Jumat, 19 Agustus 2016

Esai is Easy

Esai is Easy
Joyojuwoto*

Apa yang ada dalam rabaan dan pikiran kita jika mendengar kata esai ? mungkin kita akan langsung terbayang tulisan yang njlimet, penuh kata-kata ilmiah, keingris-ingrisan, dan tulisan yang dipenuhi frasa-frasa yang mengerutkan dahi kita. Mungkin saja indra kita tidak salah mengidentifikasikan esai dengan berbagai macam pengertian yang memusingkan kepala kita itu, karena memang kita merasa menulis esai harus dengan aturan yang baku dan ketat, serta tidak boleh keluar dari rambu-rambu kepenulisan yang sakral.

Menurutku esai is easy saja, yang terpenting adalah kita bisa senikmat mungkin menetrasikan isi kepala kita ke dalam lembaran-lembaran kertas untuk menjadi sebuah tulisan tanpa harus takut ditangkap dan diinterogasi oleh polisi bahasa. Menuangkan ide dan pikiran dalam sebuah tulisan untuk menanggapi atau mengomentari sesuatu hal disekitar kita adalah sebuah esai, kita tidak perlu terikat dengan segala macam pengertian esai dari para pakar ataupun dari KBBI, karena pada dasarnya mereka pun tidak akan pernah secara tepat mendefinisikan pengertian dari esai itu sendiri.

Walaupun demikian kita juga tidak menafikan pengertian esai dari pendapat para tokoh literasi, karena bagaimanapun juga sesuatu itu butuh tanda pengenal dan alamat untuk mendeskripsikan sesuatu, termasuk di dalamnya esai. Dalam bukunya “Inilah Esai” yang ditulis oleh Muhidin Dahlan, ia memaparkan berbagai macam pengertian dari esai, diantara yang dikutip oleh pemilik warung arsip ini menuliskan bahwa istilah esai untuk pertama kalinya muncul adalah Michel de Montaigne (1533-1592) yang menerbitkan edisi pertama esainya dengan judul “Of the Vanity of Word”. Montaigne mendefinisikan esai sebagai “Percobaan”.

Beberapa pakar essay lainnya juga memberikan definisi esai sesuai dengan pengalaman mereka, semisal Aldous Huxley esai adalah hendak mengomentari segala hal dan tentang apa saja. menurut kamus esai adalah bahasan sepintas dan sifatnya personal, sedang Bandung Mawardi mengatakan esai adalah cuilan. Menurut Cak Nun esai adalah sesuatu yang sifatnya longgar, sedang Gus dur lebih gila lagi mengatakan esai adalah suatu gaya penulisan yang “bukan-bukan”. Esai bukan sebuah puisi dan juga bukanlah sebuah karya tulis ilmiah. Walaupun bukan sebuah puisi esai tidak diperkenankan hadir tanpa rasa poetika, dan walaupun bukan karya ilmiah esai juga tidak terlepas dari perkara-perkara yang riil dan ilmiah. Tegasnya esai ya itu tadi is easy, sesuai dengan kemampuan daya nalar kita dalam mengomentari, membahas, mengungkapkan gagasan, dan menganalisa hal-hal disekitar kita secara sepintas lalu dan lebih bersifat personal dari cara dan sudut pandang kita sendiri.

Untuk menuliskan sebuah esai banyak tema yang bisa kita pilih, mulai dari masalah politik/ideologi, teori budaya, sains dan ilmu pengetahuan, bahasa, agama, transportasi, buruh, korupsi, dan bahkan boleh juga yang menyangkut masalah pribadi. Yang terpenting dari sebuah esai adalah kita fokus dan memahami benar tentang hal yang  akan kita esaikan. Tidak kalah pentingnya sebuah esai akan meledak di ruang pembaca jika masalah itu kekinian dan sedang menjadi viral di media sosial, hanya dengan sentuhan-sentuhan sedikit saja esai kita akan banyak dibaca orang.

Untuk menghasilkan dan memproduksi sebuah esai perlu kiranya kita mencari sumber bahan baku dari sebuah esai, sumber-sumber itu bisa kita elaborasikan dengan tema dan topik yang akan kita tulis sehingga kita tidak akan kehabisan untuk memproduksi esai. Jika kita mampu menguasai sumber itu tentu kita tidak akan kehabisan bahan baku, dan esai kita akan tajam dan kreatif serta memiliki kerangka alur yang jelas. Diantara sumber yang dapat kita ambil adalah : Perpustakaan, subjek manusia, subjek flora/fauna, ruang-ruang imajiner, dan yang tidak kalah penting adalah internet.

Agar esai yang telah kita produksi dari sumber-sumber di atas semakin luwes dan kaya akan model-model kepenulisan, maka hendaknya kita perlu menguasai ragam gaya menulis esai. Karena pada dasarnya esai itu seperti manusia yang memiliki beragam gaya dan selera, jadi tidak ada salahnya kita juga mampu menguasai macam-macam gaya dalam menulis sebuah esai. Namun yang paling aman tentu kita harus menyesuaikan tema apa yang akan kita tulis kemudian kita cocokkan dengan gaya yang akan kita pilih. Diantara gaya kepenulisan esai adalah : esai itu bisa seperti surat, esai itu alat kritik yang melengkung, esai bisa seperti puisi naratif, esai seperti sebuah percakapan, esai itu adalah pengantar sebuah buku, esai yang mengantarkan arwah, esai adalah sebuah memoar, esai seperti pamflet, esai yang dimimbarkan, esai yang dibikin untuk memancing keributan, esai yang menghanyutkan, esai adalah medan akrobat bahasa, esai bisa dengan cerita, esai itu memberi nyawa pada kamus, esai yang menggelar sinisma dan satirisma, esai yang berkaki adalah esai yang didorong tenaga turbo kekuasaan.

Demikianlah beberapa hal pokok dan mendasar yang saya sarikan dari bukunya Muhidin M. Dahlan, “Inilah Esai” yang dapat mengantarkan kita pada kekayaan sebuah esai yang dapat kita produksi untuk menjadi sebuah tulisan yang nantinya kita hidangkan kepada para pembaca.  Semoga dari tulisan ringkas dan singkat ini mampu sedikit memberikan gambaran tentang sebuah esai. Selaras dengan perkataan Gus Dur di atas bahwa esai adalah hal yang “bukan-bukan”, begitu pula tulisan ini pun menjadi tulisan yang “bukan-bukan”, selamat membaca, semoga ada manfaat dan faedahnya.

*Joyojuwoto, lahir di Tuban, Anggota Komunitas Kali Kening; Santri dan Penulis buku “Jejak  Sang Rasul” tinggal di www.4bangilan.blogspot.com.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar