Jumat, 24 April 2026


 Relawan Sensus  

Oleh: Joyo Juwoto  


Siang itu udara terasa gerah, matahari membakar bumi hingga titik yang membuat kepala seperti disengat tawon endas, langit seakan sedang meluapkan api amarahnya, halaman sekolah tempat Pak Eko mengajar seperti hamparan sahara, pohon-pohon di tepi jalan menunduk lesu, angin pun diam tak berani berdesir.

Pak Eko baru saja mengakhiri pelajarannya di kelas, tangannya masih kotor oleh debu kapur tulis, ia tampak tergesa memberesi tasnya, memasukkan buku dan peralatan mengajarnya. Sambil mengusap keringat di dahinya, beliau berkata kepada murid-muridnya. 

"Anak-anak, hari ini kita telah menyelesaikan akhir bab dari pelajaran IPAS, besok pagi akan ada ulangan akhir semester, Bapak berharap kalian belajar dengan sungguh-sungguh, sehingga kalian bisa mengerjakan soal dengan baik," pesan Pak Eko kepada murid-muridnya.

"Jangan lupa pesan Bapak, jadilah anak-anak yang membanggakan orang tua kalian, belajar dengan sungguh-sungguh agar kelak kalian menjadi orang yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa kita tercinta."

"Tentu, Pak, kita pasti belajar sungguh-sungguh kok," jawab Andre sambil menenteng tasnya, ia bersalaman dengan guru yang sangat dihormatinya itu, yang kemudian diikuti oleh teman-temannya, mereka bersalaman dengan Pak Eko, sebelum keluar dari kelas. 

Suara anak-anak masih terdengar riuh saat bel tanda kepulangan berbunyi nyaring, di kelas lain anak-anak juga sudah berhamburan untuk pulang. Seakan-akan panasnya matahari siang itu tidak berpengaruh pada mereka.

Tak berselang lama suasana lingkungan sekolah menjadi lengang, jam menunjukkan pukul 14.00 WIB, setelah seharian bergelut dengan rutinitas mengajar biasanya Pak Eko langsung pulang ke rumah untuk beristirahat atau mengerjakan pekerjaan rumah. Namun kali ini beda, sudah satu minggu ini setelah selesai mengajar Pak Eko tidak langsung pulang, ada tugas menanti yang harus ia selesaikan, menyensus warga masyarakat.

Ini bermula saat ada edaran dari Dinas Pendidikan Kabupaten, bahwa guru ASN dan guru PPPK mendapatkan tugas tambahan, yaitu menjadi relawan sensus ekonomi rakyat, guna membantu pemerintah daerah dalam memetakan tingkat kemiskinan warganya. Walau itu bukan tugas utama seorang guru, tapi mereka tak kuasa menolak ajakan menjadi relawan sensus, apalagi akan ada sanksi bagi guru yang menolak program tersebut. Karena program relawan sensus ini masuk menjadi salah satu penilaian kinerja guru.

Kata relawan itu seperti hal yang cukup heroik dan membanggakan, indah sebagai sebuah narasi namun pahit dalam kenyataan. Walau memakai istilah relawan, tak semua orang melakukannya dengan senang hati dan sukarela, kebanyakan mereka terpaksa melakukan hal ini, karena memang di luar tupoksi sebagai seorang guru. Mau protes pun tak ada guna, kecuali mematuhi program tersebut. Guru-guru hanya bisa menolak dalam diam, karena bersuara menjadi ancaman bagi masa depan karier mereka sendiri. 

"Relawan, tapi gak boleh nolak, relawan tapi jika tidak melakukan di sanksi, relawan macam apa ini?" Kata Pak Eko menggerutu dalam hati. 

Siang yang masih panas, udara yang masih gerah, badan yang belum sepenuhnya rehat, namun mau tidak mau Pak Eko segera bergegas ke parkiran sekolah. Dengan motor bututnya ia segera meluncur ke ujung kampung tempat tugasnya menyensus masyarakat. Jalanan di kampung tak sepenuhnya bisa dijangkau dengan motor, kadang Pak Eko harus memarkir motornya, kemudian berjalan kaki untuk menuju rumah-rumah penduduk.

Nama kepala keluarga Mbah Karto, usia 75 tahun, pekerjaan menjual sapu lidi, penghasilan tidak tentu, hidup sebatang kara, rumah berlantai tanah, tidak punya kamar mandi, tidak punya perabotan di ruang tamu, hanya satu meja kayu dan balai dari bambu, tidak punya kendaraan, ke mana-mana selalu jalan kaki.

"Mbah, listriknya ini punya sendiri ya? Meterannya mana?" tanya Pak Eko. 

"Mboten gadah listrik, Gus, niku nyalur saking griyane Pak RT," jawab Mbah Karto sambil terkekeh.

Pak Eko mengentri data langsung di hape-nya, orang seperti Mbah Karto ini tentu berhak mendapatkan bantuan dari pemerintah, namun kadang hal ini luput dari perhatian.

"Mbah, njenengan ngudud mboten?" tanya Pak Eko sambil menyodorkan sebungkus rokok kepada Mbah Karto.

Mbah Karto mengambil sebatang rokok, kemudian beliau menyulutnya. Asapnya mengepul ke langit-langit rumah. Mbah Karto banyak bercerita tentang dulu saat ia masih muda, saat di mana ia banyak menghabiskan waktunya berkelana dari satu kota ke kota lainnya.

Dengan telaten Pak Eko mendengarkan cerita itu, ia tak tega memotong cerita Mbah Karto, mungkin karena kehidupannya sebatang kara, sehingga ada orang yang mau mendengarkan ceritanya, ia merasa bahagia.

Setelah dari rumah Mbah Karto, Pak Eko melanjutkan sensusnya. Ia masuk ke rumah di sebelah rumahnya Mbah Karto. Tak jauh beda dengan rumah Mbah Karto, rumah itu juga sangat sederhana dan tanpa banyak perabotan di dalamnya. Satu-satunya barang yang menarik adalah ada sebuah motor terparkir di halaman depan. Di rumah itu Pak Marno tinggal, usianya lebih muda dari Mbah Karto, mungkin sekitar 50-an tahun. Pak Marno adalah seorang penjual pentol keliling. 

"Enggih, niki aset kulo, Pak Guru." Pak Eko menyodorkan lembar STNK.

"Lha BPKB-ne pundi, Pak?" tanya Pak Eko.

"BPKB-ne kulo sekolahke, Pak, kersane pinter," jawab Pak Marno sambil tertawa.

"Bapak ini bisa saja," timpal Pak Eko membalas candaan Pak Marno. 

"Pak Marno gadah WC? Njenengan gadah sumur?  

Nek njenengan masak pakai LPG warna nopo?  

Gadah sapi, kambing?  

Gadah simpanan emas, mboten?" Dan seabrek pertanyaan lainnya ditanyakan Pak Eko kepada lelaki paruh baya itu.

"Mboten gadah sapi, Pak. Niku teng kandang sapine Pak Lurah, kulo namung bagian ngopeni," jawab Pak Marno menanggapi pertanyaan Pak Eko.

Setelah bertanya sesuai form yang ia bawa, Pak Eko melanjutkan langkahnya ke rumah penduduk yang harus ia sensus. Semakin sore udara mulai sejuk, tetapi keringat Pak Eko bercucuran, ia merasa sangat capek dan pusing. Maklum sudah sepekan ini setelah aktivitas mengajar, Pak Eko langsung melanjutkan kegiatan sensusnya.

Pak Eko tak menghiraukan kondisinya yang mulai capek. Wajahnya pucat. Ia terus melangkah dari satu rumah ke rumah warga. Menjelang magrib ia sampai di rumah terakhir yang harus ia sensus. Mata Pak Eko berkunang-kunang. Kepalanya terasa pening, hampir saja ia terjatuh, tapi ia menguatkan kakinya untuk terus melangkah.

Walau tubuhnya semakin melemah, tapi semangat Pak Eko untuk menyelesaikan tugasnya tak padam begitu saja. Semangatnya memang luar biasa. Tugas yang seharusnya bukan menjadi tanggung jawabnya itu harus kelar hari itu juga. Terbayang di kepalanya, jika tugasnya tidak beres, maka sanksi dari atasan tak pelak akan diterimanya. 

"Assalamualaikum, tok... tok... tok, Assalamualaikum..." Pak Eko mengetuk pintu, suaranya gemetar, ia berpegangan pada daun pintu di rumah itu.

Setelah pintu terbuka, Pak Eko minta izin masuk ke rumah Yu Sulastri, seorang janda penjual gorengan. "Mohon maaf, Bu, saya duduk dulu ya," ucap Pak Eko pelan, napasnya berat, wajahnya semakin memucat.

"Silakan, Pak, Pak Guru kelihatan pucat sekali, Pak Guru sakit ya? Istirahat dulu, Pak," kata si tuan rumah sambil mempersilakan Pak Eko.

"Ini, Pak, teh hangat, minum dulu biar enakan badannya. Kelihatannya Bapak capek." Bu Sulastri menyodorkan segelas teh hangat.

Tangan Pak Eko gemetar saat menerima segelas teh dari Bu Sulastri. Teh itu masih terasa hangat, uapnya kelihatan mengebul menerpa wajahnya. "Matur nuwun, Bu..." kata Pak Eko sambil mulai menyeruput segelas teh itu. Sebelum bibirnya menyentuh gelas, tiba-tiba prakk... Gelas itu terjatuh dari genggaman Pak Eko. Teh hangat tumpah bersamaan dengan tubuh Pak Eko terjatuh di lantai. 

"Lho Pak, njenengan kenapa?" teriak Bu Sulastri sambil berusaha menahan tubuh Pak Eko yang lunglai di lantai. "Tolong... Tolong..." teriak Bu Sulastri meminta pertolongan kepada tetangga sekitar.

Tetangga sekitar sama berdatangan, mereka mengerubungi tubuh Pak Eko yang tak bergerak di lantai. "Minggir-minggir jangan berkerumun, beri ruang agar beliau bisa menghirup udara," ucap salah satu warga sambil mengipasi Pak Eko dengan selembar kardus. 

"Panggilkan ambulan desa, atau pinjam mobilnya Pak RT agar segera kita bawa ke puskesmas," lanjut salah seorang dari mereka. Tubuh Pak Eko tak bergerak ketika ia dipapah dinaikkan ke mobil pikap milik Pak RT. Senja yang mulai gelap sunyi, orang-orang sama kembali ke rumah, Pak Eko dibawa ke puskesmas dalam kondisi tak sadarkan diri.

Di ruang UGD dengan tembok bercat putih pucat, suasananya sepi, hanya ada seorang dokter jaga dan dibantu seorang perawat sedang memasang selang infus dan juga selang oksigen ke tubuh Pak Eko. Orang-orang yang mengantar Pak Eko menunggu di luar, mereka komat-kamit membaca doa demi kesembuhan dan keselamatan Pak Guru itu.

Di sebuah tas yang masih tergeletak di bangku rumah Bu Sulastri, bunyi dering dan getar hape berkali-kali terdengar, namun tak ada yang membukanya. Ada pesan yang terkirim dari sebuah nama "Istriku Tersayang". Sebuah pesan yang tak sempat terbaca oleh pemiliknya yang kini diam terbaring di ranjang UGD. "Yah, jangan lupa makan ya, pulangnya hati-hati di jalan." 

Sementara itu, sang pemilik hape, napas dan detak jantungnya sedang dipantau oleh layar monitor. Garis-garis di layar monitor yang naik turun tak beraturan itu akhirnya diam tak bergerak sama sekali, bersamaan dengan napas terakhir sang guru yang juga sedang berjuang untuk bangsanya, menjadi seorang relawan sensus. 

Langit telah memanggil namanya untuk pulang, sebelum ia sempat membalas pesan di hape-nya, sebelum ia sempat menjawab panggilan cinta dari sang istri, dan sebelum ia sempat berpamitan kepada murid-muridnya yang esok telah menunggu di ruang kelas tempat ia mengajar.

Esok paginya bangku Pak Eko kosong, debu kapur kemarin masih tersisa di mejanya, hanya gema suaranya yang mengabadi di hati sanubari anak didiknya.  


Bangilan, 22 April 2026

Minggu, 12 April 2026


 Api yang Hampir Padam

Oleh: Joyo Juwoto


Denting jam menandai terbitnya sang fajar, mega merah merona di ufuk timur, udara masih dingin, suara kokok ayam berpadu dengan lenguhan sapi bersautan dari kandang rumah tetangga. Bu Sulastri baru saja terbangun, matanya masih sayu menandakan kantuknya belum sepenuhnya hilang. Pada malam hari, Bu Sulastri berjualan kopi hingga larut malam, sebelum matahari merekah ia juga harus sudah bangun tidur, bahkan sebelum lelahnya terbayar lunas.

Di sebuah meja kecil, irisan tempe, adonan tepung, irisan wortel, daun kol telah siap menunggu untuk digoreng dijual bersama nasi pecel guna memenuhi kebutuhan keluarganya. Semenjak Bu Sulastri ditinggal pergi suaminya yang entah ke mana, ia harus berjuang menegakkan tulang punggungnya guna menyangga dapur agar terus bisa mengepul.

Bu Sulastri melangkah menuju dapur, di pojokan di bawah meja ia sorongkan tangannya, ia mengambil tabung LPG berwarna hijau muda, ia goyang pelan, tabung yang bertuliskan hanya untuk masyarakat miskin itu terasa ringan. Saat kompor di atas meja ia nyalakan, api itu redup, dan sebentar kemudian padam. Hati Bu Sulastri sendu. Tabung itu telah kosong.

"Ah, kenapa LPG-nya cepat habis?" gumamnya pelan.

Bu Sulastri masih berusaha meyakinkan dirinya, ia guncang kabupaten tabung itu, ia tata kembali regulatornya, siapa tahu kendor. Kemudian ia coba menyalakan kompor itu kembali, namun usahanya sia-sia, kompor itu tetap tidak bereaksi apa-apa.

"Perasaan baru beli, mengapa sudah habis ya?" keluh Bu Sulastri.

Bu Sulastri menghela napas dalam, ia segera meraih tabung itu kemudian bergegas menuju warung kelontongnya Pak Bakri yang berjarak beberapa depa dari rumahnya. Namun warung Pak Bakri masih tutup, tidak seperti biasanya. Bu Sulastri mengetuk pintu warung sambil mengucapkan salam.

"Assalamu'alaikum, Pak, kenapa warungnya masih tutup? Pak Bakri, saya mau beli LPG!" teriak Bu Sulastri agak gugup.

"Walaikum salam, Bu. Iya, Bu, sebentar saya buka dulu pintunya," kata seorang lelaki paruh baya dari dalam.

"Ini mau beli LPG, sekarang LPG kok cepat habis ya, Pak, tidak seperti biasanya. Baru juga saya beli, eeh... ini sudah habis lagi."

"Wah! Maaf ya, Bu. Persediaan kosong. Ini ada satu juga untuk keperluan masak sendiri. Belum dikirim, ndak tahu kenapa," jawab Pak Bakri.

Hati Bu Sulastri gundah, ia harus segera menyiapkan jualannya, namun nasib malang tak dapat ditolak, stok LPG di pangkalan habis. Ia tak tahu harus mencari ke mana, hari pun mulai beranjak siang.

"Lho, kok habis, lha saya masak pakai apa nanti? Tak mungkin pakai kayu, apalagi mendadak begini," keluh Bu Sulastri pilu.

Pak Bakri pun hanya diam. Dia pun tak bisa apa-apa, jika distributor tidak mengirim dipastikan jualannya juga berhenti. Bu Sulastri kemudian bergegas kembali pulang, hari ini sepertinya ia tidak akan jualan, jika tidak jualan dipastikan tidak ada uang masuk, dan itu artinya ia dan keluarganya harus menahan perihnya perut karena menahan rasa lapar.

Bu Sulastri duduk terdiam di sudut dapur, tak ada bunyi minyak mendidih, tak ada suara piring yang berdenting, tak ada aroma gorengan yang menggoda lidah, sunyi. Bu Sulastri memandangi irisan tempe yang masih mentah, adonan tepung yang tergeletak di wadah, dan juga bumbu-bumbu dapur lainnya yang berserakan di atas meja lusuh.

"Bu, apakah sarapannya sudah matang?" seru salah satu anaknya sambil mengucek mata keluar dari kamar.

"Ibu belum masak, Nak. LPG habis. Kita sarapan nasi sisa tadi malam ya," jawab Bu Sulastri sambil memeluk anaknya yang paling bungsu.

Hari pertama tidak buka warung menjadi hal terberat bagi Bu Sulastri, karena warung adalah satu-satunya harapannya untuk menafkahi anak-anaknya. Hari ini harapannya pudar bagai embun diterpa sinar matahari pagi, belum lagi kerugian yang harus ditanggung karena tempe-tempe yang tidak jadi dijual, apalagi ia tidak punya kulkas untuk mengawetkan tempe-tempe itu. Kalaupun bisa diawetkan rasanya tentu sudah beda, tidak seenak tempe segar.

Bu Sulastri berharap kelangkaan LPG hanya di hari itu saja, namun dugaannya salah. Sore harinya tidak ada truk distributor LPG yang parkir di depan Warung Pak Bakri. Bu Sulastri hafal jadwal kedatangan truk itu, pada jam lima sore menjelang magrib biasanya deru truk itu melewati depan rumahnya.

Biasanya jika truk itu datang, ibu-ibu akan berbondong-bondong untuk membeli LPG. Sore itu suasananya lenggang, tidak ada deru suara truk, tidak ada ibu-ibu yang ngobrol kesana kemari di depan warung Pak Bakri.

"Bu, Ibu, LPG sedang langka, ini di medsos banyak yang upload kabar bahwa LPG langka!" teriak Rani putri sulungnya yang sudah di tingkat SLTA.

"Bahkan ini harganya juga melonjak tinggi, Bu. Ada yang beli dengan harga tiga puluh lima ribu," lanjut Rani heboh.

"Apa betul itu, Nak?" tanya Bu Sulastri pada Rani.

"Ya Allah, kok sampai segitu harganya? Bisa-bisa kita tidak bisa jualan selamanya ini."

Pada esok hari, tersiar kabar dari mulut ke mulut bahwa LPG sedang langka, harganya pun gila-gilaan. HET yang ditetapkan pemerintah delapan belas ribu rupiah, tapi faktanya di pangkalan ada yang dijual dua kali lipatnya, bahkan lebih. Hal ini tentu membuat masyarakat menjadi heboh.

Sejak pagi orang-orang sudah mengantri di sebuah pangkalan di ujung desa, tersiar kabar hari itu LPG akan datang. Antrian sudah mengular panjang, padahal belum jelas kapan truk pembawa tabung gas itu datang.

"Katanya stoknya sekarang dibatasi, jadi kita harus ngantri awal," kata seorang ibu-ibu.

"Wah... bagaimana kalau nanti habis? Sudah capek-capek ngantri ternyata tidak kebagian," sahut ibu yang lainnya dengan panik.

Setelah matahari meninggi, sebuah truk dengan muatan LPG pun datang. Orang-orang mulai gaduh berdesakan, bahkan ada yang sampai bertengkar karena saling mendahului dalam antrian.

"Tenang-tenang, jangan rebutan antrian, masing-masing hanya dapat jatah satu tabung, tidak boleh lebih, karena stok terbatas," kata pemilik pangkalan sambil menenangkan orang-orang yang mulai tak sabar menunggu antrian. Ia khawatir akan terjadi kericuhan.

Bu Sulastri yang baru datang menatap antrian panjang yang ada di depannya. Dia cemas, apa mungkin ia bisa mendapatkan jatah LPG, sedang yang mengantri sangat banyak. Jika hari ini ia tidak dapat LPG itu berarti warungnya akan kembali tutup. Bu Sulastri hatinya merasa sedih.

Satu jam, dua jam, tiga jam, antrian masih juga belum selesai, matahari semakin panas menyengat. Orang-orang mulai ricuh, karena ternyata jatahnya tidak cukup. Pemilik pangkalan pun meminta agar orang-orang segera bubar, karena stok telah habis. Besok kalau ada bisa datang kembali. Orang-orang yang sudah mengantri lama tentu tidak terima, mereka membuat kegaduhan. Suasana menjadi semakin panas.

Bu Sulastri hanya diam membisu, ia tak dapat jatah setelah mengantri berjam-jam lamanya. Ia pun pulang dengan gontai menenteng tabungnya yang masih kosong. Matanya basah, hatinya perih, ini kali kedua tak akan ada lagi pemasukan di dompetnya.

Sesampainya di rumah, Rani adiknya menyambut dengan penuh harap.

"Dapat LPG, Bu?" tanya Rani penuh semangat.

Bu Sulastri hanya diam sambil menggeleng pelan. Guratan kesedihan tampak di wajahnya yang semakin menua.

Hari itu tidak ada gas LPG kembali, Bu Sulastri harus tetap masak untuk anak-anak, ia akhirnya menata tumpukan bata merah di belakang rumah untuk dibuat pawon. Kemudian ia memanggil Rani sulungnya.

"Nak, ayo mencari ranting kayu untuk memasak, di belakang dekat rumpun bambu kayaknya ada ranting kering," ajak Bu Sulastri.

Hari itu Bu Sulastri memasak dengan tungku dari bata merah, hal yang sudah cukup lama ia tinggalkan. Asap mengepul memenuhi dapur, matanya yang mulai tua memerah karena asap, perih. Tangan dan rambutnya kotor oleh abu, ia menahan napas sambil sesekali terbatuk pelan.

Kabar tentang kelangkaan LPG menjadi berita yang menghebohkan masyarakat, di mana-mana orang-orang sama membicarakan hal itu, di media sosial pun tak kalah ramainya, banyak yang berspekulasi mengapa LPG kok langka. Ada yang mengaitkan dengan meningkatnya konsumsi masyarakat saat hari raya Idulfitri, ada yang bilang UMKM yang nakal, pangkalan menimbun stok LPG, bahkan ada yang mengatakan ada oknum-oknum yang bermain curang, mengoplos tabung warna hijau dioplos dengan warna pink, dan spekulasi-spekulasi lainnya. Tak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi dengan kelangkaan ini.

"Kapan situasi kembali normal ya? Idulfitri sudah selesai namun gas LPG masih langka," ujar seorang ibu saat ngerumpi di depan rumah Bu Sulastri.

"Iya, bagaimana ini, warung ku susah seminggu ini tutup, kalau terus berlanjut kita makan apa? Rejekiku hanya dari warung ini," keluh Bu Sulastri.

"Benar, Bu. Saya juga rugi, nggak bisa bikin kue lagi," sambung ibu lainnya.

Ibu-ibu itu saling pandang dalam diam. Wajah-wajah mereka letih penuh kecemasan.

*

Keesokan paginya, warga satu kampung berkumpul di balai desa. Para ibu membawa tabung kosong sebagai simbol protes. Mereka menyuarakan keresahan tentang LPG yang hilang dari pasaran, harga yang melonjak, dan dugaan adanya penimbunan.

Kepala desa menerima mereka dengan wajah serius.

“Kami sudah lapor ke kecamatan,” katanya. “Katanya distribusi dari pusat sedang bermasalah, tapi kami juga akan cek kalau ada penimbunan.”

Hari itu warga pulang dengan sedikit harapan.

Dua hari kemudian, sebuah truk besar masuk ke desa membawa ratusan tabung LPG. Kabar cepat menyebar seperti angin. Semua orang berlari menuju pangkalan.

Bu Sulastri ikut antre lagi, kali ini sejak sebelum subuh.

Ketika akhirnya tabung hijau itu sampai di tangannya, ia hampir menangis.

Ia memeluk tabung itu erat seperti memeluk harta paling berharga di dunia.

Sesampainya di rumah, ia langsung memasangnya ke kompor. Saat knop diputar dan api biru menyala, matanya berkaca-kaca.

Rani tertawa kecil. “Ibu senang banget lihat api.”

Bu Sulastri tersenyum.

“Kalian nggak ngerti, Nak. Kadang kita baru sadar betapa berharganya sesuatu kalau hampir kehilangannya.”

Hari itu dapurnya kembali hidup. Wajan kembali berdesis. Aroma gorengan memenuhi rumah kecil mereka. Anak-anak membantu membungkus dagangan sementara Bu Sulastri menggoreng dengan semangat baru.

Meski pelanggan sempat berkurang karena beberapa hari tutup, perlahan usaha Bu Sulastri kembali berjalan.

Namun pengalaman itu meninggalkan bekas di hatinya.

Kini setiap melihat nyala api biru dari kompor, Bu Sulastri tak lagi menganggapnya biasa. Api kecil itu bukan sekadar nyala untuk memasak. Ia adalah sumber penghidupan, harapan, dan tanda bahwa keluarganya masih bisa bertahan.

Malam itu, setelah selesai membereskan dapur, Bu Sulastri duduk sendiri menatap kompor yang sudah dimatikan. Ia tersenyum kecil.

Di dunia ini, pikirnya, orang-orang sering sibuk mengejar hal besar hingga lupa menghargai hal kecil yang menopang hidup sehari-hari. Padahal bagi orang-orang sederhana seperti dirinya, satu tabung gas bisa berarti makan hari ini, sekolah anak bulan depan, bahkan keberlangsungan hidup seluruh keluarga.

Bu Sulastri menatap langit dari jendela dapur. Gelap malam terasa damai.

Api memang telah kembali menyala.

Namun ia tahu, selama hidup masih sulit dan kebutuhan pokok bisa sewaktu-waktu menghilang, perjuangan rakyat kecil tak akan pernah benar-benar padam.


Bangilan, 10 April 2026

Jumat, 06 Februari 2026

Pram: Cahaya dari Blora untuk Indonesia

Pram: Cahaya dari Blora untuk Indonesia
Oleh: Joyo Juwoto


Pada suatu ketika, saya ke Blora menziarahi rumah peninggalan keluarga Pak Mastoer. Rumah di pojokan Jalan Sumbawa itu tampak tua dan nyaris terlupakan oleh waktu. Di halaman rumah banyak ditumbuhi semak belukar dan rumput-rumput liar dan terkesan tidak terurus. Hewan peliharaan tuan rumah, Mbah Soesilo Toer—adik kandung sastrawan ternama Pramoedya Ananta Toer, atau yang akrab dipanggil Pram—dibiarkan berkeliaran tanpa tali pengikat. Ada beberapa ekor kambing yang ikut menghuni dan meramaikan rumah legendaris itu.
Dari rumah sederhana itu, cahaya dari Blora melesat ke langit-langit literasi dunia, menjadi mercusuar bagi kesusastraan Nusantara. Dari kota itu, Pram terlahir, menikmati masa kecil dalam dekapan kemiskinan dan penderitaan. Dari tanah itu, Pram bertumbuh dan menjalani takdirnya kelak menjadi salah satu penulis yang dikenal oleh dunia. Selain Pram, dari kabupaten penghasil kayu jati ini juga banyak terlahir tokoh-tokoh yang luar biasa, seperti Eyang Samin Suro Sentiko, Mas Marco Kartodikromo, Tirto Adhi Soerjo, seorang pahlawan nasional dan tokoh pers perintis jurnalistik bumiputera.
Setiap saya ke Blora, saya selalu berpikir dan merenung: apakah hari ini orang Blora masih mengenal Pram? Apakah anak-anak sekolah juga mengenal sosok yang terlahir dari kota sate ini? Atau, lebih luas lagi, apakah generasi bangsa ini mengenal sosok yang pernah dimusuhi oleh salah satu rezim yang pernah berkuasa di negeri ini? Bahkan lebih jauh lagi, saya juga berpikir: jangan-jangan Pram telah dilupakan oleh masyarakat, telah dilupakan oleh bangsanya sendiri, dan telah hilang dari pusaran sejarah? Kalau iya, tentu ini sungguh satu peristiwa yang sangat tragis bagi peradaban kita.
Dalam sebuah kata-katanya, Pram pernah menuliskan: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Mari kita uji apakah kata-kata Pram ini masih sakti. Apakah kata-kata Pram ini mampu menyelamatkan dirinya dan mengabadikan namanya dalam lembaran sejarah? Pram telah banyak meninggalkan warisan dan nilai bagi bangsa ini; tentu seharusnya, sebagai bangsa yang besar, kita tidak boleh dengan mudah melupakan apa yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita. Bung Karno secara tegas mengatakan: “Jas Merah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah.”
Jika kalian bertemu orang Blora, silakan tanya apakah mereka mengenal Pram. Jika kalian sebagai seorang pendidik, coba tanyakan kepada anak didik panjenengan, seberapa tahu mereka dengan sosok Pram ini. Apakah nama Pram masih disebut-sebut oleh mahasiswa? Apakah karya-karya Pram masih dibaca dan menemani ruang diskusi mahasiswa? Ini semua bisa menjadi parameter seberapa jauh nama Pram masih melekat di benak masyarakat.
 
Masa seabad Pram telah usai. Ia lahir satu tahun lebih awal dari ormas terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama. Pram terlahir pada 6 Februari 1925 dan meninggal dunia kurang lebih 20 tahun silam. Pram adalah penulis yang hanya satu lahir dalam satu generasi, bahkan satu dalam satu abad. Kita, bangsa Indonesia, layak berbangga dengan Pram. Pram adalah penulis produktif; lebih dari 50 karya ia persembahkan untuk bangsa ini. Karya-karya Pram banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing dan tersebar hampir di seluruh dunia. Sangat naif sekali jika kita tetangganya, jika kita yang satu kota dengan Pram, satu negara dengan Pram, tetapi tidak mengenal sosok beliau ini.
Ayo para pelajar, ayo para pemuda, mahasiswa, DPR, para pejabat, silakan cari dan gali buku-buku Pram. Silakan baca buku-buku Pram, silakan diskusikan di kafe-kafe, di aula kampus, di perpustakaan sekolah, bahkan di pinggir jalan dan trotoar. Silakan buku-buku itu dikritik, dibedah, ditelanjangi, bahkan dibantai sekalipun. Takdir buku-buku Pram memang demikian. Buku-buku itu dulu pernah dilarang peredarannya oleh rezim. Buku-buku itu, yang dulu jika kamu menyimpannya kemudian digeledah oleh rezim, telah bisa menjadi alasan buat kamu untuk masuk penjara. Buku-buku Pram sering menjadi sasaran tindakan barbarianisme, dengan dibakar dan dimusnahkan. Tidak hanya itu saja, bahkan penulisnya pun dijebloskan ke dalam penjara dari satu rezim ke rezim lainnya, dengan tanpa proses peradilan yang adil.
Sebagai generasi yang berpikir, kita jangan mudah percaya dengan propaganda, jangan mudah percaya dengan tuduhan-tuduhan yang tidak jelas, dengan tuduhan-tuduhan yang tidak beradab. Ada yang bilang bahwa buku-buku Pram berbahaya, bahwa buku-buku Pram mengajarkan komunisme, bahwa buku-buku Pram adalah buku porno, dan sebagainya dan sebagainya. Generasi muda hari ini harus sudah adil sejak dalam pikiran, jangan cepat menyimpulkan kalau memang belum membaca dan menjelajahi isi pikiran Pram. Saya tidak sedang mendewa-dewakan Pram; beliau adalah manusia biasa, buku-bukunya juga bukan kitab suci yang tidak boleh salah dan tidak boleh dikritisi. Justru ini tugas kita untuk membaca dan mengkritisi serta mengkurasi karya-karya Pram, agar kita tidak menzalimi Pram dengan berbagai prasangka dan tuduhan yang tidak berdasar.
Bisa jadi Pram adalah seorang komunis karena keterlibatannya di Lekra, bisa jadi Pram adalah seorang atheis, bisa jadi Pram sesuai dengan yang dituduhkan kepadanya selama ini, namun kita sebagai manusia tetaplah harus menghargai nilai kemanusiaan itu sendiri. Gus Dur pernah mengatakan: “Sebelum beragama kita harus mengenal kemanusiaan”, setidaknya ajaran bapak humanisme ini perlu kita renungkan kembali, demi menjaga martabat serta nurani kemanusiaan serta membangun masyarakat yang adil dan beradab, berdasarkan nilai-nilai agama dan Pancasila tentunya. Saya menulis ini bukan sebab membenarkan atau menolak pandangan Pram, kita hanya perlu bersikap dewasa, bersikap adil, kritis dan tidak mengedepankan emosi dan kebencian dalam menilai sesuatu.
Sebagai penutup, tulisan ini hanya sekadar renungan, hanya sekadar memberikan sudut pandang yang berbeda tentang apa yang kadang disalahpahami oleh kebanyakan orang. Bagi saya, membaca Pram adalah bagian dari menyelami nilai-nilai kemanusiaan yang komprehensif dan mendalam, yang terekam dalam karya-karya beliau. Akhir kata, selamat membaca, selamat bertemu, selamat berkenalan dengan Pram dalam karya-karya beliau; semoga membawa manfaat dan keberkahan untuk kita semua, untuk seluruh masyarakat Indonesia, dan untuk bumi manusia dengan segala persoalannya. Terima kasih.

Joyo Juwoto, Penulis Buku Tiga Menguak Pram.

Rabu, 04 Februari 2026

Senja yang Membunuh Asa


Senja yang Membunuh Asa
Oleh: Joyo Juwoto

Senja telah tiba, langit di Kota Karang Pethak tampak gelap dan suram. Bakri berdiri kaku di tepian jendela kamar, memandang kosong ke arah seberang jalan. Kendaraan berlalu lalang dari arah yang berlawanan; sesekali terdengar bunyi klakson yang memekakkan kendang telinga. Senja hari ini tidak seperti senja-senja sebelumnya, senja yang biasanya menawarkan cahaya keindahan di ufuk barat dengan semburat warna jingga yang memesona mata yang melihatnya. Tapi kali ini senja seperti batas cahaya menuju ruang gelap gulita. Ada nuansa ketakutan, ada kecemasan, ada harapan yang pupus dihantam palu godam.
Langit kian mendung berhias lembayung, memercik resah, menebar gundah dan gelisah. Waktu merangkak pelan, detik demi detik serasa menekan dada. Udara di kamar itu menjadi pengap, kamar Bakri terasa hampa tanpa udara. Nyanyian kesunyian menggema di setiap sudut-sudutnya, cahaya senja kian suram, tenggelam dalam ufuk malam.
***
“Selamat ya, Pak Bakri, SK PPPK kamu dari Pemda sudah turun,” seru kepala sekolah sambil mengulurkan tangan memberikan ucapan selamat kepada Bakri. “Jangan lupa bancaannya,” canda kepala sekolah melanjutkan omongannya.
Dengan wajah sumringah, Bakri menjabat tangan kepala sekolah. “Iya, Pak, terima kasih bantuan dan support-nya selama ini,” jawab Bakri sambil tersenyum bangga.
Teman-teman di kantor pun ikut merasakan kebahagiaan Pak Bakri, karena Pak Bakri paling senior di kantor itu. Beliau sudah cukup lama mengabdi, namun baru kali ini Pak Bakri mendapatkan kehormatan diangkat menjadi guru PPPK. 
“Selamat ya, Pak. Ternyata proses tidak mengkhianati hasil. Setelah perjuangan panjang, akhirnya Bapak bisa menikmati menjadi guru yang bergaji layak,” kata salah seorang guru sambil memberikan ucapan selamat kepada Bakri.
“Alhamdulillah, terima kasih, Pak. Ini semua juga berkat doa dan bantuan Bapak Ibu guru semua yang ada di sini,” jawab Bakri dengan wajah sumringah.
Hari itu adalah hari yang sangat menggembirakan bagi Bakri. Garis nasibnya sedang berada di titik cahaya, terang menyinari jalan takdirnya. Bakri membayangkan esok hari ketika gaji pertamanya cair, ia akan mengajak anak dan istrinya ke toko baju untuk membeli mukena yang telah lama diimpi-impikan oleh anak dan istrinya.
“Bapak, saya ingin mukena warna pink. Besok, pas salat Idulfitri, mau saya pakai,” pinta Aisya kepada bapaknya pada suatu ketika di pertengahan Ramadan silam.
“Iya, Nak, pasti bapak akan belikan mukena itu untuk Aisya,” jawab Bakri sambil menelan ludahnya sendiri. Bakri merasa sedih karena ia belum mampu memenuhi keinginan kecil anaknya, ber-Idulfitri dengan mukena pink muda.
“Tapi jangan sekarang ya, Aisya. Tunggu sampai bapakmu mempunyai uang yang cukup,” sela ibu Aisya, menenangkan hati putri semata wayangnya itu.
“Iya, Bu, Aisya tahu. Tapi bapak harus janji besok Aisya dibelikan mukena warna pink muda ya, Pak. Yang ada renda-renda kecilnya, kayak milik teman Aisya,” lanjut Aisya sambil cemberut.
Hati orang tua mana yang mampu menahan perih di dada, ketika sebagai orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan buah hatinya. Wajah polos dengan air muka cemberut Aisya benar-benar membuat hati Bakri menderita.
Bakri bukannya tidak percaya takdir, bahwa setiap anak membawa rezekinya masing-masing. Tapi, bagaimanapun, ia tetap merasa cemas jika harus memiliki anak yang banyak; ia khawatir tidak bisa memenuhi kebutuhan mereka. Oleh karena itu, Bakri dan istrinya memutuskan hanya memiliki satu anak saja. Ia dan istrinya bersepakat untuk menunda kehamilan anak kedua dalam rumah tangga mereka. Entah sampai kapan?
Bakri seorang guru yang telah mengabdi selama dua puluh tahun di SDN Karang Pethak. Lima tahun lagi, ia akan pensiun dari jabatannya sebagai pendidik karena usianya telah mencapai batas kerja. Lima tahun silam, Bakri sangat gembira setelah ada kebijakan dari Pemda yang mengangkat guru-guru menjadi PPPK. Bakri, yang saat itu menjadi bagian dari euforia kegembiraan kebijakan, yang akhirnya bisa mengangkat harkat dan martabatnya di tengah-tengah masyarakat, setelah mengalami masa panjangnya menjadi guru honorer, yang gajinya bahkan tidak cukup untuk membeli sabun dan peralatan mandi.
Hampir saja Bakri menyerah menjadi seorang guru, jika bukan karena panggilan hati untuk mengabdi kepada Ibu Pertiwi, Bakri mungkin sudah tumbang dan meninggalkan profesinya itu. Ujian demi ujian ia lalui dengan penuh kesabaran, khususnya tentu ujian ekonomi yang dijalaninya hingga sampai saat ini. Seberat apapun ujian itu terasa ringan, karena Bakri merasa mengajar adalah dunianya. Hal inilah yang membuat Bakri terus bertahan.
Bakri selalu percaya bahwa dunia tidak pernah benar-benar lupa pada orang-orang yang setia berjalan di jalan sunyi pengabdian. Ia meyakini, kesabaran yang dijalani tanpa banyak keluhan akan menemukan jalannya sendiri menuju keadilan, meski harus melewati waktu yang panjang dan melelahkan, meski harus melewati lorong-lorong gelapnya penderitaan. Keyakinan itulah yang membuatnya bertahan mengajar dengan upah yang nyaris tak layak, menegakkan punggung di hadapan anak didiknya, meski kehidupannya sendiri sering tertunduk. 
Setelah mendapat selembar kertas bertanda tangan dan berstempel resmi dari pejabat terkait, tentu ia merasa naik kasta sebagai seorang guru. Dari guru honorer menjadi guru yang SK-nya menjadi selembar kertas yang penuh wibawa. BRI pun siap menampung kertas itu dengan  memberikan sejumlah rupiah tentunya. Harapan Bakri tentu sederhana: setelah diangkat menjadi PPPK, ia akan menikmati itu sampai masa pensiun, apalagi usianya tinggal satu kali perpanjangan SK.
Harapan kadang tinggal harapan, dan tidak semua hal bisa terwujud menjadi sebuah kenyataan. Setelah jabatan mentereng disandangnya selama lima tahun, kini badai itu datang menerjang, memporak-porandakan mimpi dan harapannya. SK perpanjangan jabatannya sebagai guru PPPK tidak diperpanjang lagi.
“Pak Bakri, mohon maaf ya, Pak. Mulai besok Bapak sudah tidak lagi ngantor. SK Bapak tidak diperpanjang oleh Pemda, dan sudah ada guru baru pengganti Bapak di sekolah ini,” begitu kepala sekolah mengucapkan kalimat perpisahan kepada Bakri sambil mendekap bahunya untuk menguatkan asa jiwanya.
“Pak Kepala Sekolah, apakah saya tetap boleh mengajar di sini? Apakah saya masih boleh membersamai anak-anak?” tanya Bakri sambil tertunduk lesu.
Meninggalkan anak-anak adalah hal yang terberat bagi Bakri, masalah ekonomi, gaji yang tak layak bagi seorang pendidik, dan kesulitan-kesulitan lain bagi Bakri sudah selesai. Dua puluh tahun lebih Bakri telah banyak makan asam garam kehidupan, semua dihadapinya dengan penuh ketegaran. Namun ini adalah soal lain, ia harus kehilangan dunia yang dicintainya selama ini. Bagi Bakri mengajar adalah cahaya kehidupan.
Kepala sekolah menarik napas panjang, menatap Bakri dengan mata yang berkabut, lalu berkata pelan namun tegas, “Pak Bakri, saya tahu betul ketulusan Bapak untuk anak-anak, dan itu tidak pernah kami ragukan, tetapi keputusan ini adalah kewenangan Pemda yang harus kami dan kita patuhi bersama, untuk sementara Bapak belum bisa mengajar di sini, namun doa kami selalu menyertai langkah Bapak, semoga Allah membuka jalan yang lebih baik, karena guru sejati tidak pernah berhenti mengabdi, meski tak lagi berada di ruang kelas, tentu bapak masih terus bisa berkiprah untuk masyarakat dengan cara yang lain.”
Bapak Kepala Sekolah tahu, Bakri orangnya tidak neko-neko, rajin, dan penuh dedikasi. Bakri adalah pendidik yang baik, sangat mencintai profesinya. Jika ia dipecat dari jabatannya, itu seperti kiamat baginya. Tapi ia sebagai kepala sekolah tidak bisa berbuat banyak. Surat pemecatan itu bukan wewenangnya.
Bakri diam. Ia tak bisa berkata-kata; hanya isakan tangisnya yang lirih terdengar. Hari ini Bakri terakhir berada di sekolah yang telah lama ia peluk dalam setiap doa-doanya. Hari ini Bakri pulang dengan hati yang kosong. Ia melangkah dengan berat meninggalkan semua tentang hari-hari indah yang telah ia lalui selama ini.
Bakri berdiri kaku di tepian jendela kamar. Ia memandang kosong ke arah seberang jalan, seakan-akan langit runtuh, bintang ke bintang berguguran di jalan-jalan, trotoar, dan selokan. Bakri termangu bisu, diam membeku membayangkan nasibnya yang makin pedih dan pilu. Dunia terasa gelap, cahaya harapannya telah padam, ditelan gerhana kenyataan yang tak seindah apa yang ia bayangkan.
Bakri merasa habis. Tidak ada lagi yang tersisa dari kehidupannya. Seragam PDH yang mentereng, lencana korps yang mengkilat, PIN nama yang tersemat di atas saku bajunya harus ia tanggalkan dan ia tinggalkan. Bakri sedih. Ia belum bisa menerima suratan nasibnya. Ia telah mengabdi dengan penuh dedikasi, sepenuh hati mengajar anak-anak setiap hari, menempuh perjalanan panjang dengan motor bututnya, tapi apa yang ia dapatkan? Sebuah surat keputusan yang menghancurkan karier dan harapannya.
Terbayang di ingatannya tentang anak-anak didiknya, senyum yang merekah, mata yang berbinar, tawa yang riang, dan ocehan-ocehan lucu mereka. Juga tentang harapan-harapan serta cita-cita dan mimpi yang belum usai, semua puzzle-puzzle kegembiraan dalam papan kehidupannya itu telah lenyap dalam sekejap, terenggut keputusan sepihak yang tanpa perintan dan aba-aba sebelumnya.
Semua kenangan itu kini menjadi luka yang tak kunjung sembuh, mengiris hati Bakri yang sudah remuk. Ia merasa telah gagal: gagal sebagai guru, gagal sebagai kepala keluarga, dan gagal sebagai manusia. Wajah Bakri tampak mendung. Air matanya terbendung dalam telaga pilu, sebentar lagi akan jatuh ke pipinya menjadi hujan duka, dan menggenang dalam samudera luka yang mengiris-iris jiwa.
Tak terasa Bakri tersedu, menangis dalam kesedihan panjang. Hatinya rontok, harapannya hancur. Ia merasa langit kehidupannya telah runtuh. Senja itu seakan telah mengakhiri segalanya. Langit makin gelap, jalanan pun mulai sepi deru kendaraan lenyap ditelan sang waktu. Bakri masih berdiri kaku di tepian jendela kamar.
Angin senja berhembus pelan, burung-burung pun mulai pulang ke sarang, cericit dan nyanyian kelelawar malam mulai riuh terdengar, menyambar di langit-langit halaman rumah Bakri yang redup, seredup hati Bakri yang telah kehilangan separuh jiwanya.

Bangilan, 30 Januari 2026