Kamis, 27 Oktober 2016

Double Bom

Double Bom

Dengan cekatan jari-jemari tangan Ical membagi kartu remi kepada keempat lawan mainnya. Masing-masing pemain mendapatkan tiga belas kartu remi, sedang yang mendapat giliran bertugas mengocok kartu mendapatkan empat belas lembar kartu. Jumlah keseluruhan kartu remi adalah lima puluh tiga  lembar, kartu-kartu itu secara bergantian akan dibuang dengan aturan tertentu hingga tak tersisa, yang pertama kali habislah yang menang. Permainan itu adalah permainan poker, aturan mainnya mungkin tidak sama dengan aturan permainan poker yang digelar di bar-bar, atau kasino-kasino tingkat internasional. Namun setidaknya permainan itu mampu membunuh sepi dan mengurai penat setelah seharian mereka disibukkan oleh seabrek kegiatan yang menyita pikiran.
“Ayo saya yang membagi dulu kartunya, silahkan ambil tempat”, kata Ical memulai permainan malam itu. Ia begitu semangat menata kartu mengocoknya, kemudian membagikannya kepada lawan mainnya.
Dengan ditemani secangkir kopi, malam itu terasa  hangat dan semarak, apalagi kebul-kebul sigaret yang di hisap dan dihembuskan secara bergantian dan berirama oleh perokok-perokok melukis magis di kanvas-kanvas hitam pekatnya malam.
          Keempat pemain poker dengan penuh khusyu’ dan semangat mengambil lembar kartu yang telah dibagikan oleh tukang kocok. Nantinya tukang kocok ini diambil dari pemain yang nilai akumulasinya paling rendah. Nilai tertinggi dalam sekali permainan adalah tiga dan ini diberikan kepada pemaian yang pertama kali menyelesaikan permainannya, yaitu habisnya kartu yang di bawa. Pemain kedua yang selesai akan mendapatkan nilai dua, dan pemaian ketiga akan mendapatkan nilai satu, sedang pemain terakhir atau yang keempat tidak mendapatkan nilai, alias nol.
          “Mana buku catetannya, saya yang pegang” ujar hari sebagai pemain yang mendapatkan nilai tertinggi mengambil peran menulis skor permainan. Karena ia lebih sering menyelesaikan permainannya  terlebih dahulu.
          Permaianan ini akan diulangi lagi seperti awal dimulai hingga sepuluh kali putaran atau sesuai dengan kesepakatan bersama, dan masing-masing pemaian akan berusaka mendapat akumulasi nilai tertinggi. Pemain dengan skor yang paling rendah ialah yang kalah. Semua skor itu dicatat disebuah buku khusus, sebagai kitab sucinya permainan poker di sebuah gardu yang berada di sudut kampung itu.
          Kali itu entah tempat duduk yang dipilih Ical tepat di singgahsana dewi keberuntungan atau apa, setiap membuka kartu ia mendapat kartu pilihan. Mungkin itu adalah hari keberuntungannya, menurut perhitungan Jawa mendapatkan “Sri”-nya hari, dan berhasil mendapatkan tempat yang jauh dari Naga Dina. Padahal di malam-malam biasanya ia selalu mendapatkan kartu-kartu yang nilainya kecil, dan selalu kalah dalam permainan. Saya yang juga berada dilingkaran permainan malam itu ternyata kurang beruntung, sudah putaran yang ke terakhir nilai saya masih menduduki peringkat bawah, dan saya harus rela menjadi pengocok terbanyak malam itu. Bahkan yang paling menyedihkan saumpama di putaran akhir itu saya mendapat nilai full sekalipun saya tetap tidak akan menang. Selisihnya lebih dari tiga skor.
          Hanya keajaiban yang mampu menolong skor saya malam itu. Skornya ketiga lawan saya sudah di atas saya semua. Saya bisa menang jika memiliki rangkaian kartu bom atau double bom, kartu bom terdiri dari empat sampai lima kartu berurutan yang bisa dipakai untuk menaklukkan poker  atau angka dua yang dianggap memiliki nilai tertinggi dari semua kartu. sedang double bom dipakai untuk membunuh dua poker sekaligus yang diturunkan di gelanggang permainan. Walau sebuah kemustahilan double bom kadang juga akan muncul. Ia ibarat wahyu keberuntungan bagi pemegangnya. Jangankan double satu bom saja cukup membuat pemegang kartu berada di atas angin permainan.
          Namun tamatlah riwayat saya, walau tetap diam dan berusaha menyembunyikan kartu, ternyata kartuku tidak ada bomnya. Saya hanya bisa pasrah, dipastikan malaikat maut telah bertengger di kartuku. Saya kalah.
          “Hah..malam ini saya seperti sedang memangku Dewi keberuntungan, biasanya jari-jari saya sudah agak kaku jam sekian. Terlalu banyak kalahnya. Namun kali ini saya hampir selalu menang”, sombong Ical sambil menata kartunya. Dilihat dari caranya tersenyum dia memang sedang memperoleh kartu yang super. Skornya saat itu 12, sedang saya hanya 9. Jika saya mendapat nilai full 3, maka masih belum bisa menggeser skornya. Tamatlah saya, sedang Ical sudah sangat PD akan mengakhiri pertempuran dengan sangat sempurna.
          Mbah Moel yang sedari awal tidak pernah mengocok kartu, tampak santai. Kartu yang melekat di tangannya ibarat  pedang-pedangnya yang tajam. Sebagai jagoan yang sudah malang melintang di dunia poker ia dengan mudah mampu mempermainkan lawan-lawan mainnya, seperti seorang pesilat tangguh dengan jurus mabuknya dari kuil shaolin ia leluasa mengoyak dan mempermainkan lawan tandingnya. Namun kali itu ia tampaknya juga tidak begitu bersemangat. Tidak tahu kartu model apa saja yang dia pegang.
          Hari, ekspresinya juga biasa saja, karena apapun hasilnya ia tetap menang dan tak terkalahkan skor tertingginya. Sedang Ical sedari tadi tampak tersenyum riang, ia sepertinya memegang kartu Raja Naga yang tidak akan pernah tertaklukkan dan siap membelit dan meremukkan kartu-kartu lawannya.  Hanya saya yang tampaknya memegang kartu cempe. Kecil-kecil dan tak beraturan, seperti cempe yang kehilangan induk semangnya.
          Sebagai pihak yang kalah saya yang pertama melempar kartu di gelanggang perang. Kartu terkecil angka 3 saya lempar, kemudian kartu saya disambut oleh kartunya mbah Moel yang lebih besar, angka 5. Kemudian Hari pun menyambutnya dengan kartu angka 6. Ical yang sudah kepedean dari awal langsung menyambut dengan kartu naganya.“As..” Serunya penuh semangat.
          “Kartumu, kayak apa Cul, baru masuk angka tujuh sudah kau sambar dengan AS ? seru mbah Moel sambil sedikit memanasi suasana.
          “Haha...apapun kartumu  kali ini akan saya libas, lihat saja nanti ! Jawab Ical tetap dengan aura kemenangan di wajahnya. Ical kemudian melemparkan double kartunya.
          “Double Sepuluh” serunya mantap. Saya yang tidak punya hanya bilang, lanjut !!. kartu doublenya Ical segera disambut mbah moel dengan antusias melempar kartu pamungkasnya, Double King !. Mashari pun hanya bilang lanjut, ia ternyata juga tidak memiliki doble kartu. Ical yang ternyata telah menyetel kartunya double-double segera menyambutnya dengan teriakan nyaring “Double poker !     
          Selesailah permainan dengan turunnya raja naga double poker, susah mencari tandingan kartu yang super itu. Dan saya pasti menjadi pihak yang kalah malam itu.
          Saya hanya memandangi ekspresi wajah Ical yang bahagia bagai remaja yang di lamar oleh Cinderella matanya berbinar. Namun “Astaga ! saya sangat kaget, di belakang Ical tiba-tiba muncul dua ekor naga besar yang sedang menungguinya. Naga itu menunjukkan taring-taringnya yang tajam bagai pisau-pisau komando Kopassus dan siap menerkam. Ah ini ternyata yang akan menjadi keajaiban malam yang mulai sunyi. Tempat duduk saya yang sejak tadi memang terasa panas seakan mulai sejuk dan nyaman. Dewi Sri telah berpindah, dan singgahsananya seakan sekarang telah saya duduki. Waktu menunjukkan pukul 00.01 WIB, dan blarrr...!!!!
          “Double boommm !!!! teriak mbah moel nyaring sambil berjingkrak. Saya dan hari pun tertawa terpingkal melihat Ical disergap naganya sendiri, hancurlah benteng-benteng pertahanannya yang sangat kuat itu.
Ical pun terkaget, hingga ia hampir saja terjengkang dari tempatnya duduk, ia tidak menyangka kartunya yang Raja Naga, double poker yang super itu ditaklukkan oleh cempe-cempe yang berjejer berurutan membentuk delapan formasi sehingga menjadi double bom. Dan permainan pun berakhir dengan kekalahan di pihak Ical. Walau skornya sekarang sama dengan saya 9. Mujurlah saya malam itu.
Malam semakin larut, kami pun puas menikmati malam itu dengan permainan poker. Kadang di dalam hidup ini seperti dunia perpokeran, kadang menang kadang kalah, bersusulan saling bergantian. Begitupula komposisi hidup seperti lembar-lembar kartu yang selalu berubah dan beragam, namun kita harus bisa mengolah dan mengombinasikannya dengan baik dan tepat. Melepas atau menahan kartu pada saat yang tepat pula, hingga kemenangan dapat kita dapatkan.
Tidak jarang kartu yang kita miliki menyesuaikan kondisi hati. Entah karena koneksitas yang tak terbatas di dunia ini, olah rasa itu sangat berpengaruh dalam permainan. Oleh karena itu sebagaimana roda yang selalu berputar kemenangan dan kekalahan adalah hal yang lumrah dan biasa. Jadikan semua itu sebagai pelajaran yang berharga, galilah hikmah yang terpendam di dalamnya. Semua itu adalah bagian dari dinamika kehidupan. Maka mainkanlah kartu kehidupanmu dengan baik dan tepat agar agar kita tidak kehilangan cita rasa hidup yang beragam dan penuh warna.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar