Selasa, 23 Juni 2015

Syair Cinta Sang Perawan Suci

Syair Cinta Sang Perawan Suci

“Maria kedua dan wanita tanpa dosa” begitu Attar (seorang sufi) menyebutnya. Dialah Rabi’ah Al adawiyyah  seorang gadis yang hidup di akhir abad ke-8 dan paruh pertama abad ke-9 M. Rabiah ibarat bintang yang bersinar di langit kota Basrah cahayanya berpendar melintasi batasan ruang dan waktu hingga kini. Ia terlahir di sebuah kota di Basrah, sebuah kota yang bergemerlapan ilmu pengetahuan dan peradapan kala itu. Namun demikian Rabiah dilahirkan dari kondisi keluarga miskin dan perkampungan yang kumuh serta reot. Dari keterbatasan itulah Rabiah diasuh zamannya hingga ia menjelma menjadi seorang sufi. Dialah yang pertama kalinya mempelopori jalan cinta bagi para salikin yang menginginkan suluk kepada Rabbnya.

Dalam memandang suatu konsep ibadah, Rabiah tidak ingin terjebak pada seremonial belaka seperti Sholat dan do’a baginya bukanlah alat yang dipakai untuk meraih pahala. Ia berkata :
“Saya tidak akan mengabdi kepada Tuhan seperti seorang buruh yang selalu mengharapkan gaji”
Begitulah sikap spiritual Rabiah dalam menjalin hubungan dengan Tuhan. Hubungan itu adalah hubungan yang murni tanpa ada pamrih sebagaimana hubungan seorang buruh yang mengharap imbalan dari tuannya, atau seperti hubungan perniagaan yang memperhitungkan laba dan rugi. Rabiah menghamba kepada Tuhannya hanya karena ma’rifat cinta, menjalani sepanjang penghambaannya hanya untuk meraih cinta dan bukan karena iming-iming surga maupun karena takut siksa neraka.

Dikisahkan di sepanjang jalan Rabi’ah berjalan dengan tergesa-gesa sambil membawa obor yang menyala dan membawa setimba air, ketika ditanya untuk apa obor dan setimba air itu, ia menjawab, “Saya akan memadamkan api neraka dan membakar surga” begitu katanya. Dari jawaban ini sebenarnya Rabi’ah ingin menegaskan bahwa tujuan peribadatan yang sebenarnya bukanlah karena pengharapan terhadap surga maupun ketakutan karena siksa neraka, karena dua hal itu adalah makhluk Allah SWT sebagaimana makhluk-makhluk lainnya seperti manusia. Padahal Allah telah melarang hambanya untuk takut kepada selain-Nnya. Allah berfirman dalam Al Qur’an Surat al Maidah ayat 44 :

فلا تخشواالنّاس واخشون
“Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada-KU…”

Begitu pula ketika Rabi’ah mengatakan kepada orang-orang akan membakar Ka’bah, secara dhohir dan dalam pandangan awam kata-kata ini tentu menyulut kemarahan orang-orang yang berfikiran sempit dan fanatik. Ka’bah rumah Allah SWT akan dibakar oleh Rabi’ah, mungkin jika Rabi’ah hidup di zaman sekarang maka ia akan kenyang dengan segala macam stigma yang negative, dilabeli kafir, halal darahnya, dan seabrek tudingan yang keji lainnya. Padahal bukan pada hal itu sebenarnya yang menjadi tujuan dari Rabi’ah. Ia hanya ingin segala limpahan cinta Tuhan dibalas dengan limpahan cinta pula dari hamba-hambanya, bukan malah menawar-nawar Allah, bukan malah berjual beli amalan-amalan kebaikan kita dengan surge-Nya.

Tidak salah memang seseorang beribadah karena didasari harapan dan ketakutan, karena memang Allah SWT menurunkan Al -Qur’an sebagai kabar gembira akan balasan surga dan peringatan akan siksa neraka. Namun sebanyak apapun kita beribadah dan beramal sholeh sama sekali itu tak sanggup kita pakai untuk membeli surga-Nya. Karena Allah pada hakekatnya memasukkan hamba-Nya ke surga bukan karena amal perbuatan kita, namun lebih karena rahmat dan cinta-Nya, karena Allah SWT adalah Sang Maha Pecinta.

Dalam firman-Nya Allah berfirman tentang orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang sangat mencintai-Nya. Di dalam surat Al Baqarah ayat 165 dinyatakan dengan gambling :
والذين امنوا اشدّ حبّا لله...
“Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah...”

Begitu pula dengan Rabi’ah, dia sangat-sangat didera cinta yang mendalam kepada Tuhannya dari maqom cinta inilah Rabi’ah berusaha menapaki jenjang-jenjang pendakian ruhaninya menuju kemurnian cinta hanya kepada Tuhan semata.

Rabiah selalu merindukan “Wajah Tuhan” hatinya tidak bisa berpaling darinya. Ketika Rabiah menjalankan ibadah haji bukan Ka’bah yang menjadi tujuannya, bukan Ka’bah yang dirindukannya karena “Wajah Tuhan” tidak di dalam Ka’bah maupun di luarnya. Rabiah tidak terperdaya ibadah dalam tataran ritualistik ibadah haji, dia tidak lagi dibatasi oleh haji ke Rumah Tuhan dan Tanah Pewahyuan karena baginya wajah Tuhan itu berada dibalik kesadaran manusia akan nilai-nilai keilahian. Dalam Surat Al Baqarah ayat 115 dijelaskan :
فأينما تولّوا فثمّ وجه الله...
“Maka kemanapun kamu menghadap di situlah “Wajah Allah”…”

 Perhatikanlah bagaimana Rabi’ah berbicara tentang haji dan Ka’bah :
“Saya tidak menginginkan Ka’bah tetapi Tuhan. Apa saja yang dapat saya lakukan terhadap Ka’bah ? yang seperti itu adalah penyembahan terhadap berhala yang sangat parah di muka bumi. Tuhan tidaklah di dalam atau di luar tembok Ka’bah. Dia tidak membutuhkannya”

Pandangan dan wacana Rabiah atas ritualistik ibadah haji tidak bisa difahami secara literal saja. Jika kita terlalu literal dan tekstual dalam memahami perkataan Rabi’ah tentu akan menimbulkan polemic yang tak berkesudahan. Karena pada hakekatnya Rabi’ah menggunakan pandangan dan ekspresi-ekspresi yang hanya dapat dipahami oleh tujuan dan makna-makna yang sifanya batiniah.

Cinta adalah gairah yang tak pernah padam, begitu juga gairah cinta Sang Perawan Suci itu kepada Tuhannya. Seakan ia tidak meninggalkan  ruang sedikitpun untuk selain-Nya. Cinta Rabiah yang agung dan melangit itu seakan meremehkan cinta terhadap manusia, ia memutuskan untuk tidak menikah karena terdorong cita-cita yang paling tinggi untuk menuju yang Maha Abadi. Cintanya kepada Tuhan benar-benar melampaui hal-hal yang dapat dipahami hingga dia menyentuh satu jenis cinta yang bersih dari kesengsaraan dan kesalahan. Rabiah benar-benar telah terbakar oleh teriknya cinta di dalam pencariannya untuk menemukan esensi ke-Tuhanan.

Syair-syair rindu dan cinta berbaur dengan rasa ragu dan harapan selalu Rabi’ah panjatkan, betapa ia sering larut dalam kesedihan dan tangisan sambil memohon kepada kekasihnya dalam malam-malam yang sunyi dan gelap :
“Oh Tuhanku, jika aku beribadah kepada-Mu karena takut akan api neraka, maka bakarlah aku di dalam api neraka itu, dan jika aku beribadah kepada-Mu mengharapkan surga, maka jauhkanlah surg dariku. Tetapi jika aku beribadah kepada-Mu hanya untuk diri-Mu semata, maka jangan jauhkan aku dari melihat “WajahMu” yang indah itu.

Syair-syair cinta itu selalu meluncur dari hati Rabi’ah hingga ia benar-benar merasakan sublimasi cinta kepada Tuhan. Sebuah cinta yang lahir tidak dari ambisi atau kenikmatan inderawi apapun. Ia juga tidak berhak mendapat ganjaran karenanya. Cinta dan hanya cinta. Joyojuwoto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar