Jumat, 04 Maret 2016

Na’amnya Mbah Hamid Pasuruan

Na’amnya Mbah Hamid Pasuruan

Jarak yang jauh sekalipun kadang tidak menyurutkan langkah seseorang yang memang telah diberi azam dan i’tikad yang kuat oleh Allah Swt. Begitu juga niat yang terpendam dalam dada Moehaimin Tamam,  untuk menemui seorang ulama waliyyullah yang bernama Mbah Hamid di Pasuruan Jawa Timur.

Moehaimin Tamam (Mohtam) adalah santri lulusan pesantren Gontor Ponorogo yang baru saja pulang dari mondok. Ia bertempat tinggal di Bangilan Tuban, karena tekad dan niatnya yang kuat untuk berkhidmat kepada masyarakatnya, jauh-jauh dari Bangilan menempuh perjalanan menuju Ndalemnya Mbah Hamid yang ada di Pasuruan. Mohtam berniat meminta restu kepada Kyai sepuh itu demi meluluskan cita-citanya merintis dan mendirikan pesantren di desanya Bangilan Tuban.

Mbah Hamid adalah salah seorang ulama yang ma’rifat, beliau diberi keistimewaan oleh Allah mengetahui apa-apa yang tersimpan di dalam hati para tamunya. Beliau memandang dengan nurullah sehingga tidak heran jika sebelum tamunya mengutarakan apa yang menjadi niat dan hajatnya Mbah Hamid telah dulu memberikan jawaban berupa tamsil atau kiasan.

Begitu juga dengan Mohtam, setelah menempuh perjalanan panjang Bangilan-pasuruan, ia sampai di Pasuruan ang sedwaktu itu telah malam. Mohtam pun menuju mushola pesantren, tidak mungkin saat malam-malam ia menemui daan bertamu langsung ke ndalem Mbah Yai Hamid.  Mohtam kemudian tidur beralaskan koran yang ia beli sewaktu di dalam bis jurusan Bojonegoro-Malang. Di serambi mushola itu ia beristirahat merebahkan badannya.

Menjelang shubuh Mohtam bangun, santri-santri Mbah Hamid juga sama bangun dan bersiap-siap mengerjakan sholat. Adzan pun berkumandang dari corong toa mushola. Setelah mengambil wudlu Mohtam duduk mengerjakan dua rakaat sebelum shubuh kemudian duduk khusu’ berdzikir bersama santri-santri yang lainnya.

Tak berselang lama Mbah Hamid masuk mushola untuk ngimami sholat shubuh, santri-santri sama berdiri rapi membuat shof-shof sholat. Muhtam juga ikut mengambil tempat untuk berjama’ah  shubuh, ia menjadi ma’mum di shof depan tepat di belakangnya Mbah Yai Hamid.

Dua rakaat sholat shubuh lengkap dengan qunutnya telah selesai, para jamaah berdzikir memohon ampun kepada Allah Swt, beristighfar, bertasbih, bertahmid, dan bertahlil kemudia berdoa bersama yang dipimpin oleh imam, sedang ma’mumnya mengamini doa dari sang imam.

Setelah selesai berdoa  Mbah Yai Hamid keluar dari mushola, Mohtam yang berada di shof paling depan ikut keluar mengikuti mbah Hamid tepat berada di belakang punggungnya. Sesampai di depan pintu mushola Mbah Hamid berbalik dan berada di depan Mohtam. Ada rasa sungkan dan pakewuh seorang santri di hadapan Kyai. Belum mengucap apapun mbah Hamid memegang dua pundak mohtam kemudian mengelus-elus pipinya  tida kali sambil berucap “Na’am, Na’am, Na’am” Setelah itu Mbah Hamid bilang sambil mendorong keluar Mohtam “Pun ndang mantuk”.

Mohtam pun keluar dari area pesantren mbah Hamid untuk pulang kembali ke Bangilan, di tengah perjalanan pulang mohtam memikirkan dua kalimat yang diucapkan oleh Mbah Hamid. Kalimat “Na’am” tiga kali dan “Pun ndang mantuk.” Padahal mohtam belum mengutarakan niatnya untuk sowan Yai Hamid. Namun niat yang ia pendam dalam hati telah terjawab dengan tamsil yang telah diberikan oleh mbah Hamid.

Mohtam pun merasa mantap hatinya, sepulang dari Gontor dirinya memang harus merintis pesantren di desanya sebagaimana jawaban Na’am, Na’amnya Mbah Hamid, bahkan niat itu harus segera dilaksanakan sesuai petunjuk mbah Hamid, “Pun ndang mantuk” yang ia tafsiri agar segera mendirikan pesantren sebagai jalan pengabdiannya kepada umat serta untuk menggapai ridho Tuhan. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar