Rabu, 03 Agustus 2016

Menggapai Cahaya Tuhan

Menggapai Cahaya Tuhan
Joyojuwoto*

Sebelum terlahir ke dunia manusia hidup dalam alam awang-uwung, alam cahaya, di mana manusia hidup dalam nur Tuhan yang menjadikannya lenyap dalam kehendak-Nya. Setelah sabda Kun Fayakun maka terlahirlah manusia ke alam bumi, jiwanya menghidupkan wadag jasmani. Alam cahaya adalah alam yang langgeng abadi, alam sangkan, alam asal-usul manusia, alam kampung di mana mereka berasal, sedang dunia adalah alam persinggahan, tempat mampir ngombe, alam di mana manusia mempersiapkan bekal perjalanan menuju alam keabadian, alam kelanggengan.

Untuk menuju alam keabadian dan kesempurnaan manusia harus berjuang mewujudkan kesempurnaan hidupnya di dunia, karena pada hakekatnya kesempurnaan di alam jati hanya dapat diraih dengan perjuangan yang keras, dan penuh pengorbanan. Dunia ibarat alam kegelapan sedang cahaya Tuhan adalah nur yang akan menyibak tirai kegelapan itu. Perjuangan untuk menggapai cahaya Tuhan diibaratkan seperti laron yang mendekati sumbu api, walau sayap-sayapnya harus patah terbakar namun sang laron akan terus mendekap cahaya itu hingga badan wadagnya musnah dan lebur dalam nur.

Manusia adalah laron-laron yang terbang dalam gelap dan terus berusaha meraih cahaya dari sumbu api ketuhanan, kematian wadag, kematian keinginan duniawi adalah harga yang layak untuk dibayarkan demi kehidupan yang sejati. Karena pada hakekatnya hidup di dunia juga kematian, sedangkan kematian adalah kehidupan yang sejati itu sendiri.  “Urip kang sejati yaiku urip sing tan keno pati” hidup yang sejati adalah hidup yang tidak mengenal kematian, yaitu saat manusia nanti hidup di alam asalnya, alam cahaya, alam sejati, alam yang langgeng.

Oleh karena itu manusia yang menginginkan hidup yang sempurna lahir batin, maka manusia harus mengerti makna kematian yang sempurna, sebagaimana yang sering diwejangkan oleh sesepuh-sesepuh kita “Tangeh lamun siro bisa ngerti sampurnaning pati, yen siro ora ngerti sampurnaning urip” (Mustahil engkau bisa mengerti kematian yang sempurna, jika kamu tidak mengerti hidup yang sempurna).

DI bawah ini sebuah geguritan yang menerangkan dengan sangat indah mengenai perjuangan manusia untuk menggapai cahaya ketuhanan :

Dak sebar kembang
Sandhuwuring sajadah
Dadio donga; pikuwat
Kanggo kupu kang suwek suwiwine
Sajerone ati
Sawuse sedina adus riwe, luh
Lan rah
Sadurunge wengi mawartakake
Urip anyar
Bebarengan jumangkah tumekaning
tamu ; srengene kang bakal nguripake urip sejati

artinya :
“Kusebar bunga di atas sajadah, semoga menjadi do’a kekuatan batin, bagi kupu yang sobek sayapnya. Di dalam hati, setelah sehari penuh bermandikan keringat, air mata dan darah, sebelum malam menyiarkan hidup baru, bersamaan melangkah sampai tamu; matahari yang akan menghidupkan hidup sejati.”

Dalam geguritan itu menjelaskan bahwa kehidupan dunia sangatlah keras, manusia akan berkeringat, berurai air mata dan darah untuk bisa sampai pada matahari kesejatian hidup. Manusia tidak boleh putus asa walau segala kesulitan dan goda hidup hingga merobek-robek sayapnya, ia harus kuat menanggung itu semua, manusia jangan sampai lupa untuk terus menebar bunga-bunga di atas selembar sajadahnya,  kesabaran dan do’alah yang akan menjadikannya menjemput cahaya ketuhanan. Nuurun ‘ala nur, cahaya di atas cahaya.


*Joyojuwoto, lahir di Tuban, 16 Juli 1981, Santri Ponpes ASSALAM Bangilan Tuban; Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” dan juga seorang blogger yang tinggal di www.4bangilan.blogspot.com.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar