Senin, 19 September 2016

Semut Bertiwikrama

Semut Bertiwikrama

Semut adalah binatang kecil yang memiliki kemampuan laksana raksasa, semut mampu mengangkat beban delapan puluh kali lipat dari bobot tubuhnya. Tenaga dan kekuatan semut setara dengan kekuatan Anda jika Anda mampu mengangkat sebuah mobil, sungguh luar biasa strongnya bukan, dan itu hanya bisa dilakukan oleh manusia tiwikrama atau manusia yang berubah menjadi raksasa, seperti dalam dunia pewayangan atau seperti dalam film-film animasi.

Semut termasuk hewan yang memiliki perilaku berjamaah, gotong-royong yang solid, rapi, konsisten dan organizer. Lihatlah semut akan selalu berjalan dalam barisan dan taat terhadap aturan yang mereka sepakati dalam dunia persemutan,mereka juga termasuk hewan yang teramah dalam ruang lingkup dunia mereka. Saya dulu sering memperhatikan dan mengamati perilaku semut yang selalu memberikan salam dengan isyarat kaki depan diangkat, atau kadang dengan sentuhan-sentuhan sungutnya jika mereka berpapasan dengan semut lainnya, ya tentu salamnya hanya mereka yang tahu maksudnya.

Semut juga terkenal sebagai binatang yang amanah, tiap bagian dalam kehidupan semut telah diatur sedemikian rupa sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing, mereka akan mentaati dan bertanggung jawab dengan sangat teratur tanpa melakukan intervensi dengan tugas-tugas dari semut yang lainnya.

Dalam permainan-permainan tradisional masyarakat semut juga dijadikan sebagai simbol ketika kita sedang mengundi dengan jari-jemari kita sebelum permainan dimulai. Karena semut kecil ia disimbolkan menjadi jari kelingking, sedang ibu jari yang gemuk adalah gambaran dari gajah, kemudian jari telunjuk adalah manusia. Aturan pengundian itu jika jari kelingking ketemu jari telunjuk maka yang kalah adalah jari kelingking, semut melawan manusia, maka semutnya yang kalah, jika jari telunjuk ketemu ibu jari maka jari telunjukknya yang kalah, gajah melawan manusia maka manusianya kalah, dan yang terakhir jika jari kelingking ketemu ibu jari maka yang kalah adalah ibu jarinya atau gajahnya kalah melawan semut. Begitu sebuah logika yang dibangun oleh foklore masyarakat.

Hebatnya lagi nama semut ini diabadikan menjadi salah satu surat yang ada di dalam Al Qur’an, yaitu surat An-Naml (semut) yang diantara isinya menceritakan tentang kisah Nabi Sulaiman yang ketika itu berada di lembah semut. Kisah-kisah Nabi Sulaiman ini sangat melegenda, tidak hanya yang ada di dalam kisah Al Qur’an saja nama Nabi Sulaiman disebut, namun cerita-cerita atau dongeng fabel  juga banyak menyertakan nama Nabi Sulaiman yang memiliki kemampuan berbicara dengan binatang. Saya dulu sering didongengi Kancil yang setiap di dalam kondisi terjepit si Kancil ini mencatut nama Nabi Sulaiman demi keselamatan dirinya dari ancaman binatang lainnya.

Dari analogi-analogi serta kisah-kisah Al Qur’an di atas maka banyak pelajaran yang dapat kita petik dan kita ambil dari seekor semut, binatang yang notabenenya kelihatan kecil dan lemah namun menyimpan potensi dan kekuatan yang luar biasa.  Alam semesta dan segala isinya adalah kitab Tuhan yang terbentang luas untuk kita baca dan kita tadabburi maknanya, seraya kita selalu menyeru dan berdo’a : Wahai Tuhan kami, tiada Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (Surat 3 : 14). 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar