Senin, 12 September 2016

Ber-Idul Adha melebur sifat Angkara

Hari Raya Idul Adha atau hari korban adalah hari raya yang sejatinya penuh makna dalam kehidupan sosial kita. Berkorban dan menjadi korban adalah sebuah peristiwa yang secara dhohir sama, namun memiliki tendensi, nilai dan makna yang berbeda. Menjadi korban adalah karena keterpaksaan untuk kehilangan, baik itu kehilangan secara materi maupun ruhani, sedang berkorban adalah kerelaan dan keridhoan untuk kehilangan. Karena ia merasa ia bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, hanya Dzat Tuhan yang sejatinya ada.

Peristiwa berkorban ini hampir selalu ada dalam setiap kehidupan manusia. Agama dan kepercayaan apapun mengajarkan akan berkorban. Berkorban biasanya menggunakan media hewan yang disembelih melalui suatu upacara. Namun pada zaman dahulu berkorban juga ada yang menjadikan manusia sebagai medianya. Semisal masa Khalifah Umar Bin Khattab di Mesir yang saat itu gubernurnya Amr bin Ash. 

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, jika sungai Nil airnya mengering maka perlu ada seorang gadis perawan yang harus dikorbankan dengan cara di tenggelamkan ke dalam sungai. Setelah Islam masuk, ritual itu dihapuskan. Berkorban ini dianggap sebagai upaya pembuangan dosa dan kesialan yang dialami masyarakat.

Dalam ajaran Islam sendiri juga ada upacara pengorbanan, tepatnya di hari Idul Adha. Ritual ini sejatinya adalah pengorbanan terhadap Ismail yang dilakukan oleh ayahnya sendiri Ibrahim. Namun oleh Tuhan, Ismail diganti dengan seekor kambing gibas dari surga. Bisa dibayangkan jika Ibrahim benar-benar mengorbankan anaknya, tentu juga akan menjadi syariat  dalam agama, hanya karena kasih sayang dan kelembutan dari Ibrahim kepada umatnya Tuhan akhirnya mengganti bentuk pengorbanan manusia dengan  seekor gibas. Padahal kala itu mengorbankan manusia juga banyak terjadi di beberapa kalangan di masyarakat.

Ketika kita berbicara maslaah korban ini, sebenarnya sedang membicarakan masalah dimensi kemanusiaan. Manusia itu memiliki ego dan nafsu untuk menguasai dan memperbudak manusia lain. manusia itu sukar mengendalikan sifat tinggi hati dan angkara. Maka untuk meredam nafsu-nafsu negatif itu semua Tuhan mengajari agar kita siap berkorban.

Secara jasmani orang yang berkorban itu menyembelih binatang, menyembelih kambing, onta, sapi, dan kerbau, namun pada hakekatnya yang perlu disembelih adalah jiwa dan ego dari manusia itu sendiri. Bersamaan dengan mengalirnya darah korban, manusia juga harus membuang dan meleburkan sifat ego dan angkaranya ke dalam tanah, sebagaimana darah dari binatang yang disembelihnya. Oleh karena itu disyariatkan yang menyembelih korban adalah orangnya sendiri, kalau memang tidak bisa dapat diwakilkan. 

Jadi menyembelih hewan korban bisa bermakna yang sebenarnya dan bermakna filosofis.Sebagaimana korban itu yang diterima dan sampai di sisi Allah bukanlah darah dan dagingnya, namun kerelaan dan kesediaan jiwa berkorban dari manusia.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar