Relawan Sensus
Oleh: Joyo Juwoto
Siang itu udara terasa gerah, matahari membakar bumi hingga titik yang membuat kepala seperti disengat tawon endas, langit seakan sedang meluapkan api amarahnya, halaman sekolah tempat Pak Eko mengajar seperti hamparan sahara, pohon-pohon di tepi jalan menunduk lesu, angin pun diam tak berani berdesir.
Pak Eko baru saja mengakhiri pelajarannya di kelas, tangannya masih kotor oleh debu kapur tulis, ia tampak tergesa memberesi tasnya, memasukkan buku dan peralatan mengajarnya. Sambil mengusap keringat di dahinya, beliau berkata kepada murid-muridnya.
"Anak-anak, hari ini kita telah menyelesaikan akhir bab dari pelajaran IPAS, besok pagi akan ada ulangan akhir semester, Bapak berharap kalian belajar dengan sungguh-sungguh, sehingga kalian bisa mengerjakan soal dengan baik," pesan Pak Eko kepada murid-muridnya.
"Jangan lupa pesan Bapak, jadilah anak-anak yang membanggakan orang tua kalian, belajar dengan sungguh-sungguh agar kelak kalian menjadi orang yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa kita tercinta."
"Tentu, Pak, kita pasti belajar sungguh-sungguh kok," jawab Andre sambil menenteng tasnya, ia bersalaman dengan guru yang sangat dihormatinya itu, yang kemudian diikuti oleh teman-temannya, mereka bersalaman dengan Pak Eko, sebelum keluar dari kelas.
Suara anak-anak masih terdengar riuh saat bel tanda kepulangan berbunyi nyaring, di kelas lain anak-anak juga sudah berhamburan untuk pulang. Seakan-akan panasnya matahari siang itu tidak berpengaruh pada mereka.
Tak berselang lama suasana lingkungan sekolah menjadi lengang, jam menunjukkan pukul 14.00 WIB, setelah seharian bergelut dengan rutinitas mengajar biasanya Pak Eko langsung pulang ke rumah untuk beristirahat atau mengerjakan pekerjaan rumah. Namun kali ini beda, sudah satu minggu ini setelah selesai mengajar Pak Eko tidak langsung pulang, ada tugas menanti yang harus ia selesaikan, menyensus warga masyarakat.
Ini bermula saat ada edaran dari Dinas Pendidikan Kabupaten, bahwa guru ASN dan guru PPPK mendapatkan tugas tambahan, yaitu menjadi relawan sensus ekonomi rakyat, guna membantu pemerintah daerah dalam memetakan tingkat kemiskinan warganya. Walau itu bukan tugas utama seorang guru, tapi mereka tak kuasa menolak ajakan menjadi relawan sensus, apalagi akan ada sanksi bagi guru yang menolak program tersebut. Karena program relawan sensus ini masuk menjadi salah satu penilaian kinerja guru.
Kata relawan itu seperti hal yang cukup heroik dan membanggakan, indah sebagai sebuah narasi namun pahit dalam kenyataan. Walau memakai istilah relawan, tak semua orang melakukannya dengan senang hati dan sukarela, kebanyakan mereka terpaksa melakukan hal ini, karena memang di luar tupoksi sebagai seorang guru. Mau protes pun tak ada guna, kecuali mematuhi program tersebut. Guru-guru hanya bisa menolak dalam diam, karena bersuara menjadi ancaman bagi masa depan karier mereka sendiri.
"Relawan, tapi gak boleh nolak, relawan tapi jika tidak melakukan di sanksi, relawan macam apa ini?" Kata Pak Eko menggerutu dalam hati.
Siang yang masih panas, udara yang masih gerah, badan yang belum sepenuhnya rehat, namun mau tidak mau Pak Eko segera bergegas ke parkiran sekolah. Dengan motor bututnya ia segera meluncur ke ujung kampung tempat tugasnya menyensus masyarakat. Jalanan di kampung tak sepenuhnya bisa dijangkau dengan motor, kadang Pak Eko harus memarkir motornya, kemudian berjalan kaki untuk menuju rumah-rumah penduduk.
Nama kepala keluarga Mbah Karto, usia 75 tahun, pekerjaan menjual sapu lidi, penghasilan tidak tentu, hidup sebatang kara, rumah berlantai tanah, tidak punya kamar mandi, tidak punya perabotan di ruang tamu, hanya satu meja kayu dan balai dari bambu, tidak punya kendaraan, ke mana-mana selalu jalan kaki.
"Mbah, listriknya ini punya sendiri ya? Meterannya mana?" tanya Pak Eko.
"Mboten gadah listrik, Gus, niku nyalur saking griyane Pak RT," jawab Mbah Karto sambil terkekeh.
Pak Eko mengentri data langsung di hape-nya, orang seperti Mbah Karto ini tentu berhak mendapatkan bantuan dari pemerintah, namun kadang hal ini luput dari perhatian.
"Mbah, njenengan ngudud mboten?" tanya Pak Eko sambil menyodorkan sebungkus rokok kepada Mbah Karto.
Mbah Karto mengambil sebatang rokok, kemudian beliau menyulutnya. Asapnya mengepul ke langit-langit rumah. Mbah Karto banyak bercerita tentang dulu saat ia masih muda, saat di mana ia banyak menghabiskan waktunya berkelana dari satu kota ke kota lainnya.
Dengan telaten Pak Eko mendengarkan cerita itu, ia tak tega memotong cerita Mbah Karto, mungkin karena kehidupannya sebatang kara, sehingga ada orang yang mau mendengarkan ceritanya, ia merasa bahagia.
Setelah dari rumah Mbah Karto, Pak Eko melanjutkan sensusnya. Ia masuk ke rumah di sebelah rumahnya Mbah Karto. Tak jauh beda dengan rumah Mbah Karto, rumah itu juga sangat sederhana dan tanpa banyak perabotan di dalamnya. Satu-satunya barang yang menarik adalah ada sebuah motor terparkir di halaman depan. Di rumah itu Pak Marno tinggal, usianya lebih muda dari Mbah Karto, mungkin sekitar 50-an tahun. Pak Marno adalah seorang penjual pentol keliling.
"Enggih, niki aset kulo, Pak Guru." Pak Eko menyodorkan lembar STNK.
"Lha BPKB-ne pundi, Pak?" tanya Pak Eko.
"BPKB-ne kulo sekolahke, Pak, kersane pinter," jawab Pak Marno sambil tertawa.
"Bapak ini bisa saja," timpal Pak Eko membalas candaan Pak Marno.
"Pak Marno gadah WC? Njenengan gadah sumur?
Nek njenengan masak pakai LPG warna nopo?
Gadah sapi, kambing?
Gadah simpanan emas, mboten?" Dan seabrek pertanyaan lainnya ditanyakan Pak Eko kepada lelaki paruh baya itu.
"Mboten gadah sapi, Pak. Niku teng kandang sapine Pak Lurah, kulo namung bagian ngopeni," jawab Pak Marno menanggapi pertanyaan Pak Eko.
Setelah bertanya sesuai form yang ia bawa, Pak Eko melanjutkan langkahnya ke rumah penduduk yang harus ia sensus. Semakin sore udara mulai sejuk, tetapi keringat Pak Eko bercucuran, ia merasa sangat capek dan pusing. Maklum sudah sepekan ini setelah aktivitas mengajar, Pak Eko langsung melanjutkan kegiatan sensusnya.
Pak Eko tak menghiraukan kondisinya yang mulai capek. Wajahnya pucat. Ia terus melangkah dari satu rumah ke rumah warga. Menjelang magrib ia sampai di rumah terakhir yang harus ia sensus. Mata Pak Eko berkunang-kunang. Kepalanya terasa pening, hampir saja ia terjatuh, tapi ia menguatkan kakinya untuk terus melangkah.
Walau tubuhnya semakin melemah, tapi semangat Pak Eko untuk menyelesaikan tugasnya tak padam begitu saja. Semangatnya memang luar biasa. Tugas yang seharusnya bukan menjadi tanggung jawabnya itu harus kelar hari itu juga. Terbayang di kepalanya, jika tugasnya tidak beres, maka sanksi dari atasan tak pelak akan diterimanya.
"Assalamualaikum, tok... tok... tok, Assalamualaikum..." Pak Eko mengetuk pintu, suaranya gemetar, ia berpegangan pada daun pintu di rumah itu.
Setelah pintu terbuka, Pak Eko minta izin masuk ke rumah Yu Sulastri, seorang janda penjual gorengan. "Mohon maaf, Bu, saya duduk dulu ya," ucap Pak Eko pelan, napasnya berat, wajahnya semakin memucat.
"Silakan, Pak, Pak Guru kelihatan pucat sekali, Pak Guru sakit ya? Istirahat dulu, Pak," kata si tuan rumah sambil mempersilakan Pak Eko.
"Ini, Pak, teh hangat, minum dulu biar enakan badannya. Kelihatannya Bapak capek." Bu Sulastri menyodorkan segelas teh hangat.
Tangan Pak Eko gemetar saat menerima segelas teh dari Bu Sulastri. Teh itu masih terasa hangat, uapnya kelihatan mengebul menerpa wajahnya. "Matur nuwun, Bu..." kata Pak Eko sambil mulai menyeruput segelas teh itu. Sebelum bibirnya menyentuh gelas, tiba-tiba prakk... Gelas itu terjatuh dari genggaman Pak Eko. Teh hangat tumpah bersamaan dengan tubuh Pak Eko terjatuh di lantai.
"Lho Pak, njenengan kenapa?" teriak Bu Sulastri sambil berusaha menahan tubuh Pak Eko yang lunglai di lantai. "Tolong... Tolong..." teriak Bu Sulastri meminta pertolongan kepada tetangga sekitar.
Tetangga sekitar sama berdatangan, mereka mengerubungi tubuh Pak Eko yang tak bergerak di lantai. "Minggir-minggir jangan berkerumun, beri ruang agar beliau bisa menghirup udara," ucap salah satu warga sambil mengipasi Pak Eko dengan selembar kardus.
"Panggilkan ambulan desa, atau pinjam mobilnya Pak RT agar segera kita bawa ke puskesmas," lanjut salah seorang dari mereka. Tubuh Pak Eko tak bergerak ketika ia dipapah dinaikkan ke mobil pikap milik Pak RT. Senja yang mulai gelap sunyi, orang-orang sama kembali ke rumah, Pak Eko dibawa ke puskesmas dalam kondisi tak sadarkan diri.
Di ruang UGD dengan tembok bercat putih pucat, suasananya sepi, hanya ada seorang dokter jaga dan dibantu seorang perawat sedang memasang selang infus dan juga selang oksigen ke tubuh Pak Eko. Orang-orang yang mengantar Pak Eko menunggu di luar, mereka komat-kamit membaca doa demi kesembuhan dan keselamatan Pak Guru itu.
Di sebuah tas yang masih tergeletak di bangku rumah Bu Sulastri, bunyi dering dan getar hape berkali-kali terdengar, namun tak ada yang membukanya. Ada pesan yang terkirim dari sebuah nama "Istriku Tersayang". Sebuah pesan yang tak sempat terbaca oleh pemiliknya yang kini diam terbaring di ranjang UGD. "Yah, jangan lupa makan ya, pulangnya hati-hati di jalan."
Sementara itu, sang pemilik hape, napas dan detak jantungnya sedang dipantau oleh layar monitor. Garis-garis di layar monitor yang naik turun tak beraturan itu akhirnya diam tak bergerak sama sekali, bersamaan dengan napas terakhir sang guru yang juga sedang berjuang untuk bangsanya, menjadi seorang relawan sensus.
Langit telah memanggil namanya untuk pulang, sebelum ia sempat membalas pesan di hape-nya, sebelum ia sempat menjawab panggilan cinta dari sang istri, dan sebelum ia sempat berpamitan kepada murid-muridnya yang esok telah menunggu di ruang kelas tempat ia mengajar.
Esok paginya bangku Pak Eko kosong, debu kapur kemarin masih tersisa di mejanya, hanya gema suaranya yang mengabadi di hati sanubari anak didiknya.
Bangilan, 22 April 2026

.jpeg)