Rabu, 11 April 2012

Wasiat Bambu Kuning ( Cerita Makam Punjul )

Tidak ada yang menyangka kalau langit yang semula cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap. Siang itu mendung tebal menyelimuti wilayah barat ibukota Majapahit. Kilat disertai suara petir menyambar-nyambar bagaikan seekor naga sedang mencari mangsa.
Benar-benar cuaca yang sulit diduga, seperti sulitnya keadaan Majapahit saat itu. Memang kerajaan itu sedang mengalami ujian besar, seiring masa pemerintahan Raja Brawijaya pamungkas yang lesu, kacau dan bahkan seringkali mencekam (Akhir abad ke-15).
Hari masih siang, ketika hujan mulai turun. Bersamaan dengan itu dua bayangan berkelebat dari satu tempat ke tempat lain. Tidak jauh di belakang mereka puluhan prajurit berlarian mengejar sambil berteriak-teriak saling memberi semangat.
“Tangkap, ayo tangkap tamu tak diundang itu !!”
“Ayo kejar terus ….!”

Agaknya dua orang yang dikejar terlalu licah bagi para prajurit itu. Dengan sigapnya mereka menyelinap ke dalam sebuah gerumbul, dan pasukan Majapahit itupun tetap berlarian tanpa tahu ke mana perginya buronan mereka.
“Kurang ajar, bagaimana mungkin kita dianggap tamu tak diundang ?”
“Iya… ya Kang Wiro. Kita datang sebagai utusan resmi Demak Bintoro. Bahkan Prabu Brawijaya sendiri berkenan menerima kita”.
“Itu artinya sang prabu sudah tidak punya wibawa di kalangan pasukan kerajaan. Huh ! Benar-benar keadaan yang kacau balau”.
“Tapi awas kakang, kita di sini belum aman. Kita harus segera meninggalkan tempat ini”.
“Baiklah adi Pinunjul, kita berjalan menyusuri tepi sungai Brantas. Itu di sebelah sana. Biasanya di tepi sungai banyak perkampungan, nanti kita bisa beristirahat di sebuah kedai sambil mengisi perut”.
“Baik kakang, tapi hati-hati dengan titipan sang prabu”.
“Jangan khawatir adi !”
Begitulah, dua orang utusan Demak itupun melangkah dengan hati-hati. Betapapun tingginya kemampuan mereka, namun mereka sadar bahwa ini berada di negeri orang.
Matahari sudah mulai condong ke barat ketika mereka tiba di Kademangan Ploso (sekarang daerah Jombang). Di sebuah kedai tidak jauh dari pinggiran sungai mereka menyempatkan mampir untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan.
Dari Ploso mereka berjalan ke utara sampai di daerah Babat, menyusuri Bengawan Solo sampai di Bojonegoro terus ke barat. Ketika mereka sampai dii kali Nglirip,*) matahari di ufuk barat sudah mulai meremang, Tidak terlalu lebar kali itu, namun airnya cukup dalam.Di dekat mereka terdapat air terjun yang sangat curam.
Begitulah, bagaikan menemukan emas permata, dua orang yang sudah sangat lelah itu langsung menceburkan diri dalam air.
“Awas, bambu kuningnya kang Wiro!”
“Jangan khawatir adi, sudah aku sembunyikan di tepi sungai”.
“Ingat kakang, oleh sang prabu kita hanya diberi waktu tiga hari untuk sampai di Demak”.
“Kita akan sampai pada waktunya adi Pinunjul. Jangan khawatir !”.
Lama dua orang itu menikmati segarnya air sungai kecil itu.
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kehadiran seorang wanita cantik. Tanpa tahu asalnya, wanita itu sudah berada di tepi sungai.
“Eeeh, nanti dulu jangan mendekat nyai !”
“Huh! Siapa butuh kalian ? Aku hanya memerlukan bambu yang indah dan menarik ini”.
“Awas jangan sentuh bambu kuning itu”.
Tapi terlambat, bambu titipan Prabu Brawijaya untuk Sultan Demak itu sudah berada di tangan wanita itu, dan sekejab kemudian lenyaplah bayangan wanita itu .
“Heh, tunggu !”
Dengan hanya sempat mengenakan celana pendek dua orang utusan Demak itupun berlari mengejar. Untunglah secara samar masih dapat dilihat, wanita cantik itu lari ke arah utara.
Sebentar kemudian tiga orang itu sudah saling adu kecepatan. Seorang wanita muda sedang dikejar oleh dua lelaki yang juga masih muda.. Anehnya meski sudah hampir tengah malam dua orang pemuda itu belum juga berhasil mencapai maksudnya. Bahkan Ki Pinunjul yang paling rendah kemampuan larinya, akhirnya tertinggal dan diapun berlari sendirian tak tentu arah.
* *
Pagi itu matahari mulai bersinar cerah. Di sebuah bukit kecil di tengah hutan Nggembul*) Ki Pinunjul nampak bersandar di bawah sebuah pohon. Pemuda itu sangat lelah setelah semalam berlari tak tentu arah. Namun bukan hanya karena lelah itu yang membuat tubuhnya lesu dan wajahnya murung, melainkan juga sebuah benda berupa bambu kuning.
Benda itu adalah amanat dari Raja untuk Sri Sultan Demak. Itu berarti nyawa mereka menjadi taruhannya. Apa jadinya sekarang jika ternyata benda itu sudah tiada lagi. Duh Gusti, benar-benar ini merupakan ujian berat.
Lama Ki Pinunjul termenung, hingga akhirnya tanpa terasa pemuda ini tertidur pulas.
Dalam tidurnya dia bermimpi didatangi oleh seorang lelaki yang berpakaian hitam-hitam. Lelaki itu berjenggot dan berkumis setengah tebal, dan mengenakan tutup kepala dari kain (Bhs. Jawa: udeng). Wajahnya nampak anggun berwibawa, namun memiliki pandangan mata yang tajam menggetarkan.
“Jebeng, janganlah putus asa atas cobaan yang tengah kamu terima’, kata lelaki itu.
“Ma’af kiai, bolehkah saya tahu, siapakah gerangan kiai”, tanya Ki Pinunjul.
“Nantinya jebeng akan tahu sendiri. Sekarang yang lebih penting jebeng harus segera menemukan benda amanat itu”.
“Ma’af kiai, saya bingung kemana hendak mencari ?”
Tiba-tiba lelaki setengah tua itu lenyap bagai ditelan bumi. Ki Pinunjul menoleh ke sana kemari, namun dia justru dikejutkan oleh suara dari kejauhan yang menggema tanpa tahu persis di mana orangnya.
“Berjalanlah ke arah barat daya, jebeng akan menemukan pohon jati kembar ngeluk telu (melenggok sebanyak tiga kali). Sehabis Sholat Maghrib, di situ jebeng akan menemukan jawabannya”.
Begitu suara itu lenyap, Ki Pinunjul seperti disentakkan dari tidurnya. Setengah geragapan pemuda ini terbangun. Dari wajah dan matanya yang memerah kelihatan sekali pemuda ini masih kebingungan.
Apa artinya mimpiku tadi, dan siapa pula lelaki berpakaian hitam-hitam itu. Tapi bukankah aku juga tidak tahu ke mana harus pergi. Ada baiknya aku turuti apa kata mimpi itu.
Begitulah, setelah menjalankan sholat dhuhur pemuda utusan Raden Patah itu segera berjalan menuju arah barat daya sebagaimana isi mimpinya. Sambil berjalan diapun masih terngiang-ngiang ucapan lelaki berwibawa itu.
Ketika Sang Surya menjelang ke peraduan Ki Pinunjul sudah mulai memasuki hutan jati. Tempat yang indah, pikirnya. Sebuah hutan yang tidak begitu lebat, terletak di atas dataran yang cukup tinggi. Dari arah utara nampak gunung kapur dengan pemandangan yang sangat menawan.
Lantas yang mana yang dimaksud pohon jati kembar ngeluk telu itu.
Lama prajurit muda itu mencari. Hampir saja dia putus asa ketika kakinya tersandung sebuah batu. karena lelahnya dia terguling tanpa daya.
“Ya Allah ! berilah hambaMu petunjuk”, demikian jerit batinnya.
Dan memang benar, Yang Maha Kuasa selalu mendengar permintaan hambaNya yang tertindas. Sekejab setelah permintaan itu terucap, Ki Pinunjul mendengar suara air gemericik seperti layaknya pancuran kecil.
Pemuda itu segera menengok ke sekitar tempat itu, dan diapun dibuat tercengang. Nampak keajaiban terpampang di hadapannya.
Sebuah padasan (tempat air wudhu terbuat dari tanah liat) bertengger di sebuah ranting pohon, diapit oleh dua pohon Jati yang keduanya meliuk-liuk bagaikan dua ekor naga kembar. Padasan itu tidak henti-hentinya melanturkan air layaknya siap digunakan untuk wudhu.
Pemuda dari Demak Bintoro itu mulai mengerti bahwa mimpinya bukanlah sekedar mimpi, melainkan suatu sasmito yang diberikan oleh seseorang yang memiliki kelebihan. Kalau begitu siapakan beliau ? Ki Pinunjul mulai diliputi pertanyaan itu lagi.
Alhamdhulillah, semuanya seolah-olah telah dipersiapkan oleh seseorang, pikir pemuda itu. Dan tanpa ragu-ragu dia segera mengambil wudhu dari air tersebut. Ajaib, setelah selesai, tanpa tahu ke mana arahnya padasan dengan air mancur itu lenyap bagaikan ditelan keremangan senja.
Diam-diam Ki Pinunjul semakin jelas, bahwa lelaki berpakaian hitam yang ditemui dalam mimpi itu bukanlah orang sembarangan. Beliau sengaja memberi petunjuk bagiku untuk menyelesaikan masalah yang sedang aku hadapi, pikirnya. Maka prajurit muda itupun semakin yakin bahwa di tempat inilah dia harus melaksanakan sholat Maghrib.
* *
*
Rembulan semakin merambat ke tengah ketika Ki Pinunjul mengakhiri sholatnya. Sebagaimana biasa pemuda itupun melanjutkan dengan membaca do’a (dzikir). Tiba-tiba telinganya yang tajam mendengar suara mencurigakan. Semula pemuda ini tidak begitu menghiraukan, barangkali hanya suara dedaunan yang tertiup angin, pikirnya. Tetapi semakin lama suara itu menjadi semakin jelas.
Seusai melakukan dzikir pemuda itu segera mencari tempat dari mana asal-usul suara tadi. Dia sengaja melangkah dengan hati-hati, agar tidak menimbulkan suara gaduh.
“Aih !” Hampir saja dia terpeleset ketika kaki kirinya menginjak tempat yang kosong. Untunglah anak muda ini cukup gesit untuk melompat ke belakang. Setelah diamati agaknya sebuah sumur liar yang cukup dalam hampir saja menelan dirinya.
Meremang bulu kuduk Ki Pinunjul ketika dia mendengar suara cekikikan seorang wanita dari dalam sumur liar itu.
“Kau tidak boleh pulang kakang, tinggalah di sini bersama aku”, kata wanita itu setelah tertawa keras. Yang dipanggil kakang tidak menyahut. Tapi Ki Pinunjul yakin bahwa di dalam goa atau sumur itu terdapat seorang lelaki yang menjadi kekasih wanita itu. Lantas siapakah sebenarnya mereka ini ?
“Kaulah yang selama ini aku tunggu kakang”, lanjut wanita itu lagi “peluklah aku erat-erat”.
Suara itu berhenti. Tapi sekejab kemudian tertawanya justru terdengar lebih keras.
“Hi…..hi….hi…., terus kakang, peluklah aku lebih erat. Pokoknya kakang harus menjadi suamiku. Kau tidak boleh keluar dari goa ini. Bambu kuning di tanganku inilah yang menjadi taruhannya”.
Betapa kagetnya Ki Pinunjul ketika wanita itu menyebut bambu kuning. Kalau begitu …, mungkinkah …. oh, astafirullah haladzin … Mengapa harus begini kang Wiro.
Begitu terkejutnya Ki Pinunjul sehingga tidak terasa kakinya menyentuh sebuah batu. Batu itu tergelincir ke dalam goa sehingga menimbulkan suara nyaring.
“Hai, siapa di luar !?” Bersamaan dengan bentakan itu seorang wanita cantik melesat keluar dari dalam goa. Tentu saja Ki Pinunjul harus melompat ke belakang untuk menghindari terjangan wanita tersebut.
“Siapa kamu, berani mengintip tempat tinggal kami ?” tanya wanita itu sambil melotot. Tapi ketika tahu yang dihadapi adalah seorang pemuda ganteng, wajah wanita itu berubah menjadi ramah..
“Bocah bagus, mengapa kau mengintip kami ?”
“Aku menginginkan bambu milikku itu. Kembalikanlah kepadaku !” kata Ki Pinunjul.
“Oh ini, ya tentu nanti akan kuberikan cah bagus. Tapi ikutlah ke dalam goa dulu”.
“Tolonglah, berikan bambu itu kepadaku !” pinta pemuda itu lagi. Tiba-tiba wajah wanita cantik itu berubah menjadi merah padam, seolah-olah menahan amarah yang luar biasa.
“Dasar anak muda tak tahu diuntung”, katanya sambil bersiap ”Agaknya aku terpaksa harus menyeretmu”.
Maka kedua orang itu terlibat dalam perkelahian yang tidak seimbang. Wanita cantik itu ternyata memiliki ilmu yang jauh di atas Ki Pinunjul. Nampak prajurit Demak Bintoro itu semakin lamban gerakannya. Sampai pada suatu saat tendangan wanita itu berhasil mengenai dada pemuda itu.
“Duuk !”
Ki Pinunjul terpental beberapa meter ke belakang. Darah segar nampak keluar dari mulut lelaki muda itu, dan sekejab kemudian wanita cantik itupun sudah berada di depannya.
Hampir saja tangan wanita itu meraih pundak Ki Pinunjul, ketika dari kejauhan terdengar suara lelaki melantunkan syair:
Lamun siro tinakonan,
Ya ta ing dzatul wujudi,
Pira kehing kanugrahan,
Nuli sarana angelis,
Sakarat lire yekti,
Dene kanugrahanipun,
Iya telung prakara,
Wus ana anareki,
Dening adep idep kaping kalihira,
Mantep ingkang kaping tiga,
……………………….
Sumber: Solichin Salam, (1974).
Artinya:
Jika ditanya tentang Dzatul Wujud,
Berapa banyakkah anugerah,
Jawablah dengan cepat,
Sakarat (Sakaratul Maut) arti yang sebenarnya,
Sedang anugrah ada tiga macam,
Itu sudah ada pada dirimu,
Pertama adep (menghadap), kedua idep (merasa memiliki),
Yang ketiga mantap (yakin).
……………….
Ki Pinunjul merasa tidak asing lagi, bahwa suara itu adalah suara lelaki yang menemuinya dalam mimpi. Sungguh aneh, begitu mendengar isi suara itu Ki Pinunjul segera memejamkan mata, seolah-olah dia merasa ikhlas kalaulah seandainya harus mati di tangan wanita itu. Dia merasa yakin bahwa hidup atau mati seseorang berada di tangan Allah Swt., semata.
Sementara itu wanita cantik yang tangannya sudah hampir mengenai dada Ki Pinunjul itu secara mendadak menghentikan gerakannya. Dia merasa ada tenaga gaib yang luar biasa kuatnya melindungi pemuda di hadapannya.
“Aiih, Ouh !” wanita itu terpelanting ke belakang. Dadanya terasa sesak. Dia menengok ke sekitar tempat itu. Tak satupun matanya menemukan orang lain selain pemuda itu.
“Heh, siapa yang berani ikut campur dalam urusanku ?” teriaknya melengking.
Tidak ada jawaban. Wanita itu menjadi semakin marah.
“Heh, keluar kamu ! Akan kupelintir batang lehermu !”
“Sinnnng……plak !” Tiba-tiba sebuah tasbih melayang ke arah wanita itu. Dan tanpa dapat dihindari mulut wanita itu tertampar oleh lemparan tasbih tersebut.
“Auh…. oh !” Pendekar wanita itupun terjengkang ke samping kiri. Dan bersamaan dengan itu angin bertiup dengan kencang, ketika seorang lelaki setengah baya mendatangi mereka yang baru saja bertarung. Lelaki itu berpakaian hitam-hitam.
Ki Pinunjul tidak samar lagi, lelaki itulah yang telah menemui dirinya dalam mimpi. Maka tanpa berpikir panjang pemuda dari Demak itu melangkah dan bersimpuh di hadapan lelaki itu.
“Oh, terima kasih atas pertolongannya”, katanya sambil menangis.
“Jangan menangis jebeng. Duduklah dengan baik, coba aku lihat lukamu”.
Orang itu mendekati Ki Pinunjul yang segera duduk bersila. Dengan membaca beberapa do’a serta sekali tekan di bagian dada, maka Ki Pinunjul memuntahkan darah hitam. Ki Pinunjul merasa lega.
Sementara itu, wanita cantik yang menyaksikan kedatangan lelaki berpakaian hitam itu menjadi menggigil ketakutan. Dia segera duduk bersimpuh di hadapan lelaki itu.
“Ma’af, Kanjeng sunan !” katanya pelan “hamba hanya ingin menguji keteguhan mereka dalam menjalankan tugasnya”.
Agaknya yang hadir ini adalah Kanjeng Sunan Kalijaga, salah seorang Wali terkemuka di tanah Jawa. Beliau memang suka berkelana dalam mengamalkan ilmunya, sambil menolong orang-orang yang memerlukan bantuan.
“Sudahlah Sodipo, kau memang bangsa jin yang selalu usil dengan urusan manusia”, kata beliau seraya memegang tasbihnya” Yang penting kamu menyadari kesalahanmu. Dan sekarang kembalikan bambu kuning itu dan Kembalilah pada ujudmu”.
“Baik kanjeng sunan”, jawab Jin Sodipo sambil melangkah masuk ke dalam goa.
Ki Pinunjul merasa kaget setelah mengetahui siapa lelaki itu. Ia segara menubruk kaki Sunan Kalijaga. Sambil menangis dia memohon ma’af atas segala kekhilafannya dalam menjalankan tugas.
“Sudahlah, jangan menangis jebeng. Semuanya sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa”, kata Sunan Kalijaga. Beliau segara memeriksa keadaan Ki Wiro yang saat itu sudah dituntun Jin Sodipo.
Sama halnya dengan Ki Pinunjul, Ki Wiro juga menangis sejadi-jadinya di hadapan kanjeng sunan. Dia merasa paling bersalah dalam menjalankan tugas ini. Namun apa hendak dikata. Semuanya sudah terlanjur terjadi.
Setelah memeriksa keadaan bambu kuning yang diserahkan oleh Jin Sodipo, maka berkatalah Kanjeng Sunan Kalijaga:
“Ki Wiro, tugas itu merupakan kepercayaan. Dan kepercayaan merupakan amanah. Apalagi amanah yang diberikan oleh seorang raja. Tentunya tidak semua orang mendapatkan kesempatan seperti itu”, Sunan Kalijaga berhenti sejenak ”sayang sekali kamu tidak lulus dalam menjalankan amanah ini Wiro”.
Sunan Kalijaga berhenti sejenak, sambil menghela nafas panjang.
“Demikian pula dengan Jin Sodipo”, lanjut Kanjeng Sunan “sudah sering kali kamu mengganggu kehidupan manusia. Tentunya yang salah harus tetap memikul hukuman”.
Berkata demikian Sunan Kalijaga sambil setengah memejamkan mata, seolah-olah beliau merasa berat terpaksa harus menjelaskan demikian.
“Kalian berdua Ki Wiro dan Jin Sodipo harus suwan pada Rayi Patah di Demak. Laporkan apa saja yang telah kalian perbuat dalam menjalankan tugas itu. Terserah Kanjeng Sultan, pidana apa nanti yang harus kalian terima”.
Sejenak Sunan Kalijaga melihat pada bambu kuning itu. Kemudian beliau melanjutkan:
“Bawalah bambu ini, haturkan pada Kanjeng Sultan. Insyaallah Kanjeng Sultan akan tahu apa yang telah terjadi. Kalian sanggup Wiro dan Sodipo ?”
“Daulat Kanjeng Sunan, Insyaallah kami berdua tidak akan mengecewakan untuk yang kedua kali”.
“Baiklah, kalian segera berangkat. Salamku katur Kanjeng Sultan ing Demak”.
“Baik kanjeng Sunan, assalammu’alaikum!”
“Wa’alaikum salam”.
Demikianlah dua orang yang berasal dari makhluk berlainan itu berjalan beriringan menuju ke Demak. Meskipun nampaknya tidak dikawal, namun pada dasarnya kedua orang itu telah terkena ilmu wibawa (Kharomah) dari Sunan Kalijaga, sehingga sulit untuk melangkah ke tempat lain, Apalagi Ki Wiro dan Jin Sodipo sendiri yang merasa bersalah, memang sudah bertekad untuk mematuhi apa yang dikatakan Sunan Kalijaga.
Ki Pinunjul yang ikut merasa bersalah tetap terdiam di depan Sunan Kalijaga. Apalagi ketika Kanjeng sunan menjelaskan bahwa sebenarnya bumbung kuning itu sudah kosong tidak berisi. Ki Pinunjul semakin terdiam tidak berani mengangkat muka sedikitpun.
“Jebeng, tutup bumbung itu telah terbuka saat dibawa lari oleh Jin sodipo. Isinya telah lari ke daerah barat”, Kanjeng Sunan berhenti sejenak “Jebeng, kamulah yang bertugas ngemong (memelihara) hewan-hewan itu. Jangan sampai mengganggu penduduk di sekitarnya”.
Sunan Kalijaga memandang penuh kasih kepada Ki Pinunjul.
“Apa kamu sanggup, jebeng ?”
“Daulat Kanjeng sunan. Insyaallah hamba sanggup”.
“Bagus, kalau begitu jangan berlama-lama. Ayo aku antar jebeng ke tempat tujuan”.
Demikianlah, dengan diantar Sunan Kalijaga Ki Pinunjul tiba pada sebuah bukit Ngepon. Di seberang bukit itu terdapat banyak hewan piaraan. Ada lembu, kerbau, kijang, dan sebagainya. Menurut Kanjeng Sunan itulah isi bambu kuning itu, yang sebenarnya merupakan pertanda restu Prabu Brawijaya kepada Putranya untuk menjadi Sultan di Demak.
“Sayang, kalian tidak berhasil menjalankan tugas itu”, lanjut Kanjeng sunan “tapi sudahlah. Sekarang tugas itu beralih menjadi tugasku”.
“Hamba benar-benar merasa bersalah Kanjeng sunan”.
“Sudahlah jebeng, penyesalan hanya dapat berguna kalau kita bertekad memperbaikinya. Tugas jebeng sekarang memelihara hewan piaraan itu”.
“Kasinggihan Kanjeng sunan”, jawab Ki Panunjul “hamba mohon restu untuk tetap menjaga hewan-hewan itu sampai akhir hayat bamba”.
“Bagus jebeng, kalau itu memang sudah menjadi tekadmu. Jangan lupa tetaplah berbuat baik kepada sesama, terutama kepada penduduk di sekitar sini. Insyaalah kelak akan banyak orang membutuhkanmu”.
“Daulat Kanjeng Sunan”, jawab Ki Pinunjul lagi.
“Aku do’akan Allah Swt., senantiasa memberi petunjuk dan perlindungan kepadamu jebeng”, kata Sunan kalijaga sambil mengelus rambut Ki Pinunjul “kita sama-sama melaksanakan tugas. Assalammu ’alaikum !”.
“Wa’alaikum salam !” Jawab Ki Pinunjul sambil melangkah mengiringi kepergian Sunan Kalijaga. Tanpa terasa prajurit muda itu meneteskan air mata. Namun hatinya telah bertekad bulat untuk menjalankan amanah dari Kanjeng Sunan sampai akhir hayatnya kelak.
Pada akhirnya Ki Pinunjul wafat dan dimakamkan di bukit ngepon. Orang-orang banyak menyebut sebagai makam Mbah Punjul (asal kata dari Pinunjul). Sejak kematian Mbah Punjul hewan-hewan piaraannya berubah menjadi batu. Anehnya batu-batu itupun tetap berbentuk menyerupai binatang. Berada + 2,5 Km di sebelah barat makam Mbah Punjul. Pada hari-hari tertentu banyak orang berziarah ke makam Mbah Punjul, dan kebanyakan dari mereka banyak yang berasal dari daerah Demak, Pati, kudus, dan sekitarnya. SELESAI.

Sumber : http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2010/09/08/cerita-rakyat-wasiat-bambu-kuning-oleh-ki-rusman-tata/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar