Jumat, 28 Oktober 2016

Sang Pengembara

 Sang Pengembara

Oleh : Joyojuwoto

Dia adalah Sang pengembara, seorang lelaki yang terbuang dari tempatnya berpijak, telah terhapus tanah merah tumpah darah, tercerabut dari akar desanya, terlepas dari pohon-pohon keturunan, tiada sanak kadang dan keluarga tempat ia bersandar, atau sekedar tempat menempelkan identitas. Bentangan langit dan hamparan bumi menjadi rumah dan tempat tinggalnya. Seorang lelaki yang telah kehilangan segalanya, bahkan ia pun telah lupa siapa dirinya sendiri. Hilang keakuannya, musnah jejak kakinya, dan kabur identitas dan lebur jati dirinya ia hanya mengikuti anggapan orang lain kepadanya.

Sang Pengembara itu hanya berjalan dan berjalan menuruti langkah-langkah kakinya, ia akan selalu ada di setiap prosesi kematian masyarakat entah itu di desa mana. Seakan ia telah mengetahui dan membawa lembaran jadwal kematian seseorang. Jika ada orang yang meninggal dunia lelaki pengembara itu selalu tampak hadir di sana, membantu pemilik rumah yang sedang ditimpa musibah dan kesusahan. Ia akan dengan sukarela membantu mengambilkan air untuk menyucikan si mayit atau membantu menata tempat duduk para petakziyah, membagikan air minum, rokok dan hal-hal lain yang bisa dilakukan.

Selain itu jika ada orang yang punya gawe resepsi pernikahan, sunatan, atau bancaan apapun dia juga selalu hadir untuk sekedar memberikan tenaganya jika dibutuhkan.  Begitulah keseharian dari lelaki itu yang oleh masyarakat dikenal dengan sebutan Kang Mad, biasanya ia tinggal sekedar menumpang di langgar atau di pos-pos ronda. Hampir seluruh langgar di kampung ini ada bekas telapak kakinya, ada bekas sujudnya, dan lelehan keringat dan air matanya.

 Kang Mad selalu membersihkan langgar, jika lantainya kotor ia akan mengepelnya, dan juga mengisi padasannya, agar orang yang mau sholat langsung bisa mengambil air wudhu tanpa perlu menimba dari sumur. Kang Mad akan selalu berganti tempat, jika subuh ia berada di langgar pinggir kampung, nanti dhuhur ia pindah ke langgar di tengah kampung, saat waktu menjelang ashar Kang Mad biasanya telah berada di ujung langgar yang lain. Untuk magrib dan isya’ biasanya ia berada di masjid utama kampung. Ia yang memukul bedugnya, membunyikan kenthongan, mengumandangkan adzan serta menyalakan lampu-lampu masjid, begitulah kesehariannya berotasi dari satu langgar ke langgar yang lain, bergerak dinamis berputar bagai orang yang sedang menjalani laku thawaf di Ka’bah kehidupan.

          Satu hal yang kami sukai dari Kang Mad adalah jika ia sedang berada di langgar dekat rumahku, biasanya di waktu Asar, sesudah sholat kang Mad duduk-duduk di serambi langgar dan anak-anak kampung akan mengerumuninya agar ia bercerita.  Kang Mad memang pandai mendongeng tentang kisah-kisah para Nabi, Wali, dan orang-orang sholeh zaman dahulu, anak-anak selalu suka jika ia bercerita.

“Ayo kang sore ini cerita tentang para wali”

Seru beberapa anak sambil duduk mendekat membuat lingkaran mengerubungi Kang Mad yang sedang duduk santai di serambi langgar.

“Hehe..kalian mau cerita tentang wali, - wali siapa ? tanya Kang Mad kepada anak-anak dengan senyum yang sumringah.

“Sunan Kalijaga”...
“Sunan Bonang”...
“Sunan Kudus”...

Suara anak-anak ganti-ganti, bersautan meminta agar Kang Mad bercerita tentang Walisongo

“Sunan...emm..anu, Nabi saja Kang, Khidir, yang katanya masih hidup sampai hari ini”, seru Kadir, seorang anak yang berbaju hijau dan juga bersarung hijau.

Kadir memang berobsesi bisa bertemu dan berguru langsung kepada Nabi Khidir, entah mengapa, apa mungkin namanya yang memang mirip dengan Nabi Khidir itu yang menjadikannya ingin bertemu dengan sosok Nabi yang memiliki umur panjang, mendapat anugerah dari Allah hidup seusia langit dan bumi. Itu pula yang menjadikan Kadir sangat menyukai warna hijau, warna dari Nabi Khidir yang juga berarti memiliki arti Nabi yang hijau.

“Baiklah anak-anak, sesuai usulan temanmu Kadir, saya akan bercerita mengenai sosok Nabi Khidir” bagaimana, setuju ?

“Setuju...setuju... kang” Jawab mereka bersamaan.

Semua anak-anak serentak diam, mereka memasang telinga, dan wajah serius. Mereka khawatir jika ketinggalan jalannya cerita yang akan dibawakan oleh Kang Mad. Lebih-lebih Kadir, tentu yang merasa paling bahagia, ia akan mendengarkan kisah sosok Nabi yang selalu ada dalam hati dan pikirannya.

“Nabi Khidir adalah Nabi yang dianugerahi oleh Allah umur yang panjang, ya panjang sekali hingga hari ini dan nanti, selama matahari masih terbit dari ufuk timur, dan selama bumi masih dipijak oleh manusia” ucap Kang Mad membuka ceritanya.

“Bisakah kita bertemu Nabi Khidir Kang ? adakah amalannya ? tanya Kadir tidak sabar dengan obsesinya

“Bisa-bisa... kalian semua bisa bertemu dengan Nabi Khidir, karena Khidir sangat dekat dengan kita, Cuma ia selalu menyamar. Kadang Khidir berwajah seorang tua peminta-minta, kadang Khidir menyamar sebagai gelandangan bahkan sebagai orang gila”.

“Khidir adalah gurunya Nabi Musa, gurunya para wali dan penjaga agar kebaikan terus lestari di muka bumi, sekecil apapun itu kebaikan harus dipelihara. Tugas Nabi Khidir seperti namanya, yang berarti hijau, yaitu menjaga agar kebaikan selalu hijau, tumbuh berkembang tidak pernah layu dan  mati”

“Bekas jejak telapak kaki Khidir akan selalu ditumbuhi rumput-rumput, di padang pasir kering kerontang sekalipun. Jerami yang kering ketika diinjak oleh Khidir maka akan berubah menjadi hijau kembali, begitulah perumpamaan seorang Khidir”

“Wah... hebat ya Nabi Khidir, dia sekarang kira-kira di mana Kang ? tanya Kadir masih dengan wajah penasarannya.

Teman-teman Kadir sangat asyik mendengarkan cerita dari Kang Mad tentang Nabi Khidir yang misterius dan penuh keajaiban itu, sedang Kadir terus berfikir bagaimana caranya ia bisa bertemu dengan Khidir.

“Nabi Khidir juga sangat dekat dengan air, karena air juga lambang kehidupan. Di dalam Al Qur’an diceritakan ketika Musa diperintahkan oleh Allah untuk mencari seorang guru yang akan mengajarinya ilmu hikmah, Allah menyuruh Nabi Musa agar mencari orang itu di pertemuan arus lautan” kata Kang Mad melanjutkan ceritanya tentang Khidir.

“Jadi Saya bisa mencarinya di tempat yang banyak airnya Kang ? tanya Kadir kembali

“Khidir itu sebenarnya diri kamu sendiri cah bagus, selama engkau terus berusaha untuk menebar kebaikan di dunia ini, sekecil apapun itu, baik kepada sesama makhluk Tuhan yang berupa hewan, tumbuhan, lebih-lebih kepada sesama manusia, maka ketahuilah pada saat itu Khidir sedang menjelma menjadi dirimu sendiri, bukankah Khidir suka menyamar ?” hehe...

“Kita bisa saja menjalani laku spiritual agar bisa bertemu dengannya, dan jika Allah swt memberikan anugerah-Nya, pada saatnya kita akan bisa bertemu dan melihat Khidir secara langsung, tapi sebenarnya bukan itu tujuan dari sebuah laku spiritual cah bagus”

***

Kadir mengeryitkan kepalanya, nasehat dan cerita yang disampaikan Kang Mad tentang sosok Khidir telah menyeret dan menenggelamkan batinnya, Kadir merasakan dirinya terbang melayang ke alam keheningan. Tiba-tiba Ia telah berdiri bermain hujan-hujanan di sebuah tanah lapang yang gersang. Ia merasa heran, di musim penghujan seperti ini mengapa tanah itu gersang. Tidak ada satu pun rumput yang tumbuh, seakan-akan tanah itu adalah tanah mati seperti terkena radiasi nuklir yang tidak bisa ditumbuhi rerumputan. Di tengah kebingungannya sekonyong-konyong datanglah seorang kakek tua berjubah warna hijau.

“Cah bagus, kamu sedang apa di sini ? Sapa kakek tua

“Bermain hujan-hujanan Kek” Jawab Kadir sambil melirik ke arah kakek yang menyapanya, wajahnya tidak asing seperti telah lama ia kenal. Namun kadir tidak begitu menghiraukannya.

“Ayo ikutlah aku, berteduhlah tidak baik terlalu lama bermain hujan-hujanan” ajak kakek itu sambil berjalan meninggalkan Kadir yang masih terbengong di tengah tanah lapang yang gersang. Kadir hanya tertunduk di bawah derasnya guyuran air hujan, sekilas ia melihat telapak kaki kakek itu berjalan menjauh meninggalkan dirinya yang masih terpaku.

Telapak kaki itu ....” Seru Kadir terkejut, di bawah rintik hujan, tanah yang tadinya tampak tandus tiba-tiba ditumbuhi rumput-rumput hijau, makin lama rumput itu makin banyak dan meluas memenuhi lapangan yang tadinya tandus. Sepanjang memandang mata Kadir hanya menatap warna kehijauan, ia mendongakkan pandangannya mencari kakek tadi, namun sang kakek juga telah raib  balik warna hijau.

“Dir... Kadir, ayo bangun, ceritanya sudah selesai tu, ayo bangun, ambil wudhu sana ! teriak Rahmat teman Kadir sambil membangunkan Kadir yang tidur sambil duduk.

Kadir terhenyak dari tidurnya, “Lho... sudah selesai toh ceritanya Nabi Khidir? di mana Kang Mad ?

“Ia telah pergi, mungkin ke Masjid kampung seperti biasanya Dir” jawab Rahmat.

Senja semakin senyap, matahari telah tenggelam di peraduannya. Adzan Magrib sayup-sayup berkumandang. Kadir terdiam, dalam bayangannya melintas wajah Kang Mad kemudian bergantian muncul wajah kakek yang ditemuinya di dalam mimpi, wajah itu kemudian menjadi satu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar