Selasa, 05 April 2016

Ilmu Itu Cahaya

Ilmu Itu Cahaya
العلم نور ونور الله لا يهدى للعاصى
              Artinya : Ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang suka berbuat dosa.

Sebaik-baik orang adalah yang berilmu, dengan ilmu seseorang dimuliakan tidak hanya oleh sesama manusia bahkan Allah SWT sendiri juga mengagungkan dan mengangkat derajadnya orang yang berilmu. Sangat banyak dalil-dalil di dalam Al-Qur’an maupun hadits, serta keterangan yang menegaskan akan kemuliaan orang yang berilmu. Banyak orang kecil menjadi besar sebab ilmu, seorang ya dipandang hina menjadi mulia  karena ilmu, orang yang lemah menjadi kuat juga karena ilmu.

Orang yang berilmu ibarat pelita Allah SWT di muka bumi oleh karena itu ilmu itu disebut sebagai cahaya. Orang yang ingin mendapatkan cahaya Allah harus mendekati sumber cahaya itu, mendekati Allah, menjahui larangan-larangan Allah, dan meninggalkan sisi-sisi gelap kehidupannya. Mustahil mendapatkan cahaya jika kita menghindari cahaya itu sendiri. Karena cahaya ilmu tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat dan berbuat dosa kepada-Nya.

Suatu ketika pada saat Imam Syafi’i nyantri beliau bertanya kepada gurunya akan kesulitannya menghafal ilmu pengetahuan yang disampaikan oleh gurunya, Sang Guru Kyai Waqi’ pun menjawab bahwa kesulitan menghafal pelajaran dikarenakan banyaknya seorang santri melakukan kemaksiatan kepada Tuhan. Jika ingin diberi kemudahan dan keberkahan dalam menuntut ilmu hendaknya santri selalu mendekatkan diri kepada Tuhan.  Hal ini sebagaimana yang beliau abadikan dalam syairnya :
شكوت الى وقيع سوء حفظي فأرشدنى إلى ترك المعاصى
فأخبرنى بأن العلم نور ونور الله لا يهدى للعاصى
Artinya :
Saya mengadukan kepada Guruku Kyai Waqi akan buruknya hafalanku, lalu beliau menunjukkan kepadaku agar meninggalkan maksiat.
Maka beliau juga mengabariku bahwa ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepadan orang-orang yang bermaksiat.

Itulah kenapa seorang yang sedang menuntut ilmu agar supaya banyak tirakat, menghindari hal-hal yang dilarang agama, agar ilmu yang sedang ia tuntut merasuk dan bersatu dengan jiwanya, bukan hanya sekedar pandai namun ilmunya tidak bermanfaat, bukan hanya sekedar menguasai ilmu tetapi tidak dijiwai dan diamalkan. Karena ilmu yang baik adalah ilmu yang diamalkan dan membawa keberkahan bagi si empunya maupun bagi masyarakat luas pada umumnya. Joyojuwoto

1 komentar:

  1. Senada dengan Gemblengan Abah Mohtam (Rondok2 eleng)

    BalasHapus