Minggu, 12 Februari 2017

Membaca Pram : Hidup, Karya, dan Penjara

Membaca Pram : Hidup, Karya, dan Penjara
Oleh : Joyojuwoto

Idealnya untuk membaca seorang Pram (Pramoedya Ananta Toer), hendaknya kita harus menyelami huruf per huruf, kata per kata dan kalimat per kalimat dari samudera karya-karya beliau yang sangat dalam dan luas. Ada banyak karya yang ditulis oleh seorang sastrawan ternama dari kota Blora ini. Ada puluhan judul tulisan yang ia hasilkan, entah itu yang sudah terbit atau yang hilang karena sikap vandalisme dari kelompok-kelompok tertentu yang tidak menyukainya.

Tapi begitulah seorang Pram, ia ibarat samudera luas yang tak terbatas. Gelegak dan gelombang jiwanya meletup-letup, menebar angin badai dan amukan topan yang menerjang tatanan karang-karang kesombongan dan kepongahan kaum feodalistik. Dengan kalam dan qalam-nya, pram mampu membangkitkan daya energi kata yang maha dahsyat, untuk membela kemanusiaan dan keadilan dengan suara yang lantang, dan ini hanya bisa dilakukan oleh seorang lelaki pemberani.

Pram menurut saya adalah sebuah fenomena, dalam sejarah panjang bangsa ini, belum tentu kan lahir Pram-Pram yang lain. Jika dalam urusan agama, Rasulullah Saw bersabda :

إنّ اللهَ يبعثُ لهذهِ الأمّةِ على رأسِ كلِّ مِائَةِ سنةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لها دينَها

Artinya : Sesungguhnya Allah akan mengutus (menghadirkan) bagi umat ini orang yang akan memperbarui urusan agama mereka pada setiap akhir seratus tahun. (HR. Abu Dawud, No. 4291)

Ketika Pram masih di penjara di pulau Buru Prof. Teeuw pernah menulis “kendati apa pun dikatakan mengenainya, Pramoedya tetap merupakan penulis yang hanya satu lahir dalam satu generasi, bahkan satu dalam satu abad.”

Maka jika boleh saya ibaratkan, atau saya kiaskan sebagaimana hadits di atas, Pram dengan segala kekurangan dan kelebihannya adalah seorang tokoh pendobrak dan pembaharu dalam term dunia sastra Indonesia. Seperti yang sering saya tulis, bahwa tulisan itu seharusnya tidak hanya sekedar bunga-bunga kata tanpa makna, namun lebih dari itu tulisan harus memberikan ruang bagi peri-kehidupan sosial di tengah-tengah masyarakat. Atau lebih tepatnya Pram selalu memegang teguh kredo sastra sebagai realisme sosial.

Keterpihakan karya Pram terhadap isu-isu sosial inilah yang menurut saya menjaga ruh dan nilai dari karya-karya Pram untuk terus hidup dan selalu hadir di setiap tikungan sejarah. Pram menurut saya tidak hanya sekedar penulis, tidak hanya sekedar sastrawan, namun melaui karya-karyanya Pram adalah sosok pejuang kemanusiaan. Ilmuwan dan kritikus sastra Indonesia A. Teeuw menulis “Pramoedya Ananta Toer-De Veerbelding Van Indonesie, lebih lanjut A. Teeuw mengatakan bahwa “... bagi Pramodya Ananta Toer menulis adalah berjuang untuk kemanusiaan. 

Jika kita membaca Pram, akan kita dapati Pram adalah sosok yang penuh idealisme, keras kepala, dan tidak pernah mau menundukkan kepala di hadapan siapapun juga. Walau diancam penjara, dipopor gagang bedil, Pram tak pernah takut, Pram tak pernah ciut nyali. Pram adalah lelaki pemberani, itu pula yang sering ia katakan “Kalau mati, dengan berani; kalau hidup dengan berani Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.”

Pram itu ibarat api yang berkobar-kobar, api yang melawan segala bentuk kebekuan zaman, api yang akan membakar dan menghanguskan tembok-tembok feodalistik yang mengekang zaman. Pram sama sekali tidak ada kata kompromi, dalam kamus hidupnya hanya ada satu kata “Lawan segala kesewenang-wenangan.” Jadi tidak mengherankan jika hidupnya dipenuhi dengan drama di balik penjara.

Hampir separoh hidupnya, Pram ada di balik penjara mulai penjara zaman kolonial hingga penjara saat matahari kemerdekaan terbit dari ufuk cakrawala bumi Nusantara. Ya mungkin begitulah garis takdir yang dipilihkan Tuhan untuknya.

Penjara mungkin mampu mengurung dan membatasi gerak fisik manusia, namun penjara tidak pernah mampu membatasi gerak batin dan gerak jiwa seseorang. Lihatlah betapa banyak karya-karya besar dan monumental yang lahir dari balik jeruji penjara. Sayyid Qutub menulis tafsir Fi Dzilalil Qur’an saat beliau di penjara, Buya Hamka menghasilkan karua tafsir Al Azhar juga saat dipenjara oleh rezim penguasa, dan Pram pun melahirkan Tetralogi Pulau Buru pun saat ia di asingkan dan di penjara.

Penjara bagi sebagian orang adalah tempat yang sangat mengerikan, keterasingan dan isolasi sosial yang menakutkan. Bahkan penjara adalah label yang negatif bagi pandangan masyarakat kita. Padahal banyak orang yang dipenjara bukan karena perbuatan buruknya, bukan karena kejahatannya, justru mereka dipenjara karena keteguhannya dalam beridealisme. Seperti tokoh-tokoh yang saya sebutkan di atas.

Sebagaimana manusia lumrah, Pram juga tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Jika kita ingin membaca Pram secara utuh memang idealnya harus kita khatamkan seluruh karya-karya Pram. Itu pun belum menjamin mampu membaca secara objektif seorang Pram. Oleh karena itu sebagaimana yang sering Pram katakan “Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”

Agar ada keseimbangan dan keadilan, saya juga akan mengupas sedikit tentang sisi lain Pram, selain sebagai seorang yang memegang teguh aliran sastra realisme sosial. Sebagai seorang yang dituduh menganut paham kiri (baca komunis), Pram memang seakan memiliki perasaan yang sentimentil terhadap sesuatu yang berbau Islam. Pram seperti sangat membenci dan anti terhadap simbol-simbol santri.

Dalam beberapa karyanya yang sempat saya baca, ada aroma permusuhan yang memang diciptakan oleh Pram kepada kaum santri. Sebagai seorang yang matang dalam dunia sastra, ia memang tidak secara frontal berkonfrontasi dengan simbol ajaran Islam. Ada beberapa hal yang kadang seakan-akan nuansa kebencian itu ia tuliskan. Seperti dalam kisah Gadis pantai, Midah, kemudian juga dalam karya Arus Balik.

Jika sekilas kita memandangnya mungkin pandangan bahwa Pram anti Islam itu ada, namun jika kita berfikir jernih maka bisa dikatakan Pram hanya benci kepada para pemeluk agama Islam yang tidak mengaplikasikan Islam dengan sebenar-benarnya, bukan pada ajaran Islamnya. Menurut saya, semua saya serahkan kepada pembaca, bagaimana ia menafsirinya. Karena bagaimanapun pembaca berhak untuk itu semua.

Sebagai manusia dengan idealismenya saya kira lumrah kita berpihak pada apa dan siapa. Tidak ada kata netral dalam kehidupan, diakui atau tidak pasti kita punya ambisi dan keberpihakan, dan itu sah dan lumrah, yang terpenting kita bisa bertanggungjawab atas pilihan kita masing-masing. Bertanggungjawab kepada nilai kemanusiaan maupun nilai ketuhanan.
Sekian terima kasih.


Disampaikan dalam Ngaji Literasi Komunitas Kali Kening #11

Banjarworo, 12/02/17

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar