Minggu, 08 Maret 2015

“Seorang Ustadz Tidak Lebih Mulya Dibandingkan Seorang Pedagang”

“Seorang Ustadz Tidak Lebih Mulya Dibandingkan Seorang Pedagang”

 Gambar : http://2.bp.blogspot.com/
Kadang kita berfikir bahwa seorang Ustadz atau bahkan Kyai lebih mulya dibandingkan dengan profesi  lain, pedagang misalnya. Sehingga tidak jarang seseorang ingin dipanggil Ustadz, Kyai dan sejenisnya, agar ia kelihatan lebih mulia dibanding orang-orang dengan profesi selain itu. Kira-kira begitu yang menjadi pandangan umum di tengah masyarakat. Padahal kemuliaan seseorang  menurut pandangan Allah tentu tidaklah demikian. Dalam Al Qur’an dengan gamblang Allah berfirman :
إنّ أكرمكم عند الله أتقكم

Artinya “ Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. (QS. Al Hujurat ayat : 13 )

Dari ayat ini sangat jelas bahwa Allah tidak menganggap profesi satu dengan profesi yang lain ada yang lebih tinggi dan unggul, semua sama di hadapan Allah Swt. Yang membedakannya adalah ketaqwaannya, keikhlasannya, amal sholehnya, dan ketundukannya kepada Allah Swt. Jadi jangan pernah menganggap profesi seseorang itu lebih rendah dengan profesi yang lain hanya dari sisi lahiriah saja, hanya dari sisi manusiawinya saja, lihatlah dengan cahaya Ilahiyyah biar segalanya tampak jelas dan tidak menipu. Karena Allah tidak memandang rupa kita tetapi Allah memandang kepada hati kita.

Seperti yang saya tuliskan dalam judul artikel bahwa profesi seorang ustadz tidak lebih mulia dibanding seorang pedagang, di sini bukan maksud saya untuk merendahkan antara satu profesi dengan profesi yang lain, dan bukan pula maksud saya membanding-bandingkan, karena nanti yang akan membedakan kemuliaan seseorang adalah hati, jiwa, dan kepasrahannya kepada Allah Swt bukan profesinya. Memang sangat banyak baik dari hadits maupun nash Al Qur’an yang menyebutkan kemuliaan seorang ahli ilmu, karena secara khusus para ustadz dan Kyai dianggap sebagai manifestasi dan pewaris para Nabi. Namun hal ini tidaklah menjadi alasan bahwa gelar ustadz maupun Kyai lebih mulia. Karena Rosulullah SAW sendiri juga telah memberikan jaminan akan kemuliaan pedagang jika dalam menjalankan aktivitas perdagangannya mengedepankan nilai-nilai luhur seperti apa yang diajarkan oleh Nabi. Seperti nilai kejujuran, tidak mengurangi timbangan, dan tidak menipu.

Bahkan lebih tegas lagi dalam haditsnya Nabi Muhammad Saw menyatakan bahwa para pedagang yang meneladani beliau, kedudukannya di akhirat kelak akan dibangkitkan bersama para Nabi, Siddiqin, dan para Syuhada’. Beliau bersabda :
لتَّاجِرُ الصَّدُوقُ الأَمِين مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ

Artinya : Pedagang yang jujur dan terpercaya,  akan dibangkitkan pada hari kiamat bersama para Nabi, para Siddiqin, dan para Syuhada’. (HR. At Tirmidzi dari Abu Sa’id al Khudri).

Kesimpulannya apapun, bagaimanapun, dan siapapun, Allah tidak peduli dengan gelar dan kemegahan keduniaan kita, karena Allah sendiri Maha Segalanya. Hanya orang-orang yang bertaqwa dan tunduk padanya kelak yang akan mendapatkan keberkahan dan keberuntungan. Jadi Kun Ma’allah, bersama Allah lah selalu. Sekian. Jwt. 09/03/15

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar