Kamis, 15 September 2016

Menjadi Santri Yang Cinta Membaca

Menjadi Santri Yang Cinta Membaca

“Nak...Jangan Mengaku menjadi santri ASSALAM
sebelum kalian cinta membaca” (KH. Abd. Moehaimin Tamam)

Kalimat itulah yang sering dinasehatkan dan digemblengkan oleh Mbah Yai Moehaimin Tamam di sela-sela beliau mengajar. Menurut beliau santri Pondok pesantren ASSALAM harus cinta membaca, kemanapun bawa buku. Sambil antri makan membaca, antri mandi membaca, jangan nganggur, jangan kosong, pokoknya waktunya harus dipenuhi dengan membaca. Tiada hari tanpa membaca, La yauma illa biqiraa’atin, tiada hari tanpa membaca, Not time without reading begitu yang sering mbah yai dawuhkan kepada santri-santrinya.

Begitulah kami para santri di pesantren dididik untuk menggunakan waktu sebaik mungkin dengan membaca. Tidak ada waktu kosong, jika capek maka beristirahatlah. Yang dinamakan istirahat itu adalah tabaadulil a’mal, ganti pekerjaan, bukan nganggur tanpa kegiatan. Jika membaca capek, ganti menulis, jika menulis capek, bisa menghafal pelajaran, bisa juga diselingi olah raga biar badan sehat dan jika telah capek maka lebih baik tidur saja. Jangan sia-siakan waktu kalian di pesantren ini dengan banyak bruwah dan nganggur tanpa mendapatkan manfaat apapun, begitu gemblengan yang sering saya dengar.

Saya merasa beruntung berada dilingkungan yang serba disiplin dan lingkungan yang menjadikan saya mulai cinta membaca. Ya tadi pamrihnya biar diaku menjadi santrinya mbah Yai, biar menjadi bagian dari santri pesantren. Tidak ada yang membahagiakan rasanya kecuali bisa menyandang gelar sebagai seorang santri.

Pesantren memang tidak hanya sekedar sekolahan, pesantren tidak hanya sekedar mengajari santrinya mengaji, namun lebih dari itu pesantren adalah tempat menempa kader-kader bangsa. Untuk mempersiapkan itu semua waktu yang tersedia tentu tidak akan cukup, oleh karena itu santri-santri perlu dibekali kemampuan membaca yang baik. Dengan membiasakan membaca tentu santri-santri akan memiliki kemampuan menyerap segala informasi baik dari buku maupun dari lingkungannya. Dari situlah diharapkan santri selalu uptudate dan mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Dengan membaca santri bisa membuka khasanah ilmu pengetahuan dan cakrawala berfikir yang luas hingga sesuai motto pesantren santri harus berwawasan luas.

Hal ini tentu selaras dengan visi dan misi pesantren yang mengedepankan santri-santri untuk menguasai bahasa pergaulan dunia, yaitu bahasa Arab dan bahasa Inggris. Menguasai bahasa ibarat menguasai kunci-kunci perbendaharaan ilmu pengetahuan. Jadi pesantren tidak hanya memberi makanan yang siap dikunyah oleh santri,namun pesantren pada dasarnya membekali santri-santrinya pancing yang nantinya bisa dipakai sendiri untuk mencari sumber air yang banyak ikannya, sehingga santri bisa mancing sendiri, mencari ikan sendiri, dan memanfaatkannya sepanjang waktu, dan membaca adalah salah satu kunci mandiri dan berdikari dalam menuntut ilmu, walau tentu juga diperlukan seorang guru.

*Joyojuwoto, lahir di Tuban, 16 Juli 1981, Anggota Komunitas Kali Kening; Santri dan Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” bisa dihubungi di WA 085258611993


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar