Kamis, 21 Januari 2016

Mewariskan Wisdom Lokal di Era Modernitas Zaman

Mewariskan Wisdom Lokal di Era Modernitas Zaman

Sumber : Infoblora.com
Masyarakat Indonesia memiliki ribuan hasanah kebudayaan suku bangsa yang beragam, baik berupa adat-istiadat, sistem kemasyarakatan, bahasa, kepercayaan, foklore dan lain sebagainya. Indonesia merupakan surga dan laboratorium kebudayaan yang paling lengkap di dunia. Oleh karena itu kita sebagai warga negara perlu bangga dengan cara mensyukurinya dan mengembangkan potensi budaya itu dengan sebaik-baiknya.

Keragaman budaya di bentangan bumi Nusantara kita ini merupakan warisan budaya leluhur yang perlu kita lestarikan dan layak untuk kita abadikan. Sekecil apapun mutiara-mutiara kebudayaan yang ada di tengah masyarakat perlu mendapatkan perhatian yang serius khususnya di kalangan generasi muda sebagai penerus peradapan bangsa agar kelak tidak kehilangan jatidiri.

Di lingkungan sekitar kita mungkin masih banyak kearifan lokal yang luput dari perhatian kita, baik itu berupa pamali, cerita-cerita, legenda, permainan tradisional dan lain sebagainya. Ini menjadi tugas kita semua untuk menyelamatkan dan mewariskan kembali wisdom lokal itu kepada generasi sesudah kita. Jangan sampai terjadi lost civilisation sehingga anak cucu kita tidak mengenali budayanya sendiri.

Salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk melindungi dan mengkonservasi nilai-nilai budaya adalah dengan menggiatkan budaya literasi di tengah-tengah masyarakat khususnya kaum terpelajar guna mengikat makna dan mengabadikan khasanah kebudayaan bangsa. Cara lain yang lebih efektif adalah dengan membuat desa budaya pada masing-masing daerah yang menjadi pusat dari kebudayaan itu. Namun cara kedua ini saya agak pesimis karena ini tentu melibatkan banyak komponen khususnya peran langsung yang  berkesinambunan dan terarah dari banyak pihak khususnya pemerintah daerah tentunya.

Contoh kongkritnya semisal di daerah pegunungan Kendeng yang meliputi Tuban-Bojonegoro, dan Blora dulu kita mengenal peradapan Samin yang dipelopori oleh Eyang Samin Surosentiko. Sebuah kelompok masyarakat yang berusaha mempertahankan nilai-nilai agung warisan nenek moyang di Kab. Blora.

Untuk melindungi dan melestarikan ajaran Saminisme ini pemerintah perlu menetapkan satu wilayah sebagai laboratorium budaya dari masyarakat Samin. Semisal Perkampungan Karang Pace di Blora, di mana adat dan budaya masyarakat Sedulur Tunggal Sikep ini dilestarikan oleh para penganutnya. Pemegang kebijakan di wilayah yang dihuni oleh masyarakat Samin tentu dituntut untuk memahami karakter dan budaya masyarakat sehingga dalam mengambil kebijakan tidak berseberangan dengan nilai-nilai lokal masyarakat.

Bukan berarti dengan membangun laboratorium budaya di suatu wilayah menjadikan masyarakat stagnan dan anti kemajuan. Masyarakat budaya harus tetap ditransformasikan menjadi masyarakat yang modern tanpa kehilangan jatidirinya. Ini menjadi tugas besar bagi para pemikir dan para ilmuan untuk mengawinkan dua variabel yang kelihatannya saling berlawanan. Antara masyarakat budaya yang dianggap udik dengan masyarakat yang telah disentuh oleh warna modernitas zaman.

Kasus penolakan pembangunan pabrik semen di Pati dan Rembang menjadi bukti yang tidak terbantahkan bahwa pemerintah tidak peka dan kurang memahami  sosiokultural yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Kadang kebijakan pemerintah memang bukan terlahir dari rahim kerakyatan, namun lebih mengikuti selera kaum borju sehingga mengabaikan nilai-nilai kerakyaatan itu sendiri. Tidak aneh memang kebijakannya jauh dari akar rumput dan bumi di mana dipijak. Padahal jika pemerintah memahami potensi kearifan lokal suatu masyarakat tentu pemerintah lebih  arif dan bijaksana dalam mengatur, mengelola, dan membuat kebijaksanaan yang menyangkut hajat kerakyatan.

Kita berharap wisdom lokal masyarakat di manapun berada di bumi Nusantara ini mendapat perhatian dari pemerintah dan masyarakat penyangga kebudayaan itu sendiri, sehingga kelak mata rantai kebudayaan bangsa tidak terputus dan dapat kita wariskan kepada generasi selanjutnya. Karena pada dasarnya eksistensi dan kebesaran suatu bangsa bersumber dan berpijak pada nilai-nilai lokalitas kemasyarakatan itu. Joyojuwoto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar