Sabtu, 12 Maret 2016

Mengenang Ulang Tahun Pondok Mengenang Abah Mohtam

Mengenang Ulang Tahun Pondok Mengenang Abah Mohtam

Tanggal Sebelas Maret kemarin tentu sama dengan hari dan tanggal yang kemarin-kemarin, hanya potensi dan nilai kebaikan yang pernah dilakukan yang akan membedakan dengan hari-hari yang lainnya.  Sebelas Maret adalah hari di mana Pondok Pesantren ASSALAM Bangilan Tuban didirikan, mengingat berdirinya pondok tentu kita juga mengingat yang mendirikannya, mengingat yang memperjuangkannya, seorang sosok yang sederhana nan bersahaja, guru, murabbi, serta Abah yang dicintai dan dirindukan oleh segenap santri. Abah Mohtam (KH. Abd. Moehaimin Tamam (Allahu Yarham) yang baru saja dipanggil Tuhan tanggal 24 Desember 2015 kemarin.

Mendung duka masih menyelimuti langit pesantren, merasa kehilangan memang juga masih kita rasakan bersama, kesedihan tentunya juga masih terasa di dada ini, ditinggalkan sosok yang kita cintai dan kita takdzimi bersama. Tapi perpisahan raga bukan menjadi soal, asal jiwa ini terus dan terus hadir merindui dan mencintai sosok beliau. rindu karena cinta, cinta karena Allah Swt.

رجلان تحبّا في الله وتفرّق في لله
“Dua orang lelaki yang saling mencintai karena Allah, dan jika harus berpisah juga karena Allah semata”

Mengenang ulang berarti mensyukuri, karena dengan bersyukur kita berharap nikmat Tuhan dilimpahkan selalu kepada kita para Santri Pondok Pesantren ASSALAM dan kepada seluruh hawari-hawarinya. Ulang tahun juga dalam rangka mentadabburi sekaligus meneladani sejarah perjuangan Abah Mohtam melalui dakwah pesantren di tengah-tengah masyarakat.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu akan sejarah pendahulunya, bangsa yang melek sejarah begitu kira-kira para bijak mengatakan. Karena bagaimanapun hari ini ada karena investasi dan hasil keringat dari para pendahulu kita. Sebagai generasi penerus sangat pantas untuk  bisa mikul dhuwur mendem jero. Mengangkat tinggi-tinggi kebaikan-kebaikan dari para sesepuh kita dan mengubur apa-apa yang yang dianggap tidak baik.

Generasi sekarang berhutang janji pada generasi dulu, pada para sesepuh, pada para perintis dan pendiri pesantren ini. Janji untuk terus berbakti dan mengabdi kepada Allah Swt melalui dakwah pesantren ini. Oleh karena itu mari bersama seiya sekata, sederap selangkah membulatkan tekad untuk melunasi hutang janji itu dengan cara meneruskan apa-apa yang dulu telah diberikan oleh Abah Mohtam untuk kita hari ini.

Abah Mohtam tidak mewariskan harta benda untuk santri-santrinya, Abah Mohtam tidak meninggalkan emas permata untuk kita buat foya-foya, Abah Mohtam tidak mewariskan tahta untuk kita perebutkan, Abah Mohtam mewariskan jiwa keikhlasan untuk kita amalkan, Abah Mohtam mewariskan keistiqomahan untuk kita teladani, Abah Mohtam mewariskan semangat berkhidmah untuk pondok ini, Abah Mohtam mewariskan perjuangan tiada henti untuk ASSALAM dan Islam Lillahi Ta’ala. Allahu Akbar !
اتّبعوا من لا يسئلكم أجرا وهم مهتدون
“Ikutilah orang-orang yang tidak mengharapkan imbalan,sedang mereka termasuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk”

Abah Mohtam layak untuk kita ikuti dan kita jadikan uswah hasanah, layak untuk kita makmumi dalam sholat kita, dalam tindak-tanduk kita, dalam kehidupan dan pengabdian kita untuk masyarakat. Berjasalah tapi jangan minta balas jasa begitu dawuh beliau.

Abah memang telah tiada, jasadnya telah menyatu dengan Bumi Pesantren ASSALAM, jiwanya selalu ada dan dikenang oleh seluruh santri-santri di manapun berada. Jiwa Mohtam menjadi titik-titik api  yang memercikkan gelora perjuangan dan pengorbanan santri untuk umat. Jiwa Mohtam menjadi cinta dan ketulusan yang akan menjadi cahaya penenerang di dada para hawari-hawari ASSALAM Al Mahbub di seluruh penjuru Bumi Nusantara ini Insyallah. Joyojuwoto

Kampung Damai, 11 Maret 2016


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar