Rabu, 31 Desember 2014

Pantai Boom Tuban Saksi Kebesaran Kesatuan Maritim Nusantara

Pantai Boom Tuban menyimpan kebesaran Nusantara masa silam, khususnya era Kerajaan Majapahit. Hal ini dapat kita baca dalam novel sejarahnya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Arus Balik. Saat itu arus  bergerak dari selatan ke utara, segalanya : kapal-kapalnya, manusianya, amal perbuatannya dan cita-citanya, semua bergerak dari Nusantara di selatan ke "Atas Angin" di utara. begitu tulis novelis dari Blora. Walau tak terdapat banyak bukti sejarah yang kita temukan dilokasi disekitar pantai yang sekarang dibangun taman wisata pantai Boom Tuban.

Saat liburan kemarin saya sempat menengok bekas pelabuhan internasional di awal abad ke 16 yang pernah dijadikan dermaga pemberangkatan Ekspedisi Pamalayu tahun 1275 M yang dilakukan oleh Prabu Kertanegara dari Singhasari guna membendung pengaruh sang imperior dunia kala itu Kaisar Khublai khan.  

Tercatat di sebuah dinding dilokasi sumur Tirta Jaladhi (sumber air tawar yang juga menjadi sumber legenda Sunan Bonang dan Resi dari India), bahwa tentara Khublai Khan mendarat di pantai Tuban pada tahun 1293 M, (penemuan jangkar kapal tentara Tar-tar disimpan di museum Kambang Putih Tuban) guna menghukum penghinaan raja Jawa terhadap penguasa dinasti Yuan itu. Di kabarkan saat itu Khublai Khan memimpin langsung pasukannya, karena ia tidak terima sebagai seorang penguasa yang telah memporak-porandakan dunia Timur dan barat namun ia  direndahkan sedemikian rupa oleh raja Jawa. Maka kaisar Kublai Khan bermaksud menghukum Raja Kertanegara. Namun sejarah berbicara lain, Kertanegara telah dikalahkan oleh Prabu jayakatwang Raja Kediri, atas kecerdikan Raden Wijaya dan peran penting dari temannya yaitu Ranggalawe tentara tar-tar dimanfaatkan untuk menggempur Kediri. 

Setelah Kediri jatuh, tentara Tar-tar diserang balik oleh Raden Wijaya, perang besar berkobar menurut buku "Majapahit Peradapan Maritim" karya Djoko Nugroho bahwa Khublai Khan perang tanding dengan Pendiri Kerajaan Majapahit itu sebagaimana perang tandingnya Raja Kangsa dan Kresna. Raden Wijaya berhasil membunuh Khublai khan kemudian memenggal kepalanya. Tubuh Khublai khan dikirim ke Mongol sedang kepalanya dikirm menyusul kemudian. Itu dulu Jawa mampu membuat bangsa luar lari terkencing-kencing, dalam beberapa abad lamanya kekuasaan Jawa tak tergoyahkan, hingga runtuhnya Majapahit. 

Ketika Demak menggantikan kekuasaan Majapahit, orientasi Demak pada masa Raden Patah masih sama dengan pendahukunya yaitu menjadi negara maritim yang kuat sebagaimana yang telah lama menjadi semboyan nenek moyang kita "Jalasveva Jayamahe (dilaut kita jaya)". Sepeninggal Raden Patah dilanjutkan oleh anaknya yaitu Adipati Unus, beliau adalah satu-satunya Raja Jawa yang berani menantang bangsa Peranggi (Portugis) di Malaka, Karena keberaniannya ia mendapat julukan "Pangeran Sabrang Lor" ia bangun tempat pembuatan perahu di pelabuhan Jepara dan sekitarnya, Raja muda ini mempersiapkan armada yang banyak untuk menggembur pasukan Kongso Dalbi (Alfonso D Alburqueque) yang menguasai Malaka tahun 1511 M. Penyerangan itu mengalami kegagalan dan Pati Unus terluka parah dalam pertempuran. 

Tuban saat itu diperintah oleh Adipati Wilwatikta yang sudah udzur usia, ia kirimkan armadanya untuk membantu Demak dengan setengah hati. Dalam Arus Baliknya Pram, seorang pemuda dari desa Awis Krambil Wiranggaleng yang memimpin penyerangan, namun ketika sampai di Malaka pertempuran telah usai dan dengan menyesal armada Tuban balik kandang dengan tangan hampa .

Setelah masa Pati Unus, penggantinya adalah Sultan Trenggana. Beda dengan kakaknya, Trenggono tidak lagi memperhatikan potensi kemaritiman kerajaan Demak. ia lebih suka membangun armada darat dan memperkuat pasukan berkuda dan sibuk berperang dengan sesama raja Jawa. Arus telah berbalik Jawa tak lagi menguasai lautan hingga datanglah bangsa-bangsa asing menguasai jalur laut. dan lumpuhlah peradapan maritim Nusantara yang diwariskan nenek moyang kita hingga sekarang.

Dulu semasa kejayaan maritim Nusantara kerajaan Majapahit memiliki armada kapal yang sangat banyak dan besar. Perahu itu dikenal dengan nama kapal Jong. Diperkirakan kapal Jong besarnya melebihi kapal Titanic yang tenggelam di samudra Atlantik. Galangan-galangan kapal zaman dahulu banyak tersebar di sekitar Tuban, pohon-pohon yang digunakan membuat kapal pun pohon pilihan yang tidak sembarang orang mengetahuinya. Sekarang keahlian membuat kapal-kapal besar tidak dimiliki oleh masyarakat Jawa. Padahal dulu kapal Majapahit adalah kapal terbesar yang pernah ada dalam sejarah pelayaran samudra. 

Dalam Kidung Panji Wijayakrama disebutkan bahwa Laksamana pemimpin Ekspedisi Pamalayu juga berasal dari daerah dekat Tuban yaitu Lamongan namanya adalah Kebo Anabrang atau Mahisa Anabrang, yang artinya adalah kerbau yang menyebrang. Kemungkinan nama ini adalah julukan bukan nama yang sebenarnya. Sekarang apakah kita punya pahlawan di lautan yang namanya melegenda seperti Mahisa Anabrang ?


Di pantai boom Tuban semua bercerita tentang kebesaran masa silam, tinggal kita bagaimana menggembalikan kejayaan bandar Tuban, sebagai bandar Internasional yang dulu pernah di pegang oleh Syah bandar Rangga Iskak dalam novel sejarahnya Pram. Tuban menjadi jujugan orang-orang dari penjuru arah angin, dari negeri Arab, dari Cina, India, Barat dan lain sebagainya. Perkampungan Arab dan Cina juga bertebaran di bumi Tuban. Ini menjadi tanda bahwa masyarakat Tuban memiliki tingkat toleransi yang baik dan siap menjadi bagian dari arus globalisasi zaman.

Semoga kelak arah angin berubah, Dan arus kekalahan kita berganti menjadi arus kemenangan. Jika kita tak mampu memberikan segala-galanya untuk peradapan, setidaknya kita ikut memberikan secauk pasir kebaikan buat bumi tercinta kita ini. Tuban Bumi Ranggalawe, Tuban Bumi Wali. Salam harmoni. Jwt.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar