisan. Orang yang banyak berbicara biasanya banyak salahnya, oleh karena itu Rosulullah SAW mengajarkan lebih baik diam daripada banyak omong karena di dalam diam banyak sekali hikmah yang terkandung di dalamnya. Termasuk tanda baiknya akhlag seorang muslim adalah pada diamnya terhadap sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Di dalam Al Qur’an sendiri Allah SWT juga mengingatkan agar lebih baik diam, daripada banyak omong namun tidak bisa melakukannya, agar kita tidak termasuk orang-orang yang dibenci-Nya, sebagaimana yang tercantum dalam surat As Shaff ayat 2-3  yang artinya :

2. Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?
3. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

Diam itu merupakan hiasan bagi orang-orang alim dan meruapkan tirai bagi orang-orang yang bodoh. Orang alim biasanya banyak diamnya untuk menjaga tatanan hati dan sikap muruahnya kecuali untuk urusan yang penting tentunya. Orang yang bodoh jika banyak diam dan tidak mengumbar ucapannya hal ini menjadi tirai yang menutupi kebodohannya, jika ia banyak omong dipastikan banyak ucapannya yang salah. Bukankah ada pepatah yang mengatakan “Tong Kosong Nyaring Bunyinya”

Mengapa manusia dianugerahi oleh Allah SWT dua mata, dua telinga dan satu mulut ? tidak lain tidak bukan karena Allah SWT menginginkan agar manusia lebih banyak melihat dan mendengar dibanding banyak omong. Karena diam akan menyelamatkan manusia dari tergelincirnya lisan. Jika kaki yang tergelincir kemungkainan hanya kaki itu saja yang sakit, namun tergelincirnya lisan efeknya bisa sangat berbahaya tidak hanya untuk orangnya saja bisa menyangkut masyarakat luas.

Sungguh benar apa yang dikatakan oleh Rosulullah SAW bahwa diam adalah keselamatan, “Man Shomata Naja” artinya “Barang siapa yang dia maka ia akan selamat” Oleh karena itu mari melatih lisan kita untuk diam dari hal-hal yang tidak bermanfaat, karena semakin banyak omong semakin banyak kesalahan dan beban yang akan kita tanggung kelak, sehingga kita menjadi “Kabura Maktan ‘Indallahi”. Joyojuwoto

Selasa, 05 April 2016

Ilmu Itu Cahaya

Ilmu Itu Cahaya
العلم نور ونور الله لا يهدى للعاصى
              Artinya : Ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang suka berbuat dosa.

Sebaik-baik orang adalah yang berilmu, dengan ilmu seseorang dimuliakan tidak hanya oleh sesama manusia bahkan Allah SWT sendiri juga mengagungkan dan mengangkat derajadnya orang yang berilmu. Sangat banyak dalil-dalil di dalam Al-Qur’an maupun hadits, serta keterangan yang menegaskan akan kemuliaan orang yang berilmu. Banyak orang kecil menjadi besar sebab ilmu, seorang ya dipandang hina menjadi mulia  karena ilmu, orang yang lemah menjadi kuat juga karena ilmu.

Orang yang berilmu ibarat pelita Allah SWT di muka bumi oleh karena itu ilmu itu disebut sebagai cahaya. Orang yang ingin mendapatkan cahaya Allah harus mendekati sumber cahaya itu, mendekati Allah, menjahui larangan-larangan Allah, dan meninggalkan sisi-sisi gelap kehidupannya. Mustahil mendapatkan cahaya jika kita menghindari cahaya itu sendiri. Karena cahaya ilmu tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat dan berbuat dosa kepada-Nya.

Suatu ketika pada saat Imam Syafi’i nyantri beliau bertanya kepada gurunya akan kesulitannya menghafal ilmu pengetahuan yang disampaikan oleh gurunya, Sang Guru Kyai Waqi’ pun menjawab bahwa kesulitan menghafal pelajaran dikarenakan banyaknya seorang santri melakukan kemaksiatan kepada Tuhan. Jika ingin diberi kemudahan dan keberkahan dalam menuntut ilmu hendaknya santri selalu mendekatkan diri kepada Tuhan.  Hal ini sebagaimana yang beliau abadikan dalam syairnya :
شكوت الى وقيع سوء حفظي فأرشدنى إلى ترك المعاصى
فأخبرنى بأن العلم نور ونور الله لا يهدى للعاصى
Artinya :
Saya mengadukan kepada Guruku Kyai Waqi akan buruknya hafalanku, lalu beliau menunjukkan kepadaku agar meninggalkan maksiat.
Maka beliau juga mengabariku bahwa ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepadan orang-orang yang bermaksiat.

Itulah kenapa seorang yang sedang menuntut ilmu agar supaya banyak tirakat, menghindari hal-hal yang dilarang agama, agar ilmu yang sedang ia tuntut merasuk dan bersatu dengan jiwanya, bukan hanya sekedar pandai namun ilmunya tidak bermanfaat, bukan hanya sekedar menguasai ilmu tetapi tidak dijiwai dan diamalkan. Karena ilmu yang baik adalah ilmu yang diamalkan dan membawa keberkahan bagi si empunya maupun bagi masyarakat luas pada umumnya. Joyojuwoto