Selasa, 18 September 2012

Masjid Astana di Kecamatan Jenu Tuban


Di Kecamatan Jenu terdapat sebuah masjid kuno yang bernama masjid Astana. Kata Astana dalam bahasa Jawa memiliki dua makna. Pertama, bisa diartikan sebagai tempat tinggal raja. Kedua, pemakaman keluarga raja. Dalam bahasa sansekerta, sthana memiliki arti harfiah tempat. Namun Astana tersebut sepertinya sangat dekat dengan makna tempat pemakaman.

Ya, di belakag masjid ini terdapat tiga makam dengan konstruksi bangunan dengan cungkupnya yang kuno. Tiga makam tersebut diyakini adalah auliya penyebar ajaran Islam sekaligus yang mendirikan surau di tempat tersebut yang akhirnya menjadi masjid. Mereka adalah Syehk Samsudin Al Arif, Syeh Koro Welarang, dan Syeh Trem Abdu Rosad.

Yai Yusuf, tokoh masyarakat desa setempat mengatakan, semasa kecil dirinya masih bisa melihat beberapa bagian bangunan surau yang masih asli.

Salah satunya, lantainya yang berwarna hitam. Bahannya seperti tekel. Sementara dindingnya batu bata kuno. Untuk atap, yang masih dia ingat adalah berbahan genting yang diperkiraan hasil renovasi.

“kalau tidak salah, kayu lingkaran beduknya masih asli,” kata ulama berputra 5 dan bercucu 6 ni mencoba mengingat. Selain itu bangunan kuno yang masih ada dan dipertahankan keasliannya hanyalah dua cungkup makam.

Sementara bangunan surau sedikit pun tidak ada yang berbekas setelah masjid Astana berkali-kali direnovasi. Mungkin, karena tempat ibadah tersebut merupakan petilasan dari surau kuno, banyak yang mentuahkannya. Salah satunya adalah rutinitas melepas jamaah haji di halaman masjid ini. Yai Yusuf menerangkan sebelum berangkat, semua jamaah haji dari jenu harus bersama-sama  mengikuti proses pelepasan dari halaman masjid.

Tujuannya, berdo’a untuk keselamatan dan kelancaran selama menjalankan ibadah rukun Islam ke lima tersebut. Selain pelepasan jamaah haji, masjid ini dulunya sering dijadikan tempat bersumpah.

Prosesi tersebut menggunakan sarana air sumur di komplek masjid yang juga dianggap bertuah. Sejak dulu, masjid ini rutin menjadi jujugan ulama besar. Diantaranya Gus Dur, KH. Agus Mashuri (Sidoarjo) KHDjamaluddin (Jombang), dan KH Murtadji (Tuban). (Tulisan ini pernah dimuat di Radar Bojonegoro, Senin 24/7/2012)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar