Rabu, 06 April 2016

Diam adalah Hikmah

Diam adalah Hikmah

الصمت حكم وقليل فاعله

Artinya : Diam itu mengandung beberapa hikmah, namun sedikit yang mampu melakukannya.

Tiap-tiap sesuatu itu ada najisnya, dan najisnya lisan adalah jeleknya ucapan, begitu sebuah keterangan hadits mengenai  keutamaan dalam diam. Diam bukan berarti gerakan senyap yang tidak mau berbicara, diam di sini adalah menyangkut masalah-masalah yang tidak penting dan kesia-siaan belaka. Lebih baik diam daripada ngobrol ngalor-ngidul tanpa ada kebaikan di dalamnya.

Diam juga merupakan sebuah keselamatan, selamat dari najisnya lisan. Orang yang banyak berbicara biasanya banyak salahnya, oleh karena itu Rosulullah SAW mengajarkan lebih baik diam daripada banyak omong karena di dalam diam banyak sekali hikmah yang terkandung di dalamnya. Termasuk tanda baiknya akhlag seorang muslim adalah pada diamnya terhadap sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Di dalam Al Qur’an sendiri Allah SWT juga mengingatkan agar lebih baik diam, daripada banyak omong namun tidak bisa melakukannya, agar kita tidak termasuk orang-orang yang dibenci-Nya, sebagaimana yang tercantum dalam surat As Shaff ayat 2-3  yang artinya :

2. Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?
3. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

Diam itu merupakan hiasan bagi orang-orang alim dan meruapkan tirai bagi orang-orang yang bodoh. Orang alim biasanya banyak diamnya untuk menjaga tatanan hati dan sikap muruahnya kecuali untuk urusan yang penting tentunya. Orang yang bodoh jika banyak diam dan tidak mengumbar ucapannya hal ini menjadi tirai yang menutupi kebodohannya, jika ia banyak omong dipastikan banyak ucapannya yang salah. Bukankah ada pepatah yang mengatakan “Tong Kosong Nyaring Bunyinya”

Mengapa manusia dianugerahi oleh Allah SWT dua mata, dua telinga dan satu mulut ? tidak lain tidak bukan karena Allah SWT menginginkan agar manusia lebih banyak melihat dan mendengar dibanding banyak omong. Karena diam akan menyelamatkan manusia dari tergelincirnya lisan. Jika kaki yang tergelincir kemungkainan hanya kaki itu saja yang sakit, namun tergelincirnya lisan efeknya bisa sangat berbahaya tidak hanya untuk orangnya saja bisa menyangkut masyarakat luas.

Sungguh benar apa yang dikatakan oleh Rosulullah SAW bahwa diam adalah keselamatan, “Man Shomata Naja” artinya “Barang siapa yang dia maka ia akan selamat” Oleh karena itu mari melatih lisan kita untuk diam dari hal-hal yang tidak bermanfaat, karena semakin banyak omong semakin banyak kesalahan dan beban yang akan kita tanggung kelak, sehingga kita menjadi “Kabura Maktan ‘Indallahi”. Joyojuwoto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar