Kamis, 23 April 2015

“Kartini Maaf Aku Telat Memberimu Ucapan Selamat”

“Kartini Maaf Aku Telat Memberimu Ucapan Selamat”

Raden Ajeng Kartini begitulah namamu disebut, masyhur diseluruh penjuru negeri.lagu tentang dirimu pun dinyanyikan di mana-mana dan sepanjang masa. Dihapal oleh jutaan generasi anak bangsa dari balita hingga manula.

Bulan April adalah bulanmu, semua orang mengenangmu, tentu aku pun ikut mengucapkan selamat buatmu Raden Ayu, walau mungkin ini sedikit telat. Tapi tak apalah daripada tidak sama sekali.

Jika kita anak bangsa ini tidak mengenalmu, tidak mengadakan seremonial peringatan untuk memperingati hati terkhusus untukmu, saya khawatir khususnya untuk diri saya pribadi dicap sebagai anti kemajuan, anti modernisasi, dan yang paling parah tentu dianggap anti dengan sebuah kata emansipasi.

Walau kadang peringatan-peringatan itu jauh dari semangat yang kau ajarkan kepada kaummu. Kadang saya juga geli melihat anak-anak TK, anak-anak SD, bahkan SMP, SMA menjadi korban ambisi orang-orang dewasa. Ritualistik itu tidak salah, namun makna yang terkandung dalam sebuah ritual jangan sampai hilang tertelan hingar-bingar tetek bengek dari sebuah ritual seremonial dan live service belaka.

Lebih menggelikan lagi jika saya melihat, membaca tentang jargon-jargon emansipasi perempuan yang selalu dilekatkan pada nama besarmu Rara Ayu,  saya yakin kamu pun sebenarnya tidak pernah mengenal istilah itu. Saya yakin itu bahkan haqqul yakin.  Sebenarnya saya tidak anti dengan kata emansipasi, sayang kata itu maknanya telah dikerdilkan oleh kelompok-kelompok yang menamakan dirinya sebagai pembela kaummu Rara Ayu.

Jujur saja sebenarnya saya masih bingung juga mendefinisasikan kata yang aneh dan mirip-mirip bahasa Jawa itu. Emansipasi, kalau bahasa Jawa ada istilah “eman” tinggal nambahi si, kayak paving menjadi istilah pavingisasi, paving adalah kata benda dan pavingisasi adalah sebuah gerakan untuk memasangi paving. Tapi apakah seperti itu antara emansipasi dan kata eman ya ?, yang jelas kata emansipasi dan eman dalam bahasa Jawa tidaklah ada hubungan kekerabatan, apalagi saudara dekat. Namun makna yang dikandung sebenarnya memiliki semangat yang sama buat kaum perempuan.

Eman (jw) berarti sayang, sedang emansipasi terpaksa saya harus membuka kamus ilmiah populer yang ditulis oleh Pius A Partanto dan M. Dahlan Al Barry, di situ emansipasi dijabarkan “Pembebasan diri dari perbudakan” dan ada makna lain yang sepadan yang tak perlu saya tulis di sini. Nanti makin membingungkan saja.

Berbicara masalah definisi adalah berbicara masalah konteks yang terkandung di dalam kata, dan tentu tidak ada yang salah dengan definisi emansipasi kaum perempuan. Yang menjadi masalah justru makna yang begitu luar biasa ini sering disalah artikan guna mendukung teori emansipasi menurut sekelompok tertentu tanpa melihat secara adil dan beradab tentang sosok perempuan yang sebenarnya.

Masak hanya gara-gara emansipasi seorang perempuan harus sama persis dengan yang namanya laki-laki. Padahal kata emansipasi saja hanya ada untuk kaum perempuan. Kalau laki-laki saya belum pernah dengar istilah itu. Emansipasi menjadi mantra ajaib yang digunakan untuk merorngrong pranata keluarga yang telah ajeg dan mapan. Dan biasanya yang menjadi objek kritikan emansipasi adalah ajaran Islam. Karena dalam Islam mengatur peran perempuan yang dianggap membelenggu hak-hak yang ingin diperjuangkan oleh kelompok gender. Seperti stigma bahwa perempuan itu tugasnya hanya di segitiga wilayah macak, manak, dan masak.

Lalu benarkah ajaran Islam menempatkan posisi perempuan seperti itu ?. tidak dipungkiri bahwa Islam mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan berdasarkan fitrahnya. Seorang laki-laki bertanggung jawab terhadap nafkah istri dan anak-anaknya, dan perempuan biasanya bertugas mengurus rumah tangga dan mempersiapkan anak-anaknya menjadi generasi yang sholeh dan tangguh. Dan ini bukanlah peran yang sepele. Dibutuhkan seorang ibu yang hebat agar kelak anak-anaknya menjelma menjadi generasi yang hebat pula.

Dalam Islam pun tidak ada larangan untuk berkarier bagi seorang Ibu, asal kariernya masih dalam wilayah fitrahnya sebagai seorang perempuan. Menjadi guru, menjadi dokter, menjadi ilmuan, dan seabrek profesi lainnya yang layak dilakukan oleh seorang perempuan. Bahkan sangat-sangat tegas Rosulullah SAW mewajibkan setiap orang baik muslim maupun muslimah untuk terus menuntut ilmu. Sebagaimana yang beliau sabdakan :

طلب العلم فريضة على كلّ مسلم ومسلمة
“Menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi muslim dan muslimah”

Di sini sangat jelas sekali teks hadits yang tidak mendeskritkan kewajiban antara laki-laki dan perempuan dalam soal menuntut ilmu. Jadi salah besar jika ada larangan menuntut ilmu bagi seorang perempuan karena anjuran agama. Yang ada dulu bukan hanya kaum perempuan saja yang tidak boleh sekolah oleh Belanda, namun dari pihak laki-laki pun tidak diperbolehkan sekolah kecuali orang-orang tertentu saja. Dalam Islam tidak ada urusan emansipasi perempuan semua telah diatur sedemikian rapi dan baik, tinggal masing-masing memaksimalkan perannya agar terjaga dan terjalin harmonisasi kehidupan.

Jika kata emansipasi tadi dipakai untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan maka saya sangat setuju, namun jika slogan emansipasi itu hanya sekedar menuruti  selera nafsu dan dipakai sebagai alat untuk mencabut fitrah perempuan dan melengserkan kedaulatan kaum perempuan dari singgahsananya di dalam keluarga maka saya sangat menolaknya.

Kebanyakan pesan yang saya tangkap dari teriakan sumbang para pegiat emansipasi adalah pemahaman yang sakit akan peran perempuan itu sendiri. Kelihatannya mereka meneriakkan kebebasan pada kaum perempuan namun nyatanya justru mereka membelenggu dan membebani perempuan dengan hal-hal yang berada diluar fitrah seorang perempuan.

Jadi mohon maaf Rara Ayu jika saya agak memprotes para pegiat gender yang selalu mengatasnamakan ide-ide mereka dengan bersembunyi di balik nama besar engkau. Karena saya yakin walau Rara Ayu banyak bergaul dengan Nyonya-nyonya londo, namun pemikiran Rara Ayu tetap murni, karena itulah engkau dijuluki sebagai seorang putri yang sejati. Putri yang bermakna mruput katri, yaitu gemi, nastiti, dan ngati-ati, tidak ceroboh dengan nilai-nilai luar yang belun tentu kebenarannya.

Saya semakin yakin bahwa Rara Ayu memang seorang pembela dan pahlawan bagi kaum perempuan yang sebenarnya setelah saya membaca surat yang Rara Ayu kirimkan kepada Nyonya Abendanon (1900) yang berbunyi :

Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi perempuan sepenuhnya”.

Sangat, sangat luar biasa sebuah ide yang menancap kuat dan berakar pada ajaran luhur nenek moyang kita dan lebih-lebih sesuai dan sejalan dengan ajaran fitrah manusia. Salam ta’dzim kulo kagem panjenengan RA. Ajeng Kartini. Sekian. Joyojuwoto. 23 April 2015





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar