Kamis, 02 Juni 2016

Di Kebun Kangkung

Di Kebun Kangkung

Naila, Nafa, Fani, dan Fida adalah tetangga dekat, rumah mereka bersebelahan, Naila dan Nafa bersaudara, sedang Fani dan Fida juga dua bersaudara. Mereka berempat adalah sahabat. Pada hari Minggu mereka  berlibur di samping rumah. Di situ terdapat kebun kangkung milik Pak Hamid.

Kebun Kangkung milik Pak Hamid sedang berbunga. Bunganya indah sekali.  Warna bunga kangkung putih cerah bersemu merah, sedang daun-daun kangkung berwarna hijau yang menyejukkan pandangan mata.

Naila dan Fani sibuk memetik bunga kangkung untuk dibuat mainan “pasar-pasaran”, Fida duduk-duduk sambil melihat belalang yang memakan daun-daun kangkung. Nafa yang paling kecil juga ikut sibuk mengganggu Naila dan Fani yang mengumpulkan bunga.

“Mbak Fani bunga kangkungnya bagus ya ! putih kayak salju”

“Iya Naila, itu kayak salju di film Frozen di TV” sahut Fani

“Ayo ambil bunga yang banyak Naila, nanti kita buat mainan” seru Fani sambil terus memetik bunga kangkung.

“Mbak Fani itu lihat di sana ada kupu-kupu, wah cantiknya !!! ayo kita kejar itu kupu-kupu” kata Naila sambil berusaha mengejar kupu-kupu yang terbang di antara bunga-bunga kangkung.

Kupu-kupu yang indah berwarna-warni itu beterbangan dan hinggap di bunga-bunga kangkung yang bermekaran. Alam diciptakan Tuhan dengan saling berpasangan dan saling membutuhkan. Kupu-kupu menghisap sari-sari dari putik bunga sebagai makanannya, begitu pula bunga-bunga membutuhkan kupu-kupu untuk membantu proses penyerbukan antara benang sari dengan kepala putik yang akhirnya menghasilkan buah.

“Wah cantik dan lucu yang kupu-kupunya, Mbak Naila kupu-kupunya jangan ditangkap ya ? kasihan” kata Fida yang sejak tadi asyik melihat belalang.

“Iya Naila, biarkan saja terbang... kata Bu Guru kita tidak boleh mengganggu hewan-hewan itu, kita harus menyanyangi mereka” Fani yang sudah duduk di kelas 3 SD menerangkan.

“Iya Mbak Fani, kita lihat-lihat saja kupu-kupunya, wah indah sekali ya ciptaan Tuhan, kata Bu Guru TK saya, kita harus bersyukur dianugerahi alam yang indah oleh Tuhan” kata Naila ikut-ikutan mengutip kata-kata bijak dari guru TK-nya.

Setelah bunga-bunga kangkung terkumpul cukup banyak Fani, Naila, Fida, dan Nafa pulang, mereka berempat berjalan hati-hati di sepanjang pematang sawah milik Pak Hamid. Mereka berempat senang sekali, hatinya berbunga-bunga seperti bunga-bunga kangkung yang putih indah bermekaran di pagi yang sejuk itu. Matahari belum beranjak tinggi dan anak-anak yang cantik-cantik itu melanjutkan bermainnya di halaman rumah. Joyojuwoto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar