Sabtu, 20 Agustus 2016

Tarekatnya Sunan Kalijaga

Tarekatnya Sunan Kalijaga
Joyojuwoto*

Pic : Joyojuwoto
Sunan Kalijaga adalah seorang ulama ternama, pakar dalam berbagai bidang kehidupan baik yang berdimensi jasmani maupun ruhani. Beliau adalah Guru Spiritual, Sang Guru Sejati, dan Batharanya Tanah Jawa. Sunan Kalijaga seorang waliyullah yang telah sampai pada maqam ma’rifat kepada Allah dengan menempuh jalan tarekat. Jalan tarekat adalah jalan spiritual dalam rangka untuk menggapai cahaya ketuhanan, sehingga manusia dapat berselaras dengan qudrat dan iradah-Nya, atau dalam istilah khasanah kejawen dikenal dengan “Manunggaling Kawulo Gusti” (bersatunya hamba dengan Tuhan).

Kata tarekat berasal dari bahasa arab yang artinya adalah jalan. -Jalan disini adalah jalannya Allah yang mengajak manusia untuk menyembah dan mensucikan-Nya, sebagaimana yang termaktub dalam Al Qur’an surat Yusuf ayat 108 yang artinya :

“Katakanlah: "Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan bashirah, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik".

Inilah jalan tarekat yang ditempuh oleh Sunan Kalijaga menyembah Allah dengan bashirah, dengan hujjah yang nyata. Menyembah tahu siapa yang disembah, yang dalam konsep ihsannya disebut ka’annaka taraahu (seakan-akan engkau tahu) dan bukan hanya sekedar menyembah nama belaka apalagi menyembah kekosongan dan kehampaan. Hal ini juga pernah disampaikan oleh Sunan Bonang kepada santrinya yang bernama Wujil. “Janganlah menyembah kalau tidak mengetahui siapa yang disembah. Tapi jangan kau sembah apa yang terlihat”. Begitu wejangan dari Sunan Bonang guru dari Sunan Kalijaga.

Oleh Sunan Kalijaga istilah tarekat diserap ke dalam bahasa Jawa menjadi tirakat, makna dari tirakat sendiri adalah berpantang diri dari sesuatu hal. Biasanya tirakat ini dipakai oleh masyarakat sebagai media untuk meraih suatu tujuan, baik itu masalah ruhani maupun jasmani. Tirakat adalah suatu proses pembersihan jiwa, tirakat juga berfungsi menyeimbangkan jasmani dan ruhani manusia guna mencapai kesejatian hidup.

Ada banyak macam tirakat yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga, salah satu bentuk dari tirakat itu adalah semedi. Mungkin kita akan merasa aneh dan bertanya apakah semedi ini diajarkan oleh Rasululah SAW ? tidakkah semedi ini menyalahi sunnah-sunnahnya Nabi, sehingga berpotensi menjadi sesuatu yang bid’ah ? Semedi sendiri memiliki padanan istilah yang banyak, seperti meditasi, kontemplasi, dan tentu istilah yang sama dengan ajaran Islam adalah dzikir. 

Jika zaman dahulu Sunan Kalijaga memakai istilah dzikir belum tentu masyarakat Jawa mau dengan suka rela mengikuti ajaran Islam, karena istilah itu asing bagi mereka. Oleh karena itu Sunan Kalijaga memakai istilah lokal sebagai metode dakwahnya dalam menyampaikan ajaran Islam. Dzikir berasal dari bahasa Arab yang artinya ingatan, atau sesuatu yang diingat. Dzikir tidak hanya sekedar bagian dari ajaran Islam bahkan sangat dianjurkan, bahkan yang berdzikir kepada Allah tidak hanya manusia saja, gunung-gunung, binatang, langit, dan seluruh semesta berdzikir kepada-Nya. “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya. Tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” (QS : Al Isra’ : 44).

Menurut khasanah sufisme dzikir berarti terus menerus menyebut nama Tuhan. Dzikir ini berfungsi menghadirkan rasa ketuhanan di dalam jiwa manusia. Sehingga manusia selalu ingat akan kesejatian, bahwa sesungguhnya yang sejati dan yang wajib ada hanya Allah semata. Karena pada hakekatnya seluruh dunia dan isinya adalah fana dan hanya Allah saja yang wajibul wujud. Jadi dzikir atau semedi adalah bentuk penegasan bahwa hanya Allahlah eksistensi yang sejati. Jika manusia ingin mencapai kesejatian maka hendaknya ia manunggal dengan dzat yang sejati. Manunggaling Kawula lan Gusti.

Dalam sebuah bait tembangnya Sunan Kalijaga, mengajarkan meditasi atau dzikir untuk manunggal dengan Tuhan Yang Maha Tunggal. Mari kita simak wejangan beliau berikut :

Kang sinedya tinekan Hyang Widi
Kang kinarsan dumadakan kena
Tur sinihan Pangerane
Nadyan tan weruh iku
Lamun nedya muja samadi
Sasaji ing sagara
Dadya ngumbareku
Dumadi sarira tunggal
Tunggal jati swara awor ing hartati
Aran sekar jempina

Artinya :
“Yang diinginkan dikabulkan Tuhan. Yang dikehendaki tiba-tiba didapat, dan dikasihi Tuhan. Meskipun dia tidak tahu. Akan tetapi, ketika dia hendak melakukan puja samadi, dia memberi sajian di laut. Jadilah mengembara itu, untuk menjadi satu diri. Satu kesejatian, suara yang ada dalam hartati. Itulah yang disebut bunga jempina.”

Secara singkat makna dari tembang di atas adalah manunggalnya lahut (sifat ketuhanan) dan nasut (sifat manusiawi) sehingga seorang hamba yang sudah mampu meleburkan kemakhklukannya pada Sang Khalik maka ia akan sampai pada realitas ketuhanan, atau dalam bahasa agamanya menjadi hamba yang dicintai Tuhan. Jika seorang hamba telah dicintai dan dekat dengan Tuhan tentu segala cita-cita dan keinginannya akan mudah diijabahi-Nya.

Menurut tembang di atas untuk menjadi hamba yang dicintai Tuhan salah satunya adalah dengan jalan semedi atau dzikir. Jika kita berdzikir atau mengingat Tuhan maka Tuhan pun akan mengingat kita Fadzkuruunii adzkurkum (Ingatlah Aku, maka Aku akan mengingatmu) begitu dalam Al Qur’an surat Al-Baqarah ayat 152.

Lebih lanjut lagi bagi yang bersemedi hendaknya ia melakukan sasaji ing sagara, atau memberikan sesaji di lautan. Istilah ini sering dimaknai secara profan yaitu membuat sesaji untuk dilarung di lautan, dan ini akhirnya menjadi budaya larung sesaji oleh masyarakat pantai. Padahal makna sasaji ing sagara adalah kita harus menuju samudra ma’rifat sebagaimana dalam Serat Dewa Ruci yang menceritakan Sang Bima berada di tengah samudra yang kemudian bertemu dengan Sang Guru Sejatinya.
Sagara dalam pandangan ma’rifat Jawa merupakan lambang dari kalbu manusia. Jadi sasaji ing sagara memiliki arti manusia harus bisa mengendalikan gelombang nafsu dan jiwanya guna menuju satu kesatuan dan kesejatian Tuhan. Karena manusia sebelum terlahir ke dunia dengan kendaraan raga, ia hidup suci di baitul muqaddas, maka untuk mencapai kesucian itu manusia harus menyatukan perasaan dan pikiran dengan cara berdzikir inilah yang disebut sebagai “Hartati”.

Dzikir akan sempurna jika melahirkan sekar jempina, yaitu keadaan yang heneng, dan hening. Secara literal sekar jempina adalah sejenis tanaman umbi-umbian yang bisa dipakai untuk obat, sehingga seseorang yang telah sampai pada keadaan sekar jempina maka ia telah mampu mengobati penyakit-penyakit yang ada di dalam hati nuraninya yang menjadi sebab terhalangnya hijab ketuhanan. Secara maknawi jempina merupakan paduan dari tiga kata yang masing-masing terdiri dari satu suku kata, jem, pi, dan na. Jem berarti jenjem yang artinya tentram, pi berarti sepi, atau sunyi, sedangkan na adalah ora ana yang berarti kekosongan.

Dengan demikian puncak dari dzikir adalah kondisi kosong tapi berisi, berisi tapi kosong, sunyi dan sepi dari pamrih keduniaan untuk mencapai ketentraman lahir dan batin.

*Joyojuwoto, lahir di Tuban, 16 Juli 1981, Anggota Komunitas Kali Kening; Santri dan Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” yang tinggal di www.4bangilan.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar