Rabu, 14 Juni 2017

Kisah Santri Pembawa Jimat Ke Tanah Suci

google
Kisah Santri Pembawa Jimat Ke Tanah Suci
Oleh : Joyo Juwoto


Dalam sebuah pengajian tafsir yang diasuh oleh Gus Baha', yang saya ikuti direkaman you tobe, banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik.

Sedikit saya cuplikkan melalui tulisan dari hal-hal yang saya ingat, atau menurut Hernowo Hasyim, disebut sebagai mengikat makna. Semoga ada manfaatnya.

Saat itu Gus Baha' menceritakan tentang rekayasa Iblis yang menaruh kitab sihir di singgahsana Nabi Sulaiman, agar orang-orang menyangka setelah wafatnya Nabi Sulaiman, bahwa kekuasaan dan kehebatan dari Nabi Sulaiman adalah hasil dari perbuatan sihir.

Namun hal ini langsung dibantah oleh Allah di dalam Al Qur'an, bahwa Sulaiman tidak kufir dan mengajarkan sihir, melainkan Iblislah yang melakukan itu semua. "Wa maa Kafara Sulaiman Wa Lakin asyayaathiina kafaruu"

Dari peristiwa inilah, muncul pendapat bahwa jimat juga termasuk bagian dari sihir yang juga termasuk bagian dari perbuatan sihir.

Menurut Gus Baha, Jimat bukanlah bagian dari kemusrikan, hanya saja jimat itu seperti barang yang tidak berguna. Karena pada dasarnya, orang yang membuat ataupun yang memakai jimat masih bersyahadat kepada Allah, padahal kalimat syahadat ini apabila dibaca oleh orang kafir atau musrik maka ia menjadi muslim, lha ini sudah Islam hanya gara-gara jimat saja masak kok ya jadi musrik? padahal mereka sudah dan masih bersyahadat.

Ada satu kejadian menarik yang dialami oleh salah satu temannya Gus Baha'. Temannya Gus Baha ini santri yang alim dan pandai membaca kitab Mu'in. Alfiyah khatam dan hafal, karena ia memang seorang Gus dari Madura. Ayahnya seorang Kiai di kampungnya.

Suatu ketika Temannya Gus Baha' ini pergi ke Makkah, sesampainya di kantor Imigrasi Arab Saudi, seperti biasa ada pemeriksaan, lha, temannya Gus Baha ini dari rumah dibekali jimat yang dibungkus kain jarit, isinya adalah jahe. Entah jimat itu untuk apa.

Karena Arab Saudi berfaham yang melarang penggunaan jimat, maka si santri ini ditahan oleh asyakar.

"Haadzal balad, baladullah, La yadkhulul Musyrik"

Kemudian si santri ini digelandang kebagian keamanan, di sana diinterograsi oleh petugas. Kemudian santri tadi disuruh berjongkok, dan jimatnya dibakar oleh asykar.

Saat jimat dibakar si santri tadi kepanasan dan menyebut nama Allah.

"Allah...Allah...Allah"

Lhoh, ente masih mengakui Allah, sebagai Tuhan! hardik salah satu asykar.


Kemudian santri tadi mengeluarkan kepandaiannya berbahasa Arab. Dan dicapai satu kesepakatan ia diperbolehkan dengan syarat ia harus disyahadatkan terlebih dahulu.

Dalam batin si santri sangat nggerundel, lha wong dia sejak bayi sudah santri, bapaknya kiai, ibunya bu nyai, mbah-mbahnya juga santri, lha dipaksa harus syahadat kembali. Tapi demi bisa mengunjungi Makkah ia pun bersyahadat.

Begitu cerita yang disampaikan oleh Gus Baha' dalam pengajian tafsirnya, yang membuat saya terpingkal. Terima kasih Gus. Ngajinya joss luar biasa. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar