Jumat, 02 September 2016

Mengikat Makna dengan Pena

Mengikat Makna dengan Pena
Joyojuwoto*


Dalam sebuah maqolah dikatakan :
عقل الكاتب في قلمه
“Akalnya penulis pada penanya”

Seorang penulis bukan berarti ia tahu akan segalanya, karena hanya Tuhan Yang Maha Segalanya. Seorang penulis hanya berusaha mengikat ilmu hikmah dan pengetahuan yang betebaran dengan pena dan tinta, yang jika kita meminjam istilahnya Pak Hernowo Hasyim, menulis itu “Mengikat Makna”.

Benar seperti yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa menulis ada kerja keabadian. Bisa kita bayangkan jika pengetahuan tidak dituliskan tentu akan hilang bersamaan dengan meninggalnya orang yang berilmu. Senada seperti yang diungkapkan oleh penyair angkatan 45, Chairil Anwar yang mana ia mengatakan ingin hidup seribu tahun lagi, dan itu tentu sangat mustahil terjadi jika Chairil tidak menulis. Si mata merah sang penyair revolosioner yang menjuluki dirinya sebagai binatang jalang itu boleh berusia muda, raganya tak mampu menghadapi penyakitnya hingga diumurnya yang ke 26 ia menyerah pada takdir, namun nama Chairil Anwar masih menggema hingga kini, bahkan mungkin hingga ratusan tahun ke depan.

Tidak hanya masalah keabadian nama, menurut beberapa sumber zaman awal perkembangan Islam jumlah madzhab tidak sejumlah empat yang masyhur kita kenal, ada puluhan bahkan ratusan madzhabyang dianut oleh umat Islam. Lalu kenapa di hari ini yang masyhur hanya ada empat, rahasianya ternyata juga terletak pada tulisan. Murid-murid imam empat madzhab berhasil mengestafetkan ilmu pengetahuan dari guru-guru mereka melalui tulisan. Mereka berhasil mengikat ilmu dalam buku-buku, mereka berhasil mengikat makna dari apa yang diberikan oleh guru-guru mereka.

Bisa kita bayangkan jika Al Qur’an dan Hadits tidak tersusun dan dibukukan dengan baik, kemungkinan besar kita telah kehilangan jejak-jejak dari dua sumber hukum Islam yang utama itu.

Oleh karena itu mari berusaha semaksimal mungkin mengikat makna dari ilmu dengan pena kita, sebagaimana binatang buruan yang juga butuh diikat dengan tali yang kuat agar tidak berlarian ke sana kemari, sebagaimana dalam sebuah qaul yang berbunyi :
العلم صيد والكتابة قيده, فقيّد صيودك بالحبال الواثقة
Artinya : Ilmu itu bagaikan hewan buruan dan tulisan itu bagaikan talinya. Maka ikatlah hewan buruanmu dengan ikatan yang sangat kuat”.


Itulah istimewanya buah pena yang mampu mengabadikan para penulisnya hingga melebihi usianya yang sebenarnya. Tentu bukan hanya keabadian nama yang kita kejar namun mengikat makna dengan pena, menyebarkan ilmu pengetahuan hingga ke generasi-generasi selanjutnya adalah kerja ibadah yang pahalanya akan terus mengalir. Oleh karena itu pergunakan pena kita untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat agar kelak pena itu memberikan makna untuk kehidupan kita kelak di hari pertanggung jawaban. Mari mengikat hewan buruan kita dengan tali, dan mengikat ilmu dengan tulisan. Salam.

*Joyojuwoto, lahir di Tuban, 16 Juli 1981, Anggota Komunitas Kali Kening; Santri dan Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” yang tinggal di www.4bangilan.blogspot.com.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar