Rabu, 28 Maret 2012

BBM naik tinggi SUSU tak terbeli

..................................................
"Maafkan kedua orangtuamu
Kalau tak mampu beli susu
BBM naik tinggi
Susu tak terbeli orang pintar tarik subsidi
Mungkin bayi kurang gizi (anak kami)" 

Petikan lagu Kang Iwan diatas menggambarkan kondisi riil masyarakat kita sekarang ini, berapa banyak balita-balita yang kurang gizi yang sempat terpotret oleh media koran, berapa banyak orang-orang pinggiran yang selalu ditayangkan di stasiun televisi, dan mungkin jika pemerintah mau jujur rakyat kita memang kondisinya demikian. Walau dengan pedenya pemerintah merilis data statistik diatas kertas bahwa angka kemiskinan turun sekian persen tapi dalam kenyataannya rakyat ini semakin susah dan terpuruk. Kondisi ini diprediksi akan semakin memburuk lagi dengan kebijakan pemerintah yang akan menaikkan BBM pekan depan tepatnya tanggal 1 April 2012. 


Pemerintah dengan segala kebijakannya seakan memang disengaja memelihara kemiskinan rakyat, sebagaimana yang tercantum dalam UUD kita, "Orang miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara", kata-kata ini mengandung konotasi membiarkan kemiskinan rakyat dan keadaan anak-anak terlantar untuk terus subur di negeri yang konon makmur.

Saya sendiri tidak habis pikir, atau memang pemegang kebijakan di negeri ini berfikir ala S3 kata Gus Rizal pengasuh Ponpes As-Shomadiyah, sehingga kita semua sama sekali tidak memahami pola kebijakan pemerintah, atau bahkan kita memang masih dianggap bodoh oleh pemerintah. Coba perhatikan apa yang disampaikan oleh salah satu petinggi di negeri ini, "Dengan mengurangi subsidi kita bisa berhemat sekitar 30 triliyun katanya, namun di balik itu pemerintah juga akan menggelontorkan BLT kepada masyarakat sebesar itu pula untuk menanggulangi laju kenaikan harga-harga pokok di tengah masyarakat. Coba kita fikir bersama dengan kata-kata ndagel dari pemerintah diatas. Lalu apa fungsinya kita mencabut subsidi BBM dan pada saat yang bersamaan hasil dari subsidi tersebut di berikan lagi kepada masyarakat ? Kelihatannya pemerintah memang sedang Srimulatan, logikanya pun tidak nyambung sama sekali, atau bahkan memang saya yang tidak mudeng dengan semuanya.

 Kelihatan sekali ada sebuah skenario besar yang sedang bermain di Republik ini. Inilah yang mungkin bisa kita sebut sebagai bentuk penjajahan model baru, colonization of new models yang dilakukan oleh pemerintah terhadap rakyatnya sendiri. Seharusnya pemerintah harus membela rakyat bukan menjadi agen pihak-pihak yang menginginkan negeri ini hancur. Adakah solusi ?

Jawabannya tentu kembali kepada pemegang tampuk kepemimpinan itu sendiri yang diberi mandat untuk mengurusi kepentingan rakyat. Akankah pemerintah menyuarakan dengan lantang amanat penderitaan rakyat ataukah pemerintah lebih memilih menyanyikan lagu-lagu sumbang tuan-tuan neoliberalisme-nya ? Kita lihat saja sambil mereguk secangkir kopi sembari tetap bernyanyi .....
............................................................
"Cepatlah besar matahariku
Menangis yang keras janganlah ragu
Tinjulah congkaknya dunia buah hatiku
Doa kami di nadimu
Cepatlah besar matahariku
Menangis yang keras janganlah ragu
Hantamlah sombongnya dunia buah hatiku
Doa kami di nadimu"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar