Kamis, 31 Desember 2015

Bumi Ibu Pertiwi

Bumi Ibu Pertiwi

Bumi yang terhampar luas ini, yang terdiri dari gunung-gunung yang menjulang tinggi, lembah dan ngarai, bentangan padang rumput, hutan-hutan, sungai-sungai, danau, dan lautan diciptakan oleh Allah SWT dalam rangka untuk mencukupi kebutuhan manusia. Sebelum Allah menciptakan bapak moyang manusia yaitu Adam, Allah telah terlebih dahulu menciptakan alam semesta ini.

Dengan segala rahasia-Nya, Allah Swt menciptakan segala jenis makhluknya di jagad raya dengan keseimbangan dan berpasang-pasangan. Ada siang ada malam, ada daratan ada lautan, kiri berpasangan dengan kanan, laki-laki berpasangan dengan perempuan, begitu juga bumi berpasangan dengan langit. Bahkan yang unik di dalam Al Qur’an penyebutan pasangan-pasangan tersebut biasanya memiliki jumlah penyebutan yang sama.

Allah Swt sebenarnya telah mempersiapkan penciptaan bumi untuk dihuni makhluk-Nya yang bernama manusia. Manusia diberi tugas menjadi khalifah fil Ardhi, sebagai pemimpin di muka bumi, agar senantiasa menjaga kelestarian dan kemakmuran bumi, menjadi rahmatan lil ‘alamin, sebagaimana gelar yang disematkan oleh Allah Swt kepada Nabi akhir zaman nabi Muhammad SAW. Walaupun saat itu penciptaan manusia ditentang oleh golongan malaikat, bahkan ditentang oleh Azazil panglima besarnya para malaikat yang selalu taat  bertasbih kepada Allah dan berbakti kepada Allah dan selalu menyucikan-Nya. Jadi untuk apa membuat makluk yang nantinya hanya  akan menjadi sumber kerusakan dan bencana di jagad mayapada.

Diantara sifatnya Allah adalah Al Ahadu, Maha Tunggal, Maha Perkasa dengan segala eksistensinya. Allah Swt bergeming dengan protesnya malaikat, Allah ciptakan manusia Adam dari tanah liat. Kemudian Allah perintahkan malaikat untuk bersujud kepada Adam. Semua malaikat tunduk dan patuh untuk bersujud kepada Adam kecuali Azazil tadi. Menurut Azazil tidak layak makhluk yang derajadnya lebih tinggi dari Adam yang terbuat dari api harus sujud di hadapan Adam yang terbuat dari tanah liat. Karena kesombongan inilah Azazil diusir oleh Allah dari surga dan kemudian dikenal dengan nama Iblis.
Setelah iblis terusir dari surga ia berusaha agar Adam yang saat itu telah ditemani oleh Siti Hawa agar keduanya merasakan hal yang sama terusir dari surga. Dengan segala muslihatnya akhirnya iblis berhasil menggoda Adam dan Hawa untuk melanggar larangan Allah sehingga keduanya terusir dari surga dan menempati alam baru yang dikenal dengan sebutan bumi.

Di bumi inilah akhirnya keturunan Adam mendapat amanah agar menjaga harmonisasi dan keseimbangan bumi. Allah Maha cinta, Maha baik yang mencukupi rizki serta keseluruhan kebutuhan hamba-hamba-Nya. Di bumi tumbuh berbagai macam tanaman, berbagai macam satwa baik di daratan maupun di lautan guna dimanfaatkan dan digunakan untuk mencukupi kebutuhan manusia. Air, mineral, bahan tambang disediakan baik yang bertebaran di muka bumi maupun yang terpendam di dalamnya, agar dimanfaatkan dan dipakai untuk menbangun peradapan manusia di muka bumi. Sungguh Allah Maha Rohman dan Maha Rohim kepada seluruh makhluk-Nya.

Di dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menyebut mengenai bumi. Tentang proses penciptaannya, tentang berapa lama bumi diciptakan Tuhan, hingga tentang tanggung jawab manusia akan bumi dengan segala isinya. Dan penyebutan bumi dalam Al Qur’an hampir selalu diikuti penyebutan langit sebagai pasangannya. Menurut ma’rifat Jawa bumi diibaratkan sebagai Ibu sedang langit adalah bapa. Sering kita dengar istilah “Ibu bumi bapa angkasa”. Pengistilahan ini bukan tanpa alasan, karena memang bumi dianggap mewakili sifat ibu, sedang langit mewakili sifat bapa atau ayah.

Bumi mengasuh segala kehidupan yang terbentang di atasnya, ia tidak membeda-bedakan semua diasuh dengan sepenuh jiwa dengan penuh cinta dan kelapangan jiwa. Bumi memberikan tempat tinggal bagi seluruh makhluk hidup baik manusia, hewan, dan tumbuhan. Bumi memberikan airnya, memberikan sari-sari hidupnya untuk seluruh makhluk. Tumbuhan menyerap sari bumi melalui akarnya, hewan memakan tumbuh-tumbuhan, manusia memakan hewan dan tumbuhan yang juga berasal dari sari bumi.

Bumi mewakili sifat rendah hati dan penuh pengorbanan tanpa batas. Oleh karena itu di mana bumi kita pijak di situ kita harus membaktikan diri kita untuk Ibu  bumi atau ibu pertiwi kita. Karena jiwa dan ruh bumi berada dalam badan kita. Dalam falsafah Jawa disebutkan :
“Manungsa iku asala sokolemah, mangan soko hasile lemah, ngadeg nang nduwur lemah, lan bakal bali nang lemah, mulo ojo podho duweni sifat langit.”

Artinya : “Manusia itu berasal dari tanah, makan dari hasil tanah, bertempat tinggal juga di tanah, dan akhirnya ketika mati juga kembali ke tanah, maka jangan sampai memiliki sifat langit.”

Yang dimaksud sifat langit di sini adalah sifat tinggi, sifat gumedhe (merasa mulia) dan juga bersifat sombong. Karena pada dasarnya itu bukanlah unsur pembentuk manusia. Manusia harus ingat bahwa ia berasal dari tanah, dan akan kembali ke tanah. Sifat tinggi juga merupakan sifat Allah, maka jangan sampai dikenakan oleh seorang hamba. Ingatlah sebuah kisah pengusiran Azazil dari surga juga karena kesombongan. Bukan berarti ketika kita berasal dari tanah tidak bisa memiliki kemuliaan dan derajad yang tinggi. Manusia sekalipun berasal dari tanah juga bisa mencapai maqam yang luhur dan tinggi. Cara untuk menjangkau langit bukan dengan kita mendongak-dongakkan kepala untuk mencapai singgahsana langit. Ketika manusia ingin mencapai maqam langit justru ia harus merendahkan kepalanya serendah-rendahnya dengan cara bersujud di atas bumi. Dengan memperbanyak sujud di bumi itulah Allah akan melangitkan diri manusia. Kelihatannya paradok namun begitulah cara Allah meningkatkan derajad hamba-Nya.

Oleh karena itu dalam budaya kejawen untuk menghormati ibu bumi masyarakat Jawa mengadakan upacara yang dikenal dengan berbagai istilah seperti Nyadran, Manganan, Bersih Desa, Sedekah Bumi dan lain sebagainya. Jika kita mengarifi wisdom lokal budaya tersebut sebenarnya praktek-praktek budaya itu adalah bentuk syukur dan wujud terima kasihnya manusia kepada Sang Pencipta. Mereka merasa bersyukur telah diperkenankan tinggal di bumi yang mereka tempati, mereka merasa berhutang budi kepada tanah yang mereka pijak. Hanya kadang-kadang praktek sedemikian itu kita sikapi dengan penuh penghakiman. Kita membutuhkan teladan dan sikap ibu asal kita ibu bumi yang mengasuh kita dengan keikhlasan dan kemurnian cinta.

Dengan penciptaan bumi dengan segala watak dan karakternya ini Allah ingin menta’dib kita agar kita jangan lupa dari mana kita berasal, apa yang kita makan dan minum, serta ke mana akhir dari kehidupan ini. Sebagaimana hukum asal kejadian bahwa yang dari tanah akan kembali ke tanah, yang dari air akan kembali ke air, yang dari api akan kembali menjadi api, yang dari udara akan kembali menjadi udara. Manusia sejati adalah manusia yang mengerti dari mana dulu ia berasal dan kemana akhir tujuannya, orang Jawa bilang mengerti sangkan paraning dumadi.  
“Ibu bumi, bapa angkasa Ingsun Sujud marang Gusti Kang Murbeng Dumadi.” Joyojuwoto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar