Selasa, 06 Januari 2015

Wong Jawa Ojo Ilang Jawane

http://bagasarrahman.deviantart.com
Memaknai Ajaran Kejawen

Pokok ajaran masyarakat  Jawa dikenal dengan istilah Kejawen. Ajaran kejawen kadang dipandang secara sinis oleh orang-orang tertentu dan seakan menjadi hal yang negatif yang perlu untuk dijauhi. Padahal menurut saya kejawen adalah sebuah pengetahuan, sebuah nilai dan kearifan yang dimiliki oleh masyarakat  Jawa. Jika itu bukan masalah yang prinsip dan pokok dalam ibadah saya kira ada sesuatu yang layak kita ambil dan kita petik manfaat dari ilmu kejawen tadi. Bukankah Rosulullah pernah bersabda bahwa :

“al Hikmatu Dhoollatul Mu’minin, Khaitsuma wajadaha fahuwa ahaqqu biha”

“Hikmah itu adalah barangnya orang mukmin yang hilang, siapa saja yang menemukannya maka ia berhak atasnya”

Barang yang hilang ini tentu perlu untuk dicari, dimanapun kita menemukannya maka wajib kiranya bagi kita untuk mengambilnya. Begitu pula dengan kejawen jika itu tidak berkenaan dengan ibadah mahdhoh maka alangkah bijaknya jika kita bisa mengambil manfaat darinya. Karena semua ilmu bermuasal dari yang satu yaitu Tuhan yang maha Alim. Jadi jangan sampai kita mengkonfrontasikan  ajaran Islam umpamanya dengan ajaran masyarakat Jawa, tapi hendaknya kita bisa mensinergikan kearifan lokal budaya tersebut agar bisa menjadi sebuah simponi kehidupan yang indah dan menjadi sebuah harmoni yang hidup dan tidak kaku.

Wali Sanga dalam berdakwah di tanah Jawa perlu kita teladani, walau kebanyakan mereka bukan dari Jawa tetapi Wali Sanga dapat berserasi dengan pola kehidupan masyarakat Jawa secara luas. Namun sayang sekali cerita sejarah Wali Sanga ini telah banyak mengalami distorsi sejarah sehingga sulit bagi kita untuk mengungkapkannya secara detail. Sekilas banyak aroma mistik dan klenik yang menyelimuti dakwah Dewan Wali yang dikirim oleh Sultan Turki ini sangat  menyulitkan kita untuk mencontoh dan meneladaninya. Namun jika kita pandai meniti cara berfikir orang Jawa yang adi luhung, penuh hikmah tentu kita tidak akan salah faham dalam memaknai segala fenomena tersebut. Karena hikmah perlu ditelaah lahir batin, sirran wa alaniyyah tidak sekedar mengandalkan kecerdasan otak dan logika saja. Ingat bahwa ilmu hikmahnya orang Jawa itu lebih tinggi dibanding filsafatnya orang Barat.

Ambil satu gambaran saja tentang pola belajar dan dakwahnya Sunan Kalijaga, beliau diceritakan ketika nyantri di Pesantren Bonang, oleh Sunan Bonang Raden Sahid putra sang Bupati ini disuruh bertapa di tepi sungai dan diberi amanat untuk menjaga tongkat Sunan Bonang hingga beliau kembali ke tempat itu. Bertahun-tahun ternyata Sunan Bonang tidak datang hingga tongkat yang ditancapkan ditanah berubah menjadi hutan bambu yang rimbun, sedang Raden Sahid masih setia duduk menunggu kedatangan gurunya. Ketika cerita semacam ini kita telan mentah-mentah tentu akan sulit bagi kita untuk meneladani cara belajarnya Sunan Kalijaga. Siapa manusia di dunia ini yang mampu hidup tanpa makan dan minum selama bertahun-tahun ? tentu secara sunnatullah tidak ada. Begitu juga tentang dakwah Sunan Kalijaga kepada beberapa muridnya juga banyak menyimpan pertanyaan yang tak bisa kita fahami secara tekstual. Seperti kisah Bupati Semarang Ki Pandalarang yang berguru setelah seorang kakek tua penjual rumpun mencangkul tanah dan berubah menjadi bongkahan emas, lalu bagaimana kita harus mengikuti cara dakwah yang demikian ? ada lagi kisah Ki Cakrajaya alis Sunan Geseng yang berguru dengan cara bertapa di tengah padang ilalang untuk menunggu kedatangan gurunya, karena ilalangnya sangat rimbun akhirnya Sunan Kalijaga mebakar rumpun ilang itu dan Ki Cakrajaya hangus terbakar dalam posisi sujud namun tidak meninggal dunia sehingga beliau dipanggil Sunan geseng.

Menurut pemahaman saya orang Jawa memang sangat halus dan suka sanepan. Sering kali sebuah cerita adalah sebuah misteri dan teka-teki yang harus kita pecahkan dengan perenungan yang mendalam.

Orang Jawa selalu menyelipkan makna yang tersirat dalam setiap cerita dan ungkapan jadi jangan cepat-cepat menghakimi kalau memang kita belum mengerti. Dan yang menjadi sumber masalah adalah kita ini kurang nguri-uri kebudayaan Jawa kita, kurang melu handarbeni pusaka warisan nenek moyang kita, malah kita merasa minder, underestimate terhadap Jawa dan silau dengan budaya luar.  Oleh karena itu jangan sampai kita orang Jawa tidak tahu akan budaya Jawa. Menjadi “Wong Jawa ilang Jawane” Tidakkah kita ingat pesan Cak Nun dalam maiyahannya “ Jowo digowo, Arab digarap, Barat diruwat”. Sekian. Jwt.

2 komentar:

  1. Macam aku iki, wong jowo ilang jowone

    BalasHapus
  2. Nek ngendikane Cak Nun lak gini mbak Jowo digowo, Arab digarap, Barat diruwat...;)

    BalasHapus