Sabtu, 08 April 2017

Inilah 6 Manfaat Menulis

Inilah 6 Manfaat Menulis
Oleh : Joyojuwoto

Jika Pramoedya Ananta Toer (Pram) mengatakan bahwa, menulis adalah bekerja untuk keabadian, maka saya mengatakan bahwa menulis adalah kerja ibadah. Karena menulis  adalah perintah Tuhan setelah membaca. Dalam kitab-kitab tafsir disebutkan bahwa sesudah turunnya wahyu pertama Iqra’, maka wahyu kedua yang turun adalah surat Al Qalam. “Nun,  Wal Qalami Wa Maa Yasthuruun”, (Nun, Demi pena dan apa-apa yang dituliskannya).

Dilihat dari kronologi dan proses wahyu Tuhan di atas, maka jika ditafsirkan bahwa untuk menulis diperlukan bekal pertama, yaitu membaca. Yang dimaksud membaca ini bukan hanya sekedar membaca kitab suci atau buku saja, namun makna dari membaca membaca sangat luas. Termasuk diantaranya adalah membaca alam semesta, jagad raya yang dibentangkan Tuhan ini. Kita bisa membaca ayat-ayat Tuhan dari butiran debu, tanah, rumput, daun, air, api, udara dan lain sebagainya. Setelah membaca itulah ada perintah selanjutnya sebagai tindak lanjutnya, yaitu menuliskannya.

Oleh karena itu saya mengatakan bahwa “Menulis adalah kerja ibadah”, karena melaksanakan rangkaian dari perintah Tuhan kepada umat manusia. Selain bernilai ibadah menulis juga memiliki banyak manfaat. Menurut The Liang Gie (1992 1-3), menulis setidaknya memiliki enam manfaat, yaitu :
1.   Nilai Kecerdasan
Seorang penulis memang bukan yang tahu ilmu, mengerti segala hal, seorang penulis hanya berusaha merangkai susunan kata dari berbagai hal dan keilmuan yang terus berkembang. Setidaknya seorang penulis dituntut cerdas untuk mengumpulkan informasi-informasi dan berbagai sumber keilmuan untuk dirangkai menjadi sebuah tulisan, yang nantinya akan disajikan kepada pembaca.

2.   Nilai Kependidikan
Pada dasarnya seorang penulis adalah seorang pembelajar yang tidak pernah selesai, hal ini senada dengan sebuah hadits Nabi, bahwa menuntut ilmu itu dilakukan minal mahdi ilal lahdi, dari buaian hingga liang kematian. Jadi dengan menulis seseorang dituntut untuk terus membaca, dan kegiatan membaca ini tidak akan pernah selesai dilakukan. Hal ini memberikan penjelasan bahwa nilai kependidikan terus berlangsung sepanjang hayat.

3.   Nilai Kejiwaan
Selain dituntut kerja fisik, aktivitas menulis tentu tidak bisa meninggalkan kerja rohani, kerja jiwa. Oleh karena itu seorang penulis harus fit lahir batin biar bisa menulis yang baik. Jika jiwa buruk tentu tulisan yang dihasilkan pun buruk. Karena menulis itu pada dasarnya adalah memantulkan kembali cahaya ilmu melalui pena penulis. Jika ingin menjadi penulis yang baik perbaiki jiwa agar hasil dari pantulan pena kita baik juga.

4.   Nilai Kemasyarakatan
Seorang penulis tentu tidak bisa lepas dari lingkungan masyarakatnya, jika tulisan yang dihasilkan baik, dan bermanfaat bagi masyarakan, tentu masyarakat akan memberikan apresiasi yang positif pula. Di sinilah tugas penulis untuk melahirkan satu hal yang baru dan menginspirasi bagi masyarakat. Karena menulis adalah kerja untuk masyarakat luas, oleh karena itu mari berusaha melahirkan tulisan yang baik untuk masyarakat kita.

5.   Nilai Keuangan
Jika seorang penulis telah matang, mudah baginya untuk menghasilkan materi berupa uang, walaupun ini sebenarnya bukanlah tujuan utama dari menulis. Tapi bagaimanapun juga kerja dari seorang penulis layak dihargai. Diantaranya adalah dengan membeli bukunya atau memberikan penghargaan kepada penulis, seperti yang dilakukan oleh media masa, dengan cara memberikan sejumlah nominal uang untuk karya yang diterbitkan. Diantara contoh penulis yang telah meraup sukses dari tulisannya cukup banyak, seperti Andrea Hirata, Habiburrahman el-Syirazi, Tere Liye, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dan masih banyak nama beken lainnya yang telah berhasil dalam dunia tulis menulis

6.   Nilai Kefilsafatan
Seperti yang saya kemukakan di awal, bahwa menulis adalah kerja ibadah, atau menurut Pram bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian, maka nilai kefilsafatan dari menulis sangat luar biasa. Jika jasad dan umur seseorang hanya mampu bertahan di kisaran angka 80-100 tahun, maka dengan menulis seseorang memungkinkan untuk hidup lebih dari kisaran angka tahun itu. Jika menulis adalah bernilai ibadah, maka menulis menjadi bagian dari jariyah yang pahalaya tidak terputus setelah kematian penulisnya. Oleh karena itu menulislah agar kita mengabadi, maka menulislah yang baik agar kita terus mendapatkan pahala jariyahnya kelak.


          Demikian beberapa manfaat dari menulis semoga bermanfaat dan menginspirasi kita semua.  Karena semua orang adalah penulis, setidaknya menulis SMS, WA atau yang lainnya. Selamat menulis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar