Tampilkan postingan dengan label Antropologiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Antropologiku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 November 2014

Haul Mbah Ahmad bin Muhammad Ar Rozi

Foto : Muin Al Hijamah
Bangilan, 04/11/2014, Setiap tanggal 11 Muharram warga masyarakat Bangilan Tuban punya gawe memperingati haulnya pepunden desa Bangilan Mbah Ahmad bin Muhammad Ar Rozi yang disemayamkan di dusun Dopyak desa Bangilan.

Rangkaian acara haul tak banyak perubahan, seperti tahun-tahun sebelumnya didahului dengan acara khotmil Qur'an, manganan, dan dilanjut dengan pengajian akbar.

Foto : Muin Al Hijamah   
KH. Abdullah Fatah Ridwan membacakan riwayat singkat Mbah Ahmad yang kemudian dilanjutkan dengan mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh beliau Romo KH. Duri Azhari dari Semarang.

Foto : Muin Al Hijamah
Haul yang didatangi oleh warga sekitar ini menjadi agenda rutin yang layak untuk dilestarikan baik dari dimensi ibadah maupun dimensi sosialnya. Dari dimensi ibadah berupa kegiatan relegius yang menyertai haul semisal khotmil Qur'an, ziarah kubur, dan mendoakan arwah-arwah yang telah meninggal dunia. Sedang dimensi sosialnya kegiatan ini tentu menyertakan banyak orang dan kelompok yang tentu akan terjalin sebuah interaksi yang baik dan guyup dalam kepanitiaan atau ikut sumbangsih dalam kegiatan haul ini. 

Haul adalah sebuah cara masyarakat menghormati jasa-jasa pendahulu mereka, karena bagaimanapun kehidupan ini tidak akan terpisah dari dimensi masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Karena menurut para bijak bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Jas Merah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Salam. Jwt.

Selasa, 26 Agustus 2014

LIKA-LIKU KENTRUNG BATE

LIKA-LIKU KENTRUNG BATE 

Team Study Lapangan Antropologi
Salah satu bukti kuatnya pengaruh budaya timur tengah dalam kehidupan masyarakat Indonesia bisa kita dapati di Desa Bate Kecamatan Bangilan Kabupaten Tuban Jawa Timur.

Di desa ini, terdapat sebuah kelompok kesenian kentrung yang konon merupakan warisan dari seorang pujangga Persia yang singgah di desa ini untuk menyebarkan agama islam. Sayangnya seni kentrung dipastikan bakal segera sirna karena tidak ada generasi yang berminat meneruskannya. Suara parau mbah Surati melantunkan syair diiringi oleh alat musik kendang sebentar lagi mungkin sudah tidak bisa lagi didengar oleh telinga kita. Wanita tuna netra di desa Bate kecamatan Bangilan kabupanten Tuban ini, sudah terlalu renta untuk mampu bertahan bersama keseniantradisional kentrungnya. Tidak ada seorangpun anak yang dimiliki oleh perempuan berusia kurang lebih 100 tahunan ini. Ia hidup sebatang kara dirumahnya yang sangat sederhana. Suaminya sudah meninggal terlebih dahulu dari padanya. Dia hidup dengan bergantung pada job kentrunnya. Namun dengan beriringnya waktu dan merangkaknya era modernisasi, seni kentrungpun semakin terpinggirkan dan semakin jarang masyarakat yang mau mendatangkan satu-satunya grup kesenian kentrung yang masih eksis hingga zaman sekarang ini disetiap ada acara hiburan. Lagu kentrung Bate pada masanya sangat popular dan termasuk grup kesenian yang digandrungi oleh masyarakat kabupaten Tuban.

Kentrung Bate adalah satu-satunya kesenian kentrung di kabupaten Tuban,  sayangnya keberadaanya semakin tersingkir oleh kesenian modern dan terkena dampak era perkembangan. Namun kendati keadaan semakin sulit, mbah Rati dan mbah Samijo (teman main kentrung) tetap setia dengan kentrungnya dibantu oleh mbah Setri (kurang lebih 70 tahunan) yang masih kerabat dekatnya mbah Rati sebagai dalang sekaligus sebagai penabuh kendang keliling dari satu desa kedesa lainnya melantunkan bait-bait syair yang kental dengan aroma Timur Tengah.

Di usianya yang renta ini mbah Surati, mbah Samijo, dan mbah Setri masih sanggup main kentrung hingga ke kabupaten purbolinggo. Untuk sekali pentas mbah surati tidak pernah mematok harga. Namun rata-rata mbah rati dan grupnya mendapat honor 200.000 untuk sekali pentas. Menjalani hidup sebagai pemain kentrung memang tidak ringan. Dalang kentrung harus bersih lahir batin, hingga posisi duduknyapun harus menghadap timur saat mementaskan kentrung ini. Dengan kepercayaan bahwa hidup harus selalu optimis, yakni selalu menyongsong terbitnya matahari. Disamping itu, seorang dalang kentrung harus rela menderita tuna netra dikala usianya senja. Seperti yang dialami oleh mbah Rati. Mungkin karena mitos inilah yang menyebabkan tidak adanya generasi muda yang berminat menjadi dalang kentrung karena takut buta saat usianya tua.  (Bate, 9/5/14. Team Study Lapangan Antropologi  KMI ASSALAM Bangilan Tuban)

Senin, 25 Agustus 2014

Kesenian di Indonesia

 Ringkasan Antropologi Kelas XII semester 1

Bab I
Kesenian di Indonesia
A.      Pengertian Seni
Pengertian seni menurut Kamus Besar Bahasa In
donesia memiliki tiga pengertian :
-          Pertama seni adalah keahlian membuat karya yang bermutu
-          Kedua seni adalah karya yang diciptakan dengan keahlian luar biasa
-          Ketiga seni adalah kesanggupan akal untuk menciptakan  sesuatu yang luar biasa.
Sedang menurut Koentjaraningrat seni adalah keahlian dan ketrampilan manusia untuk mengekspresikan dan menciptakan hal-hal yang luar biasa.

Medium yang digunakan seniman untuk menyampaikan gagasannya bisa melalui bahasa, music, dan lukisan.

B.      Jenis-jenis Karya Seni
1.       Seni Rupa
Seni rupa merupakan jenis seni yang diwujudkan dalam bentuk rupa tertentu, seperti garis, warna, bidang, tekstur, dan pencahayaan yang ditata sedemikian rupa menurut prinsip-prinsip tertentu. Jenis seni rupa ada dua :
a.       Seni Rupa Murni
Seni rupa murni mencakup seni lukis, patung, dan seni grafis.
b.      Seni Rupa Terapan
Seni rupa terapan mencakup seni kriya tekstil, seni kriya keramik, desain komunikasi visual, desain interior dan lain-lain.
2.       Seni sastra
Seni sastra merupakan jenis seni yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Seni sastra mencakup folklore, prosa, puiisi, pantun, dan lain-lain.
3.       Seni Pertunjukan
Seni pertunjukan adalah seni yang dipergelarkan untuk dinikmati oleh para penontonnya. Dalam seni ini terdapat pembauran seni-seni lai, seperti seni music, sastra, dan seni peran.
Dalam Indonesian Heritage, ada tiga tipologi seni pertunjukan di Indonesia, yaitu :
a.       Tipologi berdasarkan  unsure artistik
b.      Tipologi berdasarkan fungsi social
c.       Tipologi berdasarkan apakah seni tersebut merupakan suatu dramatisasi atau bukan.

C.      Hubungan Seni dan Masyarakat
             Setidaknya, terdapat tiga unsure dalam peristiwa berkesenian, Pertama, pelaku seni, atau                  seniman; kedua, karya seni; dan ketiga penikmat seni (public). Hubungan ketiga unsure                      tersebut sangat erat dan tidak terpisahkan. Sang seniman yang hidup di tengah masyarakat,              mencoba mengomunikasikan realitas yang dialaminya dalam bentuk-bentuk kesenian                        tertentu kepada masyarakat. Kemudian dari apa yang dilihat, didengar, atau dirasakannya,                masyarakat akan memberi  komentar terhadap karya seni tersebut. Komentar  tersebut akan              dapat menjadi masukan bagi seniman untuk membuat karya seni yang lebih baik lagi.

Selasa, 03 September 2013

Perkembangan Seni Sastra

Perkembangan Seni Sastra

 Istilah “sastra” memiliki arti tulisan. Secara lebih luas, sastra dapat diartikan pembicaraan tentang berbagai tulisan yang indah bentuknya dan mulia isinya. Ditilik dari segi bentuk, karya sastra adalah sesuatu yang dapat menyenangkan hati, sedangkan bila ditilik dari segi isi, karya sastra memiliki nilai guna bagi siapa saja yang mampu menggapresiasikannya. Perkembangan Seni sastra Seni sastra zaman kuno dikembangkan melalui tradisi lisan (folklore), yaitu tradisi yang diwariskan dari mulut ke mulut dan disampaikan dalam bentuk cerita atau dongeng. Kemudian pada zaman aksara seni sastra dikembangkan dalam bentuk tulisan-tulisan atau karya sastra yang ditulis pada daun lontar. Kebanyakan karya sastra era ini berasal dari zaman Hindu Budha. Karya-karya tersebut diantaranya : 
1. Bharatayuda karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh 
2. Gatotkacasraya karya Mpu Panuluh
3. Smaradahana karya Mpu Darmaja
4. Wrattasancaya dan Lubdhaka karya Mpu Tanakung 

Pada akhir abad 16-17 M, perkembangan seni sastra banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam akibat dari munculnya peradapan Islam di Nusantara. Karya sastra tersebut diantaranya :
1. Asrar al Arifin, Syair perahu, Syair dagang, syair si burung pingai, karya Hamzah Fansuri 
2. Tibyan fi ma’rifat al adyan, sirot al mustaqim, bustan as salatin, karya Nuruddin ar Raniri 
3. Mir’at al iman mir’at al mu’minin karya Syamsudin Pase. 

Sedang di zaman Indonesia sastrawan-sastrawan yang kita kenal diantaranya : 
1. Chairil Anwar 
2. Sutan Takdir Alisyahbana 
3. H.B. Yasin 
4. Ajip Rosidi 
5. Hamka 
6. NH. Dini 
7. Umar Kayam 
8. Sapardi Djoko Damono 
9. Taufiq Ismail 
10. WS. Rendra 

Penggolongan seni sastra di Indonesia dalam beberapa zaman :
 a. Pujangga Lama Karya sastra yang dihasilkan sebelum abad XX. Karya sastra era ini didominasi oleh syair, pantun, gurindam, dan hikayat. 
b. Sastra Melayu Rendah Karya sastra yang dihasilkan sejak tahun 1870-1942, yang berkembang di lingkungan masyarakat Cina dan masyarakat Indo-Eropa 
c. Angkatan Balai pustaka Karya sastra Indonesia sejak tahun 1920-1950 yang dipelopori oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerpen, drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan karya sastra angkatan Pujangga Lama. 
d. Pujangga Baru Angkatan ini muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karyya sastra khususnya yang menyangkut nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. 
e. Angkatan ‘45 Karya sastra angkatan ini diwarnai pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya. 
f. Angkatan 50-an Ditandai dengan terbitnya majalah satra Kisah asuhan HB. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra didominasi cerpen dan kumpulan puisi. 
g. Angkatan 50-60-an 
h. Angkatan 66-70-an Ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horison. Sastrawan era ini diantaranya Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuaunto, Gunawan Muhammad, Sapardi Djoko Damono, Satyagraha Hurip, dan Paus Sastra Indonesia H.B. Jassin. 
i. Dasawarsa 80-an Era ini didominasi karya sastra yang bergenre roman percintaan dan sastrawan wanita. 
j. Angkatan Dasawarsa 2000-an Karya sastra era ini merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 90-an seiring dengan jatuhnya Orde Baru. 
k. Cybersastra Sastra era internet.

Minggu, 16 Juni 2013

Etnografi Suku Bali

Kebudayaan Bali

a.       Sistem Religi dan Kepercayaan
Sebagian besar masyarakat Bali beragama Hindu-Bali, tetapi ada segolongan kecil masyarakat Bali yang menganut Islam, Kristen, dan Katholik. Penganut Islam terdapat di Karangasem, Klungkung, dan Denpasar, sedangkan penganut agama Kristen dan Katholik terutama terdapat di Denpasar, Jembrana, dan Singaraja.

Orang Hindu percaya adanya Tuhan dalam bentuk konsep Trimurti yang berwujud :
1.       Wujud Brahmana yang artinya menciptakan
2.       Wujud Wisnu yang artinya melindungi serta memelihara
3.       Wujud Siwa yang artinya melebur segala yang ada

Selain itu mereka juga mengenal konsep roh yang meliputi :
-          Atman (roh abadi)
-          Karmapala (Buah dari sebuah perbuatan)
-          Punarbawa (kelahiran kembali dari jiwa)
-          Moksa (kebebasan jiwa dari lingkaran kembali)
Semua konsep tersebut termaktub dalam kitab Weda.
b.      Sistem Kekerabatan
Orang Bali dianggap sebagai warga masyarakat sepenuhnya jika sudah menikah. Perkawinan adat Bali bersifat eksogami, sehingga orang Bali akan berusaha untuk kawin dengan orang-orang yang dianggap sederajat dalam klen dan kasta (tunggal kawitan, tunggal dadia, tunggal sanggah).
Dahulu, jika terjadi perkawinan campuran, wanita akan dinyatakan keluar dari dadia. Secara fisik, suami istri akan dihukum buang (maselong) untuk beberapa lama ke tempat yang jauh. Sekarang hukum itu tidak berlaku lagi.
c.       Sistem Politik
Kelompok kesatuan adat di Bali disebut Banjar. Pusat banjar adalah bale banjar. Banjar dikepalai oleh seorang kepala yang disebut klian banjar (kliang). Tugas klian banjar menyangkut segala urusan dalam lapangan kehidupan sosial dan keagamaan.
Selain Banjar kesatuan adat masyarakat Bali meliputi :
1.       Subak
Subak adalah badan hukum adat yang otonom yang mengurusi masalah irigrasi dan sekaligus sebagai badan perencana aktivitas pertanian dalam suatu kelompok keagamaan. Subak dipimpin oleh seorang yang disebut sebagai sedahan agung.
2.       Seka
Seka adalah organisasi yang bergerak dalam lapangan hidup khusus yang meliputi :
a.       Seka yang bersifat permanen misalnya :
1.       Seka baru (perkumpulan tari baris)
2.       Seka truna (perkumpulan para pemuda)
3.       Seka daha (perkumpulan gadis-gadis)
b.      Seka yang bersifat sementara atau seka yang didirikan berdasarkan kebutuhan tertentu seperti :
1.       Seka memula (perkumpulan menanam)
2.       Seka manyi (perkumpulan menuai)
3.       Seka gong (perkumpulan gamelan)
d.      Sistem Kesenian
1.       Tari Daerah
Diantara tarian dari Bali adalah tari Legong dan tari Kecak. Tari legong menceritakan kisah cinta Raja Lasem, sedang tari kecak menceritakan kisah bala tentara monyet Hanuman dan Sugriwa dalam epos Ramayana.
2.       Rumah Adat
Rumah adat Bali meliputi Gapura Bentar (pintu gerbang), balai begong (tempat istirahat raja dan keluarga), balai wanikan (tempat adu ayam dan tempat pagelaran kesenian), Kori Agung sebagai pintu masuk pada waktu upacara besar, dan kori Babetelan yang merupakan pintu untuk keperluan keluarga.
3.       Pakaian Adat
Pakaian pria berupa ikat kepala (destar) kain songket saput, sebilah keris terselip pada pinggang bagian belakang.
Pakaian wanita memakai dua helai kain songket, stagen songket atau meprada, dan selendang/ senteng. Ia juga memakai hiasan bunga emas dan bunga kamboja di atas kepala. Perhiasan yang dipakai adalah subang, kalung, dan gelang.



Jumat, 17 Mei 2013

Etnografi Suku Dani


Kebudayaan Dani

a.       Sistem Kepercayaan
Suku Dani bermukim di lembah Baliem, Irian Jaya. Lembah ini berada di tengah-tengah pegunungan Jaya Wijaya pada ketinggian 1600 meter  diatas permukaan laut. Lembah Baliem memiliki luas + 1200 km2.
Suku Dani mempercayai  Atou, yaitu kekuatan sakti yang berasal dari nenek moyang yang diturunkan kepada anak laki-lakinya. Kekuatan sakti itu antara lain :
1.       Kekuatan menjaga kebun
2.       Kekuatan menyembuhkan penyakit dan menolak balak
3.       Kekuatan menyuburkan tanah

Oleh karena itu suku Dani sangat menghormati nenek moyangnya yaitu dengan jalan membuat lambang nenek moyang yang disebut Kaneka, yang berwujud batu keramat berbentuk lonjong yang diasah hingga mengkilap.

Disamping itu masyarakat Dani juga melaksanakan upacara adat yaitu :
1.       Tentang siklus kehidupan yang menyangkut kelahiran, inisiasi, perkawinan, dan kematian.
2.       Tentang soal kehidupan menyangkut penyakit dan peperangan
b.      Sistem Kekerabatan
Kekerabatan masyarakat Dani bersifat patrinineal. Garis keturunan dihitung dalam satu kelompok nenek moyang mulai dari ayah sampai enam atau tujuh generasi.
Menurut mitologi, suku Dani berasal dari keturunan sepasang suami istri yang menghuni suatu danau disekitar kampung Maina, di lembah Baliem Selatan. Mereka mempunyai anak bernama  Waita dan Wara. Perkawinan pada suku Dani bersifat eksogami karena kedua anak tadi beserta keturunannya dilarang oleh orang tuanya menikah dalam kelompoknya masing-masing.
c.       Sistem Ekonomi
Mata pencaharian pokok suku Dani adalah bercocok tanam ubi kayu dan ubi jalar. Selain itu kebun mereka juga ditanami pisang, tebu dan tembakau.
Kebun milik suku Dani ada tiga jenis :
1.       Kebun-kebun di daerah rendah dan datar yang diusahakan secara menetap
2.       Kebun-kebun di lereng gunung
3.       Kebun-kebun yang berada di antara dua uma

Selain bertanam mereka juga beternak babi. Babi dipelihara di kandang yang disebut wamai (Wam : babi, ai : rumah). Bagi suku Dani babi berguna untuk :
1.       Dimakan dagingnya
2.       Darahnya dipakai dalam jupacara magis
3.       Tulang-tulang dan ekornya untuk hiasan
4.       Tulang rusuknya digunakan untuk pisau pengupas ubi
5.       Sebagai alat pertukaran/ b arter
6.       Menciptakan perdamaian bila ada perselisihan.

Suku Dani juga sudah melakukan kontak dagang dengan masyarakat luar disekitarnya. Barang-barang yang diperdagangkan adalah batu untuk membuat kapak, kayu, serat, kulit, binatang, dan bulu burung.

Sabtu, 30 Maret 2013

Kebudayaan Sunda


Kebudayaan Sunda

Berdasarkan tinjauan etnografis, suku Sunda adalah suku yang secara turun-temurun  menggunakan bahasa ibu, yaitu bahasa sunda. Suku sunda mendiami tanah Pasundan atau Tatar Sunda yang meliputi seluruh propinsi Jawa Barat. Pada bagian timur dibatasi oleh sungai Cilosari dan sungai Citanduy.

a.       Sistem Religi dan Kepercayaan
Masyarakat Sunda sebagian besar beragama Islam.  Selain itu mereka juga masih percaya kepada hal-hal yang bersifat mitos dan tahayul. Seperti  dongeng, dan hal-hal yang bersifat ghaib. Contohnya dalam mitologi petani-petani sunda dikenal dongeng tentang dewi padi yang disebut Nyi Pohaci Sangyang Sri.
b.      Sistem Kekerabatan
Sistem kekerabatan masyarakat Sunda adalah bilateral yakni garis keturunan yang memperhitungkan hubungan kekerabatan melalui ayah dan ibu. Dalam upacara pernikahan suku Sunda dikenal istilah upacara nyawer dan buka pintu.
c.       Sistem Kesenian
1.       Rumah adat
Kraton Kasepuhan Cirebon merupakan model rumah adat masyarakat Sunda. Keraton tersebut terdiri atas empat ruangan, yaitu :
a.       Jinem atau pendopo untuk para penggawa atau penjaga keselamatan Sultan
b.      Pringgondani, tempat sultan memberi perintah kepada para adipati
c.       Prabayasa, tempat sultan menerima tamu istimewa
d.      Panembahan, ruang kerja dan tempat istirahat sultan.
2.       Pakaian adat
3.       Seni tari dan Kesenian lainnya
Tari dari daerah Jawa Barat antara lain, tari topeng kuncaran dan tari kupu-kupu. Alat musik khas Jawa Barat adalah angklung dan calung. Seni vokalnya Cing Cangkeling dan seni wayang golek.
d.      Sistem Politik dan Pemerintahan
                Secara administratif desa di wilayah Jawa Barat dipimpin oleh seorang Kuwu yang didampingi oleh     seorang juru tulis (tugasnya mengurus administrasi desa), tiga orang kokolot (tugasnya menyampaikan perintah dan berita kepada warga), seorang kulisi (tugasnya memelihara keamanan desa), seorang ulu-ulu (tugasnya mengurus pembagian air dan memelihara selokan) , dan seorang amil (mengurus kelahiran, kematian, pernikahan, dan memimpin doa selamatan) , serta tiga pembina desa.

                  

Kebudayaan Jawa


Kebudayaan Jawa

Suku Jawa mendiami Pulau Jawa bagian tengah dan timur. Daerah yang merupakan pusat kebudayaan Jawa adalah dua daerah bekas kerajaan Mataram yaitu Yogyakarta dan Surakarta yang terpecah pada tahun 1775.

a.       Sistem Religi dan Kepercayaan
Mayoritas masyarakat Jawa adalah pemeluk ajaran Islam, disamping itu ada juga pemeluk Nasrani, Hindu dan Budha. Pada suku Jawa yang beragama Islam tidak semua orang melakukan ibadah sesuai dengan kriteria Islam. Secara antropologis menurut Clifford Geertz pemeluk agama Islam terbagi menjadi dua kelompok yaitu Islam Putihan (golongan santri) dan Islam Abangan ( Kejawen).
Orang Jawa mengaitkan upacara-upacara keagamaan dengan “Selametan”, antara lain :
·         Selametan dalam rangka lingkaran hidup seseorang seperti :
1.       Tujuh bulan kehamilan
2.       Kelahiran
3.       Potong rambut yang pertama
4.       Upacara turun tanah
5.       Upacara nindik bayi perempuan
6.       Upacara perkawinan
7.       Upacara kematian
·           Selamatan yang bertalian dengan kehidupan desa seperti :
1.       Bersih desa
2.       Penggarapan tanah pertanian
3.       Masa tanam dan panen
·           Selametan untuk memperingati hari-hari serta bulan-bulan besar Islam
·           Selametan pada saat yang tidak menentu dan berkenaan dengan kejadian-kejadian tertentu seperti :
1.       Melakukan perjalanan jauh
2.       Menempati rumah baru
3.       Menolak bahaya (ngruwat)
4.       Janji ketika sembuh dari sakit (kaul)

b.      Sistem Kekerabatan
Sistem kekerabatan masyarakat Jawa didasarkan pada prinsip keturunan bilateral atau parental. Pada masyarakat Jawa, dilarang melakukan perkawinan dengan misan (saudara sepupu).
Pada umumnya masyarakat Jawa tidak mempersoalkan tempat tinggal menetap setelah pernikahan. Ada yang tinggal disekitar tempat mempelai perempuan (uxorilokal), dikediaman mempelai laki-laki (utrolokal). Namun umumnya mereka merasa bangga apabila menempati tempat tinggal baru (neolokal).

c.       Sistem Kesenian
Berdasarkan lokasi, sistem kesenian masyarakat Jawa  mempunyai dua tipe, yaitu tipe Jawa Tengah yang meliputi Banyumas sampai Kediri dan Jawa Timur daerahnya meliputi Jawa bagian timur sampai Banyuwangi dan Madura.
1.       Kesenian Tipe Jawa Tengah
a.       Seni Tari, meliputi tari Srimpi, tari bambang cakil dll.
b.      Seni Tembang, misalnya suwe ora jamu, Gek kepiye, Pitik tukung, dll.
c.       Seni Pewayangan, bentuknya wayang kulit, wayang orang, dan wayang purwa
d.      Seni Teater Tradisional, adalah kethoprak
2.       Kesenian Tipe Jawa timur
a.       Seni Tari dan Teater, diantaranya tari Ngremo, tari Tayuban,  tari Kuda lumping, Reog Ponorogo dan tari Langger.
b.      Seni Pewayangan, bentuknya adalah wayang beber
c.       Seni Suara, misalnya Tanduk Majeng dari Madura, Ngindung dari Surabaya.
d.      Seni Teater Tradisional, berupa ludruk dan Kentrung.
3.       Rumah Adat
Rumah model Jawa Tengah : Limasan dan Joglo. Joglo umumnya terdiri dari tiga ruangan yaitu pendopo, pringgitan, dan dalem.
Rumah model Jawa timur : Rumah model Madura (Model dara gepak dan empyakan )

d.      Sistem Kemasyarakatan dan politik
Dalam stratifikasi masyarakat Jawa terbagi menjadi dua golongan yaitu Priyayi/ bendara dan masyarakat biasa (wong cilik). Priyayi merupakan lapisan atas, sedang wong cilik merupakan lapisan bawah.
Secara administratif, suatu desa di Jawa disebut kelurahan yang dikepalai oleh seorang lurah. Sebutan lurah untuk tiap daerah berbeda-beda misalnya Petinggi, Bekel, Gelondong dll. Dalam menjalankan tugasnya lurang dibantu oleh pamong desa yang meliputi :
1.       Carik, bertugas sebagai  pembantu umum dan penulis desa
2.       Jagatirta, atau ulu-ulu bertugas mengatur air ke sawah-sawah penduduk
3.   Jagabaya, bertugas menjaga keamanan desa.

Jumat, 29 Maret 2013

Kebudayaan Minangkabau


Kebudayaan Minangkabau

1.   Sistem religi,
masyarakat Minangkabau merupakan penganut Islam yang taat. Boleh dikatakan bahwa masyarakat Minang hampir tidak mengenal unsur-unsur kepercayaan lain kecuali apa yang diajarkan dalam agama Islam seperti kegiatan yangg berkaitan dengan ibadah hari raya idul fitri, hari qurban, puasa ramadhan, upacara khitan, aqiqoh, dan upacara tabuik. Agama dan adat minang hubunganya sangat erat sebagaimana yang dikatakan "adat bersandi syarak, syarak bersandi kitabullah"

2.    Sistem kekerabatan
Garis keturunan masyarakat Minang adalah matrilineal, yaitu seorang anak akan masuk keluarga ibu, bukan keluarga ayah. Kesatuan keluarga masyarakat Minang terdiri dari paruik, kampuang, dan suku. Dalam sistem perkawinan masyarakat Minang tidak mengenal mahar, tetapi yang ada adalah uang jemputan dari pihak keluarga mempelai laki-laki.

3.    Sistem kesenian
Rumah adat masyarakat Minang adalah rumah gadang yang terdiri dari tiga didiah, didiah tempat tidur, tempat pesta, dan kamar untuk tamu. Selain itu rumah gadang juag dilengkapi anjuang, yaitu tempat yang ditinggikan untuk tamu kehormatan. Seni tari dari minangkabau diantaranya, tari payung, tari tempurung, tari lilin, tari serampang dua belas. Alat musiknya adalah telempong pacik (sejenis gong kecil), saluang (seruling bambu) dan rebana atau kendang melayu.

4.    Sistem politik
kesatuan teritorial di Minangkabau disebut nagari, yang dipimpin oleh ketua adat yang disebut penghulu andiko. Tiap nagari terdiri dari empat suku yang masing-masing dikepalai oleh penghulu suku. Bersama dengan keempat penghulu suku, penghulu andiko membentuk pemerintahan tertinggi yang disebut pucuk nagari.


              5.  Demikian sekilas twett kami tentang etnografi Minangkabau. JWT

Rabu, 27 Februari 2013

Kebudayaan Batak


Kebudayaan Batak

Suku Batak menempati daerah pegunungan di Sumatera Utara. Diantara suku-suku Batak tersebut adalah Batak Karo, Batak Toba, Batak Pak-pak, Batak Simalungun, Batak Angkola dan Batak Mandailing.
a.       Sistem Religi dan Kepercayaan
-          Masyarakat Batak Mandailing dan  Angkola banyak memeluk agama Islam yang dibawa oleh pedagang Minangkabau sekitar abad 19 M
-          Masyarakat Batak Toba, Batak karo, dan Batak simalungun mayoritas memeluk agama kristen yang dibawa oleh misionaris dari Jerman dan Belanda sekitar tahun 1863 M
-          Selain itu ada juga yang memeluk agama animisme. Pemeluk animisme percaya yang menciptakan alam semesta adalah Debata Mula Jadi, Na Bolon (Toba) atau Dibata Kaci-kaci (Karo). Masyarakat Batak juga mengenal tiga konsep tentang jiwa dan ruh yaitu :
1.     Tondi : adalah jiwa atau roh seseorang yang merupakan kekuatan, oleh karena itu tondi memberi nyawa kepada manusia. Tondi di dapat sejak seseorang di dalam kandungan.Bila tondi meninggalkan badan seseorang, maka orang tersebut akan sakit atau meninggal, maka diadakan upacara mangalap (menjemput) tondi dari sombaon yang menawannya.
2.     Sahala : adalah jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang. Semua orang memiliki tondi, tetapi tidak semua orang memiliki sahala. Sahala sama dengan sumanta, tuah atau kesaktian yang dimiliki para raja atau hula-hula.
3.     Begu : adalah tondi orang telah meninggal, yang tingkah lakunya sama dengan tingkah laku manusia, hanya muncul pada waktu malam

b.      Sistem Kekerabatan
Orang Batak menghitung hubungan keturunan berdasarkan prinsip patrilineal, yaitu suatu kelompok kekerabatan berdasarkan satu ayah, satu kakek, dan satu nenek moyang. Kelompok kekerabatan terkecil disebut Rips (toba) Jabu (karo). Suatu kelompok kekerabatan besar disebut marga. Dalam sistem perkawinan masyarakat Batak tidak boleh kawin dengan orang semarga (satu marga), karena dianggap masih bersaudara. Sistem perkawinan semacam ini disebut asimetrik konubium.
c.       Sistem Kesenian
a.       Rumah adat masyarakat Batak memiliki beberapa tipe, yaitu :
-          Tipe Batak Toba, konstruksinya kokoh dengan ciri khas tiang-tiangnya terbuat dari kayu gelondongan
-          Tipe Batak karo, merupakan tipe rumah pengungsian. Pintu depan menghadap ke arah hulu dan pintu belakangnya ke arah muara.
-          Tipe Batak Simalungun, bentuk atapnya kadang tidak simetris. Mahkota atapnya menghadap ke empat arah mata angin dan ujung atapnya dihiasi dengan hiasan yang berbentuk kepala kerbau.
b.      Seni tari dan alat musik
Tarian Batak yang dikenal disebut Tortor. Tarian ini dibawakan baik oleh pria maupun wanita yang diiringi dengan alat musik yang  berupa agung, taganing, sarune, dan gesek.
c. Pakaian Adat
Pelengkap pakaian adat suku Batak yang khas adalah kain ulos yang berbentuk segi empat panjang (P : 1.80 M dan L : 1 M )
d.      Sistem Politik
Secara umum kepemimpinan pada masyarakat Batak terbagi menjadi tiga yaitu :
1.       Kepemimpinan adat, kepemimpinan adat tidak berada dalam tangan seorang tokoh, tetapi merupakan suatu musyawarah dari sungkep sitelu
2.       Kepemimpinan pemerintahan, bidang pemerintahan dipegang oleh salah satu keturunan tertua dari marga taneh
3.   Kepemimpinan agama, penganut  agama Islam maupun kristen tokoh agamanya adalah para para ulama dan pendeta, sedang dalam hal kepercayaan diserahkan kepada seorang dukun yang disebut sebagai guru sibaso.

Studi Etnografi Indonesia



Studi Etnografi Indonesia

Etnografi berasal dari kata ethno, yang berarti bangsa atau suku dan graphy yang berarti tulisan. Jadi etnografi adalah tulisan mengenai kehidupan sosial dan budaya suatu suku bangsa.
Spradley dalam pengantar antropologi Koenjtaraningrat menyatakan etnografi adalah menguraikan dan menjelaskan suatu kebudayaan. Adapun Spindler menyatakan bahwa etnografi adalah kegiatan antropologi di lapangan.

Berdasarkan pernyataan kedua pakar diatas dapat kita simpulkan bahwa etnografi bukan sekedar mengumpulkan data tentang orang atau kebudayaan. Lebih dari itu, etnografi berupaya menggali kebudayaan sekelompok masyarakat secara keseluruhan.

Minggu, 07 Oktober 2012

Fungsi Agama/ Religi/ Kepercayaan

1.    Fungsi Pendidikan
Agama merupakan pedoman hidup yang dapat memberikan bimbingan dan tuntutan umatnya untuk mengenal tindakan yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk.
2.    Fungsi Sosial
Agama disamping mengatur hubungan antara umatnya dengan Tuhan (hablum minallah) juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya (hablum minannas).
3.    Fungsi Pengendalian Diri
Agama menanamkan kesadaran dan eksistensi diri manusia sebagai makhluk ang lemah dengan segala keterbatasannya. Hal ini akan menyadarkan manusia tentang kehidupannya, popuaritas, pemilikan harta  benda, kecerdasan, dan sebagainya, sehingga manusia tidak menyombongkan dirinya.
4.    Fungsi Perlindungan
       Manusia meyadari bahwa kehidupannya di dunia tidak lepas dari kekuasaan Tuhan. Maka, dalam  
      menjalani hidup maupun sesudah mati, manusia membutuhkan keselamatan berdasarkan keyakinan 
      terhadap Tuhan. Manusia akan menyandarkan segala cita-citanya, usahanya dan semuanya tidak lepas 
      dari kekuasaan Tuhan. Dengan demikian, manusia akan selalu merasa hidup dalam ketenangan dan 
      ketentraman

Kamis, 27 September 2012

AGAMA DAN KEPERCAYAAN DI INDONESIA


AGAMA DAN KEPERCAYAAN DI INDONESIA

  1. Ada Enam Agama Besar di Indonesia
a.  Hindu
Agama yang paling tua di Indonesia. Berkembang sejak kerajaan Kutai, Kediri, Singasari, Majapahit, PAjang. Sekarang banyak terdpat di Bali, NTB,
Empat upacara umat Hindu:

1)  Bhakti marga: upacara adat, merawat tempat suci, pasrah pada Tuhan
2)  Karma Marga : cara bertingkah laku, beragama dengan taat, giat bekerja
3)  Jnana Marga: cara bijak dan pandai; mempelajari KS,
4)  Yoga Marga ( mendisiplinkan diri secara rohani): pengendalian hawa nafsu,
      mengekang diri dari kenikmatan duniawi, mengucap mantra.
      Hari raya: Nyepi, Galungan

b.   Budha
Tanda kebesaran agama Budha di Indonesia adalah Candi Borobudur di JAwa Tengah. Ajaran Budha mendorong ummatnya mengembangkan empat jiwa positif yaitu:

1)     mengasihi semua makhluk yang mempunyai perasaaan dengan sepenuh hati (Metta)
2)      bersuka cita dalam kebahagiaan makhluk lain dan tidak mendengkinya (mudita)
3)      berbagi penderitaan dengan makhluk lain ( KAruna)
4)      tetap damai dan bebas ( upekha)
        Hari raya Budha : Waisyak

c.   Islam
Merupakan agama mayoritas di Indonesia, Islam di masyarakat Jawa oleh Clifford Geertz dibedakan menjadi 3 golongan:
1)   Islam Santri : golongan islam taat
2)   Islam abangan : Golongan Islam yang yang hanya menggunakan Islam sebagai
      kedok/topeng aslinya golongan ini tidak memahami Islam dengan baik. Mereka
      masih banyak yang memiliki kepercayaan lama
3)   Islam Priyayi : Golongan islam yang terdiri dari kaum bangsawan, keluarga istana,
      pejabat pemerintah dan kaum terpelajar. Golongan ini menjadi Islam karena Politik,
      kedudukan atau jabatan

d.  Kristen
Agama terbesar ke dua setelah Islam.

e.  Katholik : agama terbesar ketiga setelah Islam dan Kristen banyak dianut oleh
      masyarakat di Papua, NTT, maluku, dan kota-kota besar di Indonesia

f. Konghuchu

2. Kepercayaan-kepercayaan Masyarakat

Beberapa daerah di Indonesia memiliki kepercayaan yang berbeda-beda antara lain:

a.  Kalimantan Tengah
Kepercayaan masyarakat Kalimantan Tengah adalah Kaharingan, yang artinya kehidupan. Mereka percaya kepada Ranying Hatalla yaitu Tuhannya yang menciptakan kehidupan dan mengatur segala sesuatu menuju kesempurnaan kekal abadi.
Dalam Kaharingan dipercaya bahwa alam semesta dibedakan menjadi 3 bagian yaitu alam bawah (pantai Danum Kalunen), Alam Atas, bagian langit ketujuh

b.  Nias (Sumatera Utara)
Suku Nias memiliki kepercayaan yang disebut pelebegu, istilah yang diberikan oleh para pendatang yang berarti penyembah roh. Menurut kepercayaan ini manusia memiliki dua macam tubuh yaitu tubuh kasar (boto) dan tubuh halus. Tubuh Halus dibagi lagi menjadi 2 macam yaitu moso (nafas) dan lumo-lumo (bayangan)

c.   Jawa
Masyarakat jawa (jawa tengah dan Jatim)  banyak menganut tradisi kebatinan dan kejawen.

d.  Mentawai
Berada dipedalaman  Siberut. Masyarakatnya percaya bahwa setiap benda, manusia, hewan, dan tumbuhan memiliki jiwa. Kekuatan gaib yang ada di setiap benda disebut BAJOU.


e.  BATAK
Masyarakat batak memiliki kepercayaan animisme. Mereka memiliki kepercayaan terhadap roh nenek moyang. Mereka percaya terhadap Roh. Roh orang mati disebut sebagai Begu. Roh orang yang masih hidup adalah Tondi,  Dan orang yang memiliki keistimewaan tertentu disebut sebagai Sahala.

f.   Baduy
Orang Baduy percaya kepada Tuhan yang disebut Batara Tunggal. Segala kehidupan social dan kebiasaan mereka diuraikan dalam pikukuh yaitu seperangkat aturan perilaku yang diturunkan oleh leluhur. Pelanggar pikukuh harus mengikuti pembersihan  dan kemudian dibuang dari baduy dalam (kampong tangtu) ke daerah luar (kampong dangka)

g.  Tengger
Orang Tengger beragama Hindu yang lebih dekat ke Kejawen.

h.   Asmat
Orang Asmat percaya terhadap roh leluhur.