Senin, 29 Juni 2015

Syekh Abu Hasan Al Syadzili Menulis di Lembar Cahaya

Syekh Abu Hasan Al Syadzili Menulis di Lembar Cahaya

“Kitabku adalah kawan-kawanku”

Begitulah yang diucapkan  oleh ulama sufi kenamaan Syekh Abu Hasan Al Syadzili. Baginya tidaklah  penting seseorang itu dikenal dan dikenang oleh masyarakat, ia tidak khawatir maupun takut jika kelak diakhir kehidupannya hanya menyisakan tiga baris kata, nama, tanggal lahir, dan tanggal kematian dilempengan batu nisannya. Karena memang pada hakekatnya tidak ada yang abadi di dunia ini, semua akan rusak, semua akan musnah tak terkecuali, semua akan sirna hanya Allah lah Sang Maha Abadi. Kullu Syai’in Haalikun illa Wajhahu” Segala sesuatu akan sirna kecuali Wajah Allah SWT.

Oleh karena itu Syekh Abu Hasan Al Syadzili tidak berambisi untuk menulis beribu-ribu kitab, menulis berlembar-lembar artikel dan catatan-catatan demi dikenal dan dikenang masyarakat. Dianggap paling jenius, paling alim, paling produktif dalam berkarya karena baginya semua itu hanyalah asesoris-asesoris semu dan bukan menjadi tujuan. Abu Hasan Al Syadzili sama sekali tidak percaya konsep keabadian sebagaimana yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer, bahwa menulis adalah  bekerja untuk keabadian, menulis agar dikenang masyarakat dan sejumlah tujuan-tujuan semu lain yang kadang akan menjauhkan kita dari esensi dan tujuan dari menulis itu sendiri.

Bukan berarti Abu Hasan Al Syadzili anti dengan kegiatan kepenulisan, beliau banyak juga meninggalkan ajaran dan hizb-hizb yang sampai sekarang masih diamalkan oleh para pengikut beliau di dalam tarekat Sadziliyahnya, baginya menulis adalah kerja ibadah dan dakwah yang dilandasi keihklasan dan kemurnian hanya kepada Tuhan saja. Karena pada dasarnya manusia diciptakan Tuhan dalam rangka untuk beribadah kepada Allah semata. Bukankah kita selalu mengikrarkan janji setidaknya  lima kali sekali dalam sehari saat membaca doa iftitah bahwa :
                                                                                                                                                                                       
إنّ صلاتى ونسكى ومحياي ومماتى لله ربّ العالمين

“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku semata-mata hanya untuk Allah Tuhan seru sekalian alam”

Inilah yang seharusnya menjadi niat dan landasan seseorang untuk berbuat apapun. Karenanya dengan niat yang lillahi ta’ala Syekh Abu Hasan As Sadzili lebih suka menulis dalam lembaran-lembaran cahaya hidupnya, dalam perjalanan tasawufnya, dan dalam kecintaannya kepada Allah SWT. Ketaatannya kepada Allah adalah lembaran-lembaran tulisannya, murid-muridnya adalah  jilid-jilid kitabnya.

“Kitabku adalah kawan-kawanku” begitu kata beliau. Syekh Abu Hasan Al Syadzili benar-benar telah menulis dengan lembar-lembar cahaya di dalam kehidupannya.

Kelompok orang-orang sufi kadang identik dengan kelompok yang pasrah dalam menjalani kehidupannya, berpakain ala kadarnya, tidak memperhatikan penampilan dhohir dan bahkan kadang tidak memiliki tempat tinggal. Syekh Abu Hasan Al Syadzili tentu tidak ada yang meragukan kezuhudannya, beliau adalah seorang mursyid bahkan pendiri dari aliran tarekat Syadziliyah namun kehidupan beliau sangat memperhatikan pakaian dan penampilan. Rumah beliau bagus, tanah pertaniannya luas, dan memiliki kuda-kuda yang kuat dan tegap. Karena baginya kesufian adalah gerak batin seorang hamba, harta dan kekayaan boleh ada ditangan tetapi jangan sampai melekat dan ada di dalam hati.

Suatu ketika Syekh Abu Hasan Al Syadzili ditanya oleh seseorang mengapa penampilannya mewah dan menaiki kereta kuda yang indah, padahal ia adalah seorang ulama sufi ?, maka beliau menjawab bahwa agar ia tidak terkesan sebagai orang yang butuh kepada orang lain, karena hanya kepada Allahlah kita menggantungkan kebutuhan. Belia juga pernah berkata kepada muridnya Abu Abbas Al Mursyi, “Kenalilah Allah, lalu hiduplah sesukamu”

Abu Hasan Al Syadzili juga berpesan kepada murid-muridnya, “Anakku dinginkan air yang akan kau minum. Sebab, jika kau minum air hangat lalu mengucap Al Hamdulillah; tak ada semangat dalam ucapanmu. Berbeda jika kau meminum air dingin, lalu mengucap Al Hamdulillah; niscaya seluruh organ tubuhmu turut mengucap Alhamdulillah.” Begitulah cara abu Hasan memandang kehidupan seorang mu’min harus selaras dengan do’a yang selalu dibacanya “Fi addun-ya hasanah wa fil akhiroti hasanah” bahagia dunia akhirat.
Ajaran Syadziliyah yang beliau dirikan tidaklah berbeda dengan ajaran-ajaran ulama tasawuf lainnya, tentu yang paling pokok ajaran itu tidak menyimpang dari petunjuk Al Qur’an dan sunnah-sunnah Rosulullah SAW. Syekh Abu Hasan menekankan kepada murid-muridnya untuk menapaki jalan ma’rifat dan mahabbah kepada Allah SWT. Karena siapa yang mencintai Allah, mencintai karena Allah, berarti telah sempurna kewaliannya dan tidak terjebak pada kelezatan duniawi yang semu. Al hubbub lilah, wa fillah, cinta karena Allah, dan bersama Allah menjadi bagian terpenting bagi seorang hamba dalam bersuluk kepada-Nya.

Abu Hasan Al Syadzili selain sebagai seorang yang zahid beliau juga seorang mujahid yang pemberani. Pada saat pasukan salib menyerang tanah airnya, pada saat negerinya terancam bahaya, tak sejengkal pun ia berlari menghindari peperangan. Ia tidak mau menjadikan ritual ibadah dan kegiatan dzikir sebagai dalih untuk menghindari perang. Abu Hasan Al Syadzili yang sudah berumur lebih dari enam puluh tahun ikut mengangkat senjata berada dibarisan terdepan pasukan kaum muslimin untuk melawan kaum kafir salib. Beliau tidak melewatkan kesempatan untuk berjihad qital fi sabilillah. Bersama-sama dengan ulama-ulama Al Azhar lainnya seperti al –Izz Ibn Abdul Salam, Majduddin al Qusyairi, Abu Hasan memberikan dukungan semangat kepada Khalifah Malik al Zahir Baybars untuk menggempur tentara salib di bawah pimpinan Raja Louis IX.

Begitulah kehidupan Syekh Abu Hasan Al Syadzili yang ditulis dilembaran-lembaran cahaya sejarah yang abadi. Beliau adalah seorang ulama yang memahami ilmu hakekat dan syariat, seorang ahli ibadah yang saleh, seorang zahid yang memiliki dunia tetapi tidak dikuasai dunia, seorang pendiri tarekat Syadziliyah yang memiliki puluhan ribu hingga jutaan pengikut yang setia dan mencintainya.

Syekh Abu Hasan al Syadzili meninggal dunia diusia 63 tahun, beliau terlahir di Maroko, tepatnya di desa Ghamarah tahun 539 hijriyah dan meninggal dunia di Humaitsarah dekat Laut Merah saat akan menuaikan ibadah haji pada tahun 656 hijriyah. Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosanya dan menempatkan di sisi-Nya. Amien. Joyojuwoto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar