Tampilkan postingan dengan label KMI ASSALAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KMI ASSALAM. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Desember 2017

Pesan Pengasuh Ponpes ASSALAM Bangilan Di Pekan Classmeeting dan Liburan Santri

Pesan Pengasuh Ponpes ASSALAM Bangilan Di Pekan Classmeeting dan Liburan Santri
Oleh : KH. Yunan Jauhar, S.Pd., M.Pd.I

بسم الله الرحمن الرحيم
الســلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْداً يُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِى مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ  وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ.اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَان إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, أَمَّا بَعْدُ.
Bapak-Bapak Guru, Santri-santri yang kami cintai, dan Keluarga Besar Pondok  Pesantren ASSALAM yang berbahagia.
Hari ini, kami Pengasuh Pondok ASSALAM beserta para santri dan guru, ditambah asatidzah dan ustadzah, pagi hari ini menyaksikan gerak langkah, sepak terjang perjuangan Pondok ASSALAM di masyarakat. Jumlah 1500 Santri berada di tengah-tengah kita menempuh perjalanan hidup, menggapai dunia ilahi.
Betapa besarnya nikmat Allah untuk Pondok Pesantren ASSALAM dan betapa agungnya nilai-nilai perjuangannya, suatu karunia yang tak ternilai dengan apapun, sekaligus amanat menuju ridlo Allah. 
Tidak mensyukuri kemajuan orang yang tak pernah mengalami kemunduran atau kemandegan. Marilah kita semua berbuat, bekerja, berfikir dan berdo’a siang dan malam, semaksimal mungkin, dengan vitalisasi tenaga, dengan fikiran, dengan hati, berbekal ilmu dan akhlak.

عُلُوْمٌ نَافِعَةٌ – وَأَخْلاَقٌ كَرِيْمَةٌ. اِعْمَلُوْا فَوْقَ مَا عَمِلُوْا
Berbuatlah lebih dari yang para pendahulu berbuat, BERPACU MENUJU YANG LEBIH BAIK
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً (الأية).
Rasa “percaya diri” kita, pada sistem pendidikan yang memadukan ide, gerak dan langkahnya mendapatkan simpati, kepercayaan dan pengakuan semua lapisan masyarakat, sehingga meskipun menghadapi hadangan pihak yang tak suka ( يريدون ليطفؤونورالله  ), bermunculanlah sistem ini  berbarengan dengan laju pesatnya minat mengamalkan ajaran/syari’at Islam.

Anak-anakku sekalian, keluarga besar PondokASSALAM.
Semua santri & guru Pondok ASSALAM sampai yang berkeluarga, harus menghayati dengan benar isi Khutbatul ‘Arsy, yakni : Pidato tentang kebijakan-kebijakan, program-program jangka pendek dan jangka panjangnya agar tidak berfikir individual, Ayoh Mas nyang sarangan, Ayo Mas nyang selekta atau  Awake dewe oleh opo Mas?! Awake dewe duwe opo mas? Kapan duwe “anu” lho maas! Ini Penyakit, atau berfikir sektoral, hanya memikirkan urusannya. Ujung-ujungnya mudah tercemar (terkontaminasi), tersusup (terinfiltrasi), ‘anasir-‘anasir yang merusak atau memalingkan.

Memalingkan dari tugas-tugas sebagai pejuang-pejuang, suami pada istri, istri kepada suami, jangan sampai memalingkan tujuan pengabdian, perjuangan, disini adanya adalah “give, give, give” tidak ada kamus “take” dipondok ini. Suami juga demikian, bapak juga demikian “Nak izin nak, besok izin kakakmu mau kawin, “Nak minta izin kepada Kyai, besok pagi adikmu ulang tahun, Nak besok tanggal sekian, saya pulang karna kambingmu akan disunati”. “Ini penyakit, ini penyakit” “penyakit jiwa” “penyakit panca jiwa”.

Mulai tahun ini ada pernyataan penyerahan tertulis wali santri demi pencerahan hati/niat dan demi rasa tanggungjawab bersama, apalagi di zaman carut marutnya peradaban-peradaban yang ditawarkan oleh semua pihak/aliran didunia. 
Sejak Pondok dirintis oleh Abah Moehaimin Tamam, Pondok ASSALAM  tetap menanamkan risalah keislaman, keilmuan dan kemasyarakatan. Keikhlasan,Kesederhanaan,Berdikari (kemandirian),Ukhuwah Islamiyah,Kebebasan. Inilah pijakan kita dalam meneruskan amanah Abah Moehaimin Tamam. Meniti jalan, menapak bumi, menggapai dunia lillahi robbil ‘alamin.

الله أكبر…الله أكبر…الله أكبر                                       
Alangkah beruntungnya para guru dan keluarga besar Pondok Pesantren ASSALAM yang berkesempatan mengenyam KEHIDUPAN BERSAMA, berada di tengah-tengah medan perjuangan; menjaga, membantu dan membela risalah yang mulia ini. Bondo bahu pikir, lek perlu bojone pisan, kalau perlu suaminya dikorbankan, kalau perlu istrinya dikorbankan, bukan dipertahankan untuk mashlahat yang pendek, atau mashlahat pribadi.
Bapak-bapak guru dan anak-anakku.
Pandanglah putra-putra ummat yang gagah, yang ganteng-ganteng, cerah-ceria, anak-anak kita generasi yang akan datang, rapih-rapih ibarat mutiara yang bersinar cerah, secerah sinar matahari di pagi hari, berbaris rapih, serapih hati fikiran dan penampilannya. Jangan Geer kalau dipuji orang, jangan kecewa kalau diledek orang, ananda adalah seorang muslim sejati.
Melangkah kepada 21 tahun umur Pondok Pesantren ASSALAM ini, tidak cukup hanya mendengar, membaca dan berbicara, tetapi perlu dengan seksama merenungkan kembali refleksi risalah Pondok ini. Jangan sampai kecewa karena merasa kurang beruntung atau puas karena mendapatkan banyak manfaat jangka pendek. Mencari baiknya, bukan enaknya. 
Kegiatan santri di Pondok Pesantren  selama 24 jam akan menentukan nilai raport Pondok secara umum. Kurikulum Pondok Pesantren mulai bangun tidur termasuk mata pelajaran, berangkat tidur termasuk kurikulum, membangunkan anak termasuk  kurikulum, keliling malam termasuk kurikulum, berpramuka termasuk kurikulum, berorganisasi termasuk kurikulum Pondok Pesatren ASSALAM, matematika, fisika, fiqh, hadits juga termasuk kurikulum. Oleh karena itu totalitasPondok ini yang menentukan raport Pondok Pesantren ASSALAM secara umum dan secara detail.

Kekompakan keharmonisan mengharuskan pola kebersamaan tanpa meninggalkan maslahat pribadi/perorangan; pemberdayaan kader dengan etos kerja berpanca jiwa. Masa yang akan datang – dekatnya tahun ini – merupakan جدّية “Kesungguhan”. Intensifikasi di semua bidang. EVEN THE BEST CAN BE IMPROVED.  Yang terbaik masih bisa diperbaiki. Kedisiplinan harus kita jalankan, disiplin waktu, disiplin pakaian, disiplin izin, disiplin kegiatan harus kita jalankan. Kalau kita bukan yang menjalankan aturan-aturan kita akan siapa lagi ?.

Pondok Pesantren ASSALAM harus bisa menjadi benteng dari upaya penghancuran Islam (De Islamisasi); Mengisolasi Islampemojokan dan peminggiran tuntunan-tuntunannya. Berpijak pada inti amanatnya yaitu Islamisasi kehidupan menuju ridho Allah SWT. Pesantren benteng moral, melawan penjajah dan penjajahan” demikianlah sejarah mencatat. 
فىِِ أَىِّ أَرْضٍ تَطَأُ فَأَنْتَ مَسْئُوْلٌ عَنْ إِسْلاَمِهَا
Bumi yang luas ini, akan menjadi sempit karna moral disiplin dan karna disiplin moral ditinggalkan.Namun marilah kita berjihad.

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
Dan orang-orang yang berjuang di jalan Kami, niscaya akan Kami beri petunjuk jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang berbuat kebaikan”. (Al-Ankabut 69)  
أَفَمَنْ يَمْشِى مُكِبًّا عَلَى وَجْهِهِ أَهْدَى أَمَّنْ يَمْشِى سَوِيًّا عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ ( الأية) 
“Apakah orang yang berjalan diatas mukanya itu lebih banyak mendapat petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap diatas jalan yang lurus” (Al-Mulk 22)                                       
Ya Allah lindungilah kami, Lindungilah guru-guru dan murid-murid kami.Lindungilah Keluarga Besar Pondok Pesantren ASSALAM Kampung DamaiDengan taufiq dan hidayah Mu Dengan ilmu yang bermanfaat Dengan kekuatan lahir dan bathin. Karunialah kami Keluarga Besar Pondok Pesantren ASSALAM kesehatan, kekuatan, kesabaran, ketabahan, istiqomah mengembangkan pondok ini. Bukakanlah jalan yang terbaik bagi kami, menuju ridho Mu Ya Allah.
Ya Allah…..
Ampunilah dosa kami, dosa orang tua – orang tua kami, dosa para syuhada’ pondok ini,dan semua yang berjasa kepada pondok ini. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.Jauhkanlah dari riya’ dan takabbur. Tumbuhkanlah kekompakan dan kebersamaan kepada kami
Ya Allah…..
اللّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ, اللّهُمَّ سَهِّلْ أُمُوْرَنَا وَيَسِّرْ أَعْمَالَنَا وحقق اعمالنا وثبت اقدامنا وبارك لنا.اللهم اعن المسلمين لاعلاء كلمتك يا الله اللهم انفق انصار معاهدنا الي ما فيه صلاح الاسلام والمسلمين. وَحَقِّقْ آمَالَنَا وَقَوِّنَا وَثَبِّتْ أَقْداَمَنَا وَبَارِكْ لَنَا وَوَفِّقْنَا فِى كِفَاحِنَا وَجِهَادِناَ وَرِيَاسَتِناَ فِى هذَا الْمَعْهَد برحمتك وكرمك يا اكرم الاكرمين, اللهم اكرمنا ولا تهنا واتنا وتحرمنا وزدنا ولا تنقصنا وارضنا وارض عنا اللهم حبلنا من ازوجنا وذريتنا قرة اعين واجعلنا للمتقين اماما.
Jadikanlah kami generasi ini, generasi anak-anak kami selalu menyenangkan hati, menyenangkan pandangan, jadikanlah kami generasi-generasi anak kami dan seterusnya menjadi generasi imam, teladan, generasi perintis, imam pedoman bagi orang-orang yang bertakwa berani menyatakan kebenaran bukan hanya membenarkan kenyataan.

ربنا ا تنا في الدنيا حسنة وفي الاخرة حسنة وقنا عذاب النار
Allahu Akbar!   Allahu Akbar!   Allahu Akbar! 
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته





Minggu, 12 Maret 2017

ASSALAM Sudah Begini Ataukah Baru Begini?

Pic. Mbah Moel
ASSALAM sudah begini ataukah baru begini?
Oleh : Joyojuwoto*

“ASSALAM sudah begini ataukah baru begini?.” Begitulah salah satu pertanyaan yang disampaikan oleh Abah Moehaimin, pendiri Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan  Tuban kepada salah satu alumni era 80-an. Hal ini saya baca dalam buku “Surgaku Adalah Mengajar” sebuah buku kumpulan tulisan untuk mengenang KH. Abd. Moehaimin Tamam.

Dari pertanyaan Abah Mohtam di atas, para Hawariy penerus perjuangan Abah Mohtam harus menjawab dengan sebuah tindakan yang nyata, jelas, dan terukur agar apa yang ditanyakan oleh pendiri dari pondok pesantren ASSALAM ini menemukan titik jawaban yang memuaskan. Pertanyaan dari Abah mengandung sebuah harapan besar, agar kelak pondok pesantren ASSALAM Bangilan terus berbenah dan berkembang yang lebih baik lagi.

Perubahan-perubahan zaman adalah sebuah keniscayaan, dan jika pondok pesantren ingin tetap eksis tentunya harus menyesuaikan dengan perubahan-perubahan itu. Kita tidak akan mungkin menang melawan perubahan zaman, jika kia tidak mengikuti arus besar perubahan, maka bersiap-siaplah untuk digulung, dihantam, dihempaskan dan akhirnya dihancurkan oleh arus perubahan itu  sendiri. Ingat teori evolusi, bahwa makhluk hidup yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya lama kelamaan akan punah. Yang tertinggal hanyalah mereka yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya, begitu pula teori ini juga berlaku bagi pondok pesantren yang tidak mampu melihat arah perubahan zaman.

Perubahan-perubahan yang saya maksud untuk diikuti tentu bukan sembarang perubahan, masalah prinsip, masalah pokok tetaplah harus kita pegang erat, kita pertahankan, kita pegang teguh, namun kita juga jangan terlalu kolot statis, yang tidak bisa melihat modernitas dengan segala potensi kebaikan dan kemajuannya. Saya kira ulama-ulama salafus sholihin pun mengajarkan akan hal ini. Dalam sebuah kaidah ushul fiqih sering kita ucapkan “Al-muhaafadhotu ‘alal Qadiimis Shoolih, Wal akhdu bil Jadiidil Ashlah” (Memelihara tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).

Dari kaidah ushul fiqih di atas, mengajarkan akan dinamika perubahan harus diikuti, pesantren haruslah menerapkan dan melakukan gerakan inovasi positif untuk mampu mempertahankan diri dari perubahan zaman, pesantren harus bisa mempertahankan dan memelihara tradisi lama yang baik, sekaligus mampu mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik lagi. Oleh karena itu saya sangat tertarik dengan sebuah ungkapan yang luar biasa “Al Ma’hadu La Yanaamu Abadan” Pondok tidak pernah tidur, pondok selalu terbangun, pondok tidak pernah berhenti, pondok harus terus bergerak. Bergerak berarti hidup, bergerak berarti dinamis, bergerak untuk terus mengasilkan kebaikan bagi umat.

Jadi sebuah pondok pesantren tidak perlu alergi dengan perubahan yang membawa kebaikan bersama, karena itu ada dalilnya, ada petunjuknya dari ulama-ulama salaf, tinggal kita yang perlu merumuskan dengan baik perubahan seperti apa yang diinginkan.

Pondok Pesantren ASSALAM sejak mulai berdiri sudah memiliki visi dan misi yang besar, hal ini selalu digemblengkan oleh Abah Mohtam yang merujuk pada nilai dan ajaran dari Gontor bahwa, “Pondok pesantren ASSALAM berdiri di atas dan untuk semua golongan.” Visi dan misi besar ini harus diejawentahkan dalam program pesantren.

Abah Mohtam, adalah seorang yang visioner, beliau mendirikan pesantren tidak hanya untuk kelompok dan golongan saja, hanya untuk satu dan dua ormas saja, lebih-lebih hanya untuk keluarga. Abah Mohtam adalah seorang yang berjiwa besar karena visi dan misinya yang menglobal dengan semboyan beliau : “ASSALAM Lana Wa Lil Muslimiina, ASSALAM Fauqol Jamik, Wa Lil Maslahati Jamik.” jadi mengutip pertanyaan Abah Mohtam, ASSALAM sudah begini ataukah baru begini?


Sabtu, 12 Maret 2016

Mengenang Ulang Tahun Pondok Mengenang Abah Mohtam

Mengenang Ulang Tahun Pondok Mengenang Abah Mohtam

Tanggal Sebelas Maret kemarin tentu sama dengan hari dan tanggal yang kemarin-kemarin, hanya potensi dan nilai kebaikan yang pernah dilakukan yang akan membedakan dengan hari-hari yang lainnya.  Sebelas Maret adalah hari di mana Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban didirikan, mengingat berdirinya pondok tentu kita juga mengingat yang mendirikannya, mengingat yang memperjuangkannya, seorang sosok yang sederhana nan bersahaja, guru, murabbi, serta Abah yang dicintai dan dirindukan oleh segenap santri. Abah Mohtam (KH. Abd. Moehaimin Tamam (Allahu Yarham) yang baru saja dipanggil Tuhan tanggal 24 Desember 2015 kemarin.

Mendung duka masih menyelimuti langit pesantren, merasa kehilangan memang juga masih kita rasakan bersama, kesedihan tentunya juga masih terasa di dada ini, ditinggalkan sosok yang kita cintai dan kita takdzimi bersama. Tapi perpisahan raga bukan menjadi soal, asal jiwa ini terus dan terus hadir merindui dan mencintai sosok beliau. rindu karena cinta, cinta karena Allah Swt.

رجلان تحبّا في الله وتفرّق في لله
“Dua orang lelaki yang saling mencintai karena Allah, dan jika harus berpisah juga karena Allah semata”

Mengenang ulang berarti mensyukuri, karena dengan bersyukur kita berharap nikmat Tuhan dilimpahkan selalu kepada kita para Santri Pondok Pesantren ASSALAM dan kepada seluruh hawari-hawarinya. Ulang tahun juga dalam rangka mentadabburi sekaligus meneladani sejarah perjuangan Abah Mohtam melalui dakwah pesantren di tengah-tengah masyarakat.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu akan sejarah pendahulunya, bangsa yang melek sejarah begitu kira-kira para bijak mengatakan. Karena bagaimanapun hari ini ada karena investasi dan hasil keringat dari para pendahulu kita. Sebagai generasi penerus sangat pantas untuk  bisa mikul dhuwur mendem jero. Mengangkat tinggi-tinggi kebaikan-kebaikan dari para sesepuh kita dan mengubur apa-apa yang yang dianggap tidak baik.

Generasi sekarang berhutang janji pada generasi dulu, pada para sesepuh, pada para perintis dan pendiri pesantren ini. Janji untuk terus berbakti dan mengabdi kepada Allah Swt melalui dakwah pesantren ini. Oleh karena itu mari bersama seiya sekata, sederap selangkah membulatkan tekad untuk melunasi hutang janji itu dengan cara meneruskan apa-apa yang dulu telah diberikan oleh Abah Mohtam untuk kita hari ini.

Abah Mohtam tidak mewariskan harta benda untuk santri-santrinya, Abah Mohtam tidak meninggalkan emas permata untuk kita buat foya-foya, Abah Mohtam tidak mewariskan tahta untuk kita perebutkan, Abah Mohtam mewariskan jiwa keikhlasan untuk kita amalkan, Abah Mohtam mewariskan keistiqomahan untuk kita teladani, Abah Mohtam mewariskan semangat berkhidmah untuk pondok ini, Abah Mohtam mewariskan perjuangan tiada henti untuk ASSALAM dan Islam Lillahi Ta’ala. Allahu Akbar !
اتّبعوا من لا يسئلكم أجرا وهم مهتدون
“Ikutilah orang-orang yang tidak mengharapkan imbalan,sedang mereka termasuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk”

Abah Mohtam layak untuk kita ikuti dan kita jadikan uswah hasanah, layak untuk kita makmumi dalam sholat kita, dalam tindak-tanduk kita, dalam kehidupan dan pengabdian kita untuk masyarakat. Berjasalah tapi jangan minta balas jasa begitu dawuh beliau.

Abah memang telah tiada, jasadnya telah menyatu dengan Bumi Pesantren ASSALAM, jiwanya selalu ada dan dikenang oleh seluruh santri-santri di manapun berada. Jiwa Mohtam menjadi titik-titik api  yang memercikkan gelora perjuangan dan pengorbanan santri untuk umat. Jiwa Mohtam menjadi cinta dan ketulusan yang akan menjadi cahaya penenerang di dada para hawari-hawari ASSALAM Al Mahbub di seluruh penjuru Bumi Nusantara ini Insyallah. Joyojuwoto

Kampung Damai, 11 Maret 2016


Jumat, 04 Maret 2016

Na’amnya Mbah Hamid Pasuruan

Na’amnya Mbah Hamid Pasuruan

Jarak yang jauh sekalipun kadang tidak menyurutkan langkah seseorang yang memang telah diberi azam dan i’tikad yang kuat oleh Allah Swt. Begitu juga niat yang terpendam dalam dada Moehaimin Tamam,  untuk menemui seorang ulama waliyyullah yang bernama Mbah Hamid di Pasuruan Jawa Timur.

Moehaimin Tamam (Mohtam) adalah santri lulusan pesantren Gontor Ponorogo yang baru saja pulang dari mondok. Ia bertempat tinggal di Bangilan Tuban, karena tekad dan niatnya yang kuat untuk berkhidmat kepada masyarakatnya, jauh-jauh dari Bangilan menempuh perjalanan menuju Ndalemnya Mbah Hamid yang ada di Pasuruan. Mohtam berniat meminta restu kepada Kyai sepuh itu demi meluluskan cita-citanya merintis dan mendirikan pesantren di desanya Bangilan Tuban.

Mbah Hamid adalah salah seorang ulama yang ma’rifat, beliau diberi keistimewaan oleh Allah mengetahui apa-apa yang tersimpan di dalam hati para tamunya. Beliau memandang dengan nurullah sehingga tidak heran jika sebelum tamunya mengutarakan apa yang menjadi niat dan hajatnya Mbah Hamid telah dulu memberikan jawaban berupa tamsil atau kiasan.

Begitu juga dengan Mohtam, setelah menempuh perjalanan panjang Bangilan-pasuruan, ia sampai di Pasuruan ang sedwaktu itu telah malam. Mohtam pun menuju mushola pesantren, tidak mungkin saat malam-malam ia menemui daan bertamu langsung ke ndalem Mbah Yai Hamid.  Mohtam kemudian tidur beralaskan koran yang ia beli sewaktu di dalam bis jurusan Bojonegoro-Malang. Di serambi mushola itu ia beristirahat merebahkan badannya.

Menjelang shubuh Mohtam bangun, santri-santri Mbah Hamid juga sama bangun dan bersiap-siap mengerjakan sholat. Adzan pun berkumandang dari corong toa mushola. Setelah mengambil wudlu Mohtam duduk mengerjakan dua rakaat sebelum shubuh kemudian duduk khusu’ berdzikir bersama santri-santri yang lainnya.

Tak berselang lama Mbah Hamid masuk mushola untuk ngimami sholat shubuh, santri-santri sama berdiri rapi membuat shof-shof sholat. Muhtam juga ikut mengambil tempat untuk berjama’ah  shubuh, ia menjadi ma’mum di shof depan tepat di belakangnya Mbah Yai Hamid.

Dua rakaat sholat shubuh lengkap dengan qunutnya telah selesai, para jamaah berdzikir memohon ampun kepada Allah Swt, beristighfar, bertasbih, bertahmid, dan bertahlil kemudia berdoa bersama yang dipimpin oleh imam, sedang ma’mumnya mengamini doa dari sang imam.

Setelah selesai berdoa  Mbah Yai Hamid keluar dari mushola, Mohtam yang berada di shof paling depan ikut keluar mengikuti mbah Hamid tepat berada di belakang punggungnya. Sesampai di depan pintu mushola Mbah Hamid berbalik dan berada di depan Mohtam. Ada rasa sungkan dan pakewuh seorang santri di hadapan Kyai. Belum mengucap apapun mbah Hamid memegang dua pundak mohtam kemudian mengelus-elus pipinya  tida kali sambil berucap “Na’am, Na’am, Na’am” Setelah itu Mbah Hamid bilang sambil mendorong keluar Mohtam “Pun ndang mantuk”.

Mohtam pun keluar dari area pesantren mbah Hamid untuk pulang kembali ke Bangilan, di tengah perjalanan pulang mohtam memikirkan dua kalimat yang diucapkan oleh Mbah Hamid. Kalimat “Na’am” tiga kali dan “Pun ndang mantuk.” Padahal mohtam belum mengutarakan niatnya untuk sowan Yai Hamid. Namun niat yang ia pendam dalam hati telah terjawab dengan tamsil yang telah diberikan oleh mbah Hamid.

Mohtam pun merasa mantap hatinya, sepulang dari Gontor dirinya memang harus merintis pesantren di desanya sebagaimana jawaban Na’am, Na’amnya Mbah Hamid, bahkan niat itu harus segera dilaksanakan sesuai petunjuk mbah Hamid, “Pun ndang mantuk” yang ia tafsiri agar segera mendirikan pesantren sebagai jalan pengabdiannya kepada umat serta untuk menggapai ridho Tuhan. 

Sabtu, 06 Februari 2016

Menghadapi Kesulitan Hidup

Menghadapi Kesulitan Hidup

Anak-anakku yang saya cintai
Jika kelak kalian telah terjun di tengah-tengah masyarakat jadilah kalian semua perekat umat,  agar kehidupanmu diberkahi dan mendapatkan rahmatnya Allah SWT.

Perlu anak-anakku camkan bahwa kehidupan di masyarakat tidak seperti kehidupan di pondok yang semua serba sama baik cara berfikirnya, kebiasaannya, bahkan ideologinya. Sedang di tengah-tengah masyarakat kehidupan ibarat  di tengah rimba raya, di sana hidup berbagai macam karakter dan beragam manusia,  ada yang jinak dan ada yang buas, ada yang tidak punya rasa malu, ada yang suka menjilat, ada yang suka menekan, ada yang amanah, ada yang suka khianat, ada yang suka keburuk-burukan dan berbagai macam sifat kejelekan lainnya, namun ingat dalam kondisi yang demikian tentu masih ada kebaikan-kebaikan di dalamnya.

Ingat jika kondisi yang sedemikian itu kamu sebagai santri harus bisa menjaga diri, jangan terbawa dan jangan terseret oleh situasi dan kondisi, sikapi dengan bijak, perbaiki dirimu, instropeksi, tata hati dan niat serta jangan lupa berdo’a, pasrah, inabah, ridho, dan ikhlas terhadap takdir dan ketentuan Allah SWT.

 Ingat-ingatlah selalu dawuh dan petuah para Kyai serta para alim Ulama :
دع الايّام تفعل ما تشاء وطب نفسا اذا حكم القضاء وتلك الايّام نداول بين النّاس
Artinya : “Biarkanlah hari-hari berjalan sekehendaknya dan perbaikilah diri, jika takdir Allah telah diturunkan, hari-hari pasti akan dipergilirkan atas diri manusia”

            Tidak selamanya hidup kita di atas ada saatnya akan turun ke bawah, tidak selamanya bunga itu mekar, pada saatnya akan layu juga, tidak selamanya hidup dalam kesukaran karena pada saat itu pula Allah SWT akan memberikan kemudahan. Dan ingat selalu bahwa hidup hakekatnya memang untuk mengatasi kesulitan, jadi jangan mundur jika ada masalah, hadapi dengan sepenuh hati dan sekali lagi ingat selalu bahwa kebahagiaan itu letaknya pada celah-celah kesulitan.

            Strugle For Life, hidup untuk berjuang, berjuanglah untuk kehidupanmu, maju terus pantang mundur, rawe-rawe rantas malang-malang putung. Selamat Berjuang Allahu Akbar.

Rabu, 20 Januari 2016

Biografi Singkat KH. Abd. Moehaimin Tamam

Biografi Singkat KH. Abd. Moehaimin Tamam


± 50 km ke selatan dari kota Tuban ada sebuah desa Bangilan namanya, di desa tersebut terdapat seorang kepala keluarga yang bernama Abu Bakar Wustho dan beliau mempunyai tujuh anak, tiga putra empat putri dan salah satu anak beliau bernama Bapak Badrut Tamam, beliau mempunyai istri bernama Ibu Mutmainnah dari kota Tuban, leluhur Bu Mutmainnah ada yang keturunan Tiong Hua. Pak Tamam dengan Ibu Mutmainnah dikarunai dua anak, Abdul Muhaimin dan Siti Azizah, sejak kecil sudah meninggal dunia. Tidak lama kemudian Ibu Mutmainnah pun menyusul wafat, pada saat itu umur Abdul Muhaimin Tamam + dua setengah tahun, kemudian Abdul Muhaimin kadang diasuh oleh seorang pembantu yang dapat dipercaya saat Pak Tamam sibuk berdagang. Tak lama kemudian beliau memperistri seorang wanita dari desa Baorno Timur Kabupaten Bojonegoro bernama Ibu Halimah, sehingga Abdul Muhaimin Tamam di asuh oleh Ibu Halimah. Dalam asuhan ibu Halimah inilah Abdul Muhaimin Tamam dibesarkan, dididik dan diarahkan, juga dipondokkkan, mengaji dan belajar dipondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo Indonesia.
Di Pondok Darussalam yang dikenal dengan Pondok Gontor inilah Pak Muhaimin diajar, diasuh dan digembleng sampai tamat dan pulang serta beliau bertekad untuk mendidirikan balai pendidikan Madrasah dan Pondok Pesantren.
Tekad tersebut dituangkan dalam pernyataan tertulis yang dihaturkan kepada  Bapak K.H. Imam Zarkasyi pendidiri dan direktur KMI Pondok Modern Gontor Ponorogo (bahwa beliau ingin pulang serta mengabdikan ilmunya dikampung) serta membantu program yang didawuhkan oleh Bapak K.H. Imam Zarkasyi bahwa harus ada seribu Gontor di Indonesia.

Pernyataan tekad yang biasa dilaksanakan oleh setiap santri kelas enam di KMI Darussalam Gontor Ponorogo itu dijawab oleh Pak Zar ( Panggilan K.H. Imam Zarkasyi) dengan jawaban positif artinya Pak Zar setuju bahwa Pak Muhaimin direstui untuk pulang ke kampung halamannya dan mengabdikan ilmunya dimasyarakat, yang mengandung arti bahwa ridho Kyai itu penting.
Di Bangilan beliau mulai mengajar di Madrasah yang telah ada rintisan para sesepuh yaitu MI Salafiyah Bangilan. Saat itu kedaaan gedungnya sangat memprihatinkan , karena itu beliau menggoda Bapaknya, tidak mau mengajar kalau gedungnya tidak direhab. Bapak Tamam mengajak para pengurus  bertekad untuk merehab bentuk gedungnya sehingga menjadi seperti sekarang ini. Kemudian sebab prestasinya beliau diangkat oleh sidang pengurus  menjadi Ka di MI Salafiyah tsb. (periode th 61 – 65 ). Pada saat itu, beliau juga bermaksud mendirikan MTs dengan membuat Kls VII di madrasah ini tetapi hanya kuat 1 tahun dan gagal.
Karena dikawinkan dengan istri dari desa Weden yang berada di sebelah selatan desa Bangilan, tahun 1965 beliau pindah ke Weden merintis berdirinya Madrasah di Desa ini serta mengilhami berdirinya sebuah gedung Madrasah.
Sebelumnya, Madrasah dimulai dengan membuat TPA di rumah mertua. Caranya, 7 orang anak diajak dan diajak bermain-main di halaman rumah mertuanya. Anak-anak lain yang tahu, kemudian ikut main dan didaftarkan oleh orang tuanya. Hari demi hari muridnya bertambah banyak sehingga pada th 1965 ia berhasil mendorong Bapak Kandung , Bapak mertua dan masyarakat setempat mendirikan gedung MI dan beliau namakan MI Al-Iman, buku utama yang digunakan pegangan mengajar ialah : SINAHU MAOS HURUF AL-QUR’AN, oleh K.H. Imam Zarkasyi. Walau banyak mendapat cemooh dan tiupan-tiupan isu bohong yang mengatakan bahwa weden bukan lahan untuk pendidikan, sehingga keluarga rumahpun menjadi goyah hatinya yang menyebabkan Pak Moehaimin mengajar dengan tertekan serta menderita batin. Tetapi kesabaran, ketabahan, serta keuletan beliau, tegaklah MI Weden hingga sekarang.
Karena pindah tempat, maka tahun 70 an kepengurusan Madrasah diserahkan dan diteruskan oleh masyarakat Weden, walau semula masyarakat memprekdisikan bahwa Weden tak mungkin didirikan Balai Pendidikan.
Untuk kesejahteraan keluarga, beliau beliau pindah mengontrak rumah di desa Santren yang berada di sebelah  utara desa Bangilan. Didesa baru ini beliau mendirikan perusahaan kayu jati dengan maksud apabila sudah berhasil menyusun ekonomi, baru akan mengajar lagi. Usaha ini berkembang dengan pesat, sayang beliau selalu sibuk didunia bisnis, tenggelam dalam kenikmatan duniawi lupa jati diri serta belok dari jiwa dan tujuan aslinya, mendidik dan mengajar. Toh sewaktu dipondok Gontor beliau di  pesan oleh Pak Zar agar mampu menyisihkan waktu untuk mendidik dan mengajar di tengah-tengah kesibukan bisnis. Karena itu Allah mengingatkannya dengan cara beliau bangkrut dari dagangannya, perusahaan terpaksa tutup dengan menanggung hutang yang tidak sedikit.
Alhamdulillah beliau memahami dan menyadari. Karena itu walau dengan penuh derita pada tahun 1977 beliau pindah meninggalkan Santren menuju desa Sidokumpul, untuk memulai dunia yang baru sesuai dengan jiwanya serta ingat kembali dan melaksanakan wejangan lama Pak Zar. Karena itu beliau mulai kiprah lagi dibidang dibidang pendidikan dan pengajaran sambil membuka usaha kecil-kecilan yaitu membuat sabun cream. Mengingat kecilnya kapital maka beliau bertindak sebagai pimpinan, pegawai pengedar sekaligus penjual berkeliling dari desa satu ke desa yang lain untuk menjual sabun sambil mendirikan Masjid Al-Ihsan di desa Ngrojo serta mengajar, juga merintis Madrasah Tsanawiyah dan berhasil mendirikan sebuah gedung didesa Sidokumpul dekat rumah kediamannya yang beliau namakan MTs ASSALAM sedang bisnis sabun cream hanya berjalan 1 (Satu) tahun saja. Selanjutnya beralih dalam kesibukan menterjemah kitab pada dunia percetakan.
Gedung Madrasah Tsanawiyah yang baru ini, didirikan diatas tanah milik seseorang. Karena kurang kefahaman antara Ka Guru (Pak Moehaimin) dengan penguasa tanah, menyebabkan kesulitan demi kesulitan , akhirnya setelah Madrasah komplit dengan murid dan segala sarana, terpaksa beliau tinggalkan dan diserahkan kepada Umat Islam setempat. Nama ASSALAM pun mereka rubah dengan nama lain.
Peristiwa gagalnya MTs ASSALAM di desa Sidokumpul Kec. Bangilam mengilhami berdirinya Madrasah Tsanawiyah, Aliyah dan Pondok Pesantren ASSALAM baru di lokasi baru.
Istikhoroh Pak Moehaimin serta mujahadah dan perihatin yang dalam, menyebabkan pada tahun 1983 beliau mampu membeli sebidang tanah + 1 ha di jantung kota Kec. Bangilan. (lokasi Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah ASSALAM yang sekarang ini), dan berhasil mendirikan 1 (satu) gedung Madrasah tiap tahun, di samping berhasil membeli tanah di belakang masjid Jami’ Bangilan. Di Desa Suwalan Jenu Tuban dan Di Desa Banjarworo Bangilan Tuban.
Tetapi karena beberapa sebab, Pak Moehaimin belum mampu untuk berdomisili di tengah-tengah lokasi ASSALAM baru. 12 tahun kemudian baru ditempati sebab masih berumah tangga di desa Sidokumpul yang jaraknya + 1 km dari lokasi Madrasah. Karena itu, Madrasah dipimpin dari kejahuan yang menyebabkan jalannya pendidikan dan pembangunan mengalami kelambatan.
Mengingat cerita Ust. Mahrus pimpinan Pondok Darunnajah yang diperintah Pak Zar agar bertekad segera pindah ke lokasi Madrasah dan pertukangan ke lokasi Pondok di ‘Ulu Jami’, maka pada tahun 1993 Pak Moehaimin memberanikan diri untuk mendirikan rumah di tengah-tengah lokasi Madrasah agar dapat hijroh meninggalkan rumah lama menuju daerah baru, berdomisili dan beristiqomah sebagai Kyai, memimpin membangun ASSALAM yang baru di tengah-tengah Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah ASSALAM yang baru  pula. Rencana ini terlaksana mulai tahun 1995.

Jadi baru sekitar + 10 tahun akhir-akhir ini ASSALAM baru dan memiliki jati diri, sehingga mampu untuk maju dalam  mendidik dan mengembangkan pembangunan setiap tahunnya sebab di tengah-tengahi dan di istiqomahi oleh pendiri (Kyai) nya, setelah dengan gigih sabar dan tawakal menghadapi terpaan pasang surutnya gelombang hidup menuju ASSALAM sukses. Doc. PP. ASSALAM Bangilan 2005.

Jumat, 15 Januari 2016

Sumpah Mati Sang Kyai

Sumpah Mati Sang Kyai

“Duh Gusti Yen Menawi Anggen Kulo Gesang Ing Alam Dunyo Meniko Mboten Manfaati Monggo Enggal-Enggal Panjenengan Pundut Kulo, Nanging Yen menawi Anggen Kulo Gesang Ing Alam Dunyo Meniko Manfaat Kulo Nyuwun Umur Ingkang Panjang”
(KH. ABD. MOEHAIMIN TAMAM)

Di salah satu ruangan gedung pesantren*  yang baru saja didirikan, di hadapan para santri yang duduk khusu', kurang lebih lima puluh tahun yang silam sebuah perjanjian suci antara hamba dan Sang Maha Kuasa diikrarkan. Dari kedalaman jiwa dan kemurnian hati Sumpah Mati itu diucapkan. Dari keikhlasan dan kesucian niat proposal kematian itu dikirimkan kepada Tuhan.

Tidak ada rasa khawatir dan gentar bahwa Tuhan akan serta-merta mencabut nyawanya saat itu juga, karena beliau yakin dengan jalan yang sedang ditempuhnya. Jalan  yang selalu beliau harap-harapkan di setiap untaian do’a-do’anya, di kedalaman sujudnya, di samudra munajatnya kepada Tuhan dan di dalam setiap sholatnya. Jalan ihdinas shirotol mustaqim. Jalan lurus itulah yang memberikan keberaniannya untuk tawar menawar dengan Tuhan. Walau pada dasarnya kematian bukanlah sesuatu yang bisa ditawar-tawarkan.

Jika kita mendatangi Tuhan dengan kemurnian niat dan kejujuran jiwa, tentu kita akan diterima di altar suci-Nya. Tuhan akan memperkenankan segala do’a-do’a dan permohonan kita. Jangankan hanya meminta hal-hal yang bersifat keduniaan, surga dan segala isinya pun akan Tuhan berikan. Jadi jangan pernah takut untuk menjalani hidup ataupun kematian itu sendiri. Jika kita bertekad untuk berani mati Allah akan memberikan kehidupan kepada kita, karena perasaan kematian itu telah terlampaui.
Jiwa perjuangannya telah bergelora, berkobar-kobar membakar segala halangan dan cobaan dalam merintis dan mendirikan pesantren di kampung kelahirannya. Tidak peduli apa kata dunia, tidak peduli apa kata orang-orang, bendera jihad telah dikibarkan pantang surut ke belakang. Semboyan perjuangannya cetar membahana, mengangkasa dan berkobar-kobar dalam jiwa santri-santrinya, Sir Wa la Taqif, Ever on word never retret, maju terus pantang mundur.

Pesantren ASSALAM Bangilan, sebuah nama pesantren yang memiliki arti keselamatan, sebuah pesantren yang dinamai mirip seperti almamater dimana beliau mondok “Gontor Darussalam.” Rintangan demi rintangan, kesusahan-demi kesusahan, kesulitan dan demi kesulitan beliau anyam, beliau rajut dengan penuh keistiqomahan sehingga menjelma menjadi benang-benang keberhasilan, hingga berdirilah sebuah pesantren yang kelak akan diperhitungkan oleh dunia “Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban Indonesia.”

Pesantren ASSALAM beliau belani hingga toh-tohaning nyowo, beliau belani hingga toh-tohaning raga, bahkan beliau belani hingga toh-tohaning keluarga. Tidak salah jika Abah Moehaimin Tamam ngucap sabda : “ASSALAM berdiri di atas landasan dan linangan air mata Moehaimin Tamam.”

Pesantren yang baru seumuran jagung ini beliau belani dengan sepenuh jiwa dan raga. Tetesan air mata, keringat, dan perjuangan yang keras menjadi saksi akan berdirinya pesantren yang kelak bisa menjadi ladang ibadah bagi seluruh umat Islam seluruhnya“ASSALAM Lana Wa Lil Muslimin” begitu dawuh beliau.

Kini pesantren ASSALAM yang dulu diperjuangkan oleh beliau Abah Moehaimin Tamam telah menginjak dewasa, estafet tali kepemimpinan telah diwariskan pada genersi selanjutnya. Tuhan telah memeluk kekasihnya dalam kasih dan cinta-Nya. Semoga beliau Abah Moehamin Tamam tersenyum bahagia melihat taman surga membumi, semoga beliau bangga melihat bunga-bunga pesantren yang dulu ditanamnya kini telah bermekaran mewangi semerbak memenuhi bumi Persada Nusantara. Amin. Joyojuwoto

*ada dua versi tempat menurut Mbak Ana di lokasi masjid Bangilan dan Gus Yunan di Pondok Weden


Minggu, 16 Agustus 2015

The Time, is Iman and Amal Saleh

The Time, is Iman and Amal Saleh

KH. Yunan Jauhar, S.Pd., M.pd.I


Lagu “Hymne Oh Pondokku” ditutup dengan kata “ibuku”. Pondok adalah ibu. Seorang ibu tidak akan melepaskan atau meninggalkan anaknya begitu saja tanpa dihiraukan atau diperhatikan lagi. Meskipun anaknya sudah menjadi seorang presiden, ibu akan tetap menasihati anaknya. Demikian pula sang anak juga akan selalu meminta nasihat ibunya. Sementara bapak adalah guru bagi putranya, wali kelas, pembimbing kegiatan atau organisasi di PP ASSALAM, dan lain sebagainya. Apa saja yang dikerjakan seorang bapak dan ibu putra putri panjenengan itu ada di pondok.
Panjenengan kula aturi rawuh dateng Pondok punika. ASSALAM bade ngaturi pirsa bilih ... dari kandungan yang sama itu akan lahir anak-anak yang berbeda. ASSALAM dituduh bukan  (aswaja) atau wahabi, dan lain-lain. Katakanlah, ASSALAM itu aswaja, aswaja yang cerdas!
Panjenengan di sini berkumpul, bertemu, bertatap muka, bersilaturahim. Dengan sering berkumpul, muncullah ide atau gagasan cemerlang. Di Jawa, ada istilah “cangkir” pada saat berkumpul. Panjenengan ngertos artosipun cangkir ? Cangkir itu sama dengan “nyencang pikir”. Jika kita sering bertemu, maka kita akan banyak me-nyencang pikir.
Ingatlah… ampun ngantos mudah-mudah merasa silau ! kranten Laisa kullu mā yalma‘u dzahaban. Belumlah tentu rumput tetangga itu lebih hijau daripada rumput kita. Pondok ini sudah mengajari putra putri panjenengan sedaya tentang hal itu. Maka, jangan pernah tertipu.
Panjenengan, kula, pengasuh Pondok lan para ustadz lan ustadzah datang ke pondok ini tidak hanya untuk men-charge atau memperbaharui semangat dan motivasi, tapi untuk membaca rapor masing-masing, tentang keikhlasan kita, kesederhanaan kita, dan lain-lain. Apakah kita yang ada di Pondok ini sudah menerapkan keikhlasan yang telah diajarkan ASSALAM dalam kehidupan nyata? Bagaimanakah kesederhanaan kita ? Bacalah! Demikian juga dengan rapor pondok. Adakah nilai-nilai ASSALAM yang berubah? In shaa Allah, ASSALAM akan tetap istiqamah dalam menjaga nilai-nilai gemblengan Abah Moehaimin Tamam.

Anak-anakku…! ASSALAM tidak pernah merasa takjub dengan berbagai profesi alumninya, tapi akan kagum dengan keistiqamahan mereka dalam menjalani profesi tersebut berdasarkan nilai-nilai yang telah diajarkan ASSALAM. ASSALAM akan takjub dengan komitmen mereka terhadap nilai-nilai pondok ini.
Resapilah Surat Ali Imran ayat 190–191:
إن فى خلق السماوات والأرض واختلاف الليل والنهار والنهار, لآيات لأول الألباب. الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلى جنوبهم ويتفكرون فى خلق السموات, ربنا ماخلقت هذا باطلا, سبحانك فقنا عذاب النار.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya… Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
Resapilah maknanya agar anak-anakku bercermin dari berbagai arah. Bercerminlah dari berbagai sisi, bukan hanya dari depan sebab muka kita selalu kita poles. Lihat pulalah bagian belakang kita.
Anak-anakku… ASSALAM telah memberikan “kunci” kepada kalian. Memang, bahasa Arab kita kalah dari LIPIA, demikian pula bahasa Inggris kita kalah dari sekolah-sekolah umum. Tapi, anak-anak ASSALAM bisa menggunakan “kunci” tersebut dengan baik.
Dunia pergaulan semakin luas, sementara buminya yang kita diami ini tidak makin meluas. Jika kita tidak mengembangkan kunci-kunci tersebut, maka kita akan semakin tersingkir. Jangan sampai punya kunci tapi tidak dipakai.
Ingatlah, ASSALAM bukan lembaga pergerakan, tapi lembaga pendidikan. ASSALAM mendidik anak-anak yang akan mendidik presiden, menteri, jenderal, dan lain-lain. ASSALAM mendidik santri dengan cara mu‘amalah (bergaul dalam kehidupan sosial atau bermasyarakat), mu‘asyarah (pergaulan dalam keluarga), dan mukhalathah (berbaur dengan teman dan anak-anak didik atau guru).
ASSALAM ibarat menghadapi anak-anak yatim lebih dari 1500 orang karena mereka menjadi santri ditinggal orang tua pulang ke rumah. Maka, santri-santri di ASSALAM haruslah ditemani, diajari, dibimbing selama 24 jam.
Hingga saat ini, banyak yang ingin meniru ASSALAM, tapi yang dilihat hanya kulitnya saja, tidak mau melihat nilai-nilai dan jiwa yang ada di dalamnya. Orang-orang hanya ingin meniru bahasa Arab-nya atau bahasa Inggris-nya, atau pengelolaan asramanya.
Anak-anakku… jadilah kalian mundzirul qaum (pemberi peringatan atau pendakwah kebaikan) sesuai dengan profesinya masing-masing.
Anak-anakku…! Jika kita mengatakan saat ini belum waktunya menegakkan nilai-nilai Islam, kira-kira anak dan cucu kita nanti pasti akan mengatakan hal yang sama, yaitu belum waktunya. Karena itu, kalau tidak sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi.
Anak-anakku… belum tentu saat di pondok tidak menjadi ketua, setelah keluar dari pondok ia tidak akan menjadi ketua, karena kalian semua telah diberi kunci. Bahayanya, kalau kalian hanya punya kunci, tapi mengaku punya lemari.
Ketahuilah, nilai-nilai keikhlasan, kebersamaan, dan tawadlu pada zaman dahulu sangatlah tinggi. Namun, di zaman ini virus egoisme amat mendominasi.
Saat ini, unsur ibadah dalam kehidupan amat tipis. The time is money, prestise, dan lain sebagainya. Ini adalah sekularisme. Yang benar adalah the time is iman dan amal saleh.*

*Pidato Pemantapan Wali Santri KMI ASSALAM Bangilan TP. 2015/2016