Senin, 06 Februari 2017

Asal-Usul Desa Klakeh

Asal-Usul Desa Klakeh
Oleh : Joyojuwoto


Pada zaman dahulu, saat Kadipaten Tuban dipimpin oleh Tumenggung Wilatikta, Islam telah masuk dan mulai menyebar di bumi Tuban, baik di kalangan para pejabat maupun rakyat jelata.  Bahkan putra dari Adipati Tuban yang bernama Raden Syahid kelak menjadi salah satu dari  dewan Walisongo, penyebar agama Islam di Nusantara, khususnya di tanah Jawa. Hal ini tentu tidak lepas dari peran para wali yang menyebarkan Islam dengan cara damai dan penuh hikmah, sehingga rakyat dengan suka rela berbondong-bondong masuk ke dalam agama Islam.

Adalah Sunan Ampel yang berjasa dan memiliki andil ikut serta membimbing rakyat sehingga mereka bisa mendalami ajaran Islam. Tidak aneh memang, jika Sunan Ampel memiliki perhatian besar di Kadipaten Tuban, karena ayahnya yaitu Syekh Asmaraqandi dimakamkan di desa Gesikharjo, Palang Tuban. Sunan Ampel kemudian juga menugaskan anaknya, yaitu Sunan Bonang untuk berdakwah dan mendirikan pesantren di Kadipaten Tuban.

Rakyat Tuban semakin hari semakin banyak yang masuk agama dari negeri Arab itu, karena Tumenggung Wilatikta, Adipati Tuban sendiri juga telah memeluk agama Islam. Lazimnya masyarakat pemeluk agama Islam, mereka membutuhkan tempat untuk beribadah, dan juga untuk keperluan-keperluan lain yang menyangkut syi’ar ajaran Islam.  Maka atas restu dari Adipati Tuban, masyarakat memiliki gagasan untuk mendirikan sebuah Masjid.

Di pisowanan agung kadipaten, Adipati Wilatikto menerima utusan atas nama wakil rakyat untuk menyampaikan gagasan dan aspirasi masyarakat tentang rencana pembangunan masjid.

Selanjutnya Adipati Wilatikto memerintahkan salah satu punggawa Kadipaten Tuban yang bernama Nolo Derma untuk mencari kayu Jati yang bagus sebagai bahan untuk membuat masjid di Tuban.

“Kakang Nala Dermo, saya tugaskan engkau untuk mencari kayu Jati di wewengkon Kadipaten Tuban, carilah kayu jati yang bagus, agar Masjid yang akan kita bangun nanti tidak mengecewakan” Titah sang Adipati kepada Nala Dermo yang duduk di depannya.

“Baiklah Kanjeng Adipati, saya akan berangkat untuk mencari kayu-kayu yang akan dipakai untuk pembuatan masjid, mungkin di tlatah Kadipaten Tuban bagian selatan sana banyak kayu jati yang baik. Karena hutan-hutan di wilayah sana masih sangat lebat.

“Iya Kakang Dermo, berangkatlah dan bawa prajurit kadipaten secukupnya untuk membantu tugasmu nanti” lanjut Sang Adipati yang duduk di dampar kencana kadipaten.

Ngesto’aken dawuh Kanjeng Adipati, selain membawa prajurit, nanti saya juga akan mengajak ikut serta istri saya, Subandiyah, karena mungkin tugas ini akan memakan waktu yang cukup lama” Jawab Nala Dermo.

Setelah dari pisowanan, Nala Dermo segera bergegas pulang untuk mengabari istrinya, tentang tugas yang akan diembannya. Sesampai di rumah Nala  Dermo segera mempersiapkan perbekalan serta perlengkapan untuk pergi mencari kayu jati.

“Istriku Subandiyah, persiapkan dirimu, kita akan pergi menempuh perjalanan ke wilayah barat Kadipaten Tuban.”

“Ada perlu apa Kakang pergi ke sana, bukankah di sana hanya hutan-hutan belantara” Tanya Subandiyah kepada suaminya.

  “Tadi di pisowanan, Kanjeng Adipati memerintahkan saya untuk mencari kayu jati, guna pembangunan masjid. Saya akan mengajakmu ikut serta menemaniku” Jawab Nala Dermo kepada istrinya.

Nyi Subandiyah pun segera mempersiapkan diri, mereka berdua bersama beberapa prajurit kadipaten akan segera berangkat melaksanakan titah dari Adipati Wilatikta.

Setelah dirasa cukup, berangkatlah rombongan yang dipimpin oleh Nala Dermo pergi ke arah barat daya. Rombongan itu melewati Merakurak, menerjang hutan Koro, mendaki bukit-bukit kapur di wilayah Montong, hingga sampai di perbukitan di Singgahan. Namun Nala Dermo belum menemukan kayu jati yang bagus dan cocok untuk bahan membuat masjid.

Rombongan itu kemudian berhenti sejenak di sebuah lembah yang memiliki mata air yang sangat jernih. Karena haus dan lapar mereka minum dari mata air di bawah pohon besar itu sambil membuka perbekalan.

“Kita istrirahat di sini dulu Nyai ! Kata Nala Dermo kepada istrinya, “Adi Nala Kerto, Adi Nala Yuda, perintahkan para prajurit untuk istirahat”, lanjutnya sambil memberi perintah kepada kedua pengawalnya untuk beristirahat.

“Iya Kakang, ayo prajurit kita istirahat dulu, yang haus silahkan minum dulu, di bawah pohon besar itu ada mata air” teriak Nala Yuda memberikan komando.

Di lembah itu banyak sekali pohon-pohon besar yang menjulang tinggi, walau hari sudah siang, namun udaranya sangat sejuk. Burung-burung bernyanyi di dahan-dahannya yang kokoh, suara binatang hutan bersuara bergantian, monyet liar berloncatan ke sana kemari melihat ada serombongan manusia yang memasuki wilayahnya.

“Pohon-pohon di sini sangat besar dan tinggi Kakang Dermo, namun sayang itu bukan pohon jati yang kita cari” kata Nala Kerto, sambil duduk di sebuah batu di samping Nala Dermo.

“Iya Adi Kerto, sedang pohon jati yang kita cari tidak ada, kita akan melanjutkan perjalanan terus menembus hutan ini hingga sampai di wilayah Bangilan. Kabarnya di sana banyak kayu jati bagus”

Setelah menikmati perbekalan dan meneguk jernihnya mata air di lembah itu, akhirnya rombongan Nala Dermo melanjutkan perjalanan ke arah barat daya. Rombongan itu terus berjalan hingga sampai di sebuah perkampungan kecil dusun Bangilan. Di tengah perjalanan Nala Dermo bertanya kepada penduduk mengenai pohon-pohon jati yang ia cari.

Atas saran dari salah satu penduduk yang ditemuinya, mereka disuruh terus melanjutkan perjalanan ke arah barat daya. Di sana banyak pohon jati yang tinggi-tinggi dan besar. Pohon itu  sangat bagus kata salah satu penduduk tadi. Rombongan pun melanjutkan perjalanan hingga hari menjelang sore.

“Hutan di sini sangat lebat Kakang, pohon jatinya juga sangat banyak, mungkin di sinilah tempatnya kayu jati yang kita cari” Kata Nyi Subandiyah kepada suaminya.

“Iya Nyai, firasatku pun mengatakan demikian, lihat pohon-pohon jati itu, sangat lurus, tinggi menjulang langit dan besar” Jawab Nala Dermo.

“Kakang Nala Dermo, hutan ini pohon jatinya sangat banyak, mungkin ini yang kita cari” teriak Nala Yuda dari belakang rombongan.

“Iya Adi, kita berhenti di sini, hari sudah menjelang sore, suruh para prajurit untuk membuat kemah, dan kita istirahat dulu. Besok baru akan kita mulai penebangan” jawab Nala Dermo.

Senja mulai gelap, matahari perlahan memasuki peraduannya, angin sore bertiup membawa aroma bunga-bunga liar dari pohon-pohon yang ada di hutan. Suara ayam hutan terdengar berkokok di kejauhan, burung-burung pun mulai pulang ke sarangnya.

Pagi-pagi sekali Nala Dermo beserta rombongannya telah bangun, mereka segera membagi tugas, ada yang bagian memasak untuk sarapan pagi dan adapula yang langsung ikut Nala Kerto dan Nala Yuda untuk segera mencari dan menebang pohon jati yang akan dijadikan bahan bangunan masjid.

Karena pada saat itu musim kemarau, prajurit yang kebagian masak kesulitan mencari air, dengan terpaksa mereka kemudian menggali tanah untuk dijadikan sumur. Untung saja di dekat mereka berkemah, tanah yang digali mengeluarkan sumber air. Oleh masyarakat setempat sumur itu dinamakan sumur Kijing, dan sumur kuno itu masih ada hingga sekarang.

Para rajurit yang lainnya segera bergerak di bawah komando Nala Kerto dan Nala Yuda, dengan cekatan mereka menebang sebuah pohon jati yang paling besar diantara pohon yang lainnya. Namun tiba-tiba ada kejadian aneh yang membuat para prajurit ketakutan dan tidak berani untuk menebang pohon itu. Mereka berteriak ketakutan : "Akeh kala..akeh kala... teriak para prajuri yang akan menebang pohon jati.

“Kakang Dermo, lihatlah Kakang, para prajurit tidak ada yang berani mendekati pohon itu, banyak binatang yang mengerubunginya” teriak Nala Yuda kepada Nala Dermo.

“Iya Kakang, seakan-akan binatang-binatang Kala itu melindungi pohon yang akan kita tebang” sambung Nala Kerto.

Nala Dermo yang berada tidak jauh dari lokasi penebangan segera mendekat, dia melihat banyak binatang Kala yang mengeruminu pohon jati itu, ada Kala Jengking, Kala Umeng, Kala Ketonggeng, Kala Klabang, Kala Seremende, dan binatang Kala lainnya.

Melihat hal itu, kemudian Nala Dermo mengheningkan cipta memohon bantuan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan bersedakep penuh khusyu’ Nala Dermo berkomat-kamit membaca do’a mantra.

“A’uudzuu bi Kalimatillahittammati Min Syarri Maa Khalaq, Salaamun ‘alaa Nuuhin Fil ‘Aalamiin”

Setelah Ki Nala Dermo selesai membaca do’a, tiba-tiba binatang-binatang yang mengerumuni pohon jati yang akan ditebang oleh para prajurit musnah seketika tanpa bekas. Tuhan telah mengabulkan permintaan dari Nala Dermo.

“Adi Nala Kerto, Adi Nala Yuda, sebagai pengingat-ingat untuk anak cucu kita kelak, ketika kita akan menebang pohon jati ini, kemudian dihalang-halangi oleh binatang-bintang Kala, maka besok kalau tempat ini ramai dihuni oleh penduduk, maka aku namakan menjadi Klakeh, dari kata Kalane akeh.


Demikian legenda asal-usul nama desa Klakeh di Kecamatan Bangilan Kabupaten Tuban.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar