Senin, 23 April 2012

Bangga Menjadi Kartini

Setiap tanggal 21 April, masyarakat selalu mengadakan peringatan hari Kartini. Khususnya lembaga-lembaga pendidikan yang ada di tanah air akan berlomba-lomba untuk membuat event yang berkaitan dengan Kartini. Sisw-siswi sekolah baik dari tingkat TK hingga SLTA akan memenuhi tempat-tempat rias dan salon-salon kecantikan guna berdandan ala perempuan di penghujung abad 19. Hal ini adalah sebuah fenomena yang selalu terulang tiap tahun di penjuru negeri ini. 

Lalu adakah hubungan antara berdandan ala kartini dengan pola pikir dan sikap remaja putri kita dengan semangat yang selalu dikobarkan oleh Pahlawan Pejuang Wanita ini ?

Jika kita melihat perjalanan waktu remaja putri kita sekarang, rasa-rasanya jauh panggang dari api jikalau tidak boleh dibilang psimis dengan keadaan generasi putri kita dengan apa yang menjadi cita-cita dan semangat luhur Ibu Kita Kartini. Bagaimana tidak, Kartini dengan segala kemampuannya waktu itu berusaha mendobrak kebekuan adat dan tradisi yang membelenggu hak-hak kaum wanita agar menjadi konco wingking yang tidak tahu apa-apa kecuali seputar anak, masak, macak dan selalu bergelut dengan kesibukan dalam rumah. Saya tidak ingin mengatakan bahwa perempuan harus keluar dari ruang dan tatanan feodal yang mengikat tersebut, tetapi setidaknya perempuan punya hak dalam hal-hal lain seperti mengenyam pendidikan, menambah kolega, menjadi mitra sang suami, dan lain sebagainya yang tidak keluar dari kodrat sebagai seorang perempuan dan melailaikan tugas pokoknya sebagai seorang ibu.

Sedang sekarang remaja putri kita hari ini lebih banyak mengekor dengan dampak globalisasi yang tak terkendalikan ini. Karakter Kartini yang menjadi kebanggaan bangsa ini semakin terkikis habis dengan masuknya budaya asing yang melanda bagai banjir bah yang tak terpikirkan oleh siapapun. Pelan tapi pasti generasi kita akan tenggelam dalam pusaran arus modernisasi yang keblinger. Silahkan lihat disetiap pangggung-panggung musik, band, konser-konser artis, maka disitu akan dipenuh sesaki oleh remaja-remaja tanggung yang sedang haus dan bingung keteladanan. Silahkan survei disekolah-sekolah umum maupun madrasah-madrasah, tentang idola dan gaya hidup yang mereka contoh siapa ? sekali lagi saya katakan pelan tapi pasti dan tidak disadari oleh siapapun bahwa sekarang ini sedang terjadi pembunuhan karakter bangsa secara massif dan rapi. Kita seakan tidak bisa lepas dari racun-racun yang dibungkus oleh manisnya gula-gula modernisasi yang ditawarkan oleh kaum dajjalis. 
Mengenaskan bukan !

Lalu apa yang bisa kita lakukan ? Saya tak hendak menjawab namun momentum hari Kartini ini semoga bisa mengembalikan martabat dan harga diri bangsa ini pada tempat yang semestinya tanpa harus meninggalkan kodrat ketimuran kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar