Rabu, 09 Agustus 2017

Kang Djacka Artub Sang Fiksionis Romantis

Kang Djacka Artub Sang Fiksionis Romantis
Oleh : Joyo Juwoto

Pemuda ganteng dengan nama pena Jaka Tarub, eh maksudku Djacka Artub ini adalah seorang blogger fiksionis romantis yang dimiliki oleh Kabupaten Tuban. Tidak heran jika pemuda yang sudah menyunting secara sah, satu bidadari jelita di hadapan Pak Penghulu ini sangat flamboyan, lha wong menurut mata batin saya Kang Djacka ini keturunan dari putri rembulan sang Dewi Nawang Wulan. Ini terlihat dari nama penyamaran Kang Djacka yang hampir mirip dengan nama leluhurnya yaitu Jaka Tarub pemuda yang suka ngintip bidadari mandi di sendang.

Saya semakin yakin kalau Kang Djacka ini keturunan makhluk langit dapat kita lihat dalam satu bait puisinya yang sangat syarat merindukan rembulan datang. Dalam bait puisi yang berjudul "Dia; Secuil Rembulan" Kang Djacka ini berpuisi :

Aku, ... Masih tetap di sini. Berdiri terpaku menatap hitamnya gelap malam.
Kerlip bintang hanya terlihat indah di kejauhan

Tak mampu kusentuh  dalam dekapan.

Dia ... 
Secuil rembulan yang datang, hanya sekejap lalu menghilang.
Aku ingin menunggu, tapi rasanya mustahil malam ini ia akan kembali datang.

Akankah rembulan itu akan kutemui di malam berikutnya?
Entahlah.
Ah, kayaknya kerinduannya dengan simbah moyangnya yang ada di langit kayaknya sangat mengharu biru. Saya senang sekali membaca blognya Kang Djacka, tulisannya banyak beraliran fiksi romantis, wuihh...menghanyutkan deh pokoknya. Jika para sobat ingin melihat lebih banyak lagi dari tulisan Kang Djacka, maka kunjungi saja alamatnya di sini http://www.arektuban.com/ 

Kang Djacka ini menulis ternyata otodidak dan dengan dorongan energi cinta yang kuat. Saya berharap beliaunya segera merilis buku solo, baik itu kumpulan puisi maupun cerpen dan cerbungnya. 

Kapan-kapan saya pengin silaturahim dengan Kang Djacka, menikmati harumnya kopi hitam sambil mengobrolkan dunia antah berantah dari sebuah cerita non fiksi. Iya, kapan-kapan, menunggu purnama kelima belas menerangi remangnya malam di pinggiran desa Sekaran, Jatirogo.

12 komentar:

  1. Kang Djacka memang orangnya roamntis dengan syair-syair karyanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. luar biasa, kayak pendekar syair berdarah...hehe

      Hapus
  2. Aku kok kemekelen moco review dari mbah Joyo iki.wkwkwwkkwkk

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe...sory mas, tk gieebutt:)

      Hapus
    2. nyuwon sewu mas "kemekelan" ki opo yo artine?

      Hapus
    3. Kemekelen niku tertawa terbahak-bahak, mbak:)

      Hapus
  3. Review yang sempurna, good job!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Suwun, mbak Lis...salam kenal saking kulo:)

      Hapus
  4. Penulis otodidak yang berenergi cinta dan romantis, kalau membaca cerita-ceritanya emang lebih kearah genre percintaan, tapi julukan lelaki flamboyan itu baru tahu hehe, keren deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe...kulo ngarang aja, mbak...salam kenal Mbak Maya

      Hapus
  5. Kadang saya mencari inspirasi tentang cinta melalui blognya mas djacka artub. Tulisannya mampu menghipnotis pembaca

    BalasHapus