Rabu, 26 Oktober 2016

Janji Suci di Lembah Cinta

Janji Suci di Lembah Cinta
Joyojuwoto*



Musim kemarau baru saja tiba, pohon-pohon jati di puncak bukit Lodito meranggas, daunnya berguguran diterpa angin siang yang panas. Burung-burung beterbangan mencari makanan untuk anak-anaknya di sarang, nanti jika senja tiba burung-burung itu akan pulang ke kandang menemui induk dan anak-anaknya yang menunggunya sepanjang hari. Pohon-pohon di lembah bukit itu tampak lesu memandang langit yang juga  diam membisu.

Cinta semesta mengatur harmoni kehidupan makhluk-makhluk Tuhan di jagad raya dengan keteraturan yang luar biasa. Ada siang ada malam, ada kalanya musim penghujan dan ada kalanya musim kemarau, seperti saat itu kemarau sedang melanda pedukuhan Juron. Sawah dan ladang mengering, rerumputan sama mati, hewan ternak hanya memakan jerami-jerami kering sisa panen tahun lalu, dan kadang juga hanya makan daun-daun bambu kering. Keadaan yang sulit ini  memaksa Sarip meninggalkan pedukuhan yang dicintainya guna mencari kerja di kota.

Di suatu senja di lembah Nganget di pinggiran pedukuhan, sejoli muda-mudi sedang duduk berdua di sebongkah batu di pinggiran sendang Nganget. Air sendang itu hangat sesuai dengan namanya Sendang Nganget, yang berarti Sendang yang airnya hangat. Sendang yang bersumber dari bukit Lodito itu menjadi saksi atas cinta suci sepasang kekasih Sarip dan Nimas.

“Nimas Ayu, ijinkan aku pergi, aku akan merantau ke kota” kata Sarip terbata-bata, lidahnya kelu ketika ia mengutarakan maksudnya hatinya kepada kekasihnya Nimas Ayu pada suatu senja di lembah Nganget”.

Nimas Ayu yang duduk di sebelah Sarip, hanya diam. Dari kedua bola matanya tampak butiran-butiran bening berkilauan tertimpa sinar emas matahari senja yang mempesona. Gadis cantik itu masih diam seribu bahasa, ia berusaha menahan mutiara-mutiara yang akan berjatuhan dari kedua bola matanya yang mempesona.

“Ini demi masa depan kita, tak ada yang bisa kita harapkan dari desa ini jika musim kemarau seperti sekarang, lihatlah bukit-bukit meranggas, tegal sawah tanahnya terbelah-belah, tidak ada tanaman yang hidup dari kekeringan ini”

“Aku berjanji, demi senja yang hadir saat ini, demi sendang Nganget dan bukit Lodito tempat kita memadu cinta kasih dan kesetiaan, pada saatnya aku akan pulang membawa cinta kasih dan kesetiaanku kembali kepadamu. Cintaku bagai permata yang tak kan pudar walau dimakan waktu” Janji Sarip kepada kekasihnya itu”.

“Aku takut kang Mas, kota adalah tempat yang jauh. Engkau belumlah tahu ujung pangkalnya, dan tentu di setiap sudut kota yang gemerlapan akan banyak gadis-gadis cantik yang akan memalingkan cintamu kepadaku. Aku takut kehilangan kamu Kang Mas.”

Nimas Ayu tak lagi mampu membendung air mata dan kesedihannya, ia menangis sesenggukan. Senja semakin gelap, angin bebukitan terasa mulai dingin sedingin kedua kekasih yang duduk mematung di tepi sendang. Gremisik dedaunan pohon jati  yang tinggal beberapa helai yang ditiup angin seperti melodi sepi yang mencekam. Walau senja telah beranjak pergi dan burung pun pun telah pulang ke sarang, namun sendang Nganget tidak sepi, bahkan justru semakin ramai, pengunjungnya sama berdatangan dan bertambah banyak.

Malam itu adalah malam minggu orang-orang banyak mempergunakan waktu libur akhir pekan untuk mandi dan berendam di kolamnya yang hangat dan berbau khas belerang. Menurut keyakinan yang entah dari mana air sendang Nganget mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit, oleh karena itu tidak heran jika pengunjungnya membludak dari berbagai daerah bahkan dari luar kabupaten Tuban itu sendiri.

Sarip dan Nimas Ayu telah berkemas, mereka berdua pulang dengan membisu, sepi seperti senja yang baru saja berenjak pergi. Rumah Sarip dan Nimas tidak begitu jauh dari Nganget, tepatnya di tepi hutan di pinggiran desa, sehingga mereka berdua dengan mudah dapat ke Nganget dengan berjalan kaki tanpa kesulitan. Terlebih Sarip biasa menggembalakan ternak-ternaknya ke hutan, sedang Nimas Ayu sendiri juga sering mengikuti simbok dan bapaknya bertanam jagung di lahan persil milik perhutani.

***

Esok hari saat matahari merobek tirai malam, bening embun di pucuk-pucuk rerumputan dan daun-daun pun sama berguguran. Kicau burung kutilang di dahan  randu di belakang pekarangan rumah Nimas Ayu terdengar menggemaskan, semerbak harum angin pagi yang bertiup dari arah sawah dan tegalan membawa hawa kemurnian desa. Suara lenguh sapi, kokok ayam, dan kambing-kambing yang mengembik menyemarakkan desa kecil di tepi hutan jati itu.

Nimas Ayu baru saja bangun, hatinya risau, matanya sayu, menjelang pagi ia baru bisa memaksa kedua kelopak matanya untuk terpejam, ia terkenang kekasihnya yang akan pergi meninggalkan desa, demi mencari masa depan yang entah ada di mana.  

Nimas segera beranjak dari peraduannya, ia ke belakang rumah untuk mencuci muka di sebuah pancuran yang airnya jernih mengalir dari sebuah bukit di belakang rumah. Keluarganya tidak perlu membuat sumur untuk keperluan mandi, mencuci, dan minum. Sumber air yang dialirkan dari puncak bukit Lodito menggunakan batang-batang bambu, namun sayang sumber air itu makin lama makin mengecil dan kadang-kadang airnya mengering karena musim kemarau yang membakar bulan September.

Selepas membasuh muka Nimas Ayu terperangah, ada gelora semangat yang membakar dadanya di pagi yang sepi itu. Ia segera berlari ke arah rumah Sarip. Nimas Ayu berpacu dengan waktu, ia tidak ingin ketinggalan sedetik pun. Perjuangan Nimas Ayu tidak sia-sia, Sarip masih tampak di belakang rumah membelah batang kayu untuk dijadikan kayu bakar oleh simboknya.

“”Kang Mas... Kang Mas..., kau tak perlu pergi ke kota Kang Mas. Kau tak perlu mengejar masa depan seperti apa yang kau katakan tadi sore kepadaku”

Sarip terkejut dengan teriakan Nimas Ayu, dia menghentikan pekerjaannya. Sepagi itu peluhnya telah membasangi kaosnya. Sambil mengusap dahinya Sarip mendekati Nimas Ayu yang berdiri tidak jauh darinya.

“Nimas Ayu, tekadku sudah bulat, aku akan pergi ke kota. Tidak ada yang bisa menghalangiku Nimas, tunggulah aku di sini, di kampung kita ini. aku pasti kembali kepadamu. Aku berjanji !.”

Tapi Kang Mas... !

“Tidak ada tapi-tapian Nimas, hidup tidak hanya bermodalkan cinta saja, aku harus kerja, untuk anak-anak kita, untuk keluarga kita. Sepulang dari kota nanti aku pasti akan melamarmu Nimas, jangan khawatirkan Kang Masmu ini. Jangan khawatirkan cintaku yang seteguh bukit di belakang kampung kita itu Nimas, tunggulah nanti sampai pohon-pohon jati itu bersemi, aku pasti akan kembali.”

“Nah... itu Kang Mas maksudku. Masa depan ada pada puncak bukit itu. Lihatlah Kang Mas, air bebukitan itu bisa menciptakan sendang, dan juga mengalirkan air yang jernih yang kita pakai untuk keperluan sehari-hari”

“Apa maksudmu Nimas, aku belum begitu paham ?

“Begini Kang Mas, kemarau seperti ini kan yang menjadi masalah buat kampung kita ini, saya punya ide Kang Mas, mari kita gali sumber air yang ada di puncak bukit itu. Kita buatkan saluran hingga ke tegal sawah penduduk kampung, agar bisa dipakai untuk pengairan di musim kemarau”.

“Usulmu sangat luar biasa Nimas, dari mana kau bisa menemukan ide yang cemerlang itu ? kita masyarakat pedukuhan sini memang tidak pernah memikirkan potensi sumber air dari puncak bukit di belakang kampung kita. Penduduk kampung tidak akan kekurangan air lagi jika musim kemarau seperti ini”.

“Semalam saya tidak bisa tidur Kang Mas, memikirkan engkau akan pergi ke kota, dan tadi saat saya membasuh muka saya teringat dengan air dari pancuran bambu di belakang rumah, saya terpikir puncak bukit di sana Kang Mas”

Jadi Kang Mas setuju dengan usulku ? dan Kang Mas tidak akan pergi ke kota kan ?

Langit pagi itu semakin cerah, matahari bersinar terang, kabut-kabut tipis mulai menghilang. Wajah Nimas Ayu pun cemerlang, matanya bersinar bagai matahari kembar. Angin pagi membelai dedaunan, rumput dan ilalang pun ikut bergoyang, melodi cinta sepasang anak manusia mengalun merdu di lereng-bereng bebukitan membangun harmoni kehidupan surga di pedukuhan yang terpencil nan sepi.

Pagi itu, Nimas Ayu dan kekasihnya pergi ke puncak bukit, menelisik semak belukar, mengais tanah-tanah padas bebatuan, mencari sumber air sebagai sumber kehidupan pedukuhan. Mereka telah merencanakan membuat kanal untuk disalurkan ke bawah bukit. Mengairi tegal dan sawah-sawah yang kering. Sarip juga telah merencanakan untuk merundingkan proyek besar itu kepada kepala pedukuhan. Hutan-hutan yang kerontang di sepanjang bukit harus direboisasi kembali, pohon-pohon di sekitar sumber air harus dilindungi demi kehidupan masa depan dan anak cucu yang lebih baik.

Di tepi sendang, di bawah pohon jati saat matahari tepat di garis tengah cakrawala langit, disaksikan langit dan bumi, serta pohon-pohon jati yang meranggas sunyi, sejoli muda-mudi itu mengikat janji suci.

“Nimas Ayu, tunggu aku pasti melamarmu, saat nanti pohon-pohon jati itu bersemi kembali, dan kembang-kembangnya mekar berseri”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar